MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Tentang Banyak Hal


Para guru terharu mendapat kejutan istimewa dari para siswa kelas 12, meski hanya setangkai bunga mawar dipersembahkan dari masing-masing siswa.


Setiap guru mendapat jumlah yang berbeda tergantung seberapa banyak siswa yang memberi, namun tidak masalah bagi para guru. Belum pernah sepanjang sejarah, para guru di SMA Guna Bangsa mendapat ucapan terima kasih dengan cara seperti ini.


Sementara di panggung, Nino, Cilla dan teman-temannya kembali menyanyikan lagu Guruku Tersayang karya Melly Guslow.


Arjuna menatap Cilla dengan wajah terpesona sambil tersenyum membuat Cilla sedikit tersipu dan tersenyum malu. Ternyata meski status Arjuna sekarang sudah menjadi suaminya, namun debar di jantung Cilla masih belum berkurang jika ditatap seperti sekarang oleh Arjuna.


Cilla turun bergegas turun dari panggung saat melihat papi Rudi mengernyit seolah menahan sakit.


“Papi nggak apa-apa ?” tanya Cilla dengan wajah khawatir memegang lengan papi yang masih didampingi Pak Slamet dan Pak Ikbal.


“Tolong panggilkan Budi,” ujar papi Rudi sambil duduk di salah satu kursi.


Cilla langsung mengambil handphone yang diulurkan oleh papi dan mencari nomor om Budi. Tidak menunggu lama, asisten papi Rudi itu mengangkat telepon dan mengiyakan untuk datang ke aula.


“Papi kenapa ?” Arjuna yang diberitahu oleh Dono ikut mendekati papi Rudi.


“Nggak apa-apa, Jun. Capek doang,” sahut papi.


“Papi ke rumah sakit, ya ? Cilla sama Mas Juna temani,” Cilla ikut duduk di samping papi Rudi yang malah menatap Cilla sambil tersenyum.


“Iya nanti Papi memang harus ke rumah sakit hari ini. Jadwal terapi sama dokter Handoyo.”


“Cilla ikut,” tegas Cilla.


“Nggak usah, sana kamu nikmati dulu hari ini, Papi udah ada om Budi.”


“Papi lebih penting dari semua ini. Lagipula acaranya udah beres juga. Sebentar Cilla ambil tas dulu di bangku, nanti Cilla ikut Papi,” Cilla bergegas bangun berniat mengambil tasnya namun tangan papi menahannya.


“Biar Pak Slamet menutup dulu acara hari ini. Papi cuma sedikit capek aja.”


“Tapi Pi…”


“Cilla,” Arjuna menyentuh bahu Cilla . “Apa yang dikatakan Papi benar. Ada baiknya Pak Slamet menutup acara siang ini dulu.”


Cilla menatap Arjuna yang mengangguk dan tersenyum. Cilla sempat menghela nafas tapi menurut pada ucapan Arjuna.


Akhirnya Pak Ikbal kembali maju ke depan. Tidak lama om Budi yang ternyata sudah menunggu di parkiran sejak beberapa waktu lalu masuk ke dalam aula dan menghampiri papi Rudi.


Semua murid diminta kembali ke tempat duduk dan diperbolehkan untuk meneruskan acara kembali dengan para guru setelah Pak Slamet menutupnya secara resmi hingga para orangtua bisa pulang terlebih dahulu.


“Ayo Pi, Cilla ikut menemani Papi ke rumah sakit,” ujar Cilla yang bergegas menghampiri bangku papi setelah mengambil tas ranselnya kembali.


“Sudah ada Om Budi. Cilla tinggal dulu di sekolah, nanti nyusul sama Bang Dirman.”


“Tapi Pi..”


“Papi akan nungguin Cilla di rumah sakit,” ujar papi sambil menepuk-nepuk bahu Cilla.


Gadis itu terlihat ragu dan menoleh ke arah Arjuna.


“Om Budi akan menemani Papi. Selesai semuanya Cilla ke rumah sakit sama Mas Juna,” ucap Arjuna.


“Bukannya kamu ada meeting dengan Pak Eka siang ini, Jun ?” Papi menatap Arjun.


“Habis makan siang, Pi. Sekitar jam 2. Masih sempat ke rumah sakit dulu,” Arjuna melirik jam tangannya, jam 10.15. “Juna akan antar Cilla ke rumah sakit dan minta Tino jemput di sana.”


“Kalau begitu papi jalan dulu,” Papi beranjak bangun, menyalami Pak Slamet, Pak Ikbal dan barisan para guru dan komite sekolah yang duduk dalam satu barisan.


Cilla menatap papi dan om Budi dengan tatapan tidak rela. Ada rasa khawatir yang tidak mampu dibendungnya.


“Mau foto-foto sama teman-teman kamu nggak ?” tanya Arjuna yang masih duduk di samping Cilla.


“Mau,” Cilla menyahut pelan.


Sebagian para orangtua mulai keluar aula meninggalkan anak-anak mereka yang masih ingin tinggal di sekolah.


