MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Dua Minggu Lagi


“No, gue mungkin agak lama di sini. Elo balik dulu aja bawa pulang mobil. Nanti gue bisa minta supir jemput kemari,” ujar Arjuna saat mobil sudah berhenti di lobby rumah sakit.


“Nggak apa-apa. Elo berdua turun dulu, nanti kabarin nomor kamarnya.”


Arjuna mengangguk dan menyusul Cilla yang sudah duluan masuk ke dalam rumah sakit.


“Kamar 505,” Cilla memperlihatkan sekilas pesan dari om Budi di layar handphonenya.


Arjuna kembali menggenggam jemari Cilla, berusaha menenangkan istrinya. Kabar pingsannya papi di kantor sudah pasti menimbulkan pikiran buruk Cilla, apalagi beberapa pengobatan sulit papi jalani karena banyaknya komplikasi.


“Mas Juna yang buka dulu,” ujar Cilla saat mereka sudah sampai di depan pintu kamar.


“Iya Mas Juna yang buka,” Arjuna tersenyum, tangannya tidak lepas menggenggam jemari Cilla.


Cilla memejamkan mata saat Arjuna membuka pintu kamar. Rasa trauma kadang-kadang masih mengusik pikirannya.


“Cilla sayang,” Arjuna mendekati Cilla saat langkahnya tertahan dan terlihat istrinya masih diam di tempat dengan mata memejam.


”Sayang,” Arjuna memeluknya lalu mendekatkan bibirnya di telinga Cilla. “Papi bingung tuh ngeliat kamu diam aja sambil merem.”


Cilla membuka mata lalu mendongak masih dalam pelukan Arjuna.


“Papi sadar kok,” ujar Arjuna sambil tersenyum.


Cilla mengintip dari balik badan Arjuna dan senyuman langsung merekah saat melihat papi sedang menatap ke arahnya.


“Sudah lihat sendiri, kan ?” Arjuna tertawa pelan dan melepaskan pelukannya, merangkul bahu Cilla dan membawanya mendekati papi.


“Selamat siang Pa, Om Budi,” sapa Cilla sambil mengangguk saat hendak melewati sofa dimana kedua orangtua itu duduk.


“Kok kamu masih pakai seragam, Cil ?” Papa mengerutkan dahi. “Bukannya kamu lagi ujian dan pulang lebih awal ? Soalnya Amanda masih libur.”


“Tadi habis bertemu teman, Pa. Beda sekolah.”


Papa hanya mengangguk-angguk, membiarkan Cila dan Arjuna mendekati papi Rudi.


“Papi pasti kecapean lagi,” ujar Cilla saat berdiri samping ranjang papi Rudi.


“Nggak juga,” sahut papi pelan. “Sebagian pekerjaan papi udah mulai diambil alih sama Arjuna,” papi menoleh ke arah Arjuna.


“Mau Cilla temani jalan-jalan ? Dokter Handoyo bilang pikiran Papi harus tenang supaya nggak gampang drop. Cilla udah nggak ada kegiatan penting lagi jadi bisa liburan sama Papi. Kita nginep di daerah pegunungan aja, gimana ?”


“Jangan sekarang,” sahut papi. “Tadi papi sudah bicara sama papa Arman. Rencananya dua minggu lagi kami ingin menggelar pesta pernikahan kalian.”


“Kok mendadak, Pi ?” Arjuna menautkan kedua alisnya. “Apa nggak terlalu cepat ?”


“Nggak mendadak, Jun. Kan kalian berdua tinggal pestanya aja, seremonial resminya sudah lewat,” sahut papa Arman.


“Tempat pesta kemungkinan di hotel milik keluarga Darmawan. Pakaian pengantin dan kebutuhan Cilla bisa diatur sama mama dan tante Siska. Mungkin yang sedikit ribet itu pembagian undangan.”


Arjuna pun mengangguk dan menatap Cilla sambil tersenyum. Selama Cilla tidak keberatan, akan lebih baik kalau pernikahan mereka segera diketahui khalayak ramai. Cilla pun hanya tersenyum tanda setuju.


Tidak lama kemudian mama Diva, Amanda dan Jovan masuk ke dalam kamar inap.


“Ma,” sapa Cilla menghampiri mama Diva dan memberikan cipika cipiki.


“Gimana kondisi kamu, Rud ?” tanya mama Diva mendekati papi Rudi sambil merangkul bahu Cilla.


“Sudah lebih baik,” sahut papi tersenyum. “Malah sekarang semangat lagi karena sudah sepakat dengan Arman akan menggelar pesta Arjuna dan Cilla dua minggu lagi. Kamu sanggup mengurus kebutuhan pengantin wanitanya kan, Diva ?”


“Selama budget tidak masalah, semua bisa diatur,” sahut mama Diva sambil tertawa pelan.


“Mama matere juga ya,” ledek Amanda yang ikut mendekat bersama Jovan dan menyapa papi.


