MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2


Arjuna terlihat tidak tenang mengikuti rapat pagi ini. Beberapa kali CEO Indopangan itu bolak balik melihat handphonenya sambil mengerutkan dahi.


Tino yang sadar kalau bossnya sedang ada masalah akhirnya memberi isyarat agar laporan dari para kepala divisi dipercepat. Tidak ada gunanya menjelaskan. panjang lebar karena Arjuna sudah tidak fokus dengan agenda rapat.


“Kenapa ?” tanya Tino sambil mengikuti langkah Arjuna yang tergesa keluar dari ruang rapat.


“Handphone Cilla mati sampai pesan gue aja nggak terkirim sejak 3 jam yang lalu,” sahut Arjuna dengan langkah tergesa kembali ke ruangannya.


“3 jam ? Memangnya Cilla pergi kemana? Bawa mobil sendiri ?”


“Iya, tadi pagi udah ijin sama gue mau nyekar ke makam papi sebelum ke kampus gara-gara semalam Cilla mimpi didatangi papi. Biasa dia selalu kasih kabar begitu selesai di satu tempat, tapi hari ini hanya berhenti dengan pemberitahuan kalau ia sudah sampai di pemakaman.”


“Mungkin semalam lupa nge-charge handphone terus. Nggak bawa powerbank pula.”


“Gue lihat semalam handphonenya aman, jadi nggak mungkin kehabisan baterai.”


Arjuna mencoba menghubungi Cilla namun masih tersambung dengan kotak suara hingga akhirnya ia mengumpat kesal.


“Gue cek posisi mobilnya lewat GPS,” ujar Tino mendahului Arjuna menuju meja kerjanya.


Tino langsung memeriksa posisi mobil Cilla melalui aplikasi yang ada di komputernya.


“Posisi mobilnya terparkir nggak jauh dari pemakaman, titiknya di kedai kopi gitu, Jun.”


Arjuna mendekati meja Tino dan menatap ke layar komputer mengikuti telunjuk Tino yang menunjuk ke satu titik.


“Ini nama kedai kopinya.”


“Suruh orang pastikan posisi terakhir Cilla, kalau perlu minta tolong karyawan Sebastian untuk mengecek CCTV yang ada di sekitar lokasi.”


Tino hanya mengangguk dan tangannya langsung menekan nomor panggilan orang-orang kepercayaannya untuk segera mendatangi lokasi dimana mobil Cilla berada.


Arjuna lanjut masuk ke dalam ruangannya dengan wajah gusar. Ia pun mengambil handphone dan menghubungi Amanda, Lili dan Febi untuk mencari tahu keberadaan Cilla di kampus namun tidak ada satu pun yang menanggapi panggilannya.


Arjuna menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerja dan memijat pelipisnya. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk menimpa istrinya dan entah kenapa pikirannya langsung tertuju pada Glen.


Arjuna bergegas bangun dan mengambil kunci mobil. Hari ini tidak ada jadwal mengajar di kampus, tapi Arjuna tetap akan ke sana untuk memastikan firasatnya.


“Gue ke kampus dulu, Bro. Mau pastiin Cilla sampai ke sana atau nggak. Tolong kabarin kalau mobilnya udah ditemukan.”


“Gue temenin nggak, Jun ?”


“Nggak usah, gue butuh elo di sini.”


Begitu sampai di pintu, Arjuna mendadak berhenti dan kembali berbalik badan.


“No, orang suruhan elo masih belum berhasil menemukan keberadaan nyokapnya Glen ?”


“Kemarin sore kabar yang gue terima masih sama. Nyokapnya pindah keluar kota tapi nggak pernah menetap lama di satu lokasi.”


“Kayak ada sesuatu yang membuat nyokap Glen harus bersembunyi. Coba cek kemungkinan beliau berganti identitas dan jangan lupa pastikan apa benar bokapnya. Glen meninggal karena terlalu sedih ditinggal putrinya.”


“Oke Jun.”


Arjuna bergegas turun ke lantai dasar dan membawa mobilnya langsung menuju kampus. Untung saja jalanan sudah tidak terlalu padat hingga 25 menit kemudian, Arjuna sudah sampai di parkiran kampus.


Terlalu fokus memikirkan Cilla, Arjuna sampai lupa kalau jabatannya adalah dosen di kampus Cilla dan mengabaikan beberapa mahasiswa yang menyapanya saat berpapasan.


“Gimana No ?”