“Pak Arjuna, boleh foto nggak ?” beberapa siswi dari kelas IPA dan IPS menghampiri Arjuna dan berkelompok mengantri untuk foto.


Arjuna melirik Cilla yang hanya tersenyum tipis


“Cilla ke teman-teman kelas dulu,” ujar Cilla meninggalkan Arjuna yang mulai dikerubuti para siswi.


“Kenapa lo ? Bete gara-gara suami dikerubuti tawon ?”


“Nggak,” Cilla menggeleng. “Perasaan gue agak nggak enak soal papi. Habis ini gue mau nyusul ke rumah sakit.”


“Kenapa lagi bokap elo ?” Febi mengerutkan dahi.


“Biasa sih, tapi perasaan gue nggak enak aja. Kayak nggak mau jauh-jauh dari papi.”


“Ya udah, sekarang kita foto-foto dulu. Habis itu gue sama Febi temani elo ke rumah sakit.”


Cilla hanya mengangguk dan mulai menetralkan hati dan ikut berfoto bersama teman-temannya.


Dono pun didaulat ikut berfoto dalam berbagai pose dengan anak-anak kelas XII IPS-1.


“Para selir nggak mau foto bareng gue ? Tadi ciwi-ciwi aja pada antri tuh,” Jovan dengan gaya tengilnya langsung merangkul bahu Lili dan Cilla.


“Kebiasaan !” gerutu Cilla , namun membiarkan tangan Jovan bertengger di bahunya.


“Untungnya gue udah nggak punya rasa sama elo,” Lili pun ikut mengomel dan sama seperti Cilla membiarkan tangan Jovan merangkul bahunya.


“Kalian harus foto sama gue, karena cuma gue yang pisah kampus sama kalian bertiga,” ujar Jovan saat mereka mulai berfoto dengan cara selfie.


”Kok nggak jadi ke Inggris ?” tanya Febi.


“Nggak bisa jauh dari pacar,” cibir Lili. Jovan hanya terkekeh.


”Gue masih cinta Indonesia. Lagian ribet kalau kuliah kedokteran di luar tapi mau prakteknya di Indonesia. Nanti aja pas ambil spesialis gue baru ke luar.”


“Terus Manda diserobot orang,” ledek Cilla sambil tertawa.


“Titip sama elo, dong, calon kakak ipar,” sahut Jovan. “Masa tega membiarkan sahabat patah hati kalau sampai nggak bersedia jagain calon istri gue.”


“Haiiss gue jagain Manda, terus siapa yang jagain elo ? Nanti Amanda setia di sini, elo malah nikung di luar negeri.”


“Alaaa cowok mah pinter ngomongnya doang, lihat aja nanti aja kalau udah kelamaan pacaran apalagi jauh, alasannya bosan. Lihat yang bening-bening mendekat pas udah jadi senior, otak langsung ke sana kemari,” cebik Febi.


”Dih sinis amat,” Jovan mencibir sambil mengerutkan dahi. “Elo kayaknya alergi banget sih sama mahluk cowok ? Masih normal kan ?”


“Si**lan lo !” Febi memukul bahu Jovan membuat pria itu meringis. Lili dan Cilla tergelak melihat wajah Jovan yang benar-benar kesakitan.


“Jangan bikin Febi sebel, nanti malah jodoh,” ledek Lili sambil tergelak.


”Doanya bagusan dikit napa ?” Jovan cemberut mendengar ucapan Lili.


“Benar-benar rese nih, Jovan !”Febi kembali memukuli bahu Jovan . “Memangnya gue mimpi buruk buat cowok-cowok. Jovan kurang ajar !”


“Ampun Feb, Ampun,” Jovan berusaha terus menghindar dari kejaran Febi membuat Cilla dan Lili tergelak.


“Mereka kenapa ?” Arjuna langsung merangkul bahu Cilla yang tidak menyadari kalau suaminya itu sudah ada di belakangnya.


“Udah beres temu penggemarnya ?” ledek Cilla sambil tersenyum.


“Cemburu ?” Arjun mengerling sambil senyum-senyum.


“Nggak lah kalau cuma foto-foto doang. Di depan umum juga,” sahut Cilla cepat. “Masa mau cemburu terus. Kan ke depannya untuk sementara Mas Juna bakal menggantikan papi hadir di acara-acara sekolah.”


“Asal jangan jadi kayak yang Febi bilang barusan,” ujar Lili pelan.


“Memang Febi bilang apa ?” Arjuna menatapnCilla dengan dahi berkerut.


“Cowok kalau udah kelamaan menjalin hubungan gampang tergoda dengan yang bening-bening,” sahut Cilla.


“Ya ampun Sayang, kalau udah menikah ya nggak boleh begitu. Harus setia. Mas Juna masuk kelompok cowok penganut monogami, sekali menikah untuk seumur hidup. Apalagi udah dikasih jodoh yang bening banget begini,” Arjuna menoel dagu Cilla membuat istrinya itu tertawa sambil mencibir.


