
“Ngapain tuh anak ada di sini ?” Arjuna berbisik pada Cilla saat istrinya saat mereka sampai di ruang tengah.
Arjuna baru saja tiba dari kantor dan Cilla menyambutnya di ruang tamu.
“Lagi SOS sama Jovan,” bisik Cilla sambil menggamit lengan Arjuna.
Sean yang melihat papinya sudah pulang langsung meninggalkan mainannya dan merangkak ke arah Arjuna.
“Papi mandi dulu, sayang,” Arjuna menciumi wajah puteranya yang digendong Cilla.
“Pi..pi…pi…” Sean merengek, memaksa ingin digendong Arjuna.
“Kamu nginep di sini ? Udah bilang sama Papa Mama ?” tanya Arjuna pada Amanda yang duduk di sofa ruang keluarga.
“Udah bilang,” sahut Amanda sedikit ketus. “Nanyanya gitu amat sih. Takut istrinya dibajak ?”
“Kamu lagi PMS ?”
“Kenapa ? Kan judesnya memang udah bawaan dari orok, sebelas duabelas sama Kak Juna,” ketus Amanda.
Cilla tersenyum melihat wajah Arjuna kesal sambil geleng-geleng kepala. Arjuna akhirnya menggendong Sean yang mulai menangis memaksa ingin digendong Arjuna.
“Kayaknya Sean lagi ogah dekat-dekat Tantenya dan udah tahu kalau maminya bakal dipinjam malam ini ,” bisik Cilla.
“Eh nggak ada tinggalin aku tidur sendiri, ya !” protes Arjuna sambil melotot
“Iya.. iya… Mas Juna beneran sebelas duabelas sama Amanda kalau lagi jutek begitu,” ujar Cilla sambil cekikikan.
Sean yang melihat wajah Papi-nya cemberut ikut tertawa sambil memegang pipi Arjuna.
“Manda, aku temenin Mas Juna sebentar ya.”
Amanda yang duduk sambill menonton televisi hanya mengangguk dengan wajah masin ditekuk.
“Ingat ya, boleh buka jasa konseling, tapi suami nggak boleh ditinggal sendirian,” tegas Arjuna saat mereka naik ke lantai 2.
Cilla tertawa saat Sean mengikuti gaya bicara Arjuna dengan wajah yang sangat mirip.
“Hati-hati tuh, anaknya mulai menduplikasi,” bisik Cilla.
Arjuna menatap putranya yang berekspresi mirip dengannya. Dengan gemas ia menciumi Sean sampai bayi itu tertawa kegelian.
***
Selesai makan malam, Arjuna mengajak Sean bermain dan Cilla langsung mengajak Amanda berbincang di teras belakang.
“Jovan kenapa lagi ?” tanya Cilla tanpa berlama-lama.
”Dia selingkuh,” gerutu Amanda.
“Selingkuh gimana ? Elo dapat bukti atau melihatnya langsung ?”
“Minggu lalu ada yang kirim foto dari nomor nggak dikenal soal Jovan dan teman satu angkatannya. Gue udah coba mencari tahu, dan 3 hari lalu gue sengaja bolos demi ke kampus Jovan. Gue lihat dengan mata kepala sendiri kalau Jovan memang kelihatan dekat dengan cewek itu.”
”Dekat gimana ? Pegang-pegangan juga ? Udah tahu identitas pengirim foto ?” Cilla mengangkat sebelah alisnya.
”Soal identitas si pengirim gue belum tahu, soal pegang-pegangan gue nggak lihat Jovan begitu.”
“Terus ?”
“Kan tadi gue udah bilang Cilla kalau pas gue ke sana gue ngelihat langsung kalau Jovan itu memang dekat sama tuh cewek, kelihatan mereka akrab banget,” ujar Amanda dengan wajah kesal.
Cilla tersenyum dan mengangguk-angguk sementara wajah Amanda makin ditekuk.
“Terus apa kata Jovan ?”
“Udah pasti dia nyangkal lah ! Jovan bilang dia nggak ada hubungan apa-apa tapi memang dia akui kalau cewek itu agre, mepet Jovan terus.”
Amanda menoleh, menatap Cilla dengan wajah cemberut.
“Dari tadi elo nanya-nanya terus, nggak ada komentar. Elo menganggap gue yang nethink dan bisanya cemburuan doang sama Jovan ?”
Cilla tertawa pelan dan menggeleng.
“Nggak ! Gue nggak berpikir begitu, hanya saja kejadian ini mengingatkan sama pengalaman gue belum lama ini sama mantannya Mas Juna.”
