MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Wajib Pingitan


Arjuna langsung beranjak saat melihat sosok Dimas berdiri di depan pintu sambil memegang seikat bunga mawar. Wajah Arjuna langsung tidak bersahabat karena berpikir kecurigaannya selama ini akhirnya terjawab kalau Dimas bukan sekedar teman untuk Cilla.


Cilla pun bergegas menyusul Arjuna dan menahan lengan pria itu sebelum semakin dekat dengan Dimas.


“Mas Juna mau ngapain ?” Pertanyaan Cilla tidak membuat pria itu menoleh ke arahnya.


“Jadi benar kalau dugaanku hubungan kamu lebih dari sekedar teman dengan cowok ini ?” Arjuna menatap tajam ke arah Cilla yang langsung memutar bola matanya.


“Belum juga diterima lamarannya, galaknya udah keluar lagi,” gerutu Cilla.


Papi Rudi hanya geleng-geleng kepala melihat pria yang dicintai oleh putrinya benar-benar seorang yang pencemburu. Tapi kalau dipikir papi Rudi seperti melihat dirinya sendiri yang begitu posesif pada mami Sylvia.


“Kamu bilang maunya Dimas,” sahut Arjuna masih dengan emosi.


“Saya kamu jadinya ?” tanya Cilla dengan wajah sebal. “Untung aja belum diterima lamarannya,” gerutu Cilla sambil melepaskan tangannya dari Arjuna dan berjalan mendekati Dimas.


“Dimas ini anak asuhnya Papi,” ujar Cilla berdiri di antara Arjuna dan Dimas. “Udah jadi anak asuhnya Papi sejak kelas 7 dan Dimas punya satu adik perempuan. Udah jelas ?”


“Terus tadi kenapa bilang maunya Dimas ?” protes Arjuna.


“Tadi tuh Cilla mau ngomong kalau Cilla mau menerima lamaran Om Arman dan Tante Diva, eh lihat Dimas muncul di pintu, reflek panggil nama Dimas. Takut mata salah lihat, siapa tahu jadi-jadiannya Dimas.”


“Elo kira gue dedemit ?” gerutu Dimas, Cilla hanya tertawa pelan.


“Itu bunga buat gue ?” tanya Cilla tanpa mempedulikan Arjuna yang masih mencerna ucapan Cilla. Cemburunya belum hilang  karena melihat Dimas memegang rangkaian bunga tangan yang terlihat elegan.


“Iya buat elo, masa gue bawain buat Lili,” gerutu Dimas.


“Cie…cie… Ingat nih sama Lili,” ledek Cilla sambil menerima bunga dari Dimas.


“Cilla,” panggil papi Rudi. “Urusan kamu sama Om Arman dan Tante Diva belum selesai. Biar Dimas langsung masuk aja ke dalam.”


Dimas pun mengangguk dan menyapa papi Rudi, papa Arman dan mama Diva sebelum lanjut masuk ke dalam.


“Senang banget sih terima bunga dari cowok lain ?” gerutu Arjuna sambil mengikuti langkah Cilla yang kembali duduk di sebelah papi Rudi, sementara Arjuna duduk di sebelah mama Diva.


“Papi dan Om Arman serius udah rela kalau Cilla sama Mas Juna jadian lagi ?” tanya Cilla saat semuanya sudah duduk kembali.


“Kalau nggak terima, Papi nggak akan kasih Arjuna menginjakkan kakinya di sini, sekarang,”  sahut papi Rudi mulai kesal.


“Ingat kesehatan, Pi, jangan gampang emosi,” Cilla mengusap-usap lengan papi Rudi yang malah mendengus kesal dengan kelakukan putrinya. Mama Diva senyum-senyum melihat tingkah calon menantunya.


“Kalau memang Papi dan Om Arman sudah merestui, Cilla menerima lamaran Om dan Tante untuk menjadi calon istrinya Mas Juna,” sahut Cilla malu-malu dan tersipu.


“Kalau begitu bulan depan pengesahan pernikahan dulu, pestanya menunggu setelah Cilla lulus,” ujar papa Arman.


Cilla melongo sementara Arjuna manggut-manggut tanda setuju.


