
Arjuna dan Dono baru saja masuk ke dalam mal di daerah selatan Jakarta. Karena bukan akhir pekan, para pria itu memilih lokasi mal yang mudah dijangkau dari tempat kerja masing-masing.
Langkah Arjuna terhenti saat matanya melihat sosok wanita yang baru saja keluar dari toko branded luar negeri. Terlihat wanita itu bergelayut manja dan si pria beberapa kali mencium keningnya.
Dono yang merasa Arjuna tidak lagi ada di dekatnya, ikut berhenti dan memutar badan. Dahinya berkerut saat melihat Arjuna berdiri terpaku sambil menatap ke satu arah.
Dono pun mengikuti arah tatapan Arjuna dan matanya membelalak saat mendapati sosok yang mencuri perhatian Arjuna.
Tanpa pikir panjang ataupun ragu, Dono berjalan mendekati sepasang kekasih yang tanpa malu memperlihatkan kemesraan mereka di area mal.
“Hai Luna,” sapa Dono saat posisinya sudah di dekat keduanya. “Apa kabar ?” Dono mengulurkan tangannya.
Luna mendadak membeku. Tidak ada lagi senyuman manja mengukir di bibirnya dan tangannya pun langsung terlepas dari lengan si pria.
“Siapa sayang ?” Pria bersetelan jas mahal itu menatap Luna sambil mengerutkan dahinya.
Curiga kalau Dono adalah salah satu pria yang menjadi penggemar kekasihnya, pria itu menatap Dono sambil menyipitkan matanya. Tatapannya menelisik penampilan Dono dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Pria itu menggenggam jemari Luna yang terlihat gugup dan salah tingkah.
“Saya Dono,” Dono menggeser tangannya yang terulur ke arah pria berjas biru itu. “Saya teman satu SMA-nya Luna.”
Demi menjaga kesopanan, pria itu menerima uluran tangan Dono dan menjabatnya.
“Harry,” suara tegas pria itu memperkenalkan dirinya. Tangan satunya kini bukan lagi menggenggam jemari Luna tetapi merengkuh pinggang wanitanya dengan posesif.
Dono tersenyum miring, ia bisa membaca gelagat Harry. Tatapan matanya seolah berkata kalau Dono bukanlah pria yang pantas untuk kekasihnya.
“Oh ya, aku nggak sendirian hari ini. Aku yakin kamu masih mengingat teman kita yang satu itu,” Dono menoleh ke arah Arjuna yang ada di sisi kirinya sambil menunjuk sahabatnya yang masih terpaku di tempatnya.
Harry dan Luna menoleh bersama. Luna kembali dikejutkan oleh kehadiran pria yang berstatus kekasihnya. Terlihat Luna semakin gugup dsn tangannya mulai terasa dingin.
Dono mendekati Arjuna dan menarik lengan baju sahabatnya.
“Kamu pasti nggak lupa sama teman kita yang satu ini kan, Lun ? Dia si biang rusuh di sekolah,” Dono tertawa sambil menyindir Luna.
Dalam hati ia ingin memaki Luna yang sudah menyakiti sahabatnya, kalau perlu menendang Luna sampai mendarat di bulan.
“Kamu ingat temanmu ini, sayang ?” Harry bertanya saat dilihatnya Luna hanya diam saja dengan tubuh membeku.
“Luna sayang,” panggilan Harry sedikit lebih kencang karena Luna masih diam saja.
“Eh iya kenal, sayang,” Luna langsung menutup mulutnya. Sadar kalau ia sudah memanggil Harry dengan sebutan sayang di depan Arjuna.
“Kebetulan hari ini kami janjian dengan teman-teman SMA lainnya. Elo mau ketemu sebentar, Lun ?”
Luna terkejut dengan pertanyaan Dono. Bingung harus memberikan jawaban apa. Perasaannya tidak karuan karena berhadapan dengan Arjuna yang melihatnya sedang dirangkul mesra oleh pria lain !
Harry memicingkan matanya. Naluri laki-lakinya sudah menebak kalau ada sesuatu antara Luna dengan kedua pria di depannya terutama yang bernama Arjuna. Sangat kelihatan kalau Luna begitu terkejut melihat ada Arjuna di dekat mereka bahkan wanita itu menghindari tatapan Arjuna.
“Bagaimana kalau kita datangi teman kamu, sayang ?” Tanpa ragu Harry mengelus pipi Luna yang langsung memerah karena malu.
Luna memandang Harry dengan ragu-ragu. Ia yakin jawaban apapun yang diberikannya akan menjadi bumerang bagi dirinya.
