
Arjuna membuka pintu ruangan yang tadi digunakan untuk berdiskusi dengan dokter Raymond.
Atas seijin suster penanggungjawab di situ, papa Arman diijinkan untuk meminjamnya sebentar.
Semua mata menatap Arjuna dan Cilla yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Arjuna sendiri bersikap biasa saja sementara Cilla tertunduk malu sampai akhirnya Arjuna menggandengnya, supaya anak bebek kesayangannya ini tahu kalau Arjuna selalu ada di sampingnya.
“Bukannya kalian berdua sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sejak sepuluh hari yang lalu ?” tanya papa Arman dengan suara tegasnya membuat Cilla semakin deg deg kan.
Keduanya duduk berdampingan berhadapan dengan papa Arman dan mama Diva sementara Om Rio, tante Siska dan Theo berada di kiri kanan mereka.
“Arjuna tidak menerima keputusan Cilla,” sahut Arjuna. “Dan Cilla sudah menerima permintaan maaf Arjuna.”
“Terus ?” Papa Arman melipat kedua tangannya dan memicingkan mata menatap Arjuna dan Cilla yang masih menunduk.
“Cilla, apa kamu nggak ada komentar sama sekali ? Kamu yang membatalkan pernikahan kalian, kan ? Kenapa sekarang kamu malah nempel-nempel terus sama Juna ?”
Wajah Cilla memerah karena malu. Dalam pikiran Cilla, pasti papa Arman benar-benar melihatnya sebagai anak kecil yang gampang memutuskan dan hanya dalam waktu sepuluh hari sudah berbaikan kembali dengan Arjuna.
“Maafkan Cilla, Om,” ujar Cilla dengan suara pelan. “Cilla belum balikan lagi dengan Mas Juna. Tadi…”
“Arjuna akan memperjuangkan restu om Rudi untuk menikahi Cilla,” Arjuna memotong ucapan Cilla.
“Dari tadi kamu terus yang menjawab Juna. Kami semua ingin mendengar langsung dari mulut Cilla. Jangan sampai mama dan papa harus didatangi kembali oleh Cilla yang memutuskan hubungan kalian lagi,” ujar papa Arman menatap kesal putranya.
Wajah Cilla semakin merona, merasa tidak enak mendengar ucapan papa Arman. Sadar kalau kejadian di cafe tadi membuat para orangtua kecewa karena merasa Cilla seperti mempermainkan perasaan mereka, akhirnya dengan menghimpun seluruh keberanian dari dalam hatinya, Cilla mengangkat wajahnya, menatap papa Arman dan mama Diva yang ada di depannya.
“Maaf kalau Cilla yang terlihat tidak bisa berkomitmen dengan keputusan yahg Cilla ambil. Tadi Cilla lupa kalau hubungan kami berdua hanya sebatas guru dan murid, tapi memang saat ini hanya Mas Juna yang bisa membuat Cilla nyaman menghadapi keadaan papi.”
Cilla menjeda sejenak dan melirik ke arah Arjuna dan terlihat pria itu sedang senyum-senyum memandang ke arahnya.
“Mengetahui kalau ternyata papi sakit berat seperti sekarang ini, Cilla sadar kalau keputusan yang papi ambil untuk mempercayakan Cilla pada Mas Juna adalah bentuk kepedulian papi, om dan tante pada Cilla seandainya sampai terjadi hal yang tidak diinginkan.
Cilla sekarang baru mengerti juga kenapa Mas Juna begitu cemas dengan kondisi yang harus dihadapinya seandainya sampai kami menikah.
Maaf kalau Cilla ternyata sudah membuat Om dan Tante sakit hati dengan keputusan Cilla untuk membatalkan pernikahan kami. Itu semua Cilla lakukan karena Cilla tidak mau membuat Mas Juna terbebani dengan segala komitmen yang harus dijalaninya.”
“Jadi maksudnya Cilla masih cinta sama Juna ?” tanya mama Diva menatap lembut mantan calon menantunya itu.
Cilla terdiam dengan wajah menunduk. Kedua tangannya saling menaut untuk mengurangi rasa gelisahnya.
Arjuna beranjak dan berlutut di hadapan anak bebek kesayangannya yang terlihat bingung memberikan jawaban.
“Cilla masih sayang kan sama Mas Juna ?” Arjuna menangkup wajah Cilla dan mengangkatnya hingga mereka bertatapan.
“Mas Juna masih cinta banget sama Cilla dan berharap kalau kita bisa melanjutkan hubungan ini seperti semula. Mas Juna paham kalau Cilla sama takutmya dengan Mas Juna dan begitu peduli dengan kebahagiaan Mas Juna, makanya Cilla mengambil keputusan untuk membatalkan pernikahan kita. Jangan takut atau malu kalau Cilla mau membatalkan keputusan Cilla. Mas Juna pun akan berjuang untuk mendapatkan kembali restu dari papi.”
Mata Cilla mengerjap dan hanya berani menatap pria di depannya. Pria yang selalu membuatnya berdebar dan bahagia sekaligus sedih. Pria yang selalu membuatnya nyaman setiap kali ia membutuhkan sandaran. Rasa nyaman yang berbeda dengan yang didapatkannya saat curhat dengan Jovan atau Dimas.
