
Amanda baru saja turun dari kamarnya menuju ruang makan. Waktu masih jam 7.30 pagi. Hanya terlihat papa dan mama di sana, tanpa kakaknya yang bilang akan mulai tinggal bersama lagi di rumah ini.
“Kak Juna nggak jadi pindah kemari lagi, Ma ?’ tanya Amanda saat mulai duduk di seberang mama Diva, dekat papa Arman yang duduk di ujung meja.
“Selamat pagi, Amanda,” sahut mama Diva.
Amanda langsung nyengir kuda. Lupa pada kebiasaannya menyapa kedua orangtuanya saat pertama bertemu di pagi hari.
“Selamat pagi Mama, selamat pagi Papa,” sapanya dengan senyuman semanis mungkin sambil mengedipkan sebelah matanya pada mama Diva.
“Hmmm,” jawab papa Arman yang sedang mengunyah roti.
“Kak Juna nggak jadi pindah kemari lagi, Ma ? Amanda mengulangi pertanyaannya.
“Jadi, tapi pagi-pagi sudah pamit mau ke rumah Cilla. Katanya sudah janji mau ajak Cilla pergi jalan-jalan hari ini,” sahut mama Diva.
“Mulai bucin, deh. Perasaan baru semalam pergi seharian sama Cilla. Nggak cukup ketemu di sekolah doang, pagi-pagi sudah ngapel lagi,” gerutu Amanda sambil mencebik.
“Kenapa ? Iri ? Makanya cepat-cepat cari pacar,” ledek papa Arman sambil tertawa.
“Iri sih nggak, Pa. Cuma nggak sangka aja kalau kak Juna bisa jadi cowok bucin juga. Perasaan waktu jalan sama kak Luna nggak gitu-gitu amat. Kartu kredit sih dilepas, tapi mana mau sampai bela-belain bangun pagi kayak sekarang.”
“Itu tandanya kakakmu cinta banget sama Cilla,” ujar mama Diva.
“Beruntungnya Cilla dapat kak Juna,” ujar Amanda.
“Memangnya kak Juna nggak beruntung dapatin Cilla sebagai calon istrinya ?” papa Arman balik bertanya dengan alis menaut. Amanda tersenyum kikuk ditanya balik oleh papanya seperti itu.
“Cilla itu anak yang baik, mandiri dan kuat,” ujar mama Diva. “Kamu aja yang umurnya sama masih suka kayak anak kecil, sedikit-sedikit merengek,” lanjut mama Diva sambil mencebik.
“Iya.. iya… calon menantu mama memang anak gadis idaman,” sahut Amanda dengan nada sedikit jutek.
Papa Arman tertawa melihat ekspresi putrinya yang terlihat tidak terima dengan ucapan mama Diva.
“Cilla anak yang baik dan cocok dengan kakakmu,” ujar papa Arman. “Dan masalah hidupnya, bukankah kamu jauh lebih beruntung daripada Cilla ? Kamu masih memiliki orangtua yang lengkap dan selalu bersamamu sejak kecil sampai sekarang, sementara Cilla ? Dia harus kehilangan mamanya sejak usia lima tahun dan sempat mendapat perlakuan tidak baik dari mama dan saudara tirinya. Cilla sempat dijauhi oleh papinya sendiri dan bahkan mungkin bisa kehilangan papinya dalam waktu dekat ini.”
“Memangnya ada apa dengan mas Rudi, Mas ?” tanya mama Diva dengan dahi berkerut.
Papa Arman meraih cangkir kopinya, meneguknya sedikit lalu meletakannya kembali. Terlihat beliau menarik nafas panjang sebelum mulai bercerita.
“Rudi terkena kanker getah bening sudah sekitar 5 tahun. Segala pengobatan sudah dia usahakan bahkan sampai ke Jepang dan Amerika, tapi sepertinya tidak ada jalan untuk kesembuhannya. Malah sudah setahun belakangan ini, secara medis kondisinya semakin menurun karena kankernya sudah menyebar ke organ lainnya.”
Mama Diva dan Amanda terdiam, seolah tidak percaya mendengar cerita papa Arman.
“Rudi tidak pernah meminta Arjuna menikah dengan Cilla, ia hanya ingin menitipkan Cilla supaya kita menjadikan Cilla anak angkat,” papa Arman menatap mama Diva dengan wajah sendu. “ Tapi mengingat kebaikannya pada kita terutama waktu Arjuna kecil dan sakit-sakitan, papa memutuskan untuk menikahkan Arjuna dengan Cilla. Maaf kalau papa tidak bicara dulu dengan mama,” papa Arman meraih jemari istrinya sambil tersenyum.
“Mama setuju kok dengan keputusan papa dan memang menikahkan Arjuna dengan Cilla lebih tepat daripada sekedar menerima Cilla sebagai anak angkat,” sahut mama Diva sambil membalas genggaman tangan suaminya.
“Jadi selama ini Cilla belum tahu kalau papinya sedang sakit keras, Pa ?” tanya Amanda dengan wajah sedikit kaget.
“Belum, Cilla belum tahu sama sekali kalau selama ini papinya menjauhi dia bukan karena membenci Cilla. Om Rudi tidak ingin Cilla merasa kehilangan papinya kalau sampai hubungan mereka terlalu dekat. Om Rudi tidak tega kalau Cilla akan terpuruk dalam kesedihan saat om Rudi harus meninggalkannya. Tapi ternyata Cilla tidak pernah membenci papinya meskipun selama bertahun-tahun om Rudi sengaja mengabaikannya.”
