
Sudah dua minggu berlalu sejak Arjuna resmi menyandang status sebagai pacar Cilla.
Meski keduanya berusaha bersikap biasa-biasa saja dan cukup rutin bertemu hanya di pujasera, namun sikap Arjuna sering tidak mampu menahan gejolak hatinya bagai anak SMA yang sedang mabuk dilanda cinta pertama, membuat kedua sahabat Cilla mencium bau-bau rahasia di antara guteng dan anak pemilik sekolah itu.
Pasalnya kedua sahabat Cilla sering menangkap basah pasangan baru itu sedang gantian mencuri-curi pandang di kelas lalu tersenyum malu-malu manja saat tanpa sengaja keduanya bersitatap.
Berbeda lagi dengan Jovan yang sering mengerutkan dahi karena Arjuna selalu memberikan seribu satu alasan saat ia menanyakan tentang perkembangan usaha perdamaian yang akan ditengahi oleh Arjuna.
Cilla sedang menikmati semangkok bakso di kantin saat jam istirahat kedua besama Febi dan Lili saat Jovan langsung duduk di sebelahnya sambil membawa dua gelas es jeruk. Satu diletakkan di depan Cilla, dan satunya lagi langsung diteguknya untuk menghilangkan dahaga.
“Jadi Cilla doang yang dibeliin nih “ sindir Lili sambil mencibir.
“Elo mau juga ?” tanya Jovan santai. Ia langsung mengeluarkan selembar uang limapuluh ribuan dan diletakannya di samping mangkok bakso milik Lili.
“Gue traktir, tapi elo jalan sendiri. Tadi niatnya mau beliin tapi berhubung tangan gue cuma dua, nggak bisa bawa empat gelas sekaligus.”
Febi dan Lili langsung mencibir pada Jovan. Uang yang diberikan Jovan langsung kembali disodorkan Lili kepada pemiliknya.
“Kalau hanya bayarin, gue masih mampu beli sendiri. Biar bapak gue nggak sekaya Cilla, nggak penting banget dibayarin elo. Yang kita butuhin tuh perhatian elo,” ujar Lili dengan wajah kesal.
Sudah dua setengah tahun ini Lili mengejar Jovan, tapi sepertinya pandangan pria itu sudah dipenuhi oleh bayangan Cilla. Bahkan Sherli yang kecantikannya jauh di atas Cilla , tidak mampu menggoyahkan semangat Jovan untuk mendapatkan perhatian dan cinta Cilla.
“Yakin nggak nyesel ?” Jovan mengangkat kedua alisnya untuk memastikan. Saat Lili mengangguk mantap, Jovan mengambil kembali uangnya dan memasukkannya ke kantong kemeja.
Melihat Jovan yang kurang peka dengan sindirannya, wajah Lili langsung cemberut. Untung saja cacing di perutnya lebih berkuasa dariapada emosinya hingga nafsu makannya tidak menguap begitu saja. Cilla yang melihatnya hanya tertawa pelan.
“Nih minum punya gue aja,” ujar Cilla sambil menggeser gelas es jeruknya ke dekat Lili.
“Nggak usah. Gue masih bisa hidup biar nggak dibeliin es jeruk sama Jovan,” sahut Lili dengan nada ketus.
“Gue beneran lagi nggak pengen,” paksa Cilla. “Lagian gue takut kalau si ketos masukin obat pelet ke dalamnya. Kalau sampai beneran, biar elo aja yang kepelet sama dia, jangan gue,” ujar Cilla sambil terkekeh.
“Nggak usah pakai obat, gue memang sudah kepelet sama dia. Kalau nggak kena pelet, pasti begitu ditolak, gue langsung menendang wajahnya jauh-jauh dari otak gue.”
Febi dan Cilla langsung tertawa mendengar pernyataan cinta Lili yang diucapkannya dengan santai dan apa adanya.
“Mana ada gue pakai pelet. Elo aja yang salah alamat kirim hati elo,” protes Jovan dengan wajah kesal.
Lili langsung melotot menatap ketos tampan itu dan mendengus kesal lalu meneruskan acara makan baksonya.
“Elo ada hubungan khusus sama Pak Arjuna, Cil ?” tanya Jovan tiba-tiba.
Uhhuukkk..uhhuukkk…
Cilla langsung tersedak air mineral, untung bukan kuah bakso yang ada di mulutnya dan tidak sampai menyembur seperti kebiasaan Arjuna.
“Iya, semua anak kelas duabelas juga punya hubungan khusus sama Pak Arjuna. Hubungan murid sama guru kelas 12,” sahut Cilla santai.
“Haiiss bukan itu maksud gue !” gerutu Jovan. “Masa musti gue pertegas karena elo pura-pura oon… Pacaran Cil, Pacaran !” tegas Jovan dengan wajah gemas.
“Gue berhak untuk tidak menjawab pertanyaan elo,” sahut Cilla sambil menggeser mangkok baksonya yang sudah bersih.
“Elo kira ini lagi sidang di pengadilan ? Jawaban elo kayak terdakwa yang lagi ditanya sama jaksa,” kembali Jovan menggerutu.
