MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Ajakan Bertemu


Sudah empat hari ini Cilla melakukan aksi mogok bicara dengan Arjuna meski tidak menolak saat Arjuna memberikan ciuman pagi dan sebelum Cilla sekolah.


Arjuna tidak protes karena menganggap Cilla sedang fokus menghadapi ujian sekolah, padahal diamnya Arjuna malah membuat emosi Cilla tidak berkurang. Cilla menunggu Arjuna memberikan penjelasannya soal kedatangan keluarganya di pertemuan hari Sabtu lalu, tapi Arjuna menganggap masalah Cilla di sekolah sudah beres.


“Nggak cium dulu ?” tegur Arjuna saat mobilnya terparkir di halaman sekolah namun Cilla sudah langsung bersiap-siap turun.


Cilla masih dalam mode diam tapi badannya dicondongkan ke arah Arjuna. Ternyata mantan guru matematika ini malah menahan tengkuk Cilla dan memberikan lebih dari sekedar kecupan.


Wajah Cilla langsung merona karena hampir seminggu ini mereka tidak pernah melakukan ciuman panas seperti barusan.


“Kangen jarang dengar suara anak bebek kesayangan Mas Juna dan udah nggak sabar mau unboxing,” ledek Arjuna sambil tertawa pelan.


Cilla hanya tersipu tanpa mengucapkan apa-apa. Arjuna membersihkan bibir Cilla yang terlihat basah.


“Semangat hari terakhir, ya,” Arjuna mengusap kepala Cilla. “Nanti malam Mas Juna pulang agak telat karena ada meeting jam 5 sore. Jangan tungguin Mas Juna. Kalau ngantuk bobo aja.”


Cilla hanya mengangguk tanpa menatap Arjuna. Suaminya ini benar-benar tidak peka. Padahal Cilla sudah sempat menanyakan langsung di hari Sabtu malamnya, tapi Arjuna seolah menulikan telinganya.


“Ada rencana mau jalan habis ujian hari ini ?” tanya Arjuna memastikan jadwal istrinya.


Cilla terdiam. Semalam dia sudah membuat janji dengan seseorang tapi bukan Febi atau Lili. Orang yang akan menemuinya berpesan supaya Arjuna tidak tahu rencana pertemuan mereka.


”Mau ke mal sebentar,” terpaksa Cilla mengeluarkan suaranya. “Tapi sendiri.”


“Kok tumben ?” Arjuna menautkan alisnya.


“Ada perlu,” jawab Cilla singkat dan tangannya cepat-cepat membuka pintu tapi Arjuna menahannya.


“Yakin sendiri ?” Mata Arjuna memicing. “Coba jawabnya sambil lihat mata Mas Juna.”


Cilla menoleh ke arah Arjuna dengan posisi pintu mobil sudah terbuka sedikit.


“Iya sendiri,” tegas Cilla sambil menatap Arjuna dengan wajah kesal.


“Ya udah, sama Bang Dirman kan ? Kabarin kalau sudah sampai di mal, siapa tahu Mas Juna bisa jemput, jadi Bang Dirman nggak usah nunggu.”


“Nggak usah, tinggal pesan ojol,” sahut Cilla ketus dan bergegas keluar dari mobil.


Arjuna menghela nafas melihat sikap ketus istrinya. Arjuna masih menunggu di dalam mobil sampai Cilla masuk ke gedung SMA. Dahinya berkerut karena melihat Cilla sibuk dengan handphonenya hingga hanya menoleh sekilas saat Lili menghampirinya di depan gerbang gedung SMA.


Arjuna kembali menghela nafas, sedikit bingung menghadapi Cilla yang terlihat jutek dan irit bicara empat hari terakhir ini. Bahkan bukan kebiasaan Cilla pergi sendirian ke mal hanya sekedar cuci mata


Perlahan Arjuna membawa mobilnya meninggalkan sekolah dan menepis jauh-jauh pikiran buruk tentang sikap Cilla.


***


Arjuna menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya. Sikap Cilla sedikit membuatnya resah. Sepertinya bukan karena PMS karena sebelumnya, Cilla tidsk pernah menunjukan gejala seperti empat hari ini.


