MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Trauma


Wajah-wajah kusut terlihat berjalan gontai keluar kelas di hari ketiga tryout pertama. Apalagi mata pelajaran matematika mengawali tryout hari ini dan setelah jam istirahat lanjut dengan pelajaran Bahasa Indonesia.


 


“Cil, boleh pinjam otak elo separo selama dari tryout sampai ujian akhir nanti,” ujar Lili dengan wajah lesu.


 


“Elo kira otak gue mobil rental ? Bisa disewa tanpa sopir ?” Cilla terkekeh.


 


“Memangnya elo nggak belajar, Nek ?” Febi menyenggol lengan Lili yang duduk di sampingnya.


 


Ketiganya memang sedang duduk di kantin, menikmati makanan untuk penambah semangat mengikuti tryout bidang studi Bahasa Indonesia setelah ini.


 


“Elo tahu kan kapasitas otak gue,” keluh Lili setelah meneguk es jeruknya. “Semakin dipaksa muatannya, semakin panas mesinnya sampai akhirnya mogok. Kalau ujung-ujungnya turun mesin, otak gue repot nggak bisa dipakai lagi. Bisa-bisa pas ketemu elo berdua, gue malah nanya : kamu siapa, ya ?”


 


“Kalau sampai begitu, gue nggak bakalan kenal sama elo lagi, Li,” ledek Febi sedangkan Cilla hanya tergelak.


 


“Ya ampun, ngakunya sahabat, tapi giliran sahabatnya setengah gilgil malah ditinggalin,” gerutu Cilla.


 


“Takut diajak samaan nanti kayak elo,” ledek Cilla masih dengan tawanya.


 


“Eh Jovan kemana ?” Febi mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin dan tidak menemukan mantan ketos itu yang dua hari kemarin ikut duduk makan bersama mereka.


 


Cilla hanya mengangkat kedua bahunya karena memang ia tidak tahu menahu dan tidak pernah mencari tahu keberadaan Jovan sejak dulu sampai sekarang.


 


“Mau diajarin sama Dimas ?” ledek Cilla sambil mengangkat alisnya melirik Lili.


 


“Seriusan ?” mata Lili langsung berbinar, cemerlang seperti habis kena sabun cuci piring yang muncul di iklan.


 


“Gue nggak tahu juga. Dimas itu memang suka ngajar anak-anak, tapi kalau buat elo gue nggak tahu deh dia mau apa nggak.”


 


“Sembilanpuluh sembilan persen firasat gue mengatakan dia nggak bakalan mau terima elo jadi murid lesnya,” cibir Febi meledek Lili.


 


Lili langsung mengambil handphone Cilla dan menempatkan layarnya di depan wajah sahabatnya. Dengan cekatan ia langsung masuk ke dalam daftar kontak yang ada di handphone Cilla.


 


“Disimpannya atas nama siapa ?” tanya Lili tanpa mengangkat kepalanya.


 


“Dimdim,” jawab Cilla sambil menyuap potongan terakhir batagornya.


 


Belum sempat Lili mengirimkan nomor Dimas ke nomornya, Cilla sudah menarik handphonenya kembali. Tiba-tiba saja ia urung membiarkan Lili langsung menyalin nomor Dimas.


Cilla baru teringat kalau Dimas itu paling tidak suka nomor handphonenya disebarluaskan tanpa ijin. Apalagi saat di cafe, Dimas terlihat kurang nyaman dengan perlakuan Lili yang sedikit agresif.


 


“Cilla !” omel Lili. “Jangan pelit, gue mau minta nomor Dimas doang,”


 


“Nggak bisa sebelum gue konfirmasi sama Dimas. Dia bukan sembarangan orang. Kerjaannya bukan mahasiswa yang cari sampingan jadi guru les doang. Mau dimarahin sama bokap gue ?”


 


“Memangnya Dimas itu siiapanya elo ?” Febi bertanya sambil mengernyit.


 


“Anak asuh kesayangannya papi,” sahut Cilla santai. “Udah deh, balik ke kelas dulu. Malas gue kalau terlalu mepet sampai  di kelas.”


 


“Cilla iihh.. jangan pelit dong,” Lili masih merengek sambil menarik-narik lengan kemeja seragam Cilla.


 


“Iya, sabar. Gue pastiin dulu sama Dimas, soalnya dia agak pusing pas ketemuan elo di café kemarin. Kalau dia oke, gue pasti kirim nomor Dimas ke elo. Daripada gue kirim sekarang akhirnya nomor elo diblokir, kan lebih nyesek lagi.”


 


Lili dengan wajah cemberut nelepaskan tangannya dari lengan kemeja Cilla. Dengan terpaksa ia menuruti ucapan Cilla daripada gagal mendapatkan nomor Dimas.


 


“Cil,” Febi menyenggol bahu Cilla saat mereka sudah ada di ujung tangga.


