
Hanya butuh waktu sepuluh menit Jovan dan Amanda sampai duluan di café tempat mereka janjian. Seorang pelayan menyambut mereka dan menyiapkan dua meja yang digabung untuk 6 orang.
“Kenapa enam ? Bukannya semuanya hanya lima ? Kita berdua ditambah Cilla, Febi dan Lili ?” Amanda mengernyit saat Jovan meminta pelayan menyiapkan meja untuk 6 orang.
“Cilla bilang Dimas akan datang juga,” sahut Jovan setelah mengucapkan terima kasih pada pelayan yang membantunya.
“Siapa lagi Dimas ?” Amanda masih mengernyit.
“Temannya Cilla, tapi lebih tua, kalau nggak salah sekarang sudah mahasiswa tingkat dua.”
Keduanya duduk, Jovan sengaja mengambil posisi berseberangan dengan Amanda supaya enak untuk mengobrol.
“Spertinya Cilla lebih banyak dekat dengan pria daripada wanita,” ujar Amanda.
“Kenapa ? Kamu pikir karena Cilla lebih banyak dekat dan punya teman pria berarti Cilla adalah perempuan yang gampangan ?” Jovan tersenyum tipis. “Jangan nethink !” Jovan menyentil kening Amanda membuat gadis itu meringis sambil mengusap keningnya.
“Eh nggak begitu,” Amanda langsung menggerak-gerakan tangannya. “Setelah kenal lebih dekat sama Cilla, gue yakin dia bukan cewek gampangan. Buktinya elo aja butuh waktu hampir sembilan tahun buat dapatin maaf dari dia,” cibir Amanda.
“Apa gue musti tunggu jawaban elo segitu lama juga ?” tanya Jovan sambil menaik turunkan alisnya.
“Gue sempat berpikir kalau elo balik usaha lagi sama Cilla,” lirih Amanda.
Jovan menautkan alisnya, bingung dengan pernyataan Amanda. Kenapa tiba-tiba gadis ini jadi punya pikiran seperti itu ?
“Gue ngeliat elo berdua di taman kota hari Kamis lalu. Pas mobil gue melintas di sana, nggak sengaja gue lihat motor elo di parkiran. Gue minta sopir mampir dan ternyata elo lagi berduaan sama Cilla.”
“Elo cemburu ?’ ledek Jovan sambil terkekeh.
“Iissh siapa juga yang cemburu ? Lagian kita berdua kan nggak pacaran, terus apa hak gue buat cemburu sama elo dan Cilla ?” Amanda menepis dengan wajah sedikit ditekuk.
Jovan tertawa dan dengan gemas mengacak-acak poni Amanda.
“Yakin nih nggak mau ngaku jujur perasaan elo sama gue ? Nanti nyesel,” Jovan kembali menaikturunkan alisnya.
“Gue merasa bersalah kalo jawab iya sekarang,” ujar Amanda pelan dengan wajah sedikit tersipu.
“Kenapa musti merasa bersalah ?” alis Jovan menaut. “Kan elo nggak merebut gue dari Cilla atau siapapun.”
“Sekarang kan situasi Cilla baru aja putus sama Kak Juna dan posisi gue ini adiknya Kak Juna. Rasanya nggak enak melihat calon kakak ipar gue lagi melow sementara guenya happy-happy karena baru jadian.”
“Udah gue bilang jangan suka nethink !” Jovan kembali menyentil kening Amanda.
“Justru elo bisa bikin dia bahagia kalau sampai kita jadian. Apa elo nggak ngeliat kalau Cilla berusaha keras untuk membuat elo menerima gue ? Lagian kalau sampai kita jadian, kita bisa jadi tim yang solid karena elo bisa terus berusaha meyakinkan Pak Juna dan gue meyakinkan Cilla supaya mereka balikan lagi.”
“Susah kalau itu,” Amanda menggeleng.
“Kenapa ?”