“Seriusan, Om ? Bulan depan ?” tanya Cilla dengan wajah masih tercengang.


“Iya nggak bisa nunggu lama-lama, udah dilarang aja, kalian masih berani peluk-pelukan di dalam kelas, di depan banyak orang lagi,” omel papi Rudi.


Cilla dan Arjuna terkejut mendengar ucapan papi Rudi dan keduanya langsung menatap papi Rudi.


“Ngakunya anak jaman now, tapi lupa kalau ada alat canggih yang namanya CCTV. Nggak ingat kalau di setiap kelas dipasang CCTV ?” ujar papi Rudi masih dengan wajah sebal.


“Maaf Om, kemarin itu benar-benar nggak sengaja. Cilla berontak terus sampai akhirnya jatuh… Jatuh ke pelukan saya,” ujar Arjuna sambil senyum-senyum meski wajahnya terlihat tidak enak hati.


“Awas kalau putus nyambung putus nyambung lagi,” papa Arman ikutan mengomel. “Kalau sampai terjadi lagi, kalian akan dipisahkan jauh-jauh. Ngakunya cinta tapi sukanya berantem terus, bikin orangtua sakit kepala.”


Papi Rudi hanya tertawa pelan lalu beranjak bangun dan mengajak sahabat beserta istrinya untuk masuk ke dalam menikmati hidangan yang sudah disediakan.


Cilla dan Arjuna sedikit canggung mendapat sindiran dari kedua orangtua mereka. Mama Diva hanya tersenyum dan mengikuti langkah suaminya.


Belum sampai papi Rudi menghilang dari ruang tamu, beliau menghentikan langkah dan menoleh ke arah Cilla dan Arjuna.


“Kamu jangan marah dulu, Jun. Bunga yang dibawa Dimas bukan pemberian dari dia, tapi Papi yang membelikannya untuk Cilla. Selain karena hari ini ulangtahunnya juga sebagai hadiah karena rujuk lagi sama kamu.”


“Kok papi tahu kalau Cilla bakal terima lamarannya Om Arman dan Tante Diva ?” tanya Cilla dengan alis menaut.


“Pas pelukan sama Arjuna di kelas, di wajah kamu langsung keluar tulisan : ARJUNA HARGA MATI. Dasar anak labil,” tegas papi Rudi dengan nada kesal. Cilla hanya senyum-senyum sambil tersipu.


“Dan kamu jangan panggil om dan tante lagi dong ,Cilla,” ujar mama Diva.


“Eh iya… Maaf, Ma, Pa,” ujar Cilla sambil tersipu.


Papi Rudi meneruskan langkahnya sambil geleng-geleng kepala sementara papa Arman hanya tertawa dan mama Diva senyum-senyum.


Arjuna pun langsung menggandeng tangan Cilla ikut menyusul masuk ke dalam.


Sampai di halaman belakang ternyata beberapa yang hadir sudah siap menembakan konfeti membuat kedua manusia yang lagi bahagia ini makin sumringah.


“Cie cie yang udah dapat restu lagi,” ledek Jovan.


Arjuna hanya tersenyum dan Cilla menjulurkan lidahnya menanggapi ledekan Jovan.


“Kayak pesta kawinan aja,” bisik Arjuna dengan wajah sumringah.


“Malu,” Cilla balas berbisik.


“Kenapa ?” Arjuna menautkan kedua alisnya.


“Cilla paling nggak suka jadi pusat perhatian begini. Apalagi tuh ada wali kelas sama kepala sekolah. Udah kayak ketangkep basah lagi berbuat salah di sekolah.”


“Memang Cilla buat salah,” ujar Arjuna terkekeh, membuat Cilla mendongak menatap calon suaminya.


“Udah jatuh cinta sama gurunya sendiri,” lanjut Arjuna masih dengan tawanya.


“Duh nyesel deh terima lamaran malam ini,” cibir Cilla.


“Eh apa yang sudah diputuskan nggak boleh dibatalin. Nggak ingat ancaman papa tadi ?”


“Iya..iya,” sahut Cilla dengan wajah pasrah.


Tidak lama keduanya berpisah, menghampiri masing-masing sahabat mereka.