 


Ketiganya sengaja memilih tangga di sisi lain yang tidak melewati ruang guru, tapi ternyata mereka tetap bertemu dengan Arjuna yang sedang berbincang dengan Pak Irfan, guru matematika kelas 11 yang isunya akan menjadi pengganti Arjuna di tahun ajaran baru nanti.


 


Ketiganya hanya menganggukan kepala saat melewati Arjuna dan Pak Irfan yang masih berbincang di depan kelas XI IPS-2 di lantai 2.


 


“Elo nggak apa-apa kan, Cil ?” Lili mendekat memegang lengan sahabatnya.


 


“Nggak apa-apa gue, Li,” Cilla tersenyum menatap sahabatnya. “ Gue benar-benar mau fokus belajar dan beresin sekolah dulu.”


 


 


Tidak lama bel sudah berbunyi dan ketiganya langsung kembali duduk di bangku masing-masing. Kali ini posisi mereka duduk sendiri-sendiri dan sedikit berjarak meski masih lumayan dekat.


 


Ternyata Arjuna yang  mendapat giliran untuk menjadi pengawas di tryout di kelas XII IPS-1 siang ini. Febi dan Lili reflek menoleh ke arah Cilla yang ada di barisan belakang mereka meski tidak sejajar.


 


“Kalau jodoh memang nggak lari kemana,” ledek Lili dengan suara berbisik sambil terkikik.


 


Ketiganya tidak tahu saja kenapa Arjuna semangat datang ke sekolah selama tryout meski tidak mengajar di kelas Cilla.


Pasalnya saat dibagikan jadwal oelh pihak sekolah, mulai dari Rabu sampai dengan Jumat, Arjuna selalu mendapat jadwal mengawas di kelas Cilla, entah di tryout jam pertama atau kedua.


 


Belum sempat Arjuna membuka amplop yang berisi materi soal, Dono mengetuk pintu kelas dan langsung membukanya.


 


Terdengar kasak-kusuk mulai didengungkan oleh teman-teman sekelas Cilla. Masalahnya sempat beredar isu kalau Cilla punya hubungan khusus dengan Arjuna karena banyak mata sempat melihat guru matematika itu menggandeng tangan Cilla bahkan membawanya pergi dengan mobil pribadi milik Arjuna.


 


Sherly dan cs nya malah sempat menyebarkan isu kalau Cilla itu memang menggoda Arjuna sejak guru itu mengajar karena tahu kalau Arjuna itu sebenarnya orang berada. Mobil yang beberapa kali dibawa Arjuna ke sekolah memang bukanlah mobil kaleng-kalengan meski bukan keluaran terbaru. Mobil itu yang biasa dipakai olehnya saat masih bekerja di Indopangan.


Febi dan Lili saling melemparkan pandangan dan memberi kode dengan gerakan mata mereka namun ujung-ujungnya keduanya sama-sama mengangkat bahu.


 


Cilla sendiri bingung karena mendadak disuruh keluar membawa tas bersama dengan Arjuna. Namun hatinya sedikit tegang saat melihat wajah Dono begitu serius tidak seperti biasanya.


 


“Ada apa ini, Pak ?” tanya Cilla dengan dahi berkerut saat Dono memintanya untuk mengikutinya. Arjuna sendiri berjalan di belakang Cilla tanpa bicara apa-apa.


 


“Biar nanti Pak Slamet yang menjelaskan,” sahut Dono sambil berjalan menuruni tangga menuju ruangan Pak Slamet.


 


Terlihat kalau kepala sekolah itu sudah menunggu mereka di depan ruangannya.


 


“Bapak baru saja menerima telepon dari Pak Budi yang mengabarkan kalau papi kamu jatuh di kantor,” ujar Pak Slamet menjawab raut wajah Cilla yang terlihat bingung.


 


Cilla terperangah, seolah tidak percaya dengan ucapan Pak Slamet barusan. Arjuna pun ikut terkejut mendengar berita itu. Yang langsung terpikir oleh Arjuna adalah sakitnya papi Rudi. Apa mungkin sakit mantan calon mertuanya itu mendadak kambuh lagi ?


 


 Reflek Arjuna mendekat dan langsung menggenggam jemari Cilla yang perlahan mulai terasa dingin dan sedikit bergetar. Cilla yang langsung dipenuhi dengan buruk dan perasaan khawatir tidak menolak genggaman tangan Arjuna.


 


“Apa bisa pakai mobil Pak Juna untuk ke rumah sakit ? Mobil sekolah sedang mengantar anak-anak kelas 11 lomba cerdas cermat di kecamatan. Selesai lomba, Pak Munawar akan menjemput kita di rumah sakit.”


 


“Bisa, Pak,” Arjuna melepaskan genggamannya dan bergegas ke ruang guru untuk mengambil kunci mobil sekalian merapikan meja kerjanya.


 


“Biar gue yang bawa mobilnya, Jun. Elo temani Cilla di belakang,” ujar Dono saat Arjuna baru saja keluar pintu ruang guru.



