
Langkah Cilla terhenti saat pintu ballroom dibuka dan iringan pengantin mulai berjalan masuk.
Cilla yang tidak suka menjadi pusat perhatian mendadak ragu melangkah masuk ke dalam ballroom mmebuat beberapa.
“Ada Mas Juna di samping Cilla,” ujar Arjuna berhadapan dengan Cilla sambil memegang kedua tangan gadis itu.
”Sudah saatnya Cilla menjadi pusat perhatian malam ini karena Mas Juna ingin semua orang tahu kalau kita sudah menikah. Artinya Cilla sudah menjadi milik dan memiliki Mas Juna, begitu juga sebaliknya. Mas Juna sudah menjadi milik dan memiliki Cilla,” ujar Arjuna lalu mencium kening istrinya.
“Dan supaya para pelakor dan pebinor tidak makin gencar mendekati kita,” ujar Arjuna kembali sambil berbisik di telinga Cilla. Begitu dekat hingga para tamu mengira Arjuna sedang mencium pipi Cilla.
Arjuna menatap Cilla penuh cinta sambil tersenyum. Perlahan Cilla mengembangkan senyumnya dan merangkul lengan Arjuna.
“Mari kita tunjukan pada dunia kalau kita berdua saling memiliki,” ujar Cilla sambil mengangguk.
“Dan cinta,” Arjuna menambahkan sambil mencium pipi Cilla sekilas.
Tepukan tangan mulai terdengar dari para tamu yang berpikir kalau kejadian barusan adalah bagian dari rangkaian acara.
Iringan orangtua, keluarga dan pengantin pun dilanjutkan menuju pelaminan.
“Dasar lebay !” cebik Luna sambil mendekati Riana. Keduanya hadir karena ajakan orangtua mereka.
“Jadi ceritanya elo gagal mendekati Arjuna,” ledek Luna pada Riana yang sudah bercerita soal kejadian di cafe dimana Arjuna memperkenalkan Cilla sebagai istrinya.
“Penuh percaya diri banget mantan adik tiri elo,” cibir Riana dengan wajah kesal. “Asli belagu banget. Apalagi pas Yola seolah ikut mendukung tuh bocil.”
“Gue bingung kenapa Yola mendadak berbalik nggak suka lagi sama Arjuna,” dahi Luna berkerut. “Padahal tuh anak sempat agresif banget sampai maksa emaknya supaya masukin dia ke perusahaan bokapnya Arjuna.”
“Bahkan sempat merasakan bibir Arjuna selain elo,” Riana tertawa pelan meledek Luna. “Tinggal gue nih yang belum kebagian dari kita bertiga.”
“Nggak ada yang istimewa,” Luna mencebik sambil tertawa pelan. “Nggak ada sensasi gimana gitu.”
“Memangnya ciuman Juna udah sejauh apa ?” tanya Riana sambil mengernyit.
“RAHASIA !” Luna mendekatkan wajahnya dan menekankan ucapannya. “Coba elo buktikan dulu sejauh mana bisa membuat Arjuna berpaling dari Istrinya.”
Riana cemberut saat Luna kembali tertawa dengan nada mengejek padanya.
“Harus dengan cara yang elegan, jangan kasar dan kesannya memaksa. Arjuna itu tipe lelaki yang suka jadi pria agresif mengejar wanita, bukan malah diuber-uber sama perempuannya,” ujar Luna.
“Bukannnya elo bilang kalau Juna terpaksa menerima mantan adik tiri elo karena dikejar-kejar ? Elo kalah gigih dong sama tuh bocil,” Riana tersenyum mengejek.
“Arjuna nggak bakalan terima tuh anak kalau bukan karena diusir dari rumah dan dikeluarkan dari perusahaan. Udah pasti Pris menggunakan bokapnya untuk mendapatkan Arjuna.”
“Tapi kok gue nggak melihat tanda-tanda Arjuna tepaksa ya ?” Riana masih tersenyum mengejek Luna.
“Arjuna memang nggak terpaksa, malah dia cinta mati sama Cilla,” Yola sudah berdiri di antara Luna dan Riana sambil tersenyum manis.
“Ngapain elo di sini ?” tatapan Riana berubah kesal melirik Yola.
“Ya kondangan lah,” sahut Yola sambil tertawa pelan. “Masa udah dandan cantik begini cuma mau pergi ke bioskop ? Kan nyokap gue bestie-nya Tante Diva.”
“Punya channel bagus disia-siain. Dasar ogeb !” omel Riana lagi.