Dari posisinya, Theo hanya bisa tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala. Yang perempuannya masih remaja beneran dan yang laki-laki sudah dewasa tapi kali ini malah seperti anak remaja namun keduanya benar-benar saling cinta.
“Cilla, kamu belum menjawab pertanyaan tante,” sela papa Arman.
“Berikan jawaban dari dalam hatimu, jangan sampai dipengaruhi oleh gombalan Juna,” tegas papa Armna kembali.
“Papa,” Juna melepaskan tangannya dan menatap papa Arman dengan wajah cemberut.
“Arjuna bukan lagi gombal sama Cilla. Lagi serius. Papa malah merusak suasana,” gerutunya dengan wajah ditekuk. Arjuna bangun dan kembali duduk di samping Cilla.
Papa Arman menghela nafas dsn geleng-geleng kepala menyaksikan putra tunggalnya yang memang terlihat berbeda.
“Arjuna kan lagi meyakinkan Cilla…”
“Cilla masih sayang sama Mas Juna, Om,” potong Cilla cepat dengan yakin. “Tapi sekarang Cilla masih kesal sama Mas Juna.”
Cilla melirik pria yang duduk di sampingnya sedang senyum-senyum mendengar pengakuan Cilla lalu berubah mengerutkan dahi saat mendengar ucapan terakhirnya.
“Kesal karena Mas Juna diam aja pas dicium sama sekretarisnya. Kalau om Tino nggak teriak, mungkin itu bibir nggak mau lepas kayak ada lemnya,” ujar Cilla dengan wajah kesal.
Theo mulai senyum-senyum, siap-siap dengan drama pasangan bebek ini. Tante Siska juga menutup mulutnya untuk menyembunyikan senyumannya. Cinta kedua anak muda di depannya selalu bisa bikin orang tua geleng kepala namun tetap tersenyum.
“Terus Cilla mau tunggu sampai kesal Cilla hilang baru balik lagi sama Juna ?” tanya mama Diva dengan nada sedikit menggoda namun keduanya yang masih saling menatap tidak begitu memperhatikan nada suara mama Diva.
“Cilla mau buat supaya skor kami sama dulu, Ma,” Cilla menoleh menatap mama Diva. “Eh maaf, maksud Cllla Tante Diva.”
Cilla terlihat malu-malu saat salah memberikan panggilan pada mama Diva.
“Nggak boleh !” protes Arjuna cepat. “Nggak boleh minta ciuman sama cowok lain ! Apalagi sampai dua orang juga. Semua yang ada di Cilla hanya milik Mas Juna, kalau perlu saat papi kamu sadar, Mas Juna langsung melamar, langsung diikat dan dikasih tanda kalau Cilla kepunyaannya Mas Juna.”
“Udah kayak barang lelang aja,” celetuk Theo sambil terkekeh.
“Nggak boleh sembarangan !” suara tegas papa Arman membuat Arjuna menatap papanya dengan dahi berkerut.
“Mana bisa begitu, Pa,” protes Arjuna. “Biarpun saat ini Juna dan Cilla nggak ada hubungan apa-apa, Juna akan jagain Cilla supaya nggak nemplok-nemplok ke cowok lain apalagi sampai nemplok bibir.”
“Eh lo kira elo bayangannya Cilla ?” Theo tertawa mengejek. “Bisa ikut kemana Cilla pergi sampai 24 jam ? Lagian egois banget sih, sendiri boleh cium sana-sini, sekalinya Cilla dikurung dan diikat kayak sapi yang siap jadi korban.”
“Itu karena gue cinta mati sama Cilla,” sahut Arjuna dengan nada kesal.
“Tante setuju sama keputusan papa kamu, Jun,” tante Siska buka suara. “Selama kalian belum mendapatkan restu dari orangtua, hubungan kalian hanya sebatas guru dan murid. Kamu dan Cilla sama-sama punya kebebasan sampai hubungan kalian mendapatkan kepastian.”
“Tapi Tante…” Arjuna sudah siap-siap mau protes tapi dipotong oleh mama Diva.
“Jangan seperti anak kecil yang membantah terus, Jun. Bikin malu papa dan mama. Kalau kalian berdua memang sama-sama cinta mati, berusahalah berdua untuk mendapatkan restu orangtua.”
Arjuna meraih tangan Cilla dan menggenggamnya membuat gadis itu menoleh dan berpandangan dengan bapak bebeknya.
“Kamu mau berusaha sama-sama dengan Mas Juna, kan ?”
Cilla mengerjap-ngerjap lalu menggelengkan kepala membuat Arjuna langsung melotot.
“Cilla mau coba dicium cowok lain dulu untuk memastikan kalau Mas Juna adalah satu-satunya cowok yang Cilla cintai. Kalau sampai jantung Cilla nggak berdebar kayak mau copot pas dicium, berarti memang Mas Juna jodoh Cilla. Tapi kalau…”
“Nggak ada ! Nggak boleh ! Mas Juna sudah bilang kalau perlu dicuci pakai air kembang dan sikat gigi sepuluh kali dalam sehari buat menghapus jejak Luna dan Yola. Cilla hanya Mas Juna yang boleh cium-cium. Kalau sampai debarannya bikin Cilla butuh CPR, Mas Juna akan kasih langsung.”