Arjuna mengangguk dan memberikan kunci mobilnya pada Dono. Tangannya kembali menggenggam jemari Cilla saat dilihatnya tubuh gadis itu masih sedikit bergetar dan tatapannya terlihat gelisah.


 


“Doakan papi baik-baik saja,” bisik Arjuna lalu merangkul bahu Cilla saat mereka sudah sampai di lantai satu.


 


Cilla hanya menghela nafas karena mulutnya seperti sulit untuk berbicara.


Keempatnya masuk ke mobil yang dikendarai oleh Dono dan Pak Slamet duduk di sampingnya.


 


Di kursi penumpang belakang, Cilal membiarkan Arjuna merangkul bahunya dan mengelus-elusnya untuk menenangkan Cilla. Satu hal yang tidak bisa dipungkiri kalau sentuhan Arjuna memang membuat Cilla merasa nyaman dan lebih baik.


 


Hampir satu jam mobil baru sampai di depan pintu masuk Rumah Sakit Pratama. Ternyata sudah ada sopir papa Arman yang menunggu kedatangan mobil Arjuna di lobby, hingga keempatnya bisa langsung turun dan sopir tadi membawa mobil ke parkiran.


 


Tangan Cilla kembali terasa dingin hingga Arjuna kembali menggenggamnya dengan erat. Keduanya berjalan di belakang Dono dan Pak Slamet yang langsung menuju ke lift.


 


“Papi nggak di UGD, Pak ?” tanya Cilla dengan sedikit bergetar saat Pak Slamet langsung menekan tombol angka 3 di dalam lift.



“Sudah langsung dibawa ke ruang rawat inap,” sahut Pak Slamet.


 


Cilla melihat tulisan yang ada di atas pintu lift dan hatinya semakin berdebar saat melihat tulisan ruang ICU/NICU berada di lantai 3.


“Mas Juna, kenapa papi di lantai 3,” Cilla merapatkan posisinya dan mendongak sambil bertanya dengan suara pelan pada Arjuna.


 


Saat ini Cilla benar-benar lupa kalau hubungannya dengan Arjuna hanya sebatas guru dan murid. Namun hatinya tidak mampu berbohong dan menuntun raganya untuk mendekat pada Arjuna sebagai satu-satunya orang yang bisa memberikan ketenangan.


 


“Nanti kita akan tahu setelah bertemu dengan dokter, ya,” Arjuna tersenyum sambil mengeratkan genggamannya.


 


Arjuna masih menggandeng  Cilla mengikuti Pak Slamet dan Dono yang keluar dari lift. Langkah Cilla yang semakin pelan membuat jarak mereka agak tertinggal dari Pak Slamet dan Dono. Hingga akhirnya mereka sampai di lorong menuju ruang ICU.


Dari kejauhan, Cilla bisa melihat sudah ada dokter Raymond, papa Arman, om Budi, Pak Slamet dan Dono.


 


Arjuna mengernyit saat merasakan Cilla menahan tangannya. Dia menoleh dan mendapati Cilla bergeming di tempatnya. Kaku dengan wajah ketakutan dan keringat mulai keluar dari sela-sela poninya.


 


“Cilla,” panggil Arjuna sambil mendekat.


 


Pandangan Cilla masih lurus ke depan namun tidak fokus menatap pada orang-orang yang sudah menunggu sambil menatapnya di depan sana. Badannya mulai bergetar kembali.


 


“Cilla,” Arjuna kembali memanggil dan berdiri di samping Cilla dengan alis menaut.


 


Cilla berbalik badan namun Arjuna menahannya hingga posisi mereka sekarang berhadapan.


 


“Cilla nggak mau ketemu sama papi ?” tanya Arjuna pelan namun ia tidak berani menyentuh wajah Cilla.


 


Cilla langsung memegang kemeja Arjuna dengan kencang dan menggeleng. Dia mendongak menatap Arjuna dengan wajah ketakutan.


 


“Papi nggak akan keluar lagi bertemu dengan Cilla kalau sudah tidur di sana,” ujar Cilla dengan suara bergetar. Airmata mulai mengalir dari kedua sudut matanya.


 


“Papi nggak akan keluar lagi kalau sudah tidur di sana !” pekik Cilla membuat Arjuna sedikit terkejut. Tangannya terus bergerak menarik ulur kemeja Arjuna dengan tangis yang semakin kencang. Tubuh Cilla bergetar menahan rasa takut yang terpancar dari matanya.


 


Arjuna langsung meraih Cilla ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat. Dielusnya punggung gadis itu dengan penuh rasa sayang. Arjuna masih bisa mendengar gumaman Cilla yang terus mengucapkan kalimat yang sama  “Papi nggak akan keluar lagi kalau sudah tidur di sana.”


 


Arjuna memberi isyarat pada papa Arman yang ingin mendekat. Arjuna ingin menenangkan Cilla terlebih dahulu. Sepertinya gadis ini sedang mengalami trauma dengan ruang ICU.