“Bukan matere tapi realistis. Yang namanya ekspress pasti butuh dana ekstra biar cepat.”


“Tuh Jovan, udah dikasih clue sama mamanya Amanda. Jadi kalau mau serius sama anak om dan tante, jangan tanggung-tanggung siapin dananya,” ledek papa Arman.


“Tenang Om, saya anak tunggal kok, jadi kalau soal pendanaan sepertinya saya masuk kuakifikasi,” sahut Jovan sambil terkekeh.


“Tapi tunggu sampai kamu mapan seperti Arjuna kalau mau melamar Amanda. Sementara ini hanya boleh ttm aja.”


“Dih mama curang aahh… Dapat menantu anak belasan tahun nggak masalah, giliran anak sendiri nggak boleh nikah cepat-cepat,” gerutu Amanda dengan wajah manyun.


“Kalau calon suami kamu udah mapan seperti kakakmu, mungkin mama dan papa masih bisa mempetimbangkannya. Nah ttm kamu aja baru belasan juga dan masih dipusingkan dengan masalah pendidikan.”


“Jadi maksudnya suruh Amanda cari calon suami yang seumuran dengan Kak Juna ?”tanya Amanda.


“Memangnya kamu mau melepaskan Jovan ? Lagian kamu tuh ya,” mama Diva menoyor kening Amanda. “Gayanya doang mau kawin muda, giliran disuruh bantuin di dapur langsung ngacir, suruh bersihin kamar sendiri langsung pura-pura tidur. Mana bisa jadi istri kalau urusan begitu nggak mau dikerjain.”


“Duh Mama jangan buka aib anak sendiri dong,” Amanda tambah manyun.


Cilla, Arjuna dan papa Arman tergelak sementara Jovan hanya senyum-senyum. Tidak lama Tino pun menyusul masuk ruangan dan langsung menyapa semua yang ada di sana.


”Mama kamu benar Amanda, kalau kamu mau ikutan kayak Cilla mana sanggup aku kasih jatah shopping buat kamu. Kira-kira tujuh sampai delapan tahun lagi, deh.”


“Kenapa kata shopping yang ditekankan ? Apa maksud kamu aku cewek materialistis ?” sahut Amanda masih dengan nada sewot. “Lagipula siapa juga yang nyuruh kamu melamar aku sekarang.”


“Duh ngambek nih,” ledek Arjuna. “Jangan cari sekolah yang lama-lama, Van. Kamu tahu kan gimana juteknya Amanda kalau disuruh kelamaan nunggu,” sambung Arjuna sambil tertawa.


”Masalah jutek sebelas duabelas sama Kak Juna. Sepertinya sudah jadi bagian turun temurun keluarga kita, Kak,” sindir Amanda sambil melirik papa Arman yang bersikap santai


”Nggak sama sekali. Memang apa hubungannya sama papa ?” Papa Arman mengangkat kedua alisnya seolah tidak mennagkap maksud ucapan kedua anaknya.


“Papa kamu itu bukannya jutek, tapi galak Manda,” ujar papi Rudi sambil tertawa pelan .”Kalau udah emosi kayak petir menggelegar.”


“Kok Mama mau sih ?” Amanda menatap mama Diva sambil memicing.


“Kemungkinann besar antara dipelet atau khilaf,” sahut mama Diva dengan wajah sedih.


“Khilaf terindah, sayang,” ledek papa Arman membuat semuanya tertawa.


Sekitar jam enam, Bik Mina datang ke rumah sakit bersama Bang Dirman mengantarkan pakaian ganti untuk Cilla dan Arjuna sekaligus berniat menemani Cilla yang memaksa ingin menginap di rumah sakit menemani papi dan meminta Arjuna pulang beristirahat di rumah.


”Nggak mau,” tolak Arjuna.


Papa, Mama, Amanda dan Jovan sudah pulang sejak jam setengah enam sore sedangkan Tino hanya sebentar karena harus kembali ke kantor.


“Mas Juna kan besok kerja kalau Cilla udah nggak ada pelajaran. Tadi Cilla udah ijin sama Pak Dono nggak masuk sehari aja.”


“Iya nggak apa-apa, Mas Juna bisa berangkat dari rumah sakit. Nanti minta Tino jemput.”


“Mas Juna nanti kecapean,” Cilla masih berusaha melarang suaminya ikut menemani.


“Kalau nanti sudah belah duren pasti segala rasa capek langsung hilang,” bisik Arjuna di telinga Cilla. Keduanya sedang duduk di cafe rumah sakit untuk makan malam.


“Ngidam banget makan duren sampai pengen belah sendiri. Kalau papi udah keluar rumah sakit, Cilla temani makan duren, deh. Sekarang pulang dulu.”


“Haiis Cilla,” Arjuna mengomel kesal. “Bukan belah buah duren beneran yang Mas Juna maksud.”


