
Menghabiskan waktu bersama Sebastian Pratama, Arjuna banyak diajarkan bagaimana bersikap sebagai seorang suami yang semakin dicintai istrinya.
Setiap hari seperti minum obat dokter, Arjuna pun mulai rajin berkirim pesan pada Cilla, bahkan dalam sehari Arjuna menyempatkan bicara dengan anak bebek kesayangannya meski hanya sebentar.
Hingga dua hari berlalu, jadwal kepulangan Arjuna terpaksa harus diundur. Papa minta Arjuna untuk lanjut ke Yogyakarta mewakili papa Arman bertemu dengan beberapa distributor besar untuk daerah Jawa Tengah.
“Tapi Mas Juna janji nggak lama,” rengek Cilla saat Arjuna memberinya kabar tentang kepulangannya yang harus diundur.
“Iya Mas Juna janji setelah pertemuan tahunan beres, Mas Juna langsung balik ke Jakarta.”
“Sama om Luki juga atau sendiri ? Terus tambah berapa hari lagi ?”
“Besok Tino diantar sopir kantor datang menggantikan Bastian dan Dion. Luki ikut pulang ke Jakarta sama Bastian. Sebelum ke Jogja, Ma Juna menginap semalam dulu di Semarang, mau ketemu calon investor Hotel Prisma.”
“Kok hotel lagi ? Kan udah jadi tanggungjawabnya Kak Theo.”
“Theo lagi sakit. Baru kabarin Mas Juna minta digantiin ketemu klien di Semarang. Cuma mewakili doang, kelanjutannya urusan Theo.”
“Kliennya cewek apa cowok ? Dan beneran ya cuma mewakili Kak Theo doang, nggak ngurusin hotel lagi, kan ? Jadi balik ke Jakartanya masih 3 atau 4 hari lagi ?” mulut Cilla kembali mengerucut dan wajahnya cemberut membuat Arjuna tertawa pelan.
“Iya sepertinya begitu. Cilla masih di rumah mama atau sudah pulang ke rumah papi ?”
“Masih di rumah mama. Tadi siang diajak belanja sama mama dan Amanda, terus sorenya papa nyusul sekalian makan malam di luar. Ini Cilla baru selesai mandi.”
“Cilla belanja juga nggak ? Pakai kartu yang Mas Juna kasih kalau mau belanja, jangan pakai uang sendiri. Kan udah jadi tanggungjawab Mas Juna buat kasih uang ke Cilla.”
“Cilla cuma butuh sepatu snickers buat kuliah nanti, tapi dipaksa ikut beli sepatu pantofel juga gara-gara nemenin Manda belanja. Manda cari sepatu wedges, Cilla ogah pakai model begitu, jadi beli yang model balerina aja. Akhirnya hari ini dapat 2 sepatu. Semuanya dibayarin mama, padahal Cilla udah bilang kalau kartu yang Cilla pakai itu dikasih Mas Juna.”
“Ya udah nggak apa-apa. Mama pasti senang banget bisa belanjain mantunya yang banyak uang,” ledek Arjuna sambil tergelak. “Mama tuh udah anggap Cilla anak sendiri bukan menantu.”
“Jangan dong, kalau Cilla anaknya mama, nggak bisa bikin dedek bayi sama Mas Juna,” ujar Cilla sambil terkikik.
“Mulai nakal ya ! Awas nanti kalau Mas Juna pulang, nggak usah tunggu bulan madu, Mas Juna unboxing duluan biar kalau bulan madu nggak jerit-jerit lagi di kamar hotel malah mendesah kenikmatan,” ledek Arjuna sambil terkekeh.
“Dih ya nggak jerit-jerit juga kali,” Cilla mencibir. “Kecuali dipukulin sama Mas Juna baru jerit-jerit.”
”Dipukul mesra pakai bibir aja,” sahut Arjuna tertawa membuat wajah Cilla bersemu merah.
”Kenapa ? Kok malu-malu meong begitu ? Kan Cilla sendiri yang bilang takut kedengaran mama kalau pertama kali unboxing di rumah mama ?”
“Habis pak guru ngomongnya udah mesum banget,” cibir Cilla. “Muridnya jadi bingung mau jawab apa. Cilla sih nggak tahu sakitnya kayak apa sampai perlu menjerit,” wajah Cilla kembali merona membuat Arjuna semakin gemas ingin meghujani Cilla dengan ciuman.
“Bukan murid, tapi anak bebek kesayangan.”
Tidak lama Cilla menguap, matanya memang mulai mengantuk. Jam 9 pagi sudah diajak mama dan Manda ke salon lanjut belanja ke mal. Kakinya pegal banget karena nggak biasa keliling mal seharian. Waktu sama Febi dan Lili, biasanya hanya banyak duduk menemani Lili yang hobi shopping.
“Cilla udah ngantuk ?”
“Iya udah ngantuk, Cilla mau bobo dulu ya. Kesel juga nih soalnya Mas Juna makin lama pulangnya.”
“Tidur sama Amanda dulu aja,” pinta Arjuna. “Biar nggak kesepian tidur sendirian.”
