
Arjuna mengendap masuk ke kamar miliknya yang ada di rumah papa Arman dan mama Diva.
Terlalu serius berbincang dengan papa masalah pekerjaan, Arjuna sampai lupa waktu dan melupakan istrinya yang tadi juga sedang berbincang dengan mama dan Amanda.
Arjuna tertawa pelan saat melihat Cilla sudah tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka. Posisinya terlentang hingga membuat Arjuna leluasa untuk memandangnya.
Arjuna naik ke tempat tidur dan membawa Cilla ke dalam pelukannya. Sepertinya rencana malam pertamanya benar-benar harus dibuat dalam program bulan madu.
Arjuna mencium bibir Cilla cukup lama dan tidak membuat istri kecilnya terbangun. Sepertinya kegiatan dengan mama dan Amanda hari ini cukup menguras tenaga Cilla.
🍀🍀
“Mas Juna pergi dulu, nggak lama,” ujar Arjuna mengelus punggung Cilla yang ada di dalam pelukannya.
“Iya, Cilla nggak mau ditinggal lama-lama,”ujar Cilla dengan suara seperti anak kecil yang merajuk.
Dion dan Sebastian yang menunggu di mobil hanya senyum-senyum sambil geleng-geleng kepala. Gadis yang berstatus istri Arjuna itu lebih cocok jadi adiknya daripada istri. Berbeda dengan Kiara yang hanya berbeda 6 tahun dengan Sebastian.
Arjuna tersenyum saat Cilla masih belum mau melepaskan pelukannya. Tidak biasanya anak bebek kesayangan Arjuna manja seperti ini.
“Kalau kondisi proyek sudah memungkinkan pasti Mas Juna akan ajak Cilla juga ke sana,” ujar Arjuna berusaha merenggangkan pelukan Cilla. “Lagipula survey kali ini pasti akan menyita waktu dan Mas Juna bakal nggak sempat menemani Cilla.”
Terdengar helaan nafas panjang Cilla yang akhirnya melepaskan pelukannya.
“Nggak boleh ngelirik cewek lain atau membiarkan ada ulat bulu yang nempel-nempel ya !”
“Iya sayang,” Arjuna tersenyum sambil mengusap wajah Cilla kemudian mencium kening Cilla cukup lama.
“Ya udah sana pergi,” dengan bibir mengerucut dan wajah tidak rela, Cilla menyuruh Arjuna masuk ke mobil.
“Om Bastian, Cilla titip Mas Juna, ya,” tanpa terduga Cilla menyelip Arjuna saat membuka pintu penumpang tengah.
“Hai Cilla,” Sebastian balas menyapanya. “Iya pasti dijagain baik-baik Mas Juna-nya.”
Cilla menarik kedua sudut bibirnya dan matanya sempat menyipit sejenak.
“Om Sebastian mirip banget ya sama Om Steven,” ujar Cilla terkekeh sambil mundur, membiarkan Arjuna masuk ke dalam mobil.
Sebastian tertawa saat melihat wajah Arjuna sedikit cemberut. Sudah dipastikan kalau suami Cilla ini tidak suka istrinya menyebut-nyebut nama Steven.
“Bobo lagi kalau masih ngantuk,” pesan Arjuna dari balik kaca yang terbuka.
“Iya… Hati-hati di jalan !” Cilla melambaikan tangannya sambil tersenyum. Ia menunggu sampai mobil keluar dari pagar rumah papa.
“Istrimu penggemar Steven, heh ?” ledek Sebastian saat mobil terus melaju menjauhi rumah papa Arman. Tujuan selanjutnya menjemput Luki.
“Sepertinya begitu,” gerutu Arjuna. “Sepertinya wanita gampang digoda dengan snelli dokter daripada dasi dan jas.”
Bukan hanya Sebastian yang tergelak, Dion yang duduk di samping sopir ikut senyum-senyum.
“Sayangnya prinsip itu tidak berlaku untuk istriku,” ujar Sebastian dengan nada menyombong.
“Itu karena istrimu tahu kalau kamu itu perjaka tua yang lebih kaya daripada Steven,” sahut Arjuna sambil mencibir. “Lebih baik mendapatkanmu yang masih perjaka daripada Steven yang sudah punya anak.”
“Setidaknya logika istriku masih jalan untuk memilih yang lebih baik dan menguntungkan,” sahut Sebastian sambil tertawa.
“Istri Pak Arjuna muda banget ya,” ujar Dion.
“Ibarat buah bukan hanya masih mengkel, Yon, tapi mentah,” timpal Sebastian. “Biar gampang dibohongi sama Arjuna.”
