
Berbeda dengan hati Arjuna yang sedang berbahagia karena bisa bertemu dengan mama Diva dan makan siang dengan keluarganya, Cilla yang sempat menangis memilih datang ke café yang pernah disambanginya sekitar sebulan yang lalu.
Di café inilah Cilla pernah bertemu kembali dengan Amanda Hartono yang ternyata adalah adik dari Arjuna Hartono, guru matematika yang selalu membuat hatinya berdebar.
Pertemuannya dengan Amanda bukannya tidak sengaja, tapi Cilla justru memintanya datang untuk memastikan sesuatu yang membuatnya sulit tidur karena penasaran. Rasa penasaran yang dimulai dari kekesalan Cilla pada Arjuna setelah insiden ban sobek.
Setelah beberapa hari sengaja menjauhi Arjuna gara-gara masalah penolakan pria itu setelah insiden ban sobek, malam itu Cilla yang penasaran dengan sosok Arjuna yang sering bersikap arogan dan gengsi padanya.
Cilla mencoba mencari nama Arjuna Hartono dalam berbagai akun sosial media. Ada 2 akun yang memiliki nama yang sama, tapi sayangnya, saat Cilla mengecek data dan fotonya, semuanya itu bukan milik Arjuna Hartono, guru matematika di sekolah SMA Guna Bangsa.
Akhirnya Cilla mengetik nama Arjuna Hartono dalam aplikasi mbah serba tahu itu dan justru yang muncul adalah PT Indopangan Makmur. Rasa penasaran membuat Cilla terus menelusuri hingga akhirnya menemukan nama Arman Hartono dan Arjuna Hartono.
Mengingat nama Arman Hartono, pikiran Cilla langsung melayang pada ajakan papi untuk makan malam dengan teman sekolahnya, yang diingat Cilla bernama nama Om Arman dan istrinya bernama Tante Diva. Seperti mendapat inspirasi baru, wajah Cilla berbinar karena langsung teringat kalau ia pernah bertukar nomor handphone dengan anak perempuan Om Arman dan Tante Diva. Diketiknya nama Hartono, dan keluarlah nama Amanda Hartono di sana.
Cilla pun langsung mengirimkan pesan pada Amanda dan memintanya bertemu keesokan harinya setelah jam pulang sekolah. Dan di café yang sedang didatanginya sekarang, mereka bertemu dan mengobrol layaknya teman lama.
“Maaf kalau gue udah ganggu, Manda,” ujar Cilla yang sudah datang lebih dulu dan duduk di salah satu meja menunggu Amanda sekitar 15 menit lamanya.
“Maaf juga karena gue terlambat, Priscilla,” sahut Amanda sedikit tidak enak.
“Nggak apa-apa, santai aja. Lagipula ini kan hanya ketemu ngobrol-ngobrol aja,” ujar Cilla sambil melambaikan tangannya memanggil pelayan.
Cilla mempersilakan Amanda untuk memesan minuman dan makanan dulu sebelum mereka mulai ngobrol.
“Panggil gue Cilla aja, Manda. Terlalu panjang memanggil nama lengkap,” ujar Cilla sambil tertawa. Amanda tersenyum sambil mengangguk.
“Elo bilang di wa kalau ada hal penting yang mau dibicarakan. Soal apa ?” tanya Amanda.
Cilla meraih handphone yang ada di atas meja dan mulai membuka galeri fotonya. Ditekannya salah satu foto dan diperlihatkan pada Amanda.
“Apa ini kakak elo yang waktu itu kabur saat kita ketemuan untuk makan malam ?”
Amanda meraih handphone milik Cilla dan menelisik foto Arjuna yang sempat diambilnya diam-diam saat mereka liburan di Semarang, tepatnya saat mereka sedang makan siang di Banaran.
“Iya benar !” tegas Amanda sambil menautkan alisnya. “ Kok bisa elo punya foto Kak Juna ?”