“Nggak mau soalnya kalau tidur di kamar Manda, nggak ada bau-baunya Mas Juna. Kalau di sini bantal ini masih ada baunya Mas Juna,” Cilla mengangkat bantal kepala yang sempat digunakan Arjuna sebelum pergi ke Batang.
“Bau ilernya beda, ya ?” ledek Arjuna sambil terkekeh. Cilla hanya mengangguk dan kembali menguap.
“Ya udah bobo dulu. Jangan lupa mimpi Mas Juna, jangan cowok lain !”
“Iya.. iya…” Cilla mengangguk-angguk dengan mata yang makin mengantuk.
“I love you anak bebek kesayangan Mas Juna.”
“I love you too bapaknya anak bebek.”
Arjuna tertawa apalagi melihat Cilla yang memaksa membuka matanya yang benar-benar mengantuk. Tidak tega melihat istrinya terlihat kelelahan, akhirnya Arjuna mengakhiri sambungan teleponnya.
🍀🍀
Jam 10 pagi Dion sampai di Batang dan langsung menuju proyek karena Arjuna sedang berada di sana.
Sebastian, Luki dan Dion sudah jalan balik ke Jakarta sejak jam 9 pagi setelah mengantar Arjuna ke lokasi proyek.
“Jam berapa kita meeting di Semarang ?”
“Info dari Theo jam 5 sore di hotel tempat kita menginap. Jadi nggak perlu keluar hotel.”
“Ya udah, sampai Semarang kita cari makan siang dulu habis itu ke hotel. Gue mau istirahat dulu, badan berasa capek. Kamar buat Nano udah disiapin juga, kan ?”
Tino mengangguk. Kelebihan Arjuna sebagai pimpinan perusahaan selalu memperhatikan karyawan bahkan untuk sopir sekalipun.
Sepanjang perjalanan, keduanya hanya membahas masalah seputar pekerjaan.
Sampai di Semarang, Arjuna mengajak Tino makan siang di nasi ayam Bu Pini. Senyuman tipis tersirat di wajah Arjuna yang mengingat kembali kenangannya bersama Cilla saat pertama kali diajak makan di tempat ini.
“Jangan bilang kalau elo tahu tempat ini dari Cilla,” tebak Tino saat melihat Arjuna senyum-senyum sendiri sambil menunggu pesanan mereka.
“Semarang itu kota kenangan gue sama Cilla. Pertama kali Cilla menyatakan suka sama gue di Ambarawa waktu nikahan Dono dan Wiwik. Habis dari sana, Cilla ngajak kita berlima jalan-jalan ke Semarang. Pertama kali juga gue peluk Cilla dengan status sebagai guru dan murid yang akhirnya membuat heboh satu sekolah. Theo diam-diam foto gue sama Cilla pas nggak sengaja pelukan di Lawang Sewu.”
“Kan status Cilla sudah istri sah, jadi ya udah jadi mantan pacar,” ujar Tino menerangkan saat melihat dahi Arjuna berkerut.
“Iya, mantan pacar terindah. Murid paling nekad yang gue temuin. Baru berapa bulan kenal sama gurunya udah berani kasih kode-kode kalau suka sama gue, padahal dia tahu kalau gue udah punya pacar saat itu.”
“Tapi senang, kan ?” Tino menaik turunkan alisnya.
Pesanan makanan mereka sudah diantar dan obrolan tetap dilanjutkan sambil menikmati makanan mereka.
“Nggak tahu namanya apa saat itu. Yang pasti deg deh kan dan baru pertama kali gue merasa begitu berdebar saat dekat sama cewek. Pas nembak Luna waktu SMA aja nggak berdebar kayak pas sama Cilla. Panas dingin pas pertama kali nggak sengaja pegang tangan Cilla, apalagi dengar omongan tuh bocah yang nyerempet-nyerempet terus.”
“Udah kena pelet dari pertama, ya ? Tapi memang Cilla itu ngegemesin. Bawelnya itu bukan sekedar bawel. Wawasannya luas, ngobrol sama Cilla itu nggak ngebosanin. Untung aja cepat-cepat elo halalin. Kalau ragu-ragu terus, gue udah siap-siap nikung,” ledek Tino sambil tergelak.
“Awas kalau masih berniat nikung !” mata Arjuna melotot membuat Nano ikut senyum-senyum.
Selesai makan siang mobil langsung melaju ke hotel di kawasan Candisari, agak jauh dari Simpang Lima. Arjuna menikmati situasi kota Semarang yang membuat hatinya semakin merindukan Cilla.
Matanya mengernyit saat melihat pesan yang dikirimnya sejak pagi hanya dibaca oleh Cilla. Tanpa menunggu, Arjuna langsung menekan nomor Cilla namun langsung masuk ke kotak suara hingga beberapa kali Arjuna mencobanya.
Akhirnya Arjuna langsung menghubungi Amanda mengingat istrinya itu masih tinggal di rumah orangtua Arjuna.
