
Tanpa terasa ulangan umum telah selesai dan penilaian akhir semester sudah di ambang mata.
Hubungan Arjuna dan Cilla kembali seperti sebelumnya, penuh dengan perdebatan, membuat tidak ada yang curiga kalau mereka bukan sekedar guru dan murid saja.
“Liburan ini mau kemana, Cil ?” tanya Febi saat mereka menuruni tangga sehari sebelum penerimaan raport.
“Seperti biasa…. DI RUMAH,” sahut Cilla menekankan kata terakhirnya sambil tertawa.
“Loh tunangan elo ?” suara lantang Lili membuat Cilla dan Febi langsung menoleh sambil melotot.
“LILI !” Pekik keduanya bersamaan.
“Ups ! Sorry,” Lilih terkekeh sambil menutup mulutnya.
“Dasar mulut TOA !” omel Febi sambil menoyor kening sahabatnya.
“Oooo jadi akhirnya anak pemilik sekolah punya jodoh juga,” suara sinis itu membuat ketiga sahabat ini berhenti di lantai kedua dan langsung menoleh.
Sherly, Merry dan Susan dengan gaya sok kecantikan mereka berdiri sambil tersenyum mengejek.
“Masaah buat elo kalau gue punya jodoh ?” Cilla mendekat dengan tangan di pinggang.
“Udah kayak jaman Siti Nurbaya, pacar saja sampai harus dicariin,” ejek Susan sambil tertawa.
“Nggak masalah mau dicariin atau cari sendiri. Jangan sampai kalian ileran begitu lihat calon suami gue !” Cilla balas melotot ke arah Susan.
“Aduh mama… Takut,” Susan sengaja bergidik sambil tertawa.
“Cil,” Febi menarik lengan Cilla supaya meninggalkan ketiga cewek super model abal-abal ini.
Baru Cilla mau buka suara kembali, memuntahkan isi hati yang sudah ditahannya berbulan-bulan pada tiga mahluk dewi jadi-jadian ini, suara handphonenya yang sudah diaktifkan berbunyi.
Cilla mengambil handphonenya dari saku roknya dan ada nama Bapaknya Anak Bebek muncul di layar.
Cilla pun berbalik dan melirik ke arah kantor guru yang memang ada di lantai 2. Terlihat Arjuna sedang berdiri di jendela dalam posisi menelepon.
Cilla menggeser ikon di layar handphonenya dan mendekatkan ke telinganya.
“Halo,” sapanya tanpa berani membalas tatapan Arjuna. Bukan karena takut kena omel, tapi bisa-bisa tiga mahluk jadi-jadian ini langsung curiga.
“Anak bebek jangan ngomel dekat tangga. Langsung pulang aja, istirahat kalau perlu bocan (bobo cantik) siang di rumah.”
“Iya,” sahut Cilla dengan bibir mengerucut.
“Bibirnya dikondisikan,” tegur Arjuna sambil tertawa pelan. “Nggak boleh sering-sering pasang tampang mulut bebek begitu di depan cowok lain, nanti langsung disosor.”
“Iya,” sahut Cilla sambil tertawa pelan.
Tanpa terduga Sherly merampas handphone Cilla dari belakang, membuat Cilla yang terkejut lamgsung berbalik dan berusaha merebut kembali miliknya.
Arjuna yang melihat kejadian itu buru-buru menutup panggilannya dan mengernyit memperhatikan kejadian berikutnya.
Sherly menjauh sementara Susan dan Merry menghalangi Cilla. Melihat situasi Cilla, Febi dan Lili ikut bergerak maju mencoba menghalau Merry dan Susan.
Saat Febi dan Lili membantu menjauhkan Merry dan Susan, Cilla bergegas mendekati Sherly yang berdiri di tembok pembatas.
“Ternyata pacar kamu itu sejenis bebek ?” Sherly tertawa mengejek sambil memperlihatkan layar handphone Cilla.
“Namanya bapaknya anak bebek, girls,” ujar Sherly ke arah Merry dan Susan yang ikut tergelak.
“Balikin handphone gue !” pekik Cilla dengan suara lantang.
Dari ruang guru, Arjuna yang melihat kondisi semakin jelek langsung mengajak Dono yang baru saja membuka kiotak bekal makannya.