“Kak Juna itu sempat jadi anak nakal pas SMA, suka ngelawan Papa, bahkan sempat di sebut preman sekolah. Entah kena santet darimana, pas hampir selesai kuliah mendadak jadi orang yang sedikit berbeda. Kecuali soal perjodohan waktu itu karena udah merasa cinta mati sama Kak Luna, di luar itu Kak Juna termasuk anak yang bikin papa bangga karena bisa diandalkan dan lebih penurut. Dalam dua tahun bisa buat perusahaan papa mengalami peningkatan yang cukup signifikan.”
“Tapi gue yakin kalau orangtua elo dan Cilla nggak sekaku itu. Saat ini mereka hanya kurang terbuka sama anak-anak sendiri. Yang penting tugas kita meyakinkan Pak Juna dan Cilla kalau mereka sama-sama saling cinta.”
Amanda hanya diam saja dan beberapa kali menghela nafas.
“Memangnya elo nggak mau Pak Juna balikan lagi sama Cilla ?” mata Jovan menyipit.
“Eh mana gitu,” Amanda langsung menyahut sambil menatap Jovan. “Gue senang banget kalau sampai Cilla menikah sama Kak Juna. Gue pengen banget punya kakak ipar kayak Cilla.”
“Gue akan coba,” ujar Amanda.
“Gue jadi sahabat Cilla dari tuh anak kecil. Kenangan tentang gimana masa kecil kita berdua nggak semuanya gue ingat, yang pasti saat maminya masih hidup, Cilla adalah anak yang ceria, cerewet, pemberani dan jauh dari kata cengeng. Lalu semuanya berubah saat tante Sylvia meninggal dunia. Elo bisa kebayang kan, anak umur 5 tahun harus menerima kenyataan kalau maminya pergi dan nggak akan kembali. Sayangnya setelah itu om Rudi justru sibuk sendiri mengatasi kesedihannya dan kurang memperhatikan Cilla yang akhirnya lebih banyak dirawat oleh Pak Trimo dan Bik Mina. Sampai akhirnya om Rudi datang membawa tante Sofi dan Kak Mia sebagai ibu sambung dan kakak tirinya Cilla. Sisanya elo udah pernah dengar kan, gimana kejamnya perlakuan ibu dan kakak tirinya terus kejadian gue sama Cilla.”
Jovan menjeda sejenak dan membalas pesan yang dikirim oleh Cilla tentang keterlambatannya karena angkot yang mereka tumpangi mogok dan akhirnya ketiga cewek itu memilih lanjut naik taksi.
“Dan Pak Juna adalah cowok pertama yang bisa bikin Cilla kembali menjadi pribadi seperti waktu masih ada tante Sylvia. Gue bahagia pas melihatnya lagi, seolah-olah gue mendapatkan kembali sahabat kecil gue yang sempat hilang bertahun-tahun. Dan gue bersyukur juga karena sebagai sesama cowok, gue bisa melihat kesungguhan cinta Pak Juna sama Cilla. Saat ini mereka hanya terjebak dalam situasai dan perasaan yang kurang terbuka satu sama lain. Makanya gue butuh bantuan elo juga buat mempersatukan mereka kembali.”
“Iya, gue bakalan bantuin. Gue kasihan juga ngelihat Kak Juna begitu. Gue pernah dengar sih gimana penolakan Kak Luna pas Kak Juna nembak di SMA. Gue sempat lihat Kak Juna melow-melow gitu tapi nggak lama bahkan udah biasa lagi sampai dia lulus SMA. Dan setelah selesai kuliah, gue sempat kaget pas dengar akhirnya dia jadian sama Kak Luna, masalahnya gue sempat dengar-dengar berita miring dari Kak Luki dan Kak Theo kalau Kak Luna itu agak-agak gimana di luaran. Dan pas putus sama Kak Luna, entah karena pas ada Cilla di dekatnya atau nggak, gue nggak melihat kesedihan dan keputusasaan di diri Kak Juna kayak sekarang.”
Keduanya sempat terdiam dengan pikiran masing-masing. Belum ada makanan atau minuman yang dipesan karena mereka memang berniat menunggu yang lainnya.
“Kembali ke laptop,” Jovan memecah kebisuN dan berbicara dengan penuh semangat membuat Amanda mendongak dan menatapnya dengan dahi berkerut.
