
Jam 5 sore Arjuna sudah sampai di depan gerbang rumah Cilla. Bang Toga yang sudah mengenal Arjuna langsung membukakan pintu.
“Apa kabarnya Pak Guru ? Apa ada acara khusus hari ini ? Tumben aja Tuan pulang cepat dan Den Jovan sudah datang dari jam 4 sore,” sapa Bang Toga saat Arjuna melewati gerbang.
“Bukannya om Rudi tadi pergi dengan Cilla ?”
“Non Cilla pulang dengan Dirman, Tuan dengan mobil sendiri,” sahut Bang Toga mengerutkan dahi.
“Saya masuk dulu, Bang,” pamit Arjuna sambil berjalan ke arah pintu utama.
Sampai di halaman terlihat bukan hanya mobil om Rudi terparkir di sana, tapi ada mobil lain yang sudah bisa dipastikan milik Jovan. Mobil sedan merk ternama dengan plat nomor baru berumur 6 bulan.
Sampai di pintu utama ternyata Bik Mina sudah menunggu Arjuna, tapi ternyata bukan karena pesan dari Cilla melainkan info dari Jovan.
Bik Mina langsung mengambil tas sekolah Cilla yang dibawa oleh Arjuna.
“Cilla nya kemana, Bi ?” tanya Arjuna sambil mengikuti Bik Mina masuk ke dalam melewati ruang tamu.
“Dari tadi di atas, Den. Sepertinya sedang belajar,” sahut Bik Mina.
“Bukannya ada Jovan ?”
“Den Jovan lagi ngobrol sama Tuan, kalau Non Cilla dari tadi memang di kamarnya.”
Entah kenapa ada rasa senang mendengar Cilla di kamarnya, tidak bergabung dengan ketos kepo yang jadi rivalnya.
“Selamat sore, Om,” sapa Arjuna yang langsung ke teras belakang menemui om Rudi dan Jovan yang asyik mengobrol.
“Wiihh beneran datang langsung nih, Pak Arjuna,” ledek Jovan sambil tertawa.
”Kalian janjian ?” tanya om Rudi sambil menpersilakan Arjuna duduk.
“Mau tanding, Om,” seloroh Jovan.
“Ooo bukannya mau belajar bersama ? Bukannya masih pekan ulangan umum ?”
“Mau tanding yang lain, Om. Om Rudi jadi jurinya ya,” pinta Jovan sambil tertawa.
“Memangnya mau tanding apa sampai butuh wasit ?” tanya Om Rudi sambil tertawa.
“Bapak jadi mau ketemu saya ?” suara Cilla membatalkan Jovan berbicara lebih lanjut.
Arjuna langsung tersenyum memandang Cilla meski gadis itu menatapnya datar. Terlihat kalau anak bebeknya ini baru selesai mandi. Rambutnya masih agak basah dan wangi sabun serta shampoo begitu tajam di penciuman Arjuna
“Iya, jadi,” sahut Arjuna sedikit canggung.
Papi Rudi memandang wajah putriny dengan dahi berkerut sementara Jovan senyum-senyum sendiri melihat kecanggungan Arjuna.
Meski terkadang masih belum rela melepas Cilla, tapi sadar kalau Arjuna adalah kebahagiaan Cilla, Jovan berusaha berbesar hati untuk memberikan dukungan yang terbaik untuk sahabat kecilnya.
“Saya ikutan dong, Pak,” Jovan yang sudah bersiap-siap bangun langsung mendapat pelototan dari Cilla.
Bukannya tersinggung, Jovan malah tertawa dan kembali duduk di bangkunya. Papi Rudi hanya geleng-geleng kepala sambik tersenyum menyaksikan semuanya.
Cilla sudah menceritakan pada papinya tentang kemarahan Arjuna saat mengetahui tentang sandiwara mereka. Tapi Cilla tidak menceritakan secara detail bagaimana ucapan Arjuna saat emosi Sabtu lalu.
Papi Rudi sendiri menyerahkan keputusan akhirnya pada Cilla, mau menerima lamarsn om Arman atau malah menolaknya. Karena untuk papi Rudi yang terpenting adalah kebahagiaan Cilla.
