
Dengan malas Cilla beranjak bangun dari tempat tidur saat pintu kamar digedor dengan cukup keras. Ia menggerutu, kesal dengan kelakuan Theo yang berbeda jauh dengan sebelum mereka resmi menjadi sepupu.
“Sepuluh menit lagi mami jemput kamu di bawah. Dari tadi mami menghubungi telepon kamu nggak masuk-masuk, sibuk terus,” Theo mencibir.
“Iiih namanya juga lagi pacaran,” cebik Cilla. “Memangnya tante Siska mau ajak kemana ?”
“Nurut aja napa ? Udah cepetan siap-siap, waktu kamu cuma sepuluh menit.”
Theo berlalu meninggalkan Cilla yang langsung mengunci kamarnya kembali dan bersiap-siap. Tidak butuh waktu lama karena Cilla bukan tipe gadis pesolek yang membutuhkan waktu panjang sebelum pergi keluar.
“Kak Theo ikut juga ?” mata Cilla menyipit saat melihat kakak sepupunya itu sudah rapi lengkap dengan tas selempang dan bersiap memakai sepatu.
“Terus aku ikut kemari cuma sebagai penjaga apartemen doang ? Daripada gabut sendirian di sini, tadinya di rumah aja,” sahut Theo dengan nada ketus.
“Kak Theo sekarang kok jadi judes amat, sih,” omel Cilla. “Melebihi cewek lagi pms.”
“Kayak pacar kamu nggak suka jutek aja !” sahut Theo sambil mendelik.
“Dari awal Mas Juna memang sudah kayak selang bensin, kalau Kak Theo kan awalnya pria kalem yang penuh kharisma. Eh ternyata oh ternyata, Kak Theo lebih menyebalkan dari Mas Juna,” Cilla bergegas mengikuti langkah Theo yang lebih panjang darinya. Keduanya sudah keluar dari apartemen menuju lift.
“Belain aja terus pacar kamu itu,” cebik Theo dengan wajah masam. “Awas kalau nanti pas sering-sering ditinggal, datang ke rumah sambil nangis-nangis minta supaya Mas Juna-mu itu dinasehati jangan jadi pria yang super sibuk.”
“Asli Kak Theo nyebelin. Nyumpahin Cilla yang jelek-jelek terus ! Cari pacar sana biar nggak gampang jutek. Kelamaan jones jadinya kurang peka sama perasaaan perempuan”
Theo hanya mendengus kesal saat keduanya sudah sampai di lantai dasar. Terlihat mami Siska sudah menunggu mereka di lobby apartemen.
“Loh papi sama om Rio nggak bareng sama Tante ?” Cilla mengernyit karena hanya mendapati tantenya seorang diri.
“Mereka lagi ketemu rekan bisnis. Udah biarin aja, sekarang waktunya kita shopping,” tante Siska langsung menarik lengan Cilla menyusuri Orchard Road .
“Eh kok jadinya shopping ? Nggak ke tempat wisata aja, Tan ? Atau wisata kuliner gitu ?”
Tante Siska menggeleng dan tetap menggandeng tangan Cilla menyusuri Orchard Road yang selalu ramai tanpa mengenal waktu. Theo hanya mengikuti dari belakang dengan wajah masam.
“Cari makan dulu ya, Tan. Mulai lapar nih, apalagi ngadepin cowok jutek yang lebih dari cewek lagi pms,” gerutu Cilla sambil melirik ke arah Theo di belakangnya.
“Memangnya kamu diapain sama Theo ?” tanya tante Siska sambil senyum-senyum.
Sejak Theo dan Cilla turun memang sudah kelihatan kalau sedang ada perang dingin karena keduanya memasang wajah jutek dan tidak bercanda seperti biasanya.
“Nggak ngerti, Tan. Dari tadi Kak Theo ngomel melulu, nakut-nakutin Cilla juga soal Mas Juna,” gerutu Cilla.