“Pak Juna foto dong sama kelas kita,” pinta Nino. “Dari tadi fotonya sama cewek-cewek doang. Nggak takut nanti malam disuruh tidur di luar ?”


“Aman,” sahut Arjuna sambil tertawa. “Yuk foto bareng sama Pak Dono juga.”


Arjuna pun menarik jemari Cilla yang digandengnya dan berbaur dengan teman-teman sekelas Cilla.


“Jovan !” panggil Arjuna pada mantan ketos yang sedang mengusap-usap lengannya yang mendapat cubitan dari Febi.


“Hukuman kamu karena sudah buat Febi kesal,” Arjuna memberi isyarat pada Nino yang membawa kamera hari ini. “Cepat foto kita-kita. Awas kalau jelek !” ancam Arjuna.


Jovan mendengus kesal, namun menurut menerima kamera yang disodorkan Nino dan mulai mengambil


berbagai gaya anak-anak kelas XII IPS-1 yang berfoto dengan guru-guru kesayangan mereka.


Jam 12 kurang, Arjuna mengajak Cilla ke rumah sakit.


“Cilla boleh ajak Febi dan Lili buat nemenin di rumah sakit ? Mas Juna mau lanjut meeting kan ?”


“Iya boleh,” Arjuna mengangguk dan tangannya langsung menggandeng Cilla. “Mas Juna lebih tenang kalau Cilla ada yang nemenin pas ditinggal.”


Cilla memanggil Febi dan Lili yang masih asyik berfoto dengan beberapa teman-teman mereka.


“Mau kemana ?” Jovan menyusul sambil berlari kecil saat keempatnya baru saja melewati pintu aula.


“Mau ke rumah sakit nemenin Cilla,” Lili yang menyahut.


“Ikut, ya. Daripada pulang malah gabut.”


“Kencan dong,” cebik Febi. “Ngakunya udah punya calon istri.”


“Calon istri ?” Arjuna berhenti dan berbalik badan menatap Jovan dengan mata memicing.


Febi, Lili dan Jovan yang berjalan di belakang suami istri itu sedikit kaget karena tidak menduga Arjuna akan berhenti dan berbalik badan.


“Jangan bilang..” Arjuna menggantung ucapannya dengan tatapan menelisik Jovan.


”Cita-cita, Pak,” sahut Jovan sambil tertawa kikuk.


Cilla tertawa pelan dan mengusap lengan Arjuna.


”Udah biarin aja, kayak Mas Juna nggak pernah muda aja,” ujar Cilla cekikikan.


“Jadi Mas Juna udah tua ?” ketus Arjuna beralih menatap istrinya.


“Bukan gitu,” Cilla menggelayut di lengan Arjuna. “Kalau Mas Juna udah tua, mana mungkin siswi di sini pada antri minta foto padahal udah jelas istrinya ada di sebelah Mas Juna.”


“Tadi kalau nggak mau ngasih kenapa diam aja, malah pergi ?” tanya Arjuna masih dalam mode dingin.


“Iihh udah dibilang nggak cemburu kaau minta foto doang. Lagipula yang kita bahas kan sekarang niat tulus Jovan mau serius sama Amanda, bukannya membahas soal kita.”


“Tapi Mas Juna…”


Cilla menempelkan telunjuknya di bibir Arjuna setalah posisinya berdiri di depan suaminya itu.


“Jodoh ada di tangan Tuhan dan kita juga nggak tahu pasti apa Jovan dan Manda berjodoh sampai ke jenjang selanjutnya. Yang penting Mas Juna awasin Jovan aja, kalau main-main dan macam-macam sama Manda, bukan Mas Juna aja yang akan menguliti Jovan, Cilla ikutan juga.”


“Ya ampun Cilla, kenapa elo jadi lebih sadis dari Pak Juna ?” ujar Jovan dengan wajah ngeri dan bergidik membuat Febi dan Lili tertawa.


“Makanya jangan macam-macam !” Cilla berbaik dan melotot menatap Jovan. “Gue bakalan jagain adik ipar gue dari perlakuan semena-mena cowok yang ngaku cinta sama dia.”


Arjuna tersenyum bahagia mendengar ucapan Cilla dan menatap Jovan dengan senyuman mengejek.


“Kita kan sahabatan, masa elo tega begitu ?”


“Nggak pengaruh kalau udah soal sakit menyakiti,” tegas Cilla dengan wajah galak.


Arjuna tertawa melihat ekspresi Jovan yang langsung manyun. Tangannya kembali meraih jemari Cilla dan memberi isyarat untuk kembali melangkah.


“Ternyata istri Mas Juna benar-benar keren,” ujar Arjuna sambil mengecup kening Cilla dari samping.


Jovan langsung mencebik melihat adegan itu sedangkan Febi dan Lili membuang muka ke arah lain.


Sejak resmi menikah dengan Cilla dan hubungan mereka sudah diikrarkan pada banyak orang, Arjuna semakin sering menunjukan rasa sayangnya pada Cilla di depan umum, membuat banyak orang langsung melehoy melihatnya.