“Cilla berantem, Bro,” ujar Arjuna bergegas keuar dari ruang guru.
Dono yang terkejut mendengae ucapan Arjuna, menutup kembali kotak bekalnya dan bergegas menyusul Arjuna.
Terlihat Cilla sedang berusaha melompat mengambil handphonenya yang diangkat ke atas oleh Sherly. Perbedaan tinggi badan yang cukup jauh, membuat Sherly semakin mudah menjauhkan Cilla dari miliknya.
Beberapa anak kelas 12 yang kebetulan juga baru turun, akhirnya berhenti dan mulai menonton aksi rebutan handphone antara Cilla dan Sherly.
“Ups, meleset !” Sherly pura-pura terkejut saat handphone Cilla yang hendak dioper ke Susan ternyata jatuh melintasi tembok pembatas lantai 2.
Jangan ditanya bagaimana kondisi handphone Cilla yang jatuh ke lantai dasar.
Cilla mengepalkan kedua tanganya dengan mata memerah karena marah. Bukan sekedar karena handphonenya pasti rusak terlempar, tapi yang membuat kemarahannya langsung mencapai ubun-ubun karena data-data yang tersimpan kemungkinan akan hilang.
Kemarahan Cilla semakin menjadi saat melihat wajah Sherly tanpa rasa menyesal sedikitpun malah tertawa mengejeknya.
Cilla langsung menyeruduknya hingga Sherly jatuh terjengkang. Spontan Merry, Susan dan Febi mendekati mereka dan berusaha mengangkat Cilla yang sudah duduk di atas perut Sherly sambil mengcengkram kerah kemeja gadis itu.
Namun keahlian bela diri Cilla membuatnya tidak mudah diangkat begitu saja oleh ketiga temannya. Lili sendiri langsung bergegas turun ke lantai dasar untuk mengambil handphone milik Cilla.
Tangan Cilla sudah gatal ingin menampar wajah Sherly yang berubah menjadi panik, berada di bawah kungkungan Cilla. Namun akal sehatnya masih bisa berpikir kalau tangannya harus dicegah jangan sampai menampar cewek jadi-jadian ini.
“Kenapa muka cantik elo harus dirusak dengan rasa iri ? Apa nggak cukup begitu banyak orang memuji elo ?”
Cengkraman Cilla masih kuat di kerah baju Sherly dengan posisi tubuh Sherly bertumpu pada kedua lengannya hingga tidak sampai terlentang di lantai.
Tidak lama Arjuna dan Dono sampai di situ. Posisi Cilla memang berada di sisi tangga lainnya yang ada di sekolah, bukan tangga yang ada dekat ruang guru, hingga butuh waktu bagi Arjuna dan Dono yang setengah berlari menghampiri kerumunan.
Febi langsung mundur saat melihat Arjuna datang. Perlahan ia menyentuh bahu Cilla.
“Cilla,” panggilnya pelan.
Cilla terdiam dan tangannya masih mencengkram kerah kemeja Sherly.
Dono meminta murid-murid yang berkerumun untuk mundur dan memberi ruang serta meminta mereka untuk tidak merekam kejadian ini apalagi sampai mem-postingnya di akun medsos.
“Cilla, lepaskan tangan kamu, ya,” ujar Arjuna kembali dengan suara pelan. Tangannya masih memegang bahu Cilla untuk membuat tunangannya itu lebih tenang.
Cilla menghela nafas. Menarik kerah Sherly dengan sedikit kasar lalu menghempaskannya cukup kuat hingga kedua lengan Sherly yang menopang tubuhnya lunglai dan tubuh Sherly terjembab ke lantai.
“Jangan karena elo punya segalanya dan mudah mendapatkan semuanya, elo bisa menginjak-injak orang lain !” bentak Cilla yang sudah dalam posisi berdiri.
Arjuna masih memegang tangannya dan mengeratkan genggamannya untuk menenangkan emosi Cilla.
Sherly pun bangun dibantu oleh Merry dan Susan. Terdengar bisik-bisik dari beberapa siswa yang ada di situ membicarakan Sherly yang memang sering bertingkah arogan.
“Jangan dipikir karena elo anak pemilik sekolah lantas bisa bebas dari tuntutan hukum !” teriak Sherly pada Cilla yang sudah diajak pergi oleh Arjuna.