“Dasar bocil, bisanya ngadu terus,” cebik Theo. Cilla balas menjulurkan lidahnya.
Tante Siska hanya tertawa dan tidak berusaha membela siapapun. Ia mengajak Cilla menyeberangi zebra cross karena lampu penyeberangan berwarna hijau,
“Di foodcourt aja gimana ? Banyak pilihan dan nggak jauh dari tempat kita mau belanja.”
“Dimana aja, Tante. Cilla nggak pilih-pilih makanan kok, yang penting enak dan bisa bikin perut kenyang. Dan satu lagi nggak mahal,” ujar Cilla sambil terkekeh.
Tante Siska ikut tertawa. Padahal uang jajan yang diberikan papi Rudi sanggup membuat Cilla makan enak setiap harinya. Tapi bagi Cilla mau semahal apapun restoran yang didatanginya, kalau hanya sendirian tetap tidak nyaman dan makanan pun terasa hambar.
Itu sebabnya ia pernah bilang pada Arjuna kalau makan sendiri sangatlah tidak enak dan awal pertemanannya dengan Arjuna adalah sebagai teman makan, bukan pacar.
“Sekarang kita mau kemana, Tante ?” tanya Cilla melihat tante Siska melangkah menuju ION Mal. Namun tante Siska hanya tersenyum dan memberi isyarat agar Cilla mengikutinya.
Mata Cilla mengernyit saat mereka memasuki satu butik dengan brand yang cukup terkenal di pasar Singapura. Pasalnya baju yang ditawarkan di tempat ini modelnya sangat formal, jauh dari selera Cilla yang lebih suka dengan pakaian casual.
“Tante biasa belanja di sini ?” tanya Cilla dengan nada penasaran.
“Kamu pilih satu yang kira-kira sesuai selera kamu untuk acara makan malam resmi. Rencananya malam ini papi Rudi mau mengajak kencan putri tunggalnya,” ucap tante Siska sambil senyum-senyum.
“Tadi pagi papi nggak ngomong apa-apa sama Cilla,” alis Cilla menaut merasa tidak yakin dengan ucapan tante Siska.
“Udah sih, disuruh orangtua nurut aja tanpa protes napa. Mana mungkin mami ngada-ngada sampai suruh kamu beli baju segala,” Theo merangkul bahu Cilla dan mengajaknya melihat-lihat di deretan baju wanita yang kira-kira cocok untuk gadis seusia Cilla.
Kali ini Cilla tidak protes lagi, ia menurut dan mulai melihat-lihat deretan baju yang tergantung rapi dalam beberapa barisan.
Ia melihat satu dress selutut berwarna hitam dengan hiasan renda di bagian lehernya. Terlihat rapi dan tidak terlalu terbuka, karena Cilla sendiri lebih suka baju berlengan daripada tangan buntung.
Matanya membelalak saat melihat label harga yang terpasang di baju yang dipegangnya. Otaknya langsung mengkalkulasi harga dalam Singapura Dolar ke mata uang rupiah. Ia buru-buru meletakan kembali baju itu ke gantungan. Gila ! Harga yang terpasang di baju dress hitam polos berpadu dengan renda mencapai satu juta limaratus ribu rupiah.
Tante Siska yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Cilla hanya senyum- senyum sementara Theo berdecak kesal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah pelit atau terlalu berhemat, sikap Cilla jauh dari gambaran seorang putri orang kaya yang tidak akan habis uangnya hanya membeli sebuah gaun seharga satu juta limaratus ribu rupiah !
Atas permintaan tante Siska, seorang pelayan membawakan beberapa potong baju yang kira-kira cocok untuk Cilla ke dalam kamar pas.
“Coba dulu beberapa baju yang sudah dipilih, Cil, termasuk baju yang tadi kamu pegang. Jangan lihat harganya. Semua ini instruksi dari papi kamu langsung. Jangan buat papi kamu kecewa. Kamu harus tampil beda dan terlihat spesial malam ini,” titah tante Siska dengan wajah yang tidak bisa terbantahkan.