“Dih enak aja gue suka bohongin istri,” protes Arjuna. “Susah dapat yang kualitas super kayak Cilla, jadi nggak akan mungkin gue sia-siakan.”
“Cilla itu lebih cocok jadi adik elo daripada jadi istri,” ledek Sebastian. “Atau masih lebih cocok jadi istrinya Steven.”
“Bilang aja elo iri karena ternyata istri gue lebih muda lagi dari istri lo,” cibir Arjuna.
“Nggak pusing Pak, punya istri masih muda banget begitu ?” tanya Dion.
“Pasti pusing, Yon, lihat aja tadi mau ditinggal pergi udah kayak anak kecil yang mau ditinggal sama papanya, musti dibujuk dulu,” ledek Sebastian.
“Biasanya nggak pernah begitu,” sahut Arjuna sambil mengerutkan dahi. “Cilla itu anak yang mandiri, Bas, biasa gue tinggal-tinggal nggak pernah sampai kayak berat begitu ngelepas gue.”
“Jangan-jangan istri elo hamil, Jun. Kayak istri gue pas hamil muda susah ditinggal, maunya nempel terus.”
“Siapa yang hamil ?” tanya Luki.
Terlalu asyik mengobrol, Arjuna dan Sebastian tidak menyadari kalau mobil sudah sampai di depan rumah Luki dan pria itu sudah siap saat mobil berhenti.
“Istrinya Juna,” sahut Sebastian sambil terkekeh.
“Yakin istrinya Juna hamil ?” cibir Luki. “Memangnya udah berhasil unboxing ?”
“What ?” mata Sebastian langsung membelalak. “Elo kan udah lama juga nikahnya, masih belum juga unboxing ?”
“Apaan sih elo berdua !” gerutu Arjuna.
“Jangan bilang elo nggak tega karena istri lo masih muda banget ?” tanya Sebastian dengan wajah penasaran.
“Nggak tega soalnya istrinya seumur adiknya,” ledek Luki sambil tertawa.
“Bedalah rasa istri sama adik,” protes Arjuna masih dengan wajah masamnya. “Kita berdua siap aja, cuma ada aja yang bikin gagal terus. Makanya habis ini gue mau ajak Cilla honeymoon.”
“Cie..cie… Akhirnya kepikiran juga ajak istri bulan madu,” ledek Luki. “Bukannya dari awal-awal aja.”
“Yah kan elo tahu sendiri pas awal kita berdua nikah, Cilla lagi fokus ke ujian sekolahnya, terus lanjut urusan pesta dan baru agak santai, papi masuk rumah sakit sampai akhirnya meninggal. Mana tega bicara soal ranjang saat Cilla lagi dirudung duka.”
“Colong waktu dong, Jun. Kalau ikutin kerjaan nggak akan ada habisnya,” ujar Sebastian. “Gue sama Kirana juga begitu. Selalu memaksimalkan segala kesempatan,” lanjut Sebastian sambil terkekeh.
“Bukan memaksimalkan lagi, Pak,” ledek Dion.
“Nah tuh Dion tahu,” sahut Sebastian santai. “Setiap Kirana datang ke kantor, semua jadwal diundur minimal sampai satu jam ke depan.”
“Wuuiihh itu mah bukan maksimal lagi,” ledek Luki sambil berdecak.
“Makanya cari pacar buruan,” gantian Arjuna yang meledek Luki. “Jangan cuma cari ttm doang.”
“Kenalin dong sama teman-temannya Cilla,” ujar Luki.
“Ya ampun, nggak cari calon istri yang lebih dewasa ? Gue aja kayaknya berasa ngeri-ngeri sedap ngelihat Arjuna punya istri muda banget gitu. Baru 17 ya ?”
“Iya, bulan Februari kemarin ini baru 17,” sahut Arjuna.
“Musti kuat mental kalau mau punya istri semuda itu,” ujar Sebastian. “Yang pas ya di atas 20 gitu, setidaknya udah nggak terlalu labil.”
“Kalau gitu kenalin sama teman-temannya istri lo dong, Bas. Kirana masih kurang dari 25 tahun, kan ?”
“Kayak kurang penggemar aja,” cibir Sebastian. “Bukannya banyak cewek yang tinggal elo kedipin langsung klepek-klepek dan nempel kayak lintah ?”
“Cewek modal kedipan nggak cocok buat dijadikan istri, pas nya buat ttm aja,” sahut Luki sambil tertawa.
“Awas kejebak sama cewek ttm elo, Luk. Jangan sampai nasib elo berakhir kayak Steven. Kalau udah punya anak, suka nggak suka harus tanggungjawab,” nasehat Sebastian.
“Gue juga jarang celap celup, Bas. Agak-agak horor karena jaman now banyak keadaan terbalik, bukan cowok yang menjebak cewek tapi cewek yang menjebak cowok.”