“Jadi elo semua udah tahu kalau malam ini Pak Juna akan datang dan melamar gue lagi ?” tanya Cilla saat berkumpul dengan ketiga sahabatnya, Amanda dan Dimas.


“Udah, makanya gue maksa elo pakai baju ini,” Lili menyahut dan menyentuh baju Cilla.


Cilla melihat ke dirinya sendiri lalu menoleh ke Arjuna yang sedang berbincang dengan para sahabatnya.


“Ya ampun beneran,” Cilla menepuk jidatnya sendiri. “Jadi Tante Siska juga udah tahu sampai mempersiapkan baju ini segala ?”


“Yang siapin baju elo bukannya Tante Siska, tapi Mama. Sengaja dicari yang kembar sama Kak Juna,” ujar Amanda.


“Dan hampir aja gue kena bogem sama guru posesif itu gara-gara bunga pesanan om Darmawan,” gerutu Dimas.


“Kalau sampai Pak Juna mukul kamu, aku bakal balas pukul Pak Juna,” sahut Lili.


“Nggak butuh,” cebik Dimas.


“Cie…cie.. kayaknya bakalan ada yang jadian juga nih,” ledek Cilla sambil tertawa.


“Doain aja semoga hati Dimdim cepat sadar,” ujar Lili.


“Gue nggak pingsan !” sahut Dimas kesal.


“Badan elo memang sadar, tapi hati elo masih tertutup, belum sadar kalau ada cewek cantik di dekat elo,” ujar Lili sambil mengerjap malu-malu.


Febi dan Dimas langsung mencebik sementara Cilla, Jovan dan Amanda langsung terbahak.


Di sisi yang berbeda, Arjuna tampak sumringah berbincang dengan para sahabatnya yang memang diundang oleh Cilla.


“Dapat kesempatan kedua jangan disia-siakan lagi, Bro,” ujar Luki sambil menepuk bahu Arjuna.


“Padahal gue udah siap-siap mau nikung, nih,” ujar Erwin sambil memasang wajah lesu.


“Nih !” Arjuna langsung menunjukan kepalan tangannya. “Nggak bakal gue biarinin elo nikung,” tegas Arjuna dengan wajah galaknya.


“Dih bucinnya anak bebek,” ledek Boni.


“Jadi kapan kita siraman pakai air got ?” ledek Theo dengan wajah mengejeknya.


“Ya ampun, udah ganti tahun masih aja tuh aturan berlaku ?” keluh Arjuna.


Theo memanggil Cilla dengan lambaian tangannya. Cilla mengernyit tapi tetap melangkah mendekati Arjuna dan para sahabatnya.


“Kamu jadi kan modalin sabun mandi untuk calon suami kamu ini ?” tanya Theo sambil merangkul bahu sepupunya.


“Tangan… tangan,” Arjuna memperingatkan Theo sambil menarik Cilla mendekat dengannya.


Theo berdecak sambil geleng-geleng kepala.


“Jadi dong,” sahut Cilla penuh keyakinan. “Memangnya kapan ritualnya mau diadakan ?”


“Ya ampun Cilla, tega banget sih sama Mas Juna. Kalau baunya nggak hilang-hilang sampai berhari-hari gimana ?” ujar Arjuna dengan wajah memelas.


“Ya jangan ketemu dulu sama Cilla sampai hilang baunya,” sahut Cilla sambil tersenyum.


Arjuna mendengus kesal, berharap para sahabatnya sudah lupa dengan kesepakatan mereka.


“Jangan bilang Mas Juna ragu-ragu lagi gara-gara harus ritual siraman air got,” ancam Cilla.


Para sahabatnya sudah tertawa melihat wajah Arjuna yang pasrah langsung menggeleng.


“Lebih baik mandi kembang tujuh hari tujuh malam daripada dibuang ke negeri antah berantah dan jauh dari Cilla,” ujar Arjuna sambil merangkul bahu Cilla.


“Gombal,” cebik Cilla.


“Jun, Jun, untung aja elo sahabat gue. Kalau sekedar kenal doang, udah gue usir jauh-jauh. Asli geli banget ngeliat kelakuan elo sekarang,” ujar Theo dengan wajah sebalnya.


