
Sementara Amanda bertemu dengan para sahabat Cilla di kantin, ternyata Cilla tidak bertemu dengan Arjuna di ruang guru. Pria itu mengirimkan pesan untuk menemuinya di tempat favorit mereka.
Cilla menghela nafas berkali-kali sebelum kakinya mencapai halaman belakang sekolah karena tahu yang akan dibahas oleh Arjuna bukan tentang masalah sekolah.
Sekarang keduanya sudah berada di sana, dengan posisi Cilla duduk di atas bangku semen sementara Arjuna berdiri tidak jauh di hadapannya dengan tangan melipat di depan dada.
“Ada perlu apa Bapak memanggil saya kemari ?” dengan wajah datar, Cilla memberanikan diri menatap Arjuna.
Sekuat tenaga Cilla menahan rasa rindu yang juga meronta-ronta dalam hatinya. Sebetulnya Cilla bisa menerima kalau Arjuna marah saat tahu kalau ada sandiwara yang sedang dimainkan oleh keluarganya dan melibatkan Cilla serta papi Rudi. Ia pun akan bereaksi yang sama, apalagi seminggu terakhir, Arjuna sempat dibuat tegang karena sepertinya ia tidak diberi pilihan untuk meneruskan hubungannya dengan Cilla.
Namun yang membuat Cilla sakit hati dan menjadi ragu untuk meneruskan hubungannya dengan Arjuna, saat pria itu membandingkan dirinya dengan Luna, bahkan mengatakan kalau dirinya jauh lebih buruk dari Luna.
Belum lagi perasaan jijik Arjuna saat mendengar Cilla memanggilnya Mas Juna. Ekspresi wajah Arjuna terlihat begitu menyakiti hatinya. Cilla ragu kalau ke depannya, Arjuna akan berhenti membandingkan dirinya dengan Luna dan perkataan pedas Arjuna tidak akan menyakiti hatinya.--
“Aku mau mengajakmu pergi besok sore,” ujar Arjuna sambil mendekati Cilla.
Arjuna langsung berjongkok di depan Cilla. Dengan perasaan sedikit takut ditolak, perlahan Arjuna menggenggam tangan Cilla. Ia bisa bernafas lega saat Cilla diam saja, tidak menolak atau membalasnya meski hanya dengan senyuman.
“Perjanjian kita akan membahas masalah hubungan ini setelah ulangan umum. Masih ada 3 hari lagi sebelum ulangan umum selesai,” sahut Cilla dengan wajah sendu.
“Tidak bisakah pengecualian untuk besok ? Lagipula lusa adalah hari Sabtu dan sekolah libur. Jadi kalau kita pergi besok, tidak akan mengganggu jam belajar kamu karena masih ada hari Sabtu dan Minggu,” ujar Arjuna dengan sedikit keberanian satu tangannya membelai pipi Cilla.
“Tapi apa yang akan terjadi besok mungkin bisa mengganggu konsentrasi saya, apalagi kalau bapak sampai marah-marah lagi seperti waktu itu.”
Arjuna tersenyum, hatinya benar-benar bahagia karena Cilla tidak menepis tangannya yang masih menempel di pipi gadis itu.
“Besok hari yang spesial untukku dan aku ingin melewatinya dengan orang yang sungguh-sungguh spesial dalam hidupku.”
“Kalau begitu bapak bisa pergi dengan orang yang spesial itu,” sahut Cilla dengan wajah datar.
Arjuna tertawa pelan dan berpindah duduk di sebelah Cilla. Diraihnya satu tangan Cilla dalam genggamannya dan diletakkan di atas pahanya.
“Kamu adalah orang yang spesial itu, Cilla. Aku tidak main-main dengan ucapanku kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu, bukan sekedar menyayangimu.”
Arjuna menoleh menatap Cilla dari samping, tapi saat ini gadis itu malah menatap ke arah lain.
“Tapi hati saya tidak merasa diperlakukan sebagai orang spesial,” sahut Cilla sambil menarik nafas panjang. “Karena saya tidak lebih baik dari mantan pacar Pak Arjuna bahkan bapak jijik mendengar panggilan saya.”