Akhirnya Cilla mengalah dan mencoba beberapa potong baju yang dibawakan oleh pelayan tadi. Atas saran tante Siska dan Theo, baju hitam berpadu dengan renda yang sempat dipegang Cilla menjadi pilihan pertama ditambah 4 potong baju lainnya masing-masing berwarna hitam, peach, biru muda dan kuning. Semuanya terlihat cantik saat dikenakan oleh Cilla.
“Buat apa banyak begini, Tan ?” Cilla sudah ingin mengembalikan pakaian yang sudah dipastikan akan dibeli saat di meja kasir.
“Eh anak bebek, katanya mau jadi istri Arjuna Hartono. Mau datang ke pesta bisnis ketemu koleganya Arjuna pakai jeans dan t-shirt aja ? Atau mau membiarkan Arjuna membawa gandengan lain saat harus menghadiri undangan makan yang mewajibkan bawa pasangan ?” ujar Theo sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Belajar jadi cewek yang mulai dewasa meski badan kamu nggak bisa tambah tinggi. Jangan buat malu calon suami kamu yang dikenal sebagai CEO hebat itu,” cebik Theo.
Ucapan Theo sempat menohok hati Cilla dan membuat ia terdiam beberapa saat. Tante Siska langsung melotot ke arah Theo yang berbicara cukup keras pada Cilla. Theo hanya mengangkat kedua bahunya saat maminya menatapnya dengan tajam.
Ucapan Theo membuat Cilla sadar, kalau ia sudah siap menjadi calon istri Arjuna, berarti ia juga harus menerima kondisi Arjuna apa adanya.
Setelah pendidikannya di SMA berakhir, maka selesai juga peran Arjuna sebagai guru. Ia akan kembali menjadi seorang CEO yang mungkin tidak hanya memimpin sebuah perusahaan, tapi juga beberapa perusahaan yang akan menjadi milik Cilla pada waktunya.
Cilla pun harus berubah, bukan lagi sekedar anak kuliahan yang bisa santai bergaul dengan siapapun dan bicara seenaknya seperti sekarang. Ia akan menjadi seorang istri seorang Arjuna Hartono, CEO yang sudah cukup dikenal di kalangan para pengusaha. Bukan tidak mungkin kalau kehidupan seorang Arjuna Hartono kelak menjadi incaran para pemburu berita.
“Cilla, jangan terlalu dimasukan hati soal omongan Theo tadi,” tante Siska merangkul bahunya saat mereka sudah berjalan kembali menuju apartemen.
Cilla mendongak sambil tersenyum, kepalanya langsung menggeleng.
“Cilla nggak apa-apa kok, Tante. Apa yang dikatakan Kak Theo itu benar banget. Cilla suka lupa kalau Mas Juna itu nggak akan jadi guru selamanya. Begitu Cilla lulus, Mas Juna juga akan berhenti jadi guru dan balik jadi CEO. Lagipula dua bulan lagi usia Cilla juga sudah tujuhbelas tahun, sudah waktunya Cilla belajar menjadi perempuan dewasa, nggak boleh bawa diri anak-anak terus.”
“Ya setiap orang memang harus bermetamorfosa seusai umurnya. Yang penting jangan memaksakan diri dan menghilangkan identitas dirimu apalagi menjadi seperti yang orang lain inginkan. Kondisi seperti itu tidak akan bertahan lama, bahkan dalam suatu hubungan yang mulanya penuh dengan cinta. Karena cinta bukan sekedar suka sama suka melihat yang baik-baik saja, tapi juga harus mampu menerima kekurangan orang yang kita sayangi. Itu baru namanya cinta sejati.”
Cilla mengangguk dan tersenyum. Dirangkulnya lengan tante Siska dengan sedikit manja. Betapa kadang-kadang ia merindukan sosok seorang ibu yang mampu mengerti kebutuhannya seperti yang tante Siska lakukan saat ini.