“Terus ?” Cilla mengerutkan dahinya.


”Unboxing Cilla, unboxing…” Cilla langsung membelalak dan menutup mulut Arjuna dengan telapak tangannya.


Arjuna sempat kaget namun detik berikutnya dia malah tertawa pelan karena mulutnya masih ditutup Arjuna.


“Dasar anak generasi tukang belanja online,” ujar Arjuna terkekeh saat terbebas dari tangan Cilla dan ditatapnya wajah Cilla yang merah merona.


“Dikasih istilah belah duren nggak ngerti, giliran dibilang unboxing langsung nyambung,” ledek Arjuna.


“Habis Mas Juna pakai istilahnya aneh-aneh aja,” protes Cilla.


”Aneh darimana ? Istilah itu sudah dipakai turun temurun,” tegas Arjuna.


”Nah itu, sepertinya udah terlalu lama makanya generasi Cilla masih agak aneh dengarnya. Kenapa dari sekian banyak buah, duren yang dipilih ? Kulitnya nyeremin gitu biar rasanya enak dan nggak gampang juga bukanya, belum tentu semua orang bisa.”


“Kalau sudah sah jadi suami, nggak akan kesulitan belah duren,” sahut Arjuna tertawa pelan.


“Udah ah, jangan bahas begituan lagi,” Cilla mengaduk fetucininya dan menyuapkan ke mulutnya.


Cilla berusaha menenangkan debar hatinya. Bukan merasa tabu membahas belah membelah duren bersama pria yang sudah berstatus suaminya ini, tapi masih terasa aneh membicarakan hal pribadi seperti ini.


“Kok anak bebek Mas Juna mendadak diam begini ?” ledek Arjuna sambil mengacak poni Cilla.


“Jadi keingetan sama duren di Pati,” sahut Cilla mengalihkan topik pembicaraan. “Pertama kalinya Mas Juna maksa Cilla makan duren bekas gigitan Mas Juna.”


“Rasanya malu banget saat itu,” ujar Arjuna sambil tertawa. “Ngomelin Cilla tapi malah makan satu duren berdua. Berbagi cinta.”


“Cinta darimananya ? Ucapan Mas Juna tuh nyakitin hati, padahal kenal aja sama Cilla sekilas doang. Cowok sih pedes banget mulutnya,” Cilla mencebik.


“Iya maaf Mas Juna sudah salah menilai Cilla,” Arjuna mengambil tisu dan membersihkan sudut bibir Cilla yang terkena saus fetucini.


“Memangnya dulu Cilla suka keluar malam kemana aja ? Seringnya sama Dimas lagi.”


“Cilla dan Dimas lagi mempersiapkan sekolah untuk anak-anak jalanan. Bukan rumah singgah karena hanya tempat untuk belajar seperti sekolah. Hanya ada satu bangunan semacam ruko. Anak-anak yang berniat merubah hidupnya boleh mendaftar dan perlu memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan.”


“Terus kamu dapat darimana gurunya ?”


“Sementara ini baru Pak Wahyu yang membantu secara sukarela, Cilla, Dimas dan Tami adiknya Dimas. Lagipula baru akan berjalan di bulan Juli nanti.”


Arjuna tersenyum, sedikit terharu mendengar cerita Cilla. Ternyata hidup dan besar tanpa perhatian yang cukup, tidak membuat Cilla jadi anak yang broken home.


“Jadi makin sayang nih sama anak bebek Mas Juna,” Arjuna membelai lembut wajah Cilla.


“Duh Mas Juna nggak tahu apa kalau Cilla tuh masih suka deg deg kan kalau diperlakukan begini.”


“Nggak apa-apa, tinggal kasih CPR. Mau lebih dari sekedar bantuan nafas juga boleh,” ledek Arjuna sambil mengedipkan sebelah matanya.


Arjuna tergelak saat melihat Cilla makin salah tingkah sampai meneguk habis minumannya.


Malam ini keduanya tidur di sofa bed yang ada di kamar rawat papi. Arjuna tersenyum sambil mengusap wajah Cilla yang sudah tertidur pulas berbantalkan lengannya.


Rencana melewati malam pertama yang tertunda dengan Cilla harus kembali tertunda.


Dari tempat tidurnya papi melirik anak dan menantunya sambil tersenyum. Kesedihan karena penyakitnya sulit untuk sembuh total seakan menghilang saat melihat bagaimana Arjuna sebagai menantunya begitu menyayangi Cilla, putri satu-satunya.


Dan tidak ada alasan lagi untuk menunda mengumumkan pada publik kalau putrinya sudah menikah dengan Arjuna, pria yang juga menjadi idaman para wanita. Pria yang mencintai dan dicintai Cilla.


Papi Rudi memejamkan matanya berusaha untuk tidur. Tidak sabar menunggu pesta pernikahan Cilla dan Arjuna dua minggu lagi.