Dono tersenyum sinis melihat keduanya seperti berdebat atau berdiskusi. Pura-pura menerima panggilan dari Theo, Dono sedikit menjauh dan mencari posisi yang bagus untuk mengambil foto Luna dan Harry. Sayangnya sosok Arjuna ikut masuk dalam foto tersebut.
“Kalau begitu kami tinggal dulu, soalnya sudah ditunggu.” Dono yang sudah kembali mendekat memberi kode pada Arjuna supaya mengikutinya.
Tanpa bicara apa-apa pada Luna maupun Harry, Arjuna mengikuti Dono menuju restoran yang sudah mereka pilih.
Sampai di restoran, terlihat Theo, Luki dan Boni sudah menunggu. Ketiganya menautkan alisnya saat melihat Arjuna lesu dan diam tanpa menyapa mereka, pria itu langsung duduk.
Dono yang jadi pusat informasi langsung menggeleng saat Theo menyebutkan nama Cilla tanpa bersuara. Mulut Dono bergerak menyebut Luna juga tanpa suara.
Theo langsung menyodorkan buku menu ke hadapan Arjuna.
“Pesan dulu, Jun, baru curhat.”
Arjuna menghela nafas lalu membuka buku menu. Memesan sepiring nasi goreng dengan minuman teh tawar hangat. Sejak meninggalkan rumah dan hidup dengan gajinya sendiri, mulut Arjuna sudah terbiasa dengan teh tawar hangat setiap kali makan di luar.
Dono tidak menyinggung apapun soal pertemuan dengan Luna. Ia akan membiarkan Arjuna mengisi perutnya dahulu, supaya sahabat mereka itu bisa diajak bicara dengan benar.
Mereka hanya berbincang seputar masalah pekerjaan dan sesekali menggoda Dono yang masih hangat-hangatnya dengan sang istri. Tidak ada pembahasan soal Cilla maupun Luna.
“Jadi ini alasan elo semua nyuruh gue putus sama Luna ?” Akhirnya Arjuna mulai berbicara setelah menelan habis nasi gorengnya.
“Maksud elo gimana, Jun ?” Theo mengangkat sebelah alisnya.
“Luna udah punya pacar lain di luar,” ujar Arjuna sambil tersenyum getir.
Tidak ada yang menjawab karena kecuali Dono, ketiga sahabar Arjuna pernah mendapati Luna berjalan dengan pria lain dengan kondisi layaknya orang pacaran.
“Bukan hanya sekali, Jun,” sahut Boni. “Dan terkadang dengan pria yang berbeda juga.”
“Kalau sama yang ini ?” Doni meletakkan handphonenya di atas meja setelah membuka foto Luna dan Harry yang sempat diambilnya diam-diam.
“Gue pernah ketemu lagi jalan dengan yang ini sekali. Di sini juga,” ujar Luki.
“Gue belajar dari elo, Bro,” Dono terkekeh.
Theo langsung mengerti maksud Dono dan kembali tertawa pelan, namun tidak ada yang berniat menyebut nama Cilla atau membahas soal foto gadis itu dengan Arjuna.
“Jadi sekarang gue harus bagaimana ?”
“Putusin !” Keempat sahabatnya menjawab kompak.
Mereka saling berpandangan dan tertawa saat menyadari kalau jawaban mereka sama dan diucapkan bersamaan pula.
“Bro, sekalipun sekarang elo bukan lagi CEO, tapi gue yakin kalau yang suka sama elo banyak,” Boni memberinya nasehat.
“Maksud elo model Cilla begitu ?” Arjuna tertawa getir.
“Bukan Cilla doang, Bro. Di sekolah aja murid-murid langsung meleleh begitu elo masuk kelas,” ledek Dono sambil terkekeh.
“Lagian nih Jun, dengan kondisi elo sekarang ini, cewek yang suka sama elo lebih teruji kesungguhannya. Mereka suka sama elo sebagai Arjuna yang seorang guru dengan gaji cukup, bukan sebagai CEO yang penghasilannya tanpa batas,” tmpal Luki.
“Belajar lupain Luna, Bro,” Boni yang duduk sebelah Juna menepuk-nepuk bahu sahabatnya.
“Gue sama Mimi sedikit menyesal membantu Luna untuk mendapatkan elo,” lanjut Boni.
“Maksud elo ?” Arjuna menatap Boni dengan sambil menautkan kedua alisnya.
“Bukan keinginan gue sama Mimi menjodohkan elo sama Luna, tapi atas permintaan tuh cewek yang terus merengek dan meminta tolong Mimi. Mulanya gue nggak kasih Mimi, tapi atas nama persahabatan akhirnya gue malah mendukung Mimi.”
