MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Selalu Ada Kejutan


“Kenapa Cilla harus pakai baju ini, Mas Juna ?”


“Apa kita nggak kesiangan datangnya, Mas Juna ?”


“Kenapa nggak dari pagi aja ke rumah mama biar bisa bantuin mama dulu siapin bahan-bahan rujakan dan makanan buat tamu-tamu ?”


Sejak pagi tadi anak bebek kesayangan Arjuna ini mengoceh dan bertanya macam-macam sampai Arjuna bingung harus menjawab yang mana.


Sekarang keduanya baru saja tiba di rumah mama Diva dan papa Arman. Hari ini mama Diva sudah mengatur acara tujuh bulanan kandungan Cilla.


“Kok sepi-sepi aja ? Memangnya Mas Juna nggak ngundang para jones ? Tante Siska dan Om Rio nggak dikasih tahu ? Kan mama bilang acaranya mulai jam 11. Ini udah jam 10, kenapa nggak ada satu pun yang nongol ?”


Arjuna hanya senyum-senyum di belakang Cilla. Entah karena grogi mendekati waktu melahirkan atau pengaruh hormon, Cilla benar-benar tambah bawel dan suka memikirkan hal yang tidak penting.


“Mas Juna sih juga bilangnya acara jam 11, tapi belum ada yang info kalau sudah otw kemari.”


Cilla mengusap perutnya yang semakin membesar.


“Kenapa ? Baby lagi aktif banget, ya ?”


“Iya udah beberapa hari ini baby aktif banget bergeraknya. Kayaknya udah nggak sabaran mau ketemu papi maminya,” sahut Cilla sambil terkekeh.


“Bukan nggak sabaran, tapi baby bisa merasakan kalau maminya lagi gelisah beberapa hari ini.”


Arjuna merangkul Cilla dari samping dan mencium kening anak bebek kesayangannya.


“Cilla kenapa ? Grogi karena makin mendekati waktu lahiran ?”


Arjuna memeluk istrinya dengan satu tangan karena tangan lainnya membawa beberapa kantong kue hasil buatan Cila dan Bik Mina.


“Sedikit,” lirih Cilla dengan kedua tangannya memeluk pinggang Arjuna dan menyandarkan kepalanya pada dada pria itu.


“Jangan jadi beban, dibawa santai aja. Tante Wanda kan udah bilang kalau masih memungkinkan Cilla lahiran normal. Mas Juna akan mendukung semua keinginan Cilla dan yang terbaik buat baby dan Cilla.”


“Ya ampun Cilla, Juna, kok nggak masuk malah pelukan di luar ?” suara mama Diva tidak membuat Arjuna melepaskan pelukannya.


Keduanya hanya menoleh sambil tersenyum.


“Menantu mama lagi nggak tenang hatinya,” ujar Arjuna sambil mengusap punggung Cilla.


“Kamu kenapa, sayang ?” Mama Diva mendekat dan gantian merangkul bahu Cilla.


“Nggak apa-apa, Ma, cuma bingung aja kok sepi banget. Mobil om Rio juga belum kelihatan. Mama bilang kan acaranya jam 11 an, ini udah jam 10 lewat kok belum ada yang datang.”


“Kalau nggak ada yang datang, kita aja yang syukuran,” ujar mama Diva membawa Cilla masuk dan Arjuna mengikutinya dari belakang.


Mama Diva memanggil seorang pelayan untuk membantu membawakan barang-barang Arjuna.


“Kita ke halaman belakang, yuk !” Mama Diva menggandeng Cilla menuju ke halaman belakang.


Mata Cilla langsung membelalak saat banyak pasang mata menatapnya. Cilla langsung menoleh pada Arjuna yang ada di samping kanannya.


“Kejutan dari mama buat menantu kesayangannya,” ujar Arjuna sambil tersenyum.


“Selamat ulangtahun dan semoga dilancarkan lahirannya, sayang,” mama Diva memeluk Cilla setelah mencium kedua pipi menantunya itu.


“Selamat ulang tahun Priscilla.”


Dari barisan banyak orang yang sudah menunggunya di halaman belakang, Amanda muncul membawa kue ulangtahun lengkap dengan lilin angka 1 dan 8.


Di belakang Amanda ikut juga menghampiri Cilla ada Jovan, Lili, Febi dan Dimas.


“Terima kasih kejutannya, Ma,” dengan penuh rasa haru Cilla memeluk erat mama Diva sambil meneteskan air mata.


“Buat menantu tersayang dan calon cucu mama dan papa.”


Mama Diva melerai pelukannya dan menghapus air mata Cilla dengan punggung tangannya. Papa Arman yang ternyata juga menunggu di teras belakang ikut mendekat, memberikan ucapan selamat lalu memeluk Cilla.


“Untuk menantu papa yang luar biasa,” ujar papa Arman sambil menepuk-nepuk punggung Cilla.


“Terima kasih, Pa,” sahut Cilla.


Cilla terharu saat semua yang hadir menyanyikan lagu ulangtahun untuknya. Bahkan perayaan ulangtahun ke-17 Cilla tidak semeriah ini.