“Berani ikutan bukan cuma nggak bicara sembilan tahun lagi, tapi seumur hidup,” ancam Cilla dengan muka galaknya.
“Iya…iya… Paham sama yang mau ehemm ehemm…,” ledek Jovan sambil tertawa.
“Bapak ada perlu apa ?” tanya Cilla dengan wajah datar menatap Arjuna yang duduk berhadapan dengannya di sofa ruang tamu.
“Tas kamu…”
“Iya saya tahu,” sahut Cilla sebelum Arjuna sempat menyelesaikan kalimtanya.
“Terima kasih karena sudah merepotkan bapak sampai harus mengantarnya kemari,” lanjut Cilla sambil menganbil bantal sofa dan meletakkan di atas pahanya.
Arjuna bangun dari duduknya dan pindah ke sebelah Cilla. Tangannnya terulur hendak menyentuh tangan Cilla, namun Arjuna dibuat tercengang saat Cilla menjauh dari jangkauannya.
“Bapak mau ngomong apa ? Tidak usah dekat-dekat. Pendengaran saya masih cukup bagus untuk mendengar suara bapak,” sahut Cilla sambil menatap Arjuna dengan wajah datar.
Arjuna menghela nafas mendengar ucapan Cilla yang menolaknya terang-terangan. Sepertinya sikap Arjuna hari Sabtu lalu sangat menyakitinya.
“Aku mau minta maaf. Maaf atas ucapanku yang sudah menyakitimu,” ujar Arjuna pelan sambil menatap Cilla yang menunduk dan fokus memainkan ujung sarung bantal.
“Kalau cuma masalah itu, sudah saya maafkan. Apa ada masalah lain yang mau dibicarakan ? Saya mau belajar, besok masih ulangan umum,” sahut Cilla tanpa menoleh.
Arjuna menghela nafas mendengar Cilla masih berbicara formal padanya.
“Ya, aku mau bilang kalau aku mencintaimu, bukan sekedar sayang. Tapi maaf karena cintaku malah melukai hatimu,” ujar Arjuna sambil menatap Cilla dan tersenyum tipis.
“Tidak mudah bagiku untuk jatuh cinta pada seseorang, tetapi sekalinya jatuh cinta, aku sadar akan menjadi pria brengsek yang posesif. Maafkan aku.”
Pembicaraan mereka terhenti saat Bik Mina membawakan minuman dan penganan untuk mereka.
“Terima kasih Bi,” ujar Arjuna sambil tersenyum. Bik Mina mengangguk sambil tersenyum juga.
“Bagi saya bukan masalah posesifnya, tapi ketidakpercayaan bapak pada saya. Mana bisa membangun suatu hubungan tanpa didasari rasa saling percaya,” akhirnya Cilla mengucapkan satu kalimat panjang.
”Maafkan aku, Cilla. Saat kemarin mendengar penjelasanmu, tiba-tiba aku merasa menjadi pria bodoh yang mudah dibohongi oleh perasaan cinta. Dan terasa sangat menyakitkan karena kamu adalah bagian dari kebohongan itu. Semuanya itu karena aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Berbeda dengan saat bersama Luna. Aku sadari bukan cinta yang aku punya untuknya, karena saat ia membohongiku, aku memang merasa kecewa dan marah tapi tidak sakit hati hingga mudah bagiku untuk melupakan perbuatannya. Dulu aku mengejarnya karena Luna termasuk gadis cantik di sekolah yang menjadi idola banyak pria. Sebagai remaja yang merasa memiliki banyak kelebihan, egoku tergoda untuk ikut mengerjarnya. Namun perasaan itu hilang dengan sendirinya saat aku melanjutkan kuliah dan berpisah jauh dari Luna. Kalau saja Boni dan Mimi tidak mendorongku untuk kembali mengejarnya, aku tidak tergerak untuk menjadikannya kekasihku saat kami bertemu kembali.”
Arjuna kembali menatap Cilla yang masih asyik memainkan bantal sofa tanpa mau menatapnya.