Arjuna tercubit dengan ucapan Cilla yang mengingatkan bagaimana buruknya perlakuan Arjuna hari Sabtu lalu. Emosinya telah menyakiti hati Cilla, padahal hatinya begitu menyayangi gadis itu, tapi mulutnya berkata seolah Ia tidak menginginkannya.
“Maafkan perbuatanku yang begitu menyakitimu, Cilla,” Arjuna mempererat genggamannya.
Matanya menatap Cilla dengan penuh penyesalan, tapi gadis itu masih belum mau membalas tatapannya.
“Apa yang bisa aku lakukan untuk mengobati rasa sakit hatimu ?” tanya Arjuna sambil berusaha membuat Cilla menoleh ke arahnya.
Tapi kali ini Cilla menepis tangan Arjuna dan langsung beranjak bangun. Cilla sempat menghela nafas dan tersenyum tipis dengan posisi berdiri di hadapan Arjuna.
“Maaf Pak, saya ada keperluan lain. Saya pamit dulu.”
Tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan terakhir Arjuna, Cilla hendak berlalu meninggalkan Arjuna, tapi tangannya ditahan oleh pria itu.
“Maafkan aku, Cilla. Maaf karena ucapanku begitu menyakitimu. Kalau besok kamu berubah pikiran dan mau menemaniku, kapan pun itu tolong jangan ragu untuk memberitahuku. Kamu bisa meneleponku atau sekedar mengirimkan pesan untukku.”
Cilla hanya menatapnya datar tanpa senyuman apalagi anggukan. Ia kembali melepaskan genggaman Arjuna dan berlalu meninggalkan pria itu seorang diri. Bukan karena masih marah pada Arjuna, tapi diperlakukan begitu manis oleh laki-laki itu, Cilla takut tidak bisa menahan dirinya yang juga menahan rindu.
Setelah Cilla pergi. Arjuna mengusap wajahnya dengan kasar. Baru kali ini ia merasakan bagaimana rasanya benar-benar jatuh cinta. Cilla mengubah banyak hal dalam hidupnya, dan ia tidak akan membiarkan semuanya lepas hanya karena emosinya sesaat.
Sampai di dekat lapangan, Cilla sengaja hanya mengirimkan pesan pada Amanda tanpa menghampirinya di kantin. Cilla tidak ingin diberondong dengan banyak pertanyaan karena suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Tidak lama Amanda sudah masuk ke dalam mobil Cilla yang menunggunya di gerbang depan. Bang Dirman langsung membawa mereka ke café yang biasa mereka datangi.
“Kak Juna nggak tahu kalau gue kemari, kan ?” tanya Amanda dengan wajah khawatir.
“Nggak, dan gue juga pesan sama Jovan supaya tidak memberitahu Pak Arjuna soal kedatangan elo,” sahut Cilla.
“Tadi teman-teman elo pada kepo nanyain hubungan gue sama Kak Juna. Mereka menebak kalau gue ini adiknya Kak Juna.”
“Terus elo iya in ?” Cilla menautkan alisnya.
“Gue nggak jawab iya atau nggak. Untungnya Jovan pintar mengalihkan pembicaraan.”
“Sebetulnya nggak masalah juga kalau mereka tahu kalau elo itu adiknya Pak Arjuna,” ujar Cilla.
“Setidaknya jangan hari ini, Cil. Lagipula gue malas diberondong pertanyaan yang nggak bakal habisnya. Apalagi sama teman elo yang namanya Lili itu. Kayaknya dia suka sama Jovan, ya ?”
“Kenapa ? Elo cemburu ?” ledek Cilla sambil tertawa.
“Haaiiiss mana ada gue cemburu. Yang ada sahabat elo itu melotot terus sama gue gara-gara tuh cowok kepo sengaja bilang kalau gue ini pacarnya dia. Asli, Cil… serem gue dipelototin sama Lili. Untung aja Febi penuh pengertian dan berusaha mengalihkan perhatian Lili.”
Cilla tertawa mendengar cerita Amanda. Sepertinya Lili tidak mau menerima kalau Jovan tidak membalas cintanya.
Duapuluh menit kemudian, Bang Dirman menghentikan mobilnya di parkiran café. Keduanya langsung turun dan masuk ke dalam. Suasana café cukup ramai siang ini dan keduanya memilih meja yang agak pojok dan jauh dari keramaian supaya tidak terlalu bising.