“Cilla sempat minum di kafe dengan cowok yang deskripsinya memang mirip Glen dan dia adalah pelanggan di situ. Sayangnya CCTV mereka lagi rusak sejak 3 hari yang lalu. Nggak ada jejak pembayaran kartu debit atau kredit karena cowok itu selalu bayar tunai. Udah gue kirim foto bon pesanan mereka lengkap ada jam pembayarannya. Siapa tahu elo butuh untuk dicocokin sama kedatangan Glen di kampus.”


”Tolong diusahakan masalah nyokapnya Glen ya, No.”


“Iya Jun, sejak elo minta pencarian masih lanjut terus.”


“Thanks No.”


Arjuna bergegas masuk ke ruang administrasi. Agak berbelit dan harus sedikit berbohong untuk meminta data absensi yang sudah menggunakan sidik jari.


*****


Di tempat lain, Cilla yang baru saja sadar perlahan bangun dan mengerjapkan mata untuk menyesuaikan dengan cahaya yang ada di sekelilingnya.


Ruangan semacam kamar ini sudah pasti bukan miliknya. Tidak ada bau parfum Arjuna tapi aroma pria yang berbeda tertangkap indera penciumannya.


Kepalanya masih agak pusing begitu juga rasa mual masih dirasakannya membuat Cilla perlahan turun dari ranjang dan berjalan menuju jendela yang tertutup tirai.


Cilla bisa memastikan kalau ia sedang berada di apartemen milik Glen. Tidak mungkin hotel, karena tatanan lemari dan beberapa kemeja yang tergantung tidak menggambarkan kamar hotel.


Cilla keluar kamar dengan langkah perlahan. Ternyata memang apartemen dengan satu kamar karena begitu membuka pintu langsung terlihat sofa lengkap dengan televisi yang menggantung dan dapur kecil serta kamar mandi di dekat pintu masuk.


Cilla berjalan menuju dapur untuk mencari minuman. Tenggorokannya terasa kering . Ia memutuskana untuk mengambil sebotol air mineral yang ada di dalam lemari pendingin.


Cilla mengedarkan pandangan. Perabotan yang tersedia di apartemen sangat minimalis bahkan di dapur hanya terlihat beberapa peralatan masak dan peralatan makan di lemari lainnya.


Cilla menarik kursi lalu duduk di dapur sambil memijat pelipisnya. Entah obat bius apa yang diberkan oleh Glen karena sampai saat ini kepalanya masih pusing dan perutnya pun mual.


Cilla melirik jam tangannya, hampir makan siang. Apa karena lapar juga Cilla jadi merasakan pusing dan mual ?


Matanya menyipit, melihat tas tangannya ada di atas sofa depan televisi. Ia langsung berpindah tempat dan mencari handphone untuk menghubungi Arjuna atau siapapun, tapi Cilla tidak bisa menemukannya di dalam tas. Benda pipih miliknya pasti diambil oleh Glen supaya Arjuna tidak bisa melacak keberadaannya.


“Aku sudah menyediakan makan siangmu di lemari makan. Ada buah juga di kulkas yang bisa kamu makan.”


Suara Glen yang menggema di dalam ruangan membuat Cilla terkejut. Tidak ada orang yang masuk melalui pintu tapi tiba-tiba suara Glen terdengar jelas.


Cilla mengedarkan pandangannya dan menemukan 2 kamera CCTV terpasang di ruang tengah dan dekat dapur.


“Tidak usah memikirkan bagaimana Arjuna menemukanmu, nikmati saja kebebasanmu sebagai ibu dan istri saat ini. Aku akan datang selesai mengajar.”


“Ternyata Bapak hanya seorang pegecut karena menggunakan saya untuk melawan Mas Juna. Seharusnya Bapak berhadapan langsung dengan Mas Juna untuk menyelesaikan masa lalu kalian.”


“Kamu pikir manusia sombong seperti Arjuna mau mengakui kesalahannya.”


“Suami saya adalah orang yang bertanggungjawab terhadap hidupnya terlebih jika itu menyangkut orang lain. Saya bangga dengan Mas Juna dan orang seperti Bapak tidak akan pernah bisa menggeser posisinya dari hati saya.”


“Jangan terlalu percaya diri,” nada suara Glen terdengar sinis.


“Kita lihat saja sejauh mana dia bisa bertanggungjawab atas hidupmu sekarang. Jangan coba-coba kabur kalau masih ingin bertemu dengan anakmu.”


Cilla hanya menghela nafas dan terdiam. Dia harus berusaha tetap terlihat tenang supaya Glen yang terus memantau setiap pergerakannnya tidak merasa mudah menguasai Cilla.