Febi dan Lili sempat cekikikan melihat wajah Jovan yang berubah masam mendengar jawaban Cilla atas pertanyaannya yang serius.
“Tapi Jovan ada benarnya tuh, Cil,” timpal Lili dengan wajah polosnya membuat Febi langsung menautkan alis, khawatir dengan pertanyaan Lili yang suka aneh-aneh. Masalahnya mereka tidak hanya sedang bertiga tapi ada Jovan juga di situ.
“Gue sering lihat kalau Pak Arjuna makin sering memperhatikan elo kalau lagi ngajar di kelas. Suka senyum-senyum sendiri sambil melirik elo kalau kita lagi kerjain soal latihan. Jangan-jangan…. “
Lili menyipitkan matanya dan menelisik wajah Cilla yang sedang berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja tapi memutar otaknya untuk memberi jawaban yang pas tetapi masuk akal.
“Tentu aja Pak Arjuna bakal suka perhatiin gue, Lili… Dia takut gue kabur lagi atau bolos pas jam pelajarannya. Seperti kata Febi, kita kan udah kelas 12, sebentar lagi mau semesteran terus awal tahun mulai sibuk sama ujian praktek dan try out. Sudah pastilah Pak Arjuna akan perhatiin gue. Sebagai guru kontrak, wajar dia mendekati gue supaya tahun depan kontraknya nggak diperpanjang tapi langsung diangkat sebagai guru tetap.”
Entah skenario cerita darimana yang Cilla ambil untuk dijadikan jawaban pertanyaan Jovan dan Lili. Febi yang lebih memahami Cilla hanya tersenyum tipis.
Kejadian Cilla jatuh menimpa Pak Arjuna dan masalah perbincangan keduanya saat ulangan susulan yang sempat mereka intip bersama Pak Dono, membuat Febi yakin kalau guru dan sahabatnya ini memang saling jatuh cinta.
“Tapi dia selalu menghindar kalau gue ajak bicara terutama menyangkut soal elo,” imbuh Jovan dengan wajah kesal. “ Padahal dia udah janji mau buat gue sama elo sepakat untuk gencatan senjata.”
Febi dan Lili langsung tergelak mendengar ungkapan hati Jovan yang selama ini masih belum kesampaian, meski mereka tidak tahu alasan Cilla menolaknya.
“Elo kira kita lagi di medan perang sampai butuh gencatan senjata ?” cebik Cilla.
“Elo beneran nggak ada hubungan apapun sama Pak Arjuna ?” tanya Jovan kembali sambil memicingkan matanya.
“Pertanyaan nggak penting dan nggak harus gue jawab. Lagian elo kepo banget sih soal gue sama Pak Arjuna ?” sahut Cilla dengan nada yang mulai kesal.
“Cilla !” Jovan menahan lengan Cilla sebelum menginjak undakan tangga pertama. Ia langsung menarik tangan Cilla dan membawa ke tempat favorit mereka.
Lili yang melihat Jovan langsung membawa Cilla ingin menyusulnya, tapi Febi menahan tangan Lili dan menggeleng saat sahabatnya menoleh memandangnya.
“Biarkan mereka selesaikan urusan mereka yang masih menggantung.”
Lili terlihat tidak rela tapi akhirnya menurut juga pada Febi dan berdua menaiki tangga menuju lantai dua terus lanjut ke lantai tiga.
“Ada urusan apalagi sampai gue elo seret kemari ?” tanya Cilla masih dalam posisi berdiri berhadapan dengan Jovan.
“Gue mau pasttin sama elo. Apa benar elo ada hubungan spesial sama Pak Arjuna ?”
“Boleh gue tahu alasannya kenapa elo begitu kepo dengan jawaban gue ?” tanya Cilla dengan wajah malasnya.
“Karena gue cinta sama elo, Cilla. Gue bukan sekedar sayang sebagai sahabat, tapi gue cinta sebagai seorang lelaki dewasa kepada perempuan dewasa juga, dan perempuan yang sudah bikin hati gue nggak karuan ya elo. Priscilla Darmawan.”
Cilla menghela nafas panjang . Entah sudah keberapa kalinya Jovan mengungkapkan cintanya pada Cilla. Sesungguhnya Cilla memang pernah menyukai Jovan saat mereka masih sama-sama kecil. Jovan yang selalu memperhatikannya. Jovan yang selalu ada saat ia sedih terutama saat meninggalnya mami Sylvia. Jovan yang selalu menjadi pelindungnya. Dan masih banyak alasan yang membuat Cilla menganggap Jovan adalah orang yang sangat-sangat spesial.
Tapi sejak kejadian dimana Jovan berbohong soal peristiwa Kak Mia dan Tante Sofia yang menyebabkan Cilla benar-benar terluka bukan hanya secara fisik tapi juga hatinya, perasaan spesial itu langsung menguap begitu saja.