“Kenapa Bro ?” Tino mengernyit saat melihat wajah Arjuna terlihat sedang berpikir keras. “Kenapa lagi sama istri lo ?”


“Sotoy,” cibir Arjuna.


“Cuma seorang Priscilla Darmawan yang bisa bikin Arjuna galau dan kehilangan gairah seperti ini. Kenapa ? Belum dapat jatah berhari-hari ?” ledek Tino sambil terkekeh.


“Jatah darimana ? Masih perjaka nih gue,” gerutu Arjuna dengan suara pelan namun masih terdengar oleh Tino.


“Serius lo ?” Tino tercengang. “Udah jalan tiga minggu masih belum unboxing ?”


“Lupain aja ucapan gue barusan,” omel Arjuna sambil mengambil berkas yang baru dibawa Tino dan dtaruh di atas mejanya.


“Jun, gimana sih unboxingnya ditunda-tunda ? Kalau kayak belanja online tuh, barang yang baru di unboxing lebih dari seminggu hari setelah diterima nggak bisa dikomplain lagi.”


“Si**lan lo !” Arjuna melempar Tino dengan pena di tangannya. “Elo kira istri gue barang dagangan online ? Biar nggak langsung unboxing, Cilla bukan cewek sembarangan, beda banget sama Luna. Lagian mana ada gue punya niat komplain apalagi retur Cilla ke mertua.”


Tino tergelak melihat wajah Arjuna yang cemberut.


“Duh yang ingat sama mantan pacar. Sakitnya tuh di sini,” ledek Tino sambil memegang dadanya.


“Apaan sih lo ! Nggak jelas banget sih,” omel Arjuna.


“Terus sekarang masalah lo apa lagi ? Udah kebelet banget ya pengen lepas keperjakaan elo ?” Tino terbahak.


“Dasar otak ngeres, pikiran nggak jauh-jauh dari perawan sama perjaka,” cibir Arjuna. “Pacar belum punya, cem-cem an dimana-mana.”


“Biar lebih mantap pilihannya, Bro. Uji cobanya nggak cukup sehari dua hari.”


“Kebanyakan pilihan malah pada kabur semuanya. Baru pacaran aja udah banyak madunya,” ledek Arjuna sambil tertawa pelan.


Arjuna kembali menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi kerja.


“Cilla udah 4 hari terakhir ngambek. Ngomong seperlunya, kalau malam sengaja milih belajar di kamarnya sendiri sampai gue yang harus gendong biar bisa tidur bareng. Irit banget suaranya bahkan hari ini nggak mau bilang pergi kemana dan sama siapa.”


“Pasti elo buat salah lagi.”


Arjuna mengerutkan dahinya, mencoba mengingat-ingat terkahir kali Cilla masih bersikap biasa padanya.


“Coba elo telusuri kejadian 4 hari terakhir. Ada buat salah apa sampai Cilla kesel banget sama elo.”


Arjuna menautkan kedua jemarinya dengan posisi tangan menopang di pegangan kursi kerjanya. Teringat saat Cilla pertama kali ketus padanya, dimulai saat mereka bertemu di aula sekolah Sabtu lalu.


Cilla melewatinya seolah Arjuna tidak ada di sana dengan alasan hendak ke toilet tapi akhirnya batal karena melihat keluarganya dan keluarga tante Siska berjalan menuju aula.


“Kayaknya ngambek gara-gara gue nggak cerita soal rencana papi yang ngajak kita semua ke sekolahnya Cilla,” Arjuna mengetuk-ngetukan jarinya di meja.


“Kenapa lagi pakai acaranya di sekolah ?”


“Biasa masalah saingan Cilla di sekolah. Nggak terima Cilla udah nikah sama gue, nyebarin gosip bilang Cilla hamil sampai gue terpaksa nikahin dia.”


“Seandainya mereka tahu kalau elo belum unboxing, pasti jadi topik hangat yang bikin heboh juga. Belum lagi murid-murid penggemar elo bakalan berusaha menggusur Cilla.”