“Gue akan laporkan masalah ini ke polisi, biar elo tahu gimana rasanya hidup dalam sel,” lanjut Sherly sambil tersenyum sinis.
Cilla menghentikan langkahnya sambil mengepalkan tangannya yang bebas, karena tangan yang lainnya masih digenggam Arjuna.
Arjuna pun ikut berhenti dan menghela nafas. Ia melepaskan tangan Cilla dan berbalik ke arah Sherly. Arjuna pun sedikit mendekat ke arah muridnya itu.
“Jangan asal ingin menjebloskan orang ke dalam sel,” ujar Arjuna pelan dan berwibawa
“Apa kamu lupa kalau di sini ada bukti yang bisa membuat kalian bertukar posisi ?” tanya Arjuna dambil tersenyum tipis.
“Itu, itu dan mereka,” Arjuna menunjuk pada dua kamera CCTV yang terpasang di dekat situ lalu menunjuk Merry, Susan, Febi dan Lili yang sudah kembali dengan nafas tersengal.
“Bahkan saya bersedia menjadi saksi atas perbuatanmu. Sejak awal saya sudah melihat semua yang kamu lakukan pada Cilla bahkan saat kamu sengaja melempar handphonenya ke bawah,” lanjut Arjuna masih dengan senyuman tipisnya.
Sherly terdiam mendengar penuturan Arjuna karena semua ucapan guru matematika itu memang benar. Selain bukti rekaman CCTV, ada 4 saksi hidup yang berada di tempat kejadian ditambah Arjuna yang melihatnya dari ruang guru.
Arjuna kembali berbalik dan mendekati Cilla. Digandengnya lengan gadis itu menuju ke arah ruang Pak Slamet. Bagi Arjuna, di sana adalah tempat paling nyaman untuk berbincang dengan Cilla karena kepala sekolah SMA Guna Bangsa itu sudah tahu tentang hubungan mereka.
“Kecantikan itu tidak hanya dilihat dari yang kasat mata, Sherly, tapi juga dari dalam hati,” ujar Dono sebelum meninggalkan muridnya.
Sherly menghentakkan kakinya ke lantai. Ia merasa dipermalukan di depan umum, apalagi tadi roknya sempat terangkat saat terjatuh dan dua kancing kemejanya putus saat ditarik oleh Cilla.
Tidak ada yang berniat mendekati Sherly dan kedua sahabatnya. Beberapa siswa diam-diam mencibir dan tersenyum sinis melihat kejadian yang menimpa gadis arogan itu.
Cilla memang siswa langganan ruang BK, tapi tidak pernah ia membully teman-teman sekolahnya sekalipun ia adalah anak pemilik sekolah.
Febi dan Lili mengikuti Arjuna yang membawa sahabat mereka menuju ruang Pak Slamet.
“Kalian kalau mau pulang dulu nggak apa-apa, nanti Cilla biar sama saya,” ujar Arjuna saat mereka sudah sampai di depan ruangan Pak Slamet.
Febi dan Lili saling menatap dan akhirnya mengangguk.
“Ini handphone Cilla yang tadi dilempar Sherly, Pak,” Lili menyerahkan milik Cilla pada Arjuna, dengan kondisi kaca layar yang sudah rusak parah.
“Terima kasih, Li, Feb,” ujar Cilla dengan nada sendu. Handphone miliknya yang rusak langsung dipegang oleh Arjuna.
Ternyata Pak Slamet yang baru saja mendengar ada keributan keluar dari ruangan.
“Ada masalah apa, Pak Juna ? Pak Dono ?” Pak Slamet gantian menatap kedua guru yang ikut mendapingi Cilla.
Febi dan Lili langsung pamit pulang pada ketiga guru yang ada di situ dan menepuk bahu Cilla sebelum mereka berlalu.
“Boleh bicara di dalam, Pak ?” pinta Arjuna.
Pak Slamet menggangguk dan membuka pintu ruangannya. Arjuna memberi isyarat agar Dono ikut masuk juga. Tidak lama terlihat Bu Retno bergegas menuju ruang Pak Slamet karena ia juga baru mendengar ada keributan antara Cilla dan Sherly.