“Cilla,” panggil Jovan sambil mendekati Cilla, namun gadis itu malah mundur beberapa langkah. “Maafin kesalahan gue, apapun akan gue lakukan untuk mendapatkan maaf dari elo. Dan tolong katakan kalau elo nggak ada hubungan apa-apa sama Pak Arjuna, karena cinta gue benar-benar tulus sejak dulu, sekarang dan di masa depan.”
Cilla menghela nafas panjang dan berat sambil menatap mata Jovan yang terlihat begitu sendu. Rasanya sudah lama tidak bersitatap seperti ini dengan sahabat kecilnya. Rasanya Jovan dilambungkan ke langit melihat Cilla menatapnya begitu lama.
Bel tanda berakhirnya istirahat berbunyi, tapi keduanya masih bergeming tempatmya tanpa peduli akan terlambat mengikuti pelajaran selanjutnya.
“Sorry Jovan,” lirih Cilla dengan nada sendu. “Sorry karena gue nggak bisa membalas perasaan elo baik sekarang ataupun di masa depan.” Cilla menundukkan kepalanya dan mencoba menahan air matanya.
“Kenapa elo harus minta maaf ? Kenapa elo nggak bisa membalas perasaan gue ?” Jovan kembali mendekati Cilla dan gadis itu bergeming di tempatnya berdiri.
“Cilla,” tangan Jovan sudah terangkat hendak menyentuh bahu Cilla tapi suara bariton itu menghentikannya.
“Jangan sembarangan menyentuh Cilla,” Arjuna yang beberapa saat lalu sudah berdiri di balik batang pohon jambu dekat situ sambil mendengarkan percakapan Jovan dan Cilla, langsung menampakkan dirinya karena tidak ingin Cilla disentuh oleh pria lain sekalipun Jovan adalah sahabat kecilnya,
“Pak Arjuna,” Jovan memanggil gurunya dengan wajah terkejut.
“Kalau kamu mau tahu kenapa Cilla tidak bisa menerima perasaanmu sekarang atau di masa depan, itu semua bukan karena kejadian di masa kecil kalian, tetapi karena Cilla sekarang adalah kekasih saya.”
Jovan langsung terbelalak mendengar ucapan Arjuna. Keduanya saling bertatapan saling memicingkan mata.
“Tapi Bapak berjanji…”
“Terakhir saya berjanji akan membuat kalian berdua berdamai. Tapi soal hati, saya sudah bilang terus terang padamu kalau saya akan menjadi rivalmu untuk mendapatkan hati Cilla. Dan maaf sepertinya kamu harus merelakan Cilla untuk menjadi milik saya.”
“Tapi…”
“Maafkan gue juga Jovan,” Cilla yang tadinya berdiri di belakang Arjuna , berpindah ke depan Arjuna hingga berhadapan langsung dengan Jovan.
“Anggaplah kita sudah sama-sama impas menerima dan memberikan maaf di antara kita bedua. Setidaknya kita bukan hanya gencatan senjata, tapi berdamai sebelum mengakhiri sekolah kita,” ujar Cilla sambil tertawa getir.
“Lepaskan gue dari perasaan cinta lo dan gue juga akan melepaskan diri elo dari luka di hati gue Meskipun kita tidak bisa menjadi sahabat baik lagi seperti dulu, setidaknya hubungan kita sebagai teman tidak akan berakhir dengan suatu ketidakpastian. Terima kasih sudah pernah menjadi seorang sahabat di masa-masa tersulit gue. Terima kasih sudah mencintai gue begitu tulus di masa-masa remaja. Dengan tulus gue akan selalu berdoa buat elo supaya mendapatkan seorang gadis yang baik dan dapat memberikan elo beribu cinta yang pasti akan membuat elo bahagia.”
Jovan hanya terdiam sambil menoleh ke arah lain. Hatinya bahagia karena akhirnya keluar juga kata memaafkan dari mulut Cilla, namun sekaligus terluka karena cintanya tak mampu menempati hati Cilla.
Arjuna memberi isyarat supaya Cilla mengikutinya kembali ke kelas karena memang jadwal Arjuna yang akan mengajar di kelas Cilla untuk dua jam terakhir ini.
“Cilla,” panggil Jovan sebelum keduanya menjauh.
Cilla menghentikan langkahnya dan berbalik badan namun tidak bergerak mendekat ke arah Jovan.
“Terima kasih karena sudah memaafkan gue yang sudah begitu dalam menyakiti hati elo selama bertahun-tahun. Dan gue juga bedoa semoga elo dan Pak Arjuna akan mendapatkan kebahagiaan.”
Jovan semakin melebarkan senyumannya saat melihat Cilla mengangguk dan tersenyum tulus kepadanya. Senyuman yang selalu menghiasi keseharian mereka di saat keduanya sama-sama kecil dulu sampai akhirnya menghilang karena suatu kebohongan yang diucapkan oleh Jovan.
Arjuna meraih jemari Cilla dan membawa dalam genggamannya. Ia siap memberikan kenyamanan baru untuk Cilla sekarang dan di masa depan supaya gadis yang dicintainya itu bisa menghapus satu persatu luka yang sering membuat langkahnya tersendat.