“Kalian tuh parah banget sih nggak bisa move on dari Arjuna, Gue tahu kalau populasi cowok itu lebih sedikit daripada cewek, tapi bukan berarti elo berdua harus stuck pada satu cowok kan ? Lagian gue tahu kalau elo tuh nggak benar-benar cinta sama Arjuna, Lun. Elo itu cinta sama kantongnya sama kartu kreditnya Arjuna doang,” ejek Yola sambil tertawa.
“Udah gila lo,” omel Luna sambil menjauhi Yola yanb hanya tertawa.
Sementara di pelaminan para tamu mulai memberikan selamat pada keluarga yang berbahagia.
“Mas Juna, nggak salah antrian yang mau kasih selamat panjang begitu ?” Cilla tercengang melirik ke barisan yang mengantri.
“Satu porpinsi diundang sama papi dan papa,” sahut Arjuna tekekeh “Dimaklumi aja. Ini kan pertama kalinya papi dan papa menggelar pesta pernikahan apalagi kita berdua adalah kolaborasi dari putri satu-satunya dengan putra sulung sekaligusnya anak pria satu-satunya milik papa.”
“Udah kayak apaan aja kolaborasi,” cibir Cilla namun tersenyum juga.
Tidak lama, tamu yang tidak diharapkan oleh Cilla naik ke atas panggung membuat Cilla menghela nafas.
”Apa papa dan mama belum pernah bertemu tante Sofi ?” bisik Cilla saat melihat papa Arman dan mama Diva terlihat biasa saja saat menerima ucapan selamat dari tante Sofi.
”Belum, hanya bertemu Luna beberapa kali,” sahut Arjuna sambil mengerutkan dahi saat melihat kedua orangtuanya menyambut baik orangtua Luna.
Mantan kekasihnya sendiri berada di belakang seorang pria yang terlihat sedikit lebih tua dari papa Arman.
“Itu suami tante Sofi yang baru ?” gantian Arjuna yang berbisik.
“Sepertinya begitu. Cilla juga nggak tahu,” sahutnya sambil mengembangkan senyum karena tidak lama
tante Sofi yang sudah berdiri di depannya langsung memeluk Cilla.
“Selamat karena kamu sudah berhasil merebut semuanya dari Mia, bahkan calon suaminya pun sampai bisa kamu paksa menikahimu,” bisik tante Sofi saat memeluk Cilla.
Cilla yang terkejut mendengar ucapan tante Sofi langsung melepaskan pelukannya dan mengernyit.
”Apa Tante tidak terbalik ? Selama ini Kak Mia yang berusaha merebut milik saya termasuk Papi. Dan kalau urusan calon suami, silakan tanyakan sendiri pada anak Tante,” sahut Cilla sambil melirik Luna yang pura-pura tidak mengerti.
“Baru beberapa jam menjadi istri Arjuna, tingkahmu sudah sombong !” ketus Tante Sofi dengan senyuman sinisnya.
“Tolong jangan usik istri saya, Tante. Cilla tidak ada hubungan dengan putusnya saya dengan Luna. Dan sekarang silakan tante lanjut kembali karena antrian sudah panjang di belakang sana,” ujar Arjuna dengan suara tenang dan senyuman tipisnya.
Tante Sofi mengepalkan tangannya dengan wajah geram. Pria yang mengikutinya hanya menatap dan mendengar percakapan tante Sofi dengan Arjuna dan Cilla tanpa mengerti maksdnya dan tidak berniat ikut campur.
Setelah menyalami tante Siska, papi Rudi menahan tangan tante Sofi yang sedang berjabatan dengannya.
”Jangan coba-coba kembali mengusik kehidupan Cilla. Kali ini aku tidak akan berbaik hati seperti kejadian yang lalu.”
Tante Sofi nampak tercengang mendapati sikap papi Rudi yang selama ini cukup tenang padanya. Namun saat ini terlihat sisi lain dari papi Rudi yang keras dan tegas.
Wajah papi Rudi langsung berubah saat pria di belakang tante Sofi menyalaminya.
“Thankyou for coming, Mr. Syakir,” ujar papi Rudi sambil tersenyum.
Luna sendiri tidak banyak bicara dan lebih banyak tertunduk saat berhadapan dengan papi Rudi.
“Nggak ada rasa gimana saat ketemu mantan, Mas Juna ?” gumam Cilla sambil melirik karena ucapan selamat dari para tamu masih berlanjut.
”Sama sekali nggak ada,” tegas Arjuna.
Cilla tidak lagi banyak bertanya dan terus tersenyum menerilma ucapan selamat dari sebagian orang yang tidak dikenalnya.
Tidak lama dari panggung musik terlihat beberapa teman sekelasny naik ke sana dan mengambil alih beberapa perlatan musik di sana.