“Sebetulnya ada masalah penting apa yang mau elo bicarakan ?” tanya Cilla saat keduanya sudah selesai memesan minuman dan penganan.
“Besok Kak Juna ulangtahun yang ke-26,” ujar Amanda. “Nyokap mau kasih kejutan dan bokap sepertinya mau menjelaskan soal alasannya melarang elo bicara terus terang pada Kak Juna.”
“Jadi om dan tante sudah tahu masalah gue sama kakak elo ?” tanya Cilla sambil mengernyit.
“Sorry kalau gue memilih cerita sama bokap nyokap, Cil. Gue nggak mau juga kalau Kak Juna terus berpikiran negatif sama elo. Ini semua kan atas permintaan bokap gue, padahal elo udah beberapa kali mau bicara terus terang sama Kak Juna.”
“Bokap mau kasih kejutan,” Amanda senyum-senyum memandang Cilla. “Sepertinya kalian mau diminta bertunangan dulu.”
“What ?” mata Cilla langsung membelalak.
“Iya kayaknya begitu Cil. Dan gue rasa masalah ini sudah dibicarakan juga sama bokap elo.”
“Gue belum siap,” ujar Cilla sambil menghela nafas. “Rasanya masih ada sedikit rasa sakit dengan ucapan kakak elo, makanya hati gue belum siap untuk berdekatan sama kakak elo, apalagi sampai tunangan.”
“Elo yakin nggak akan nyesel ?” Amanda menggoda Cilla sambil senyum-senyum.
Amanda tidak melanjutkan ucapannya saat pelayan mengantarkan pesanan mereka. Cilla langsung mengambil gelas strawberry smoothies pesanannya.
“Cil,” panggil Amanda setelah meneguk minumannya. “Selama gue menjadi adiknya Kak Juna, belum pernah melihat kakak gue seberani itu mencium perempuan di depan umum sekalipun hanya untuk memanasi perempuan lain. Belum lagi kedatangan Kak Juna ke rumah saat ulangtahun nyokap, gue dengar sendiri dari mulut Kak Juna kalau itu semua karena nasehat dan dorongan elo juga.”
Cilla menatap Amanda sambil mengerjap dan menghela nafas. Hatinya memang tidak sepenuhnya marah pada Arjuna, tapi lebih condong ke rasa takut disakiti karena ucapan Arjuna.
“Jumat malam Kak Juna datang untuk meminta bokap membatalkan rencana perjodohan. Wajahnya terlihat stress banget. Belum pernah gue melihat kak Juna setegang itu dan merasa tertekan, bahkan saat bokap minta kak Juna putus dengan kak Luna”
Amanda berhenti sejenak dan mengambil minumanny.
“Yang pasti malam itu bokap bahagia karena kak Juna menyukai elo tanpa disuruh atau dipaksa. Makanya pas dengar cerita gue, bokap memutuskan untuk bicara secepatnya dengan Kak Juna bahkan membuat kalian bertunangan.”
“Terus kalau besok gue mau datang, memangnya beneran kita berdua langsung mau disuruh tunangan ?” tanya Cilla sambil menautkan alisnya.
“Cilla, tunangan dulu kan nggak masalah. Bukan nikah. Setidaknya sebagai bukti kalau hubungan kalian itu mendapat restu dari kedua orangtua. Mungkin setelah elo lulus SMA, kedua orangtua kita baru suruh kalian menikah.”
“Terus gue nggak bisa lanjut kuliah, dong,” Cilla mengerucutkan bibirnya.
“Ya tetap bisa. Kak Juna bukan model cowok yang begitu, pikirannya udah maju. Elo pasti tetap boleh lanjut kuliah asal jangan lupa sama tugas sebagai seorang istri,” goda Amanda sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Ya ampun Manda, tapi tahun depan umur gue aja baru tujuhbelas. Masa status gue udah jadi istri, sih ? Nggak bisa lirik-lirikan sama cowok lain pas kuliah dong… Mana ada yang mau sama istri orang,” ujar Cilla cemberut.
“Nggak ingat kata pepatah, biasanya istri orang lebih menggoda daripada pacar ?” ledek Amanda sambil tertawa.
“Memangnya elo rela kalau kakak lo diduakan ? Diselingkuhi ?”