“Cilla memang sayang banget sama mami dan papinya, Pa,” ujar Amanda dengan wajah sedih.
“Papa bersyukur karena tanpa paksaan ternyata Arjuna juga mencintai Cilla meskipun dengan jalan yang tidak biasa. Baik papa maupun om Rudi tidak pernah mengatur Arjuna bisa bekerja di sekolah itu. Tapi sepertinya Tuhan memang sudah menentukan mereka sebagai jodoh satu dengan yang lainnya. Mereka benar-benar saling jatuh cinta tanpa diminta apalagi dipaksa.”
“Apa Kak Juna sudah tahu soal penyakit om Rudi, Pa ?” Papa Arman mengangguk.
“Dan kak Juna menerima Cilla sebagai calon istrinya bukan karena kasihan dengan Cilla kan, Pa ?”
“Papa yakin kakakmu bukanlah laki-laki semacam itu. Arjuna baru tahu masalah sakit om Rudi setelah meminta restu untuk menjalin hubungan dengan Cilla, saat dia tidak tahu kalau anak gadis yang ingin papa jodohkan dengannya adalah Cilla anak om Rudi.”
“Apa benar-benar tidak ada jalan lain untuk kesembuhan mas Rudi, Mas ?” tanya mama Diva dengan wajah sedih. “Mama benar-benar kasihan pada Cilla. Meskipun sudah ada Arjuna yang akan menjadi suaminya kelak, tapi cinta orangtua tidak akan pernah bisa digantikan dengan cinta seorang suami sekalipun.”
“Kita hanya bisa membantu dalam doa, Ma,” papa Arman kembali menggenggam jemari istrinya sambil tersenyum. “Dan kelak kalau terjadi sesuatu pada Rudi, kita akan menjadi orangtuanya dan Arjuna akan menjadi suaminya.”
“Cilla akan tinggal di sini setelah menikah dengan kak Juna, Pa ?”
“Kalau masalah itu papa serahkan pada keinginan mereka berdua. Namanya sudah berumahtangga, mereka berhak menentukan rencana hidup mereka sendiri.”
“Amanda akan lebih senang kalau Cilla dan kak Juna tetap tinggal di sini setelah menikah. Amanda jadi punya teman meskipun statusnya kakak ipar,” ujar Amanda sambil tersenyum.
“Papa minta jangan ceritakan masalah ini dulu dengan Cilla, karena menurut kakakmu, om Rudi sendiri yang ingin berbicara langsung dengan Cilla. Jangan sampai Cilla juga salah paham kalau mendengar hal sepenting ini dari orang lain.”
Suasana sempat hening. Amanda sendiri perlahan mulai menyuap potongan rotinya. Hatinya sedikit tercubit karena ia sempat merasa iri dengan Cilla. Mendapatkan calon suami seperti kakaknya, memiliki banyak teman bahkan cowok tampan seperti Jovan juga sempat ingin menjadi pacarnya.
Tapi apa yang terlihat tidak seperti yang dipikirkan oleh Amanda. Selama ini ia belum terlalu dekat dengan Cilla. Pertama kali mengenal Cilla adalah saat diajak makan malam oleh papa Arman dimana kakaknya justru melarikan diri. Pertemuan kedua mereka terjadi di café saat Cilla ingin menanyakan soal kebenaran status Arjuna yang didapatnya dari media sosial.
Ternyata kehidupan Cilla tidak semanis dan seindah tawa yang diperlihatkan gadis itu selama ini. Amanda membayangkan kalau dirinya ada di posisi Cilla, dengan sifat yang dimilikinya, ia pasti akan terpuruk dan membenci jalan hidupnya yang penuh liku dan berbatu.
“Apa pernikahan Arjuna dengan Cilla akan dipercepat ?” tanya mama Diva memecah keheningan di meja makan.
“Rudi masih mempertimbangkan status Cilla yang saat ini masih pelajar SMA. Selain itu, Arjuna juga tidak mungkin keluar dari pekerjaannya saat ini karena ia adalah guru yang betanggungjawab terhadap anak kelas 12. Jadi sebisa mungkin, Rudi ingin pernikahan dilaksanakan paling cepat setelah Cilla menyelesaikan semua ujiannya di SMA hingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi soal statusnya dengan Arjuna.”
“Mama mendukung semua keputusan papa dan mas Rudi soal Arjuna dan Cilla,” ujar mama Diva sambil tersenyum.
“Amanda juga akan mendukung semua keputusan papa dan om Rudi. Amanda ingin menjadi sahabat sekaligus saudara untuk Cilla,” timpal Amanda.
“Kita sama-sama berdoa semoga Tuhan masih memberikan umur panjang untuk om Rudi sehingga semua rencana bisa berjalan dengan baik.”
Mama Diva dan Amanda mengangguk bersamaan dan saling menggenggam tangan papa Arman yang ikut tersenyum. Semua hanya bisa berserah pada kehendak yang di atas karena seringkali rencana manusia tidak sesuai dengan rencana Tuhan yang sudah disiapkan untuk manusia yang berserah kepada-Nya.