Bukan hanya para sahabatnya dan sahabat Arjuna yang diundang, mama Diva juga meminta bantuan Jovan, Febi dan Lili untuk mengundang teman-teman sekolah Cilla hingga halaman belakang rumah keluarga Hartono yang sudah dipasang tenda penuh dengan kenalan mereka.


Acara tujuh bulanan Cilla pun sudah dipersiapkan oleh mama Diva termasuk acara rujakan buatan si calon ibu.


“Kagak nyangka tukang panjat tembok sekolah bisa bikin rujak enak begini,” ledek Nico sambil menikmati rujak buatan Cilla.


“Elo kagak tahu aja kalau di atas pohon mangga belakang kantin, Cilla suka rujakan dulu, nunggu sampai Bu Retno nggak ada ?” ledek Jovan.


“Ya ampun Van, elo kok bisa tahu kalau Cilla rujakan di atas pohon ? Elo mau nangkep murid telat apa mau ngintipin Cilla,” ledek Nino


“Elo kagak tahu aja kalau Jovan alim di luarnya doang, kalem dan berwibawa karena jabatan ketos doang. Kalau udah kenal otaknya geser juga, malah lebih parah dari kita, No,” timpal Nico.


“Ya ampun Cilla, gue kagak nyangka kalau elo bisa secakep ini,” Aron yang baru bergabung menelisik Cilla sambil berdecak. “Kalau tahu secakep ini, gue tembak jadi pacar pas SMA.”


“Elo-nya aja yang rabun, cewek secantik ini dianggap setengah cowok sih,” sahut Cilla sambil mencobir lalu tertawa pelan.


“Maklum sekarang udah jadi istri boss, Bro, mau keluar masuk salon tiap hari nggak masalah dengan uang,” ledek Nino sambil terkekeh.


“Eh siapa juga yang pakai uang suami buat permak wajah ? Gue masih kayak dulu, bukan tipe cewek keluar masuk salon. Lagian pas SMA, elo aja yang fokusnya sama cewek-cewek cetar membahana model Sherly dan Merry,” sahut Cilla kembali.


“Tapi yang mereka bilang memang benar sih Cil,” Mira ikut menimpali. “Elo kelihatan beda banget, terlihat tambah segar dan cantik. Gue aja sempat nggak percaya pas melihat elo masuk.”


“Boleh daftar jadi suami kedua ?” celetuk Nico.


“Memangnya kepribadian elo sebaik Pak Juna ? Bisa menyaingi milik Pak Juna ?” cebik Nino.


“Yang pasti gue bukan orang jahat,” sahut Nico sambil memegang kedua sisi kemejanya, membanggakan dirinya.


“Dasar oon… pas sekolah kebanyakan dihukum guru jadi setengah somplak. Yang Nino maksud kepribadian ya sisi ekonominya. Pak Juna itu udah punya rumah PRIBADI, tabungan PRIBADI, mobil PRIBADI dan kepribadian lainnya. Nah kalau elo… sekolah aja masih nadah sama orangtua.”


“Yah kalau soal itu bisa lah sedikit lari marathon mengejar ketinggalan dari Pak Juna. Tapi dari segi usia, menang gue jauh kemana-mana,” ujar Nico dengan wajah pongah. “Dan itu nggak bisa dibeli dengan semua kepribadian Pak Juna.”


“Marathon mengejar saya kemana ? Apa hubungannya dengan kepribadian saya ?”


Arjuna tiba-tiba muncul dan merangkul bahu istrinya.


“Nico mau daftar jadi suami kedua Cilla, Pak,” sahut Nino.


“Aron jadi suami ketiga,” timpal Mira.


“Memangnya Cilla mau ?” Arjuna melirik istrinya sambil mengangkat alisnya sebelah. Cilla langsung menggeleng sambil tertawa.


“Mira lebay, Pak. Siapa juga yang mau daftar jadi suami Cilla ?”


“Dih tadi elo yang bilang kalau Cilla sekarang tambah cantik. Kalau tahu Cilla bakalan jadi cantik, dari SMA elo udah jadiin pacar,” ledek Nino.


“Salah kamu sendiri, dua tahun dikasih kesempatan sekelas sama Cilla nggak digunakan,” Arjuna balas meledek.


“Beda memang mata pria dewasa sama berondong,” ledek Reina. “Kalau pria dewasa melihat dengan hati, kalau abegeh ngeliatnya pakai mata doang.”


“Kayak elo nggak aja,” cebik Aron.


“Jadi maksud kamu waktu itu saya udah om-om banget, Reina ? Nggak cocok jadi berondong ?” ujar Arjuna.


“Eh bukan begitu, Pak,” sahut Reina dengan wajah kikuk.


“Mateng lo !” cebik Nico. “Guru matematika mau dilawan, kalah logikanya.”


“Terus kalau guru ekonomi gimana. ?” Dono ikut bergabung merangkul bahu Arjuna.


“Walikelas terbaik, Pak Dono,” Naya ikut buka suara sambil mengangkat jempolnya.


“Duh, melambung jadinya hati saya,” ujar Dono dengan wajah sengaja didramatisir bergaya bangga.