“Elo mikir nggak Jun kalau Luna itu balik ngejar elo karena dia tahu posisi elo udah mulai mapan ?” Ujar Theo sambil tertawa sinis.
“Dan perkiraan dia tuh bener banget, kalau elo itu gampang ditundukkan. Buktinya belum jadi istri aja, elo udah kasih dia kartu kredit dengan limit yang bikin cewek langsung lupa diri,” lanjut Theo.
“Tapi gue nggak mau sama Cilla,” sahut Arjuna dengan wajah cemberut. “Daripada sama tuh bocah, lebih baik gue balik dan terima tawaran bokap.”
Keempat pria di depan Arjuna saling berpandangan dan kembali tertawa, bahkan Theo dan Luki sambil geleng-geleng kepala.
“Yakin calon istri yang Om Arman siapkan lebih baik dari Cilla ?” Ledek Luki.
“Ya udah pasti bokap gue nggak bakal milih cewek yang tingkahnya suka asburd dan pecicilan kayak Cilla. Mana mau bokap punya menantu model begitu,” sahut Arjuna dengan yakin.
“Jadi elo beneran nggak mau sama Cilla sekalipun tuh anak udah kasih-kasih kode suruh elo nembak dia ?” Ledek Theo.
“Nggak !” Tegas Arjuna.
“Oke fixed kalau begitu. Banyak saksi nih ya,” Theo mengedarkan pandangannya. “Jadi gue boleh mendekati Cilla dan usaha mendapatkan cintanya ya ?”
“Silakan aja, gue gurunya bukan bokapnya,” sahut Arjuna tanpa ragu.
“Terus nasib Luna di hati elo gimana ?” Tanya Dono.
Arjuna sempat terdiam dan menghela nafasnya.
“Nggak mudah membuang perasaan cinta sama Luna di dalam hati gue, biar bagaimanapun dia itu cinta pertama gue. Cuma rasanya sakit banget pas lihat mereka tadi. Kelakuan Luna udah kayak cewek kegatelan. Pas jalan sama gue aja nggak over kayak begitu.” Arjuna menjeda sejenak sambil kembali menarik nafas panjang.
“Gue akan memutuskan Luna dan melepaskan dia dari hidup gue,” ujar Arjuna dengan mantap dan senyum yang dipaksakan.
“Kita semua akan mendukung usaha elo, Bro,” ujar Dono.
“Mulai sekarang elo harus membuka mata lebar-lebar untuk melihat bagaimana Luna sebenarnya, tapi tutup hati elo dari rasa cinta untuknya apalagi sampai berlebihan,” ujar Luki dengan wajah serius.
“Dan gue, Jun,” Theo senyum-senyum sendiri. “Akan membuka mata lebar-lebar memandangi Cilla dan membuka hati seluas mungkin untuk mendapatkan cintanya.”
“Udah kayak abege aja lo !” Ledek Arjuna.
“Cilla memang bukan cnta pertama gue,” sahut Theo dengan mata berbinar. “Tapi dia adalah cewek yang membuat gue tahu rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama.”
Arjuna tertawa, begitu juga dengan Dono dan Boni, sementata Luki hanya tersenyum tipis.
“Jangan sampai gara-gara cewek, persahabatan kita jadi rusak,” ujar Luki.
“Nah itu dia, Ki,” Theo menepuk bahu Luki. “Makanya gue udah pastiin kalau Arjuna fix nggak mau sama Cilla, jadi giliran gue yang kejar tuh anak dan bikin dia jatuh cinta juga sama gue.”
“Kalo begitu hapus tuh semua foto-foto gue sama Cilla yang jadi koleksi elo !” Arjuna melotot menatap Theo, sementara sahabatnya hanya tertawa.
“Nih gue hapus,” Theo mengambil handphonenya dan meghapus foto yang ada di grup.
“Yang di galeri elo !” Perintah Arjuna.
Theo tertawa sambil meletakkan handphonenya di atas meja. Ia langsung membuka galeri fotonya dan menghapus foto-foto Arjuna dan Cilla termasuk yang pernah ia kirimkan ke wa pribadi Arjuna.
“Thankyou Jun, udah kasih gue kesempatan. Jangan lupa gantian bantuin gue, buat Cilla jadi jatuh cintanya sama gue,” Theo tertawa dengan wajah berbinar.
Arjuna mengangguk sambil tertawa. Entah apa yang dirasakannya saat ini. Tertawa bahagia karena Theo mulai bicara soal cinta lagi, atau justru menertawakan dirinya sendiri yang sudah bersikap bodoh.