“Tuh Dion, harap didengar pengalaman jomblo sejati,” ledek Arjuna.
“Gue kagak jomblo-jomblo amat ya, dibandingkan sama elo, daftar pacar gue masih lebih banyak. Memangnya kayak elo, Jun, tiap pacaran maunya langsung diajak jadi istri aja,” balas Luki sambil mencibir.
“Sebelas duabelas lah sama Bastian,” sahut Arjuna melirik orang di sebelahnya.
“Malas kebanyakan pacar,” sahut Sebastian. “Kalau kebanyakan nanti pas lagi sebar benih sama istri terus salah sebut nama bisa panjang urusannya.”
Luki ikut tertawa mendengar ucapan Sebastian, Dion dan Arjuna hanya senyum-senyum aja.
“Udah Jun, habis ini jangan ragu-ragu lagi cari waktu buat bulan madu sekalian unboxing istri kecil elo itu. Mumpung dia belum masuk kuliah, diikat dulu. Apa elo nggak khawatir kalau saat jadi mahasiswa biarpun udah menikah tapi statusnya masih gadis ting ting ? Begitu kena senggol cowok yang lebih pintar merayu dari elo, bisa-bisa Cilla rela menyandang janda perawan,” ledek Sebastian yang langsung disambut tawa Luki.
“Kemarin aja udah ada kadal buluk yang berani ngajak kenalan pas Cilla lagi urus administrasi ke kampus,” gerutu Arjuna.
“Cilla itu imut kayak masih anak-anak banget. Pasti banyak cowok yang suka sama dia karena menggemaskan,” ujar Sebastian.
“Kenal sama anggota BEM yang namanya Hans ?” tanya Arjuna.
“Hans Sapta ? Dia anaknya Karim Sapta, pengusaha rempah yang terkenal di Jawa Tengah.”
“Nggak tahu nama belakangnya. Dia hanya memperkenalkan diri dengan nama Hans aja.”
“Waahh kalau nggak salah tuh anak termasuk salah satu idola di kampus. Gue juga nggak terlalu tahu sih, soalnya udah lama nggak ikutin masalah kampus. Kenal sama Hans karena bokapnya sempat jadi klien MegaCyber.”
“Memangnya kampusnya Cilla punya elo, Bas ?” tanya Luki sambil menautkan alisnya.
“Iya,” Sebastian tertawa pelan. “Awalnya hanya untuk tempat mencari bibit-bibit unggul di bidang teknologi. Nggak tahu detilnya, bokap malah ditawarin kerjasama untuk membangun universitas.”
“Ya ampun elo berdua tuh, ya,” Luki menatap Arjuna dan Sebastian bergantian. “Gimana bisa jatuh miskin kalau tiap waktu bisnisnya bertambah. Apalagi masuk bidang pendidikan yang pasti selalu dicari orang.”
“Kalau gue, sekolah kan punya mertua, bukan usaha sendiri. Itu pun awalnya untuk membantu anak-anak pintar yang kurang mampu. Tapi ya untuk mendukung semuanya itu, nggak nolak juga anak-anak yang punya uang lebih biar bisa subsidi silang.”
“Kenapa kalian berdua nggak kerjasama aja ?”
“Ide bagus juga sih, Jun,” ujar Sebastian menanggapi usul Luki. “Kita bisa kerjasama dengan memberikan semacam beasiswa dan keringanan biaya.”
“Kalau soal itu harus melibatkan Cilla langsung, gue kurang paham. Nanti aja bahasnya kalau udah balik dari Batang.”
“Kalau soal ilmu membahagiakan istri masih perlu nggak, Jun ?” ledek Luki. “Mumpung ada pakarnya nih, sekali jebol gawang langsung dapat dobel poin.”
“Yang begituan kagak usah belajar sama orang, apalagi sama duda model begini,” Arjuna melirik Sebastian. “Dia aja hampir kena tipu sama mantan istri pertamanya. Mau belajar darimananya ? Kalau soal cetak gol tergantung dikasihnya sama Tuhan. Kebetulan aja nih mantan duda langsung dikasih dua sebagai ganti dua tahun menyandang duda perjaka.”
“Si**lan lo Jun,” Sebastian mencibir membuat Arjuna malah tertawa. “Bukan kena tipu namanya tapi karena gue terlalu baik makanya nggak pernah berpikiran jelek.”
“Dasar otak cyber,” ledek Luki. “Pintar aja ngelesnya, kayak bajaj yang nggak bisa kebaca mau jalan kemana.”
Arjuna tergelak dan Sebastian hanya tertawa pelan sambil geleng-geleng kepala.