“Luna ?” Amanda menautkan alisnya.
“Bukan dan ceritanya nanti aja. Fokus ke masalah elo dan Jovan. Tadi gue lihat elo sempat nangis di mobil, memangnya Jovan ngomong apa sama elo ?”
Amanda terdiam dan menghela nafas beberapa kali sebelum menjawsb pertanyaan Cilla.
“Jovan bilang gue itu terlalu pencemburu dan susah dikasih pengertian. Jovan bilang gimana nanti kalau dia beneran udah jadi dokter, ketemu banyak pasien yang mungkin aja cewek-cewek cakep dan di antara mereka ada yang agre, apa gue bakal cemburuin semua pasien atau keluarga pasiennya ? Jovan bilang dia cuma minta dipercaya dan dimengerti doang.”
“Elo nggak tanya soal cewek itu, kenapa Jovan kelihatan akrab ?”
“Jovan bilang nggak gampang untuk membuang kebiasaannya ramah sama orang, tapi dia berani jamin kalau sejak pacaran sama gue, Jovan tuh membatasi diri banget kalau bergaul sama perempuan.
Jovan nggak gampang kasihan lagi apalagi ringan tangan membantu orang lain terutama kaum perempuan.”
“Memang bawaan Jovan begitu sejak dari jaman SD, itu sebabnya ciwi-ciwi banyak yang suka nempel sama dia,” ujar Cilla.
“Tapi cewek yang ini beda, Cil. Gue melihat cara Jovan sedikit istimewa dibandingkan sama teman ceweknya yang lain.”
Cilla terdiam, berusaha menata pikirannya supaya tidak salah bicara pasa Amanda.
“Jovan yang gue kenal memang orang yang supel tapi nggak gampang jatuh cinta, tapi manusia kan bisa berubah Manda, dan udah setahun ini gue udah jarang ketemu sama Jovan.”
“Jadi elo setuju kalau kemungkinan Jovan selingkuh ?”
“Masalah begini bukan setuju atau tidak setuju, Manda, karena yang tahu kebenarannya hanya Jovan dan elo. Masalah begini jalan keluar utamanya saling percaya. Gue sama Mas Juna udah berkali-kali dihadapkan masalah orang ketiga dan pada akhirnya masalah selesai kalau kita sama-sama bisa saling percaya.”
“Jadi gue harus percaya begitu aja dengan omongan Jovan ? Apa karena dia teman lo makanya elo susah berkomentar negatif soal Jovan ?”
“Bukan begitu, Manda. Secara hubungan, kita berdua ini saudara ipar jadi udah seharusnya gue ada di pihak elo. Gue yakin elo nanya soal Jovan ke gue karena merasa dia itu sahabat baik gue jadi gue pasti lebih tahu gimana Jovan. Tapi seperti gue bilang, manusia itu bisa berubah dan udah setahun ini gue jarang banget ketemu Jovan, jadi nggak tahu srjauh mana dia berubah atau nggak.”
“Sebaiknya gue gimana ?” suara Amanda sudah mulai turun intonasinya, tidak seemosi tadi.
“Pastikan sama Jovan, kalau perlu minta dikenalin sama itu cewek. Elo bisa pastiin kan kalau memang Jovan berniat menduakan elo pasti dia ogah ngenalin ke elo, tapi kalau nggak ada apa-apa, gue yakin Jovan malah bangga memperkenalkan elo sama tuh cewek.”
“Gue pencemburu banget ya ?”
“Sepertinya itu sudah mendarah daging dalam jiwa kalian,” sahut Cilla sambil terkekeh.
“Terus masalah elo sama Pak Glen gimana ?”
Cilla pun bercerita secara garis besar soal Glen dan Susan yang mencoba membuat ricuh rumah tangganya.
”Gue harus ke kamar sekarang, bayi gede udah memanggil,” Cilla tertawa sambil memperlihatkan handphonenya dan ada nama Arjuna di sana.
“Cil.”
Cilla berhenti dan membalikkan badan, menatap Amanda yang masih duduk di kursi.
“Thankyou buat waktunya.” Cilla mengangguk dan tersenyum.
“Satu hal yang gue yakin belum berubah darii Jovan, dia masih seorang pria yang enak diajak bicara makanya ciwi-ciwi pada nempel sama dia. Elo spesial buat Jovan, jadi elo harus lebih lengket nempelnya daripada yang lain.”
“Perlu pake lem super ?” Amanda mulai tertawa pelan
“Dobel takarannya,” sahut Cilla sambil tergelak.
Cilla bergegas masuk sambil melambaikan tangan karena Arjuna kembali memanggilnya.