“Dalam dua hari ini aku coba memahami perasaanku sendiri, Cilla. Aku menyadari kalau kamu adalah gadis pertama yang membuat aku benar-benar jatuh cinta, karena bersamamu pertama kali aku merasakan cemburu, sakit hati dan ingin menjadikanmu hanya milikku. Jangankan dengan Jovan atau Dimas, bahkan saat Theo memperlakukanmu begitu manis, hatiku langsung terbakar cemburu. Karena aku tahu kalaupun Theo jatuh cinta kepadamu, kalian masih bisa menikah karena hubungan kalian berasal dari garis ibu. Semalam hanya rmlihatmu duduk berbincang dan tertawa lepas dengan Dimas, rasanya aku ingin menarikmu dan berteriak padanya kalau kamu adalah milikku, Tadi pagi saat melihat Jovan menyentuh rambutmu, ingin aku mendekatimu dan membersihkan bekas sentuhannya di kepalamu,” Arjuna tertawa getir di ujung kalimatnya.
Cilla mendongak dengan alis menaut. Jadi Arjuna tahu kalau semalam ia bertemu dengan Dimas di pujasera ? Padahal mereka sudah memilih tempat mengobrol jauh dari meja yang biasa didatangi Cilla dan Arjuna.
“Maaf kalau cintaku malah menyakitimu. Maaf kalau aku tidak bisa mengendalikan emosi saat marah padamu. Seandainya aku masih diberi kesempatan untuk membuktikan cintaku padamu, aku mohon kamu bersedia membantuku untuk menjadi Arjuna yang lebih baik dan pantas untukmu,” Arjuna tersenyum tipis sambil menatap Cilla yang saat ini membalas tatapannya.
“Aku bersyukur dan bahagia karena gadis yang ingin dijodohkan papa adalah dirimu. Aku merasa begitu tertekan selama seminggu kemarin. Situasi yang kuhadapi membuat aku seolah tidak mempunya pilihan karena papa tetap mengharuskan aku untuk menerima perjodohan itu tanpa terbantahkan, sementara hatiku hanya mencintaimu. Om Darmawan atau om Rudi lebih tepatnya tidak mengijinkan aku mencintaimu kalau perjodohan itu tidak dibatalkan atas kehendak papa. Maaf Cilla, maafkan aku yang melampiaskan rasa tertekanku pada dirimu.”
Cilla menoleh ke arah lain, ia tidak sanggup untuk mengabaikan tatapan Arjuna yang terlihat sendu. Cintanya pada Arjuna bukan sekedar cinta monyet anak sekolahan.
Tetapi Cilla tidak ingin terlihat mudah memaafkan perlakuan Arjuna supaya ke depannya, Arjuna lebih bisa mengendalikan emosinya. Tidak mudah meledak-ledak lalu sebentar bilang maaf.
“Saya ingin berkonsentrasi dulu dengan ulangan umum, Pak. Mungkin juga ini waktunya bagi kita untuk sama-sama meyakinkan diri akan perasaan kita satu sama lain. Terima kasih atas kejujuran Pak Arjuna hari ini.”
Cilla berusaha menahan senyum dan bicara dengan wajah datar di hadapan Arjuna.
Rasanya ia ingin menghambur ke dalam pelukan Arjuna saat tahu kalau pria itu juga sangat mencintainya.
“Terima kasih karena kamu masih mau mendengarkan penjelasanku. Aku akan membuktikan kalau aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak akan membiarkan anak bebek kesayanganku ini pindah ke kolam lain selain kolam hatiku.”
Cilla beranjak bangun dan meletakkan bantal sofa dengan wajah menoleh ke arah lain. Mulutnya sudah gatal ingin membalas ucapan Arjuna. Belum lagi menahan diri untuk tidak tergelak saat mendengar kalimat terakhir Arjuna yang lebih mirip gombalan receh.
Bisa-bisanya di tengah pembicaraan mereka yang serius, Arjuna mengeluarkan rayuan gombal yang terdengar alay dan lebay.
Bagaimana Cilla bisa pindah ke kolam lain, kalau miliknya sudah bisa memberinya kenyamanan dan kesejukan.