“Pak Arjuna ini adalah guru matematika di sekolah gue,” jawab Cilla sambil menghela nafas.
Amanda tampak terkejut dan memandang Cilla dengan wajah tidak percaya.
“Beneran ? Kak Juna memang pernah bercerita kalau dia bekerja sebagai guru, tapi mengajar elo ? Kok sepertinya kalian berjodoh ya ?” Amanda pun tertawa pelan saat menyadari pertemuan keduanya seperti sudah diatur.
“Apa mungkin orangtua kita yang mengaturnya seperti itu ?” tanya Amanda.
“Gue juga nggak tahu, Manda. Tapi memang saat itu sekolah gue sedang mencari guru matematika karena guru yang lama akan pensiun.”
“Apa Kak Juna sudah tahu kalau elo itu anak SMA yang akan dipertemukan dengannya malam itu ?”
“Sepertinya belum,” Cilla menggeleng. “Gue aja baru tahu semalam, itupun masih perlu konfirmasi sama elo. Gue nggak mau sampai salah orang, apalagi ini semua ada kaitannya dengan masalah perjodohan,”
lanjut Cilla sambil menghela nafas.
“Elo yakin kalau Kak Juna belum tahu ?” Cilla mengangguk menjawab pertanyaan Amanda.
“Kalau sudah tahu, Pak Arjuna nggak bakalan mau bicara sama gue, bahkan mungkin dia memilih keluar dari SMA Guna Bangsa dan membayar ganti rugi karena membatalkan kontrak sepihak. Elo pasti tahu bagaimana keras kepala dan gengsinya kakak lo itu.”
Amanda tertawa dan menganggukan kepalanya. Pelayan pun mengantarkan pesanan makanan dan minuman Amanda.
“Apa bisa elo merahasiakan soal ini dari Kak Juna ? Bahkan sampai saat ini, papa masih melarang gue dan mama untuk memperlihatkan foto elo pada Kak Juna. Sudah beberapa kali Kak Juna sempat membujuk gue untuk kasih lihat foto cewek yang mau dijodohkan sama dia.”
“Lalu bagaimana kalau suatu hari Pak Arjuna tahu ?” tanya Cilla dengan wajah ragu.
Amanda meneguk minumannya dan menatap Cilla dengan mata memicing.
“Kok elo kelihatan khawatir banget ? Memangnya kalian punya hubugan spesial dan takut Kak Juna memutuskan karena marah ?” tanyanya dengan wajah menggoda Cilla.
“Eh benaran ?” mata Amanda membelalak. “Elo pernah bilang begitu sama Kak Juna ? Bukan karena elo tahu kalau Kak Juna sudah bikin kekacauan karena kabur kan ? Atau elo beneran suka sama kakak gue ?”
Wajah Cilla mendadak memerah karena malu ditebak seperti itu oleh Amanda. Adik Arjuna itu pun tertawa dan meledek Cilla. Di sisi lain Amanda penasaran tentang awal pertemuan Cilla dengan kakaknya. Ia pun mendesak Cilla untuk menceritakan kisahnya dengan Arjuna.
Cilla pun mulai bercerita sejak Arjuna menangkap basah dirinya sedang memanjat pohon mangga untuk mencuri masuk sekolah tanpa kena hukuman, pertemuannya di pujasera sampai akhirnya liburan mereka ke Semarang.
“Jadi elo yang mengirim oleh-oleh bandeng, lumpia dan wingko babat untuk kami ?” tanya Amanda di sela- sela tawanya. Cilla hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Sudah gue duga kalau itu semua bukan kerjaannya Kak Juna. Bahkan saat masih bekerja di kantor papa saja, Kak Juna tidak terlalu memperhatikan soal oleh-oleh saat dia bepergian ke daerah atau negara lain, kecuali gue atau mama memang minta dibelikan olehnya.”
“Jadi sekarang gue harus gimana, Manda ?”