“Cilla pamit pergi tadi pagi sama papa dan mama. Nggak bilang mau kemana, nggak diantar sopir juga. Mungkin nggak dapat sinyal kali, Kak,” ujar Amanda saat panggilan telepon dari Arjuna tersambung.
“Beneran nggak bilang mau kemana ?” tanya Arjuna dengan nada khawatir.
“Nggak bilang, mama juga nggak tahu. Nih mama di sebelah Manda langsung geleng-geleng. Udah tenang aja, kalau sampai malam nggak ada kabar, pasti papa akan langsung suruh orang cari Cilla.”
Arjuna menghela nafas panjang setelah menutup sambungan telepon dengan Amanda. Pesan yang dikirim siang ini ke nomor Cilla hanya centang satu.
“Udah tenang aja, Bro. Mungkin Cilla ada perlu dan di tempatnya berada susah dapat sinyal. Elo kirim pesan aja, pasti dia akan balas kalau nomornya udah aktif lagi.”
Tino ikut menenangkan saat melihat wajah Arjuna mulai gelisah karena tidak mendapat kabar dari Cilla bahkan handphone Cilla tidak aktif
Sampai di hotel, niat untuk mencari tahu keberadaan Cilla akhirnya tertunda karena Arjuna langsung tertidur saat tubuhnya menyentuh kasur hotel.
Jam 5 sore pertemuan dengan klien Theo tetap dilakukan di restoran yang ada di hotel. Perasaan khawatir Arjuna membuat ia segan mencari tempat lain di kota Semarang.
Sepertinya setiap sudut kota ini hanya akan mengingatkan Arjuna pada anak bebek kesayangannya yang masih belum aktif nomornya hingga sore ini.
Arjuna mengerutkan dahi saat menemui klien Theo yang ternyata sudah menunggunya di restoran. Bukan Rafael, nama pria yang diinfokan oleh Theo yang membuat dahi Arjuna berkerut, tapi wanita yang di sebelahnya membuat Arjuna balik malas bertemu Rafael.
“Apa kabar Arjuna Hartono ?” sapa wanita dengan pakaian ketat berwarna hitam itu.
”Baik,” sahut Arjuna singkat dengan senyum dipaksakan. Tangan Arjuna terulur ke arah Rafael, bukan wanita yang ada di sebelahnya.
Keduanya bersalaman dan saling memperkenalkan diri. Terlihat beberapa kali Arjuna menghela nafas menahan rasa kesal karena harus duduk semeja dengan wanita ini.
“Kenapa elo nggak kasih tahu kalau Rafael ini saudara tirinya Luna ?”
Arjuna mengirimkan pesan pada Theo yang memintanya menemui Rafael.
“Beneran ? Sumpah gue kagak tahu, Jun. Terus gimana ?”
“Rafaelnya oke, tapi Luna nya nggak banget deh 😤”
“Sorry Jun, gue benar-benar nggak tahu 🙏”
“Kalau sampai ada yang bikin heboh sama Cilla gara-gara ini, elo harus ikut tanggungjawab !!”
“Jangan khawatir adik ipar, gue pasti berpihak sama elo dan menjelaskannya sama anak bebek elo😊😊🤪”
Sekitar jam 8 malam pembicaraan dengan Rafael berakhir. Arjuna sendiri lebih banyak fokus berbincang dengan Rafael yang cukup profesional meskipun beberapa kali Luna berusaha mengalihkan topik pembicaraaan.
Di akhir perbincangan mereka, Arjuna kembali menekankan kalau masalah hotel bukanlah tanggungjawabnya. Posisinya saat ini hanya menggantikan Theo yang sedang sakit.
“Jun,” Luna menahan lengan Arjuna saat keduanya hendak berpisah di pintu restoran.
Dengan alasan ada keperluan keluar, Arjuna sengaja tidak langsung balik ke kamar demi menghindari satu lift dengan Rafael dan Luna menginap di hotel yang sama.
“Boleh aku minta waktu sebentar, ada yang mau aku bicarakan,” ujar Luna.
Tino yang melihat Luna mendekati Arjuna sengaja menjauh dan berbincang dengan Rafael, namun matanya tetap mengawasi Arjuna dan Luna.
“Mau bicara apa lagi ? Kedatangan saya kemari karena mewakili Theo yang sakit, jadi nggak ada alasan untuk membahas masalah lain.”
“Nggak bisakah aku bicara sebagai teman.”
“Nggak !” tegas Arjuna. “Seorang teman tidak akan menjebak temannya sebagai bahan taruhan. Masih belum puas dengan Yola dan Riana ?” Arjuna tersenyum sinis.
“Jun, soal Riana itu kemauannya sendiri, nggak ada hubungannya sama aku,” ujar Luna dengan wajah memelas.
Arjuna hanya tersenyum sinis dan berusaha menghindar saat Luna hendak memegang lengannya. Tanpa basa basi, Arjuna meninggalkan Luna menuju pintu lobby hotel dimana Nano sudah menunggunya di mobil.
Tino bergegas menyusul Arjuna setelah pamitan pada Rafael yang sedikit bingung melihat Luna dan Arjuna.