“Tetap saja status bibir Mas Juna barang bekas,” gerutu Cilla dengan wajah kesal. “Beda sama Cilla yang masih ori dan bergaransi asli bukan kw.”
Semua yang ada di situ langsung tertawa mendengar ucapan Cilla sambil geleng-geleng kepala. Drama pasangan ini memang tidak pernah membosankan.
“Tuh Jun dengerin, barang bekas, Jun,” ledek Theo. “Kw pula nggak ada garansi resminya.”
“Biar barang bekas masih bisa bikin Cilla deg deg kan, malah sampai jantung Cilla kayak mau copot, kan ?”
“Makanya Cilla mau uji coba dulu dengan cowok lain, kalau deg deg kan nya sama berarti Mas Juna nggak istimewa banget di hati Cilla.”
“Cilla nggak perlu uji emisi, uji kelayakan atau uji deg deg kan ! Pokoknya Cilla cuma boleh sama Mas Juna. Mas Juna udah bayar lunas buat dapetin barang ori dan bergaransi, bukan kw,” tegas Arjuna.
“Kalian ini lagi transaksi jual beli handphone atau membahas cinta, sih ?” ledek tante Siska di sela-sela tawanya.
Cilla dan Arjuna saling menatap dengan wajah sama-sama kesal dan tidak ada yang mau saling mengalah.
“Kayak lagi beli mobil angkutan barang perlu uji emisi dan kelayakan segala,” celetuk Om Rio yang juga ikut tertawa.
Tiba-tiba Arjuna mendekat dan menangkup wajah Cilla lalu mencium bibirnya membuat semua yang ada di situ mendadak diam dan tercengang.
“Arjuna !”
”Juna !”
Papa Arman dan mama Diva langsung memekik memanggil nama putra mereka.
Cilla yang sama terkejutnya langsung membelalak saat bibirnya dicium di depan keluarga mereka. Wajahnya langsung memerah menahan malu dan jantungnya berpacu dengan cepat, mungkin kali ini tiga kali atau bahkan empat kali lebih cepat.
Arjuna benar-benar membuat heboh keluarga yang duduk di situ, bahkan mengundang ketiga sahabat Cilla langsung masuk ke dalam, penasaran dengan pekikan mama Diva dan papa Arman.
Tidak lama kemudian Arjuna melepaskan ciumannya membuat Cilla langsung lemas. Meski hanya menempelkan bibirnya di bibir Cilla tapi sudah membuat Cilla malu setengah mati.
“Apa Papa, Mama, Om dan Tante masih belum setuju kalau Arjuna baikan lagi sama Cilla ? Bukannya kalau pasangan tertangkap basah melakukan perbuatan di luar batas langsung dinikahkan ? Juna siap kok kalau disuruh nikahin Cilla cepat-cepat. Siap lahir batin dan udah nggak ragu-ragu lagi.”
“Mas Juna ih,” Cilla memukul bahu Arjuna. “Siapa juga yang mau cepat-cepat dinikahkan sama Mas Juna ? Cilla masih kesal dan belum…”
“Mau Mas Juna kasih ciuman lebih dari yang tadi biar kita beneran dinikahkan sekarang ?” ancam Arjuna dengan wajah tegas yang tidak mau dibantah.
Semua yang ada di situ menatap keduanya dan langsung tercengang saat melihat Cilla malah mengangguk. Papa Arman bahkan sampai menepuk jidatnya sendiri
“Eh maksud Cilla bukan begitu,” sadar kalau kepalanya mengangguk, wajah Cilla kembali merona dan melirik ke arah lainnya yang ternyata sedang menatap mereka dengan tatapan yang sulit digambarkan.
“Gerakan spontan lebih jujur daripada ucapan,” Arjuna megedipkan sebelah matanya sambil menempelkan telunjuknya di bibir Cilla.
Papa Arman geleng-geleng kepala sambil beranjak dari sofa.
“Lebih cepat lebih baik kamu dapat restu papinya Cilla, Jun. Bisa-bisa darah tinggi papa kumat kalau kelamaan bicara dengan kalian berdua. Bisanya berdebat terus tapi mulut nyosor juga,” omel papa Arman.
“Maklum aja Om, Arjuna sama Cilla itu ibarat kolam dan anak bebek. Kolamnya beriak terus menggoda anak bebek untuk berenang di sana, sementara anak bebeknya juga nggak boleh lihat air, pengennya langsung nyemplung aja dan main di kolam,” ledek Theo.
Cilla dan Arjuna langsung menoleh dan menatap Theo dengan tatapan menusuk yang membuat Theo makin terbahak.
Yang lainnya kembali ikut tertawa hanya papa Arman yang senyum-senyum sambil berjalan ke arah pintu keluar.
Cocok juga apa yang dikatakan Theo barusan. Cilla dan Arjuna memang ibarat kolam dan anak bebek yang sama-sama bahagia kalau bisa saling melengkapi.