Akhirnya Ibu Retno pun diajak masuk ke dalam ruangan Pak Slamet karena statusnya sebagai guru BK, wajib mengetahui masalah kesiswaan seperti ini.
Arjuna pun menceritakan secara singkat apa yang dilihatnya dan Cilla beberapa kali ikut buka suara untuk melengkapi.
Bu Retno tampak terkejut saat Arjuna merangkul bahu Cilla dan mengusap-usap bahu gadis itu.
“Mereka ini sudah bertunangan, Bu,” jelas Pak Slamet saat melihat wajah bingung bu Retno. “Mereka sudah dijodohkan sejak lama, bahkan sebelum Pak Arjuna bekerja di sini.”
Bu Retno mengangguk-angguk dengan hati yang kecewa. Ia memang menaruh hati pada Arjuna dan pernah beberapa kali mencoba mencari perhatian guru muda yang tampan itu.
“Tolong dirahasiakan dulu mengenai hubungan Pak Arjuna dengan Cilla,” ujar Pak Slamet kembali. “Mereka sudah tahu batas aturan yang harus dijalani sebagai guru dan murid. Jadi biarkan Cilla menyelesaikan sekolahnya yang tinggal beberapa bulan lagi dengan tenang.”
“Baik, Pak,” sahut Ibu Retno sambil mengangguk.
Diliriknya Arjuna yang merengkuh Cilla untuk menenangkan gadis itu dengan tangan masih mengusap-usap bahu Cilla.
“Cilla mau pulang atau tunggu Pak Arjuna di sini ?” tanya Pak Slamet saat melihat jam dinding di ruangannya.
“ Sebentar lagi akan ada rapat guru untuk masalah besok,” ujar Pak Slamet.
“Saya pulang saja, Pak,” sahut Cilla sambil berusaha tersenyum. “Biar Mas Juna tenang juga ikut rapatnya.” Cilla menoleh menatap tunangannya.
Bu Retno kembali tercengang saat mendengar panggilan Cilla pada Arjuna. Ternyata hubungan keduanya nyata dan akan sulit dibatalkan.
“Nanti pulang dari sekolah aku langsung ke rumahmu. Kita ketemu Luki untuk membantu mengecek kondisi handphonemu,” ujar Arjuna dan tanpa malu mengelus rambut Cilla.
Wajah Cilla langsung merona apalagi saat melihat Pak Slamet dan Dono senyum-senyum. Perlakuan Arjuna sangat menggambarkan betspa pria itu sangat menyayangi Cilla.
Bu Retno menelan salivanya, tidak percaya seorang Arjuna bisa begitu romantis pada muridnya yang sekarang berstatus calon istrinya.
“Biar Arjuna antar kamu dulu sampai ke mobil,” ujar Pak Slamet saat melihat Cilla sudah beranjak dari bangku dan mengambil tas ranselnya.
“Nggak usah, Pak. Nanti anak-anak malah curiga. Tadi aja mereka sudah kasak kusuk saat Mas Juna menggandeng saya kemari,” ujar Cilla sambil tersenyum.
“Kalau begitu biar saya saja yang antar kamu,” ujar Dono ikut bangun dari bangkunya.
“Hanya tindakan pencegahan,” Dono menatap Arjuna yang sudah menyipitkan matanya. “Bukan tidak mungkin Sherly dan kedua temannya masih menunggu kamu karena tidak terima. Sebagai wali kelas, saya ingin memastikan kamu aman sampai di mobil.”
Arjuna membenarkan ucapan Dono dan meminta Cilla untuk menuruti permintaan Dono. Akhirnya Cilla pun pamit pada Pak Slamet dan Bu Retno yang masih melanjutkan obrolan di ruang itu.
“Hati-hati di jalan,” pesan Arjuna sebelum Cilla turun tangga.
Cilla mengangguk sambil tersenyum. Arjuna kembali melihat kesedihan yang terpendam dalam tatapan Cilla. Kebiasaan gadis itu belum hilang. Lebih suka memendam masalahnya sendiri daripada berbagi dengan orang lain.
Arjuna menghela nafas. Semoga ia bisa menjadi pendamping yang dibutuhkan Cilla selama ini. Arjuna tidak ingin sering meliha tatapan yang penuh kesedihan itu di mata Cilla.