MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kemarahan Papa Arman


 


Hampir jam 3 sore Arjuna sudah sampai depan gedung kantor PT Indopangan. Sesuai pesan yang dikirim oleh Tino kalau papa Arman meminta Arjuna datang seusai mengajar. Dengan hati berdebar, Arjuna melangkah keluar dari lift yang sudah membawanya ke lantai 10.


 


Matanya sempat melihat meja Yolanda sudah rapi, hanya ada Tino berdiri dekat pintu dengan wajah tegang membuat debaran hati Arjuna semakin kencang.


 


“Ada apa, Bro ? tanya Arjuna dengan suara berbisik.


 


Tino hanya memberi isyarat menyuruh Arjuna segera masuk karena sudah ditunggu oleh kedua orangtuanya.


Begitu pintu terbuka, terlihat papa Arman yang sejak tadi berjalan mondar mandir dengan wajah penuh kemarahan, menghampiri Arjuna yang juga berjalan masuk.


 


“Pa. Ma,” sapa Arjuna dengan suara sedikit bergetar.


 


Tanpa memberikan jawaban apapun, papa Arman langsung melayangkan tamparan yang cukup keras sampai dua kali dan membuat Arjuna sempat terhuyung. Tino yang masih berdiri di pintu bergegas masuk dan menahan tubuh boss sekaligus sahabatnya itu. Dilihatnya sudut bibir Arjuna sedikit berdarah.


 


“Dasar lelaki tidak bertanggungjawab ! Berani melamar anak orang dan siap menikah tapi masih berani bermain api di belakang, di kantor lagi !”


 


Arjuna terkejut mendengar ucapan papa Arman. Dahinya sempat berkerut, memikirkan apakah Cilla yang menceritakan kejadian ini pada kedua orangtuanya ?


 


Papa Arman mengulurkan tangan pada mama Diva yang langsung mengerti maksud suaminya. Mama Diva mengeluarkan kotak beludru dari dalam tasnya.


 


Dengan kasar Papa Arman melemparkan kotak itu ke hadapan Arjuna hingga menabrak dadanya dan jatuh ke lantai dalam keadaan terbuka. Mata Arjuna membelalak saat mendapati cincin tunangan yang diberikannya untuk Cilla dan kalung yang dihadiahkan oleh mama Diva saat mereka bertunangan berceceran di lantai.


 


“Kenapa ada sama Mama dan Papa ?” tanya Arjuna terbata dan pandangannya masih menunduk menatap kedua benda itu.


 


“Cilla sudah membatalkan pernikahan kalian dan ia mengembalikan ini untukmu !” sahut papa Arman dengan penuh emosi.


 


“Batal ?” Arjuna mengulangi dengan dahi berkerut dan suara bergetar. Nafasnya sedikit memburu karena menahan gejolak di hatinya.


“Tapi kami…”


 


“Kenapa ? Kaget ? Bukannya ini pilihan kamu sendiri ? Pria b**doh ! Bisa-bisanya tidak menghubungi calon istri kamu sampai berhari-hari. Papa dan mama saja yang sudah menikah puluhan tahun tidak pernah melewati satu hari pun untuk berkirim pesan. Apalagi jaman semakin canggih, hanya dengan satu jari kalian sudah bisa terhubung. Sementara kamu ? Seperti manusia yang hidup di jaman purbakala dan tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi sama orang, calon istri kamu pula !”


 


“Juna memang salah, Pa,” lirih Arjuna sambil memungut cincin dan kalung yang tergeletak di lantai. “Maafkan Juna.”


 


“Sudah tiga hari ini Cilla menghindari Juna, Pa. Masalah Yola sudah Juna jelaskan pada Cilla dan Juna juga minta maaf soal nomornya yang diblokir sama Yola. Juna pikir Cilla lagi butuh waktu sendiri, ternyata…” Arjuna tersenyum getir.


 


“Cilla tidak mengadu apapun sama Papa dan Mama, Jun,” ujar mama Diva di sela tangisnya. “Papamu baru saja tahu dari Tino dan Theo bukan dari Cilla. Tadi kami memang bertemu dengan Cilla, tapi tidak ada cerita apapun tentang Yola dan masalah kamu tidak pernah berkirim pesan dengannya kalau sudah sibuk bekerja di kantor.”


 


“Cilla membatalkan pernikahan ini karena tidak ingin menjadi beban untukmu. Apa kamu mengeluhkan masalah perwalian dan pabrik pada Cilla ?” tanya papa Arman masih dengan tatapan tajam.


 


“Juna nggak pernah ngomong sama Cilla sesuai dengan pesan Papi waktu itu. Tapi….”