“Duuhh yang udah membayangkan jadi istrinya Kak Juna,” Amanda mencebik sambil tertawa.
“Iiihh mana ada… Kakak elo itu judes dan jutek, ngomongnya juga pedes. Mungkin kelamaan bergaul sama emak-emak di gang tempat kostnya. Sukanya gosip sampai tuh mulut miring-miring ngomongin orang.”
Amanda tergelak mendengar ucapan Cilla dengan wajah cemberutnya.
“Kalau soal galak kayaknya sudah mendarah daging, Cil. Elo nggak ingat kalau teman elo itu bilang gue juga galak dan jutek sama dia.”
“Siapa ? Jovan ?” Cilla mengangkat sebelah alisnya. Amanda mengangguk sambil memasukan potingan wafel ke dalam mulutnya.
“Awas jatuh cinta lo sama dia,” gantian Cilla meledek Amanda.
“Iiihh.. cowok kepo begitu. Tadi aja beberapa kali hampir kelepasan kasih tahu kalau gue ini adiknya Kak Juna.”
“Sepertinya lama-lama Jovan bisa jatuh cinta sama elo. Tapi nggak apa-apa, dia cowok yang baik, kok. Dan sepertinya cowok setia juga.”
“Iya, cintanya setia sama elo,” cebik Amanda sambil tersenyum.
“Gue itu cuma sahabatan sama Jovan, udah dari bayi. Gue udah bilang ke dia kalau perasaannya pasti bukan cinta laki-laki ke perempuan, melainkan seperti sama saudara. Kalau elo jadian sama dia, gue akan dukung sepenuhnya,” Cilla tersenyum sambil memberikan jempolnya.
“Yakin elo nggak cemburu ?” Amanda menaikturunkan alisnya.
“Kalau gue cemburu, kakak elo mau dikemanain ? Boleh diduakan ?”
“Eehhh jangan dong, kasihan kalau sampai Kak Juna diduakan. Galak-galak begitu kak Juna adalah tipe cowok setia. Buktinya mau aja dibegoin sama kak Luna sampai dua tahun.”
Cilla dan Amanda lamgsung tergelak. Memang Arjuna suka gampang emosi mirip dengan Amanda, tapi Cilla bisa merasakan kalau Arjuna adalah tipe laki-laki penyayang.
“Jadi beneran ya, besok bersedia datang untuk jadi kado spesial buat Kak Juna. Gue yakin kalau bokap elo bersedia datang juga, tinggal tunggu lampu hijau dari anaknya.”
“Tapi Manda…. “ wajah Cilla tampak ragu.
“Jangan sampai elo nyesel, Cilla. Kakak gue memang begitu, nanti gue bakal sering-sering mengingatkan dia juga supaya jangan mendahulukan emosi. Masalah hati, gue yakin seribu persen kalau cintanya sama elo nggak main-main, makanya kak Juna jadi gampang cemburu juga. “
Cilla tersenyum sambil mengaduk minumanya dengan sedotan. Masalah cemburu sudah pernah diungkapkan langsung oleh Arjuna pas hari Senin lalu, bahkan Arjuna tidak ragu-ragu memberitahu kalau Theo mampu membuatnya cemburu.
“Jam berapa acaranya ?” Cilla mendongak dan menatap Amanda yang langsung berbinar wajahnya.
“Besok kita ke salon dulu, ya? Gue jemput pas pulang sekolah,” ujar Amanda.
“Eh ogah ya, kalau disuruh dandan segala. Gue mau natural aja,” sahut Cilla sambil menggeleng.
“Nggak bakalan make up menor, Cilla. Minimal elo tampil beda dari biasanya. Mau ya ?” Amanda mengerjap-ngerjapkan matanya sambil tersenyum menggoda.
Cilla mencibir dengan wajah sebal melihat Amanda hanya tertawa karena merasa bahagia membayangkan akan memiliki kakak ipar seperti Cilla. Gadis SMA yang seumur dirinya.
Sementara Cilla hanya bisa menghela nafas. Masih ada keraguan dalam hatinya, tapi seperti kata Amanda, Cilla tidak ingin hatinya menyesal karena mengambil kepusan yang salah dan hanya mengutamakan gengsi belaka karena bertahan demi sadarnya Arjuna.