“Elo masih kuat kan untuk berpura-pura nggak tahu kalau Kak Juna itu adalah lelaki yang mau dijodohkan sama elo ? Nanti gue omongin sama papa dulu baiknya gimana.”
Cilla mengangguk dan mengambil gelas minumannya lalu meneguknya perlahan sambil menikmati kentang goreng pesanannya. Amanda sendiri memesan burger untuk menu makanannya.
“Apa benar gue mau dijodohin sama Pak Arjuna ?’ tanya Cilla dengan mata mengernyit.
“Kenapa ?” Amanda tertawa menggoda Cilla. “Bukannya seharusnya elo merasa senang karena pria matang yang mau dijodohkan itu ternyata cowok yang sudah bikin elo mabuk kepayang.”
“Haiiss bukan begitu, Manda. Masalahnya pas perjalanan pulang malam itu, bokap gue agak bingung karena bokap elo menyinggung soal perjodohan. Bokap gue bilang, beliau nggak pernah terpikir untuk menjodohkan gue sama Pak Arjuna.”
Amanda hanya tertawa mendengar ucapan Cilla.
“Kalaupun nggak dijodohkan, sepertinya elo memang berjodoh sama kakak gue. Jadi terima takdir aja. Tapi jangan buru-buru kasih tahu Kak Juna dulu sebelum gue bicarakan masalah ini sama bokap gue, ya ! Gue sendiri masih belum tahu kenapa bokap menyembunyikan identitas elo dari Kak Juna.”
Cilla mengangguk sambil kembali meneguk minumannya, begitu juga dengan Amanda yang sedikit terburu-buru menghabiskan makanan dan minumannya.
“Sorry Cil, gue harus balik duluan. Tadi bilang sama nyokap nggak lama-lama. Tuh sopir gue udah jemput,” Amanda menunjuk sebuah mobil yang baru saja masuk di parkiran café. Ia beranjak bangun dan hendak mengeluarkan uang dari dompetnya tapi dicegah oleh Cilla.
“Gue aja yang bayarin,” ujar Cilla. “Mau titip salam nggak buat kakak elo,” ledek Cilla sambil terkekeh.
“Boleh, titip salam supaya baik-baik sama calon kakak ipar gue,” sahut Amanda sambil tertawa.
Cilla mencibir dan ikut tertawa. Senang mendapat dukungan dari adiknya Arjuna, tapi tidak ada gunanya juga kalau Arjuna sendiri tetap tidak memilihnya untuk menjadi jodohnya.
Itu kejadian dua malam sebelum Cilla kembali bertemu dengan Arjuna secara tidak sengaja di pujasera, dimana waktu itu Cilla sedang bersama Dimas membicarakan masalah proyek mereka.
Kejadian yang memberikannya kepastian tentang siapa sebenarnya Arjuna. Namun masalah sandiwara yang harus dilakukannya, apa Cilla akan sanggup berpura-pura tidak tahu kalau Arjuna adalah pria yang sudah meninggalkannya saat mereka akan dikenalkan ?
Sekarang, saat ini Cilla duduk sendirian sambil memandang keluar jendela dengan posisi menghadap ke arah pintu masuk. Dia meraih gelas minumannya dan meneguknya sedikit demi sedikit.
Matanya menyipit saat melihat ada dua sosok di depan pintu masuk yang sepertinya familiar dalam pandangan Cilla, meski ia sendiri tidak yakin. Pandangannya semakin terfokus pada dua orang yang akhirnya masuk ke dalam café.
Deg !
Hatinya langsung berdebar saat pandangannya bersitatap dengan mata itu.
Terima kasih untuk para pembaca yang selalu setia menunggu kelanjutan cerita ini 😊😊🙏🙏
Khusus di hari Minggu saya langsung triple up 😘😘😊
Jangan lupa untuk selalu memberikan like, vote dan giftnya