 


 


“Kemarin malam Juna bertemu dengan Theo, Luki dan Boni. Biasa kami saling curhat masalah dan ternyata saat Juna sedang curhat, Cilla ada di sana dan mendengarkan semuanya.”


 


“B**doh ! Bagaimana calon seorang  pemimpin bisa begitu teledor berbagi masalahnya dengan orang lain tanpa memperhatikan orang sekelilingnya ? Bagaimana kalau yang kamu bahas adalah masalah perusahaan dan ada pesaingmu di sana ?”


 


“Mereka bukan orang orang lain biasa, Pa. Mereka sahabat Juna, tempat Juna berbagi suka dan duka sejak masih sekolah,” bantah Arjuna.


 


“Lalu Cilla siapa ? Sekedar murid kamu yang nggak penting kamu tanyakan kabarnya ? Yang nggak perlu kamu kasih tahu kalau kamu sedang ada lembur di kantor ?”


 


Mama Diva memanggil Arjuna supaya duduk di sebelahnya. Perlahan Arjuna mendekat dan mengikuti permintaan mamanya.


 


“Apa Cilla begitu memberatkan hidupmu, Jun ?” mama Diva mengusap punggung anaknya sambil menyodorkan selembar tisu agar Arjuna membersihkan darah di sudut bibirnya.


Arjuna terdiam dengan kepala tertunduk.


 


“Kalau sudah begini kamu hanya bisa berlindung di balik Mama ?” sinis papa Arman. “Kemana Arjuna mantan preman sekolah yang sukanya bikin masalah ? Mana Arjuna yang berani memilih meninggalkan orangtuanya demi seorang wanita penipu atas nama cinta ?”


 


“Pa !” tegur mama Diva sambil menatap suaminya dengan dahi berkerut.


 


Papa Arman duduk di sofa berseberangan dengan Arjuna dan mama Diva. Dipandanginya Arjuna dengan wajah kesal.


 


“Cilla nggak pernah memberatkan Juna kok, Ma. Juna bahagia dan nggak pernah menyesal memilih Cilla untuk jadi istri Juna. Tapi ternyata Juna adalah seorang calon suami yang pengecut, tidak berani menerima segala konsekuensi yang harus Juna jalani kalau sampai kami menikah. Juna terlalu fokus pada diri sendiri dan egois, hanya tenggelam dalam rasa ketakutan sendiri hingga mengabaikan Cilla yang selama ini begitu besar perannya dalam hidup Juna.”


 


“Dan penyesalan itu sudah tidak ada gunanya lagi. Papinya Cilla akan mencabut semua surat kuasa untukmu yang berkaitan dengan Cilla. Untuk sementara, pembangunan pabrik di Batang juga di stop, tidak perlu ada tender kedua dan ketiga untuk jangka waktu yang belum bisa ditentukan,” tegas papa Arman sambil menarik nafas panjang.


 


“Juna akan menemui papi Rudi dan menjelaskan semuanya, Pa. Juna juga akan bicara dengan Cilla dan memintanya… “


 


“Tidak perlu !” potong papa Arman cepat. “Papa tahu bagaimana mantan calon mertuamu itu. Biarkan situasi tenang dulu sesuai permintaannya karena Cilla akan menghadapi persiapan ujian akhir.”


 


Arjuna terdiam, meredam kesedihan hatinya karena Cilla telah mengambil keputusan tanpa berbicara dulu dengannya. Ternyata ia telah melukai Cilla begitu dalam hingga akhirnya gadis itu memilih melepaskannya dan mungkin akan hidup dalam kesendiriannya lagi.


 


Arjuna langsung teringat dengan luka di mata Cilla yang pasti akan kembali memenuhi seluruh langkah hidupnya setelah ini.


Arjuna  tersenyum getir saat mengingat betapa bahagia dirinya waktu melihat pancaran luka itu telah hilang dari tatapan mata Cilla. Gadis itu berubah menjadi sosok yang manja dan penuh dengan rasa bahagia karena beban berat yang dipikulnya sendirian sudah bisa terbagi dengan kehadiran papi Rudi dan Arjuna sendiri.


 


Arjuna menghela nafas panjang. Baru kali ini ia merasakan sesak yang luar biasa karena putus cinta, seolah separuh nafas dan hidupnya ikut menguap bersama keputusan yang Cilla ambil.


 


Mengingat betapa kerasnya sifat Cilla di balik sikap manja dan kekanakannya, Arjuna tidak yakin akan mudah mendapatkan kembali cinta Cilla yang tidak akan pernah rela dilepaskannya.