Ada Aron, Nico, Mira, Reina Nino, dan beberapa teman lainnya yang bersiap-siap mengisi acara.
“Selamat malam om, tante, kakak, adik dan semua undangan yang berbahagia, perkenalkan kami dari SMA Guna Bangsa, teman sekelas Priscilla sekaligus murid kesayangan Pak Arjuna Hartono yang sedang berbahagia malam ini,” Nino membuka salam membuat Arjuna dan Cilla saling menatap dan tersenyum.
“Akhirnya guru matematika tampan kami berhasil menaklukan teman cewek kami yang paling gokil di kelas dan tamu kehormatan di ruang BK,” sambung Aron membuat Cilla langsung melotot.
“Nggak nyangka, sih, Pak Arjuna yang tampan itu akhirnya memilihnya Cilla,” timpal Reina.
”Huuu…” sambutan murid-murid lain yang tidak naik ke panggung langsung riuh.
“Ngaku jujur aja deh banyak yang patah hati begitu tahu Pak Arjuna jatuh cintanya sama Cilla,” ujar Nico dari atas panggung.
“Maaf Pak bukan hoax tapi ini kenyataan kalau ciwi-ciwi ini nggak nyangka bapak malah milihnya bocil itu, siswi paling muda di angkatan kita, Pak.”
Arjuna tertawa dan mengacungkan ibu jarinya pada teman-teman Cilla di panggung.
“Namun dengan setulus hati kami dari kelas XII IPS-1 mendukung sepenuhnya bersatunya Cilla dan Pak Arjuna,” ujar Reina kembali.
“Dan sebagai hadiah spesial, kami akan mempersembahkan lagu-lagu ini untuk Pak Arjuna dan Cilla, guru dan teman kesayangan kami.”
“Semoga kalian berbahagia selamanya !” seru Nino yang langsung diulangi oleh teman-temannya yang berdiri di depan panggung.
Arjuna tersenyum sambil menggenggam tangan Cilla yang mulai merasa terharu dengan kehadiran dan perhatian teman-teman sekelasnya.
“Dan rasanya tidak akan lengkap kalau kelas tanpa seorang guru pendamping. Dan inilah walikelas kesayangan kami, Bapak Dono Suharto.”
Kembali tepukan riuh dari teman-teman Cilla menyambut kehadiran Dono yang langsung dibawa menaiki panggung musik.
“Mas Juna ke sana, yuk,” ajak Cilla saat tidak ada lagi yang naik ke atas pelaminan.
“Jangan bilang kamu mau ikutan nyanyi dan joget,” Arjuna memicing, menatap Cilla yang hanya tertawa.
“Cilla yang nyanyi, Mas Juna sama Pak Dono yang joget, ya. Please,” Cilla bergelayut manja pada lengan suaminya sambil menatap Arjuna dengan puppy eyes nya, membuat Arjuna akhirnya mengalah dan menuruti permintaan Cilla.
“Tripel bonus kalau begitu,” Arjuna mengedipkan sebelah matanya.
“Mau sepuluh bonus juga boleh,” sahut Cilla sambil tertawa pelan.
“Kuy lah kalau begitu,” Arjuna menggandeng tangan Cilla mendekati panggung musik dimana para teman-teman sekelasnya mulai menyayi.
Tidak lama para sahabat Arjuna pun ikut bergabung di antara para murid mendekati Arjuna serta Cilla.
”Nyanyi dong Jun, hadiah buat istri tercinta,” ledek Luki sambil menyenggol bahu sahabatnya.
“Eh Mas Juna beneran bisa nyanyi ? Mau dong dinyanyiin kayak di film-film, kesannya romantis banget,” Cilla mngerjap dan kembali dengan puppy eyes nya menatap Arjuna.
“Udah lama nggak nyanyi dan latihan,” tolak Arjuna.
“Kalau memang bakat, mau sepuluh tahun nggak latihan tetap aja bisa.”
“Juna ! Juna ! Juna !” Erwin mulai memprovokasi setelah satu lagu selesai dinyanyikan oleh teman-teman Cilla.
“Apaan sih,” Arjuna masih berusaha menolak tapi tangan Cilla menariknya, sementara Luki dan Erwin mendorongnya.
“Nyanyi ya ?” pinta Cilla kembali mengerjap saat mereka sudah di pinggir panggung. “Unlimited service,” bisik Cilla pelan di telinga Arjuna.
“Awas ya kalau melanggar !” ancam Arjuna dan Cilla mengangguk.
Tepukan riuh langsung menyambut Arjuna yang akhirnya berdiri di atas panggung ditemani Cilla. Bukan hanya para murid yang memberikan tepuk tangan, tapi juga para tamu yang fokusnya langsung pada pasangan pengantin.