“Belum berubah, Pak ?” ledek Nino. “Belum tambah ganteng juga ?”


“Ya ampun Nino, belum juga setahun nggak ketemu saya masa berharap saya udah berubah ? Kalau saya mendadak keren kayak Vin Diesel, udah pasti saya nggak ada di sini.”


“Cilla aja tambah cantik, Pak,” celetuk Aron.


“Sepertinya saya memang perlu waspada sama kamu nih, Aron, daritadi memuji istri saya terus,” ujar Arjuna dengan mata menyipit.


“Calon pebinor, Pak,” ledek Nino sambil tergelak dan langsung mendapat pelototan dari Aron.


“Maklum saja kalau Cilla mendadak banyak penggemar, Pak Juna,” Dono menepuk pundak sahabatnya.


“Pesona mama mudanya terlalu kuat, membuat para cowok setengah matang ini jadi ngiler. Selama ini mereka tahunya Cilla itu sahabat baiknya pohon mangga sekolah dan penggemar Bu Retno, nggak tahunya Cilla ini permata yang baru kelihatan indah setelah digosok.”


“Kayaknya Pak Dono dari dulu sampai sekarang salah ambil bidang studi. Cocoknya jadi guru Bahasa Indonesia,” ledek Nico.


“Kamu tuh ya, mentang-mentang saya sekarang statusnya mantan guru kamu, berani ya mencela saya. Tapi kamu ada benarnya juga sih, jangan-jangan Pak Slamet salah menunjuk saya jadi guru ekonomi,” sahut Dono sambil terkekeh sementara para mantan muridnya tertawa.


Tidak lama Cilla dan Arjuna pamit untuk menyambut tamu lainnya termasuk keluarga Pratama yang baru saj datang.


“Van, penggemar elo kemana ?” tanya Nino mencari-cari Lili yang biasanya ada dekat-dekat Jovan.


“Udah punya pacar tuh anak,” sahut Jovan sambil menunjuk Lili yang tengah mengambil rujak bersama Dimas.


“Kenal dimana ? Tumben dapat cowok yang kelihatan normal dan dewasa,” Nino menyipitkan matanya memperhatikan Dimas dan Lili yang ternyata sedang suap-suapan.


“Sebentar,” pamit Jovan langsung menghampiri Lili, Dimas dan Febi yang baru saja bergabung dengN Amanda jug.


Lili sempat melirik mantan teman-teman sekelasnya dan mengangguk mengajak Dimas untuk bergabung dengan mereka.


“Kenalin ayang gue,” dengan wajah bangga, Lili mengenalkan Dimas.


“Dan ini pacar gue,” Jovan menimpali, tidak mau kalah memperkenalkan Amanda.


“Ya ampun sengaja bawa pacar kalian buat bersaing ?” ledek Aron.


“Dih ogah banget bersaing sama dia,” Lili menunjuk Jovan. “Masa kejayaannya sebagai ketos sudah berakhir. Lagian saingan gimana ? Jovan kan carinya cewek sedangkan gue cari cowok.”


“Dih nggak berubah, masih suka nge-gas,” cebik Nico yang diangguki Aron dan Nino.


“Udah sih, jangan membuka aib Lili dong di depan pacarnya,” ujar Naya. “Bisa-bisa Lili dilarang keras bergaul sama elo pada.”


Mantan anak-anak XII-IPS1 itu pun berkenalan dengan Dimas dan Amanda.


“Eh, elo bukannya adiknya Pak Juna ?” tanya Nino sambil mengernyit.


“Iya benar. Gue adiknya Pak Juna,” sahut Amanda.


“Walah beneran nih hidup si ketos nggak bisa jauh-jauh dari Cilla,” celetuk Nico.


“Bukan nggak bisa jauh dari Cilla, tapi kayaknya di kehidupan sebelumnya gue bersaudara sama Cilla makanya biar dekat dari orok sampai sekarang takdirnya cuma saling jaga bukan jatuh cinta.”


“Sekarang aja bisa ngomong begitu karena Cilla udab menikah dan elo punya pacar,” sindir Aron.


“Ya ampun aronan, gue sudah menelisik hati luar dalam kiri kanan kalau gue sama Cilla ternyata bukan cinta cowok cewek tapi beneran kayak saudara,” sahut Jovan dengan raut wajah mulai kesal


“Udah sih percaya aja,” Mira menengahi. “Jangan bikin hati panas orang. Ya nggak Amanda ?”


Amanda hanya tertawa menanggapi ucapan Mira.


“Biasa jiwa pebinor, Mir,” ledek Reina sambil tertawa.


“Dih asal,” cebik Aron dan Nico bersamaan.


Hari ini Febi yang lebih banyak diam dan tidak ikut berkomentar dalam perbincangan mereka.


Sepertinya ada sedikit rasa kehilangan saat kedua sahabatnya sudah memiliki pasangan hingga waktu mereka bertiga sudah berubah. Tapi Febi tidak bisa protes atau menyalahkan Cilla dan Lili hanya mungkin sudah waktunya juga untuj Febi membuka hatinya untuk berpikir mencari kekasih.