“Kalau udah niat nikung mah nggak penting perjaka apa duda,” ujar Arjuna sambil terkekeh.


“Udah ada niatan ceritanya ?” ledek Tino.


“Nggak minat sama sekali. Apalagi ngeliat elo pusing bohong sana sini demi stabilitas jiwa dan raga,” ejek Arjuna sambil tergelak.


“Soalnya belum ketemu yang menggemaskan kayak istri elo. Kayaknya kalau masih segel, layak juga buat gue perjuangkan,” Tino mengerutkan dahi seolah sedang berpikir serius sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk.


“Awas kalau berani !” Arjuna mengepalkan tangannya ke arah Tino. “Bukan cuma persahabatan yang putus, tapi hidup elo gue bikin setengah mati, setengah hidup.”


“Duuhh atut pak guru,” ledek Tino sambil berakting layaknya orang ketakutan.


“Cilla cuma sayangnya sama gue. Nggak bakalan tergoda sama cowok playboy modelan elo,” cebik Arjuna dengan tatapan arogan.


“Siapa bilang nggak bisa tergoda, buktinya banyak ciwi-ciwi melehoy juga kalau gue rayu terus. Mau taruhan ?”


“Dasar jomblo gila !” Arjuna melotot. “Nggak ada coba-coba sama istri gue !”


“Cie-cie istri aja nih sebutnya,” ledek Tino.


“Ya iyalah istri. Biar masih anak SMA, status kan udah sah istrinya Arjuna Hartono,” sahut Arjuna dengan wajah pongah.


“Duh gelinya punya boss kalau lagi songong begitu,” cibir Tino. “Awas over pede, tahu-tahunya diselingkuhi sama istri kecilnya.”


“Elo di sini kerjanya jadi asisten, bukan provokator. Jangan ngajak-ngajak gue kalau mau jadi cowok playboy,” omel Arjuna.


Tino hanya tertawa dan meletakan pena yang Arjuna lempar ke arahnya di atas meja supaya bossnya itu bisa meneruskan pekerjaan pagi ini, menandatangani sejumlah dokumen perusahaan.


“Jangan lupa jadwal hari ini full dengan meeting,” ujar Tino mengingatkan sebelum keluar ruangan. “Kabarin istri lo biar nggak salah paham lagi.”


“Udah gue kasih tahu tadi pagi kalau bakal pulang malam.”


“Btw, ada ajakan makan siang mendadak Jun dari Riana soal kerjasama hotel Pak Darmawan.”


“Riana dari perusahaan mana lagi ?”


“Riana Sulistio, anaknya Pak Eka Sulistio. Dia bilang kenal sama elo malah pernah satu sekolah.”


Arjuna mengangguk-angguk mendengar nama lengkap yang disebutkan Tino.


“Temannya Luna,” gumam Arjuna. “Sebetulnya agak malas ketemu sama temannya Luna. Kira-kira kerjasama apa, No ? Ada gunanya nggak ?”


“Kalau soal hotel terus terang gue masih buta, Bro. Kalau memang elo ragu karena Riana temannya Luna, lebih baik ditolak aja. Tapi kalau tetap mau coba ketemu nggak ada salahnya juga. Bersikap profesional aja, Bro. Keputusannya nanti gimana, elo kan masih bisa diskusikan sama mertua elo.”


”Ya udah, diiyain aja. Habis itu kita langsung ke kantor Darmawan Grup. Bokap gue jadi berangkat sendiri, kan ?”


“Iya pisah mobil, kan habis itu kita mau lanjut dinner lagi,” sahut Tino.


Arjuna mengangguk dan kembali sibuk dengan berbagai dokumen yang ada di mejanya.


“Mas Juna ada lunch meeting. Cilla rencananya mau ke mal mana ? Mas Juna bisa atur biar kita bisa ketemu sebentar.”


Arjuna mengirimkan pesan untuk Cilla namun hanya centang satu. Arjuna melihat jam di layar handphonenya. Cilla pasti sedang berkutat dengan soal-soal ujiannya.