“Jadi elo sendiri gimana ? Udah siap jadi pacar gue ? Jangan suka menahan-nahan perasaan karena sekarang atau nanti ya udah pasti lebih baik sekarang. Kalau nggak dijalanin dulu, mana kita tahu mau dibawa kemana hati ini,” Jovan berusaha serius namun malah membuat Amanda tertawa.
“Elo itu lagi ngarang lagu atau menyatakan cinta ?” ledek Amanda. “Kayaknya kata-katanya lebih cocok jadi syair lagu.”
“Gue ini sebetulnya cowok romantis, tapi kalau terlalu apa adanya bisa-bisa gue perlu asisten untuk urusin nomor antrian cewek-cewek penggemar gue yang mau ikut seleksi,” ujar Jovan dengan wajah pongah.
“Kenapa gue jadi ragu-ragu mau menerima elo jadi pacar gue ?” Amanda mengernyit dan menopang kedua dagunya dengan kedua tangan sambil menatap ke Jovan.
“Susah banget sih bilang I-Y-A !” omel Jovan dengan wajah kesal.
“Ih cinta kok maksa,” cebik Amanda.
“Kelamaan,” gerutu Jovan. “Pokoknya gue anggap iya, dan hari ini gue akan traktir tuh anak-anak sebagai pajak jadian.”
“Dih beneran nggak sabaran banget, sih,” gantian Amanda mengomel. “Kalau begini gue…”
Jovan menyentil kembali kening Amanda hingga gadis itu tidak melanjutkan ucapannya dan bibirnya langsung manyun.
“Gue terima cinta elo,” Jovan tertawa dan menyambung omongan Amanda. Pria itu langsung meraih kedua tangan Amanda dan menggenggamnya.
“Gue mungkin nggak bisa jadi cowok yang sempurna, tapi yang pasti gue ini tipe orang yang setia,” ujar Jovan sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Wooii Jovan !” Febi memekik saat melihat Jovan hampir mencium punggung tangan Amanda.
Cilla dan Lili juga sudah ada di depan pintu, ketiganya baru saja memasuki café. Reflek Cilla menoleh ke arah Lili dengan perasaan harap-harap cemas. Biar bagaimana Lili adalah sahabat baiknya sejak SMP dan Cilla paham betul perasaan suka Lili ke Jovan bukan sekedar suka-suka biasa karena Jovan ganteng dan populer.
Mata Cilla membelalak, masalahnya di tengah hatinya yang merasa tidak enak karena takut Lili sakit hati melihat adegan Jovan dan Amanda, ternyata sahabatnya itu sedang tersipu-sipu sambil tertunduk malu-malu menatap cowok tinggi di sebelahnya yang juga baru saja memasuki cafe.
“Udah sampai Dim ?” sapa Cilla pada cowok itu. Dimas mengangguk sambil melepas jaletnya.
“Elo kenal juga nih cowok ?” Lili tercengang menatap Cilla namun jari telunjuknya diarahkan ke Dimas yang ternyata juga baru memasuki café.
“Kenapa ?” Cilla senyum-senyum meledek. “Dia ini salah satu simpanan cogan gue yang masih tersimpan rapi di celengan kodok gue,” lanjut Cilla sambil terkikik.
“Dih kapan gue jadi simpanan elo ? Nggak cukup jadi pacar pura-pura lo ?” gerutu Dimas.
“Jangan galak-galak deh,” sahut Cilla. “Nanti cewek di sebelah elo batal minat daftar jadi calon pendamping elo.”
Dimas menoleh ke arah Cilla lalu mengerutkan dahinya. Tadinya mulutnya siap mengeluarkan kalimat-kalimat pedas seperti kebiasaannya pada Cilla, tapi melihat cewek ini tampak imut dalam kondisi tersipu-sipu, mendadak hati Dimas tidak tega.
“Duh untung aja ada Dimas yang mengalihkan perhatian Lili dari Jovan dan Amanda. Semoga hati Lili benar-benar bisa melepaskan Jovan dan syukur-syukur kalau jadiannya sama Dimas,” batin Cilla sambil terkikik dalam hatinya.