“Jangan dong, Kak Theo. Nanti kalau Cilla patah hati ditinggalin sama Mas Juna memangnya Kak Theo bisa cariin gantinya ?”


“Ada aku, sayang,” sahut Luki sengaja dengan suara genitnya.


”Atau abang juga bersedia kok menggantikan mas-mu yang kayak selang bensin itu,” Erwin ikut mengeluarkan suara gombalannya.


“Nggak mau kalau sama Om berdua,” Cilla langsung menolak sambil menggeleng, membuat Arjuna langsung menyunggingkan senyumnya sambil mencibir pada Luki dan Erwin.


“Biar kayak selang bensin, tapi Cilla sayangnya cuma sama Mas Juna,” Cilla langsung bergelayut manja di lengan calon suaminya. “Kan Mas Juna selangnya, Cilla bensinnya.”


“Ya ampun Cilla !” Theo menepuk jidatnya. “Kamu jangan malu-maluin Om Darmawan.”


“Iri boss ?” ejek Arjuna dengan wajah pongah.


“Cilla, kamu disantet apa sama Juna jadi kayak begini ?” tanya Dono sambil tertawa.


Wiwik dan Mimi ikut tertawa melihat tingkah kekanakan Cilla yang malah membuat Arjuna terlihat bahagia.


“Semburan sekoteng, Pak,” sahut Cilla sambil mengerjap-ngerjap.


“Murahan banget, Jun,” ledek Mimi.


“Untung muka kamu nggak melepuh, sweetie,” ledek Erwin dengan tangan sengaja diulurkan hendak menyentuh kepala Cilla namun dengan sigap Arjuna menahannya sambil melotot.


“Udah ada pemiliknya, dilarang pegang-pegang,” tegas Arjuna dengan wajah galaknya.


“Om Erwin pegang-pegang Kak Mimi aja tuh atau elus-elus perutnya Kak Wiwik,” ledek Cilla.


“Nggak boleh !” Boni dan Dono langsung menjawab serempak.


“Ternyata Mas Juna posesifnya nggak sendirian,” Cilla berbisik pada Arjuna sambil tertawa, tapi ucapannya masih bisa didengar yang lainnya.


“Nah kan, ngerasain kalau punyanya mau disentuh sama cowok lain,” ejek Arjuna sambil mencibir menatap Dono dan Boni bergantian.


“Awas minta putus lagi terus melow-melow,” ancam Theo sambil mendelik menatap adik sepupunya.


”Kesempatan kedua pasti lebih baik dong, Kak Theo. Doain yang bagus-bagus, dong.”


“Anak bebek kesayangan Mas Juna.” Dengan wajah gemas, Arjuna mencubit kedua pipi Cilla dan menggoyangkannya.


“Sakit Mas Juna,” Cilla langsung cemberut.


“Sini diobatin.” Arjuna langsung menempelkan bibirnya di pipi Cilla.


“ARJUNA !”


Suara menggelegar dari dua pria membuat semua mata langsung tertuju pada pasangan bebek itu.


Keduanya terpaku tapi seperti biasa Arjuna tidak reflek menjauhkan bibirnya dari pipi Cilla.


“Baru calon suami udah nyosorin anak orang terus,” omel papa Arman saat sudah berdiri dekat Arjuna.


Papi Rudi juga bersama mendekat dengan mata melotot menatap calon menantunya itu.


“Masih ada waktu buat membatalkan lamaran tadi,” ujar papi Rudi datar namun tatapannya menyeramkan.


Arjun tersenyum kikuk sambil menjauhkan wajahnya dari Cilla.


“Jangan dibatalin, Pi,” sahut Cilla cepat sambil mengangkat tangannya.


“Dasar anak nakal,” mama Diva ternyata juga ikut menghampiri dan langsung menjewer telinga Arjuna.


“Punya calon istri masih muda bukannya dibimbing biar dewasa malah disosor terus,” omel mama Diva.


“Ampun, Ma. Tadi kan juga salah satu pelajaran bagaimana cara membahagiakan suami.”


“Membahagiakan suami dari Hongkong,” sahut papa Arman dengan wajah sebalnya.


”Maklum anak sama bapak bebek, Om,” celetuk Theo mengundang tawa yang ada di situ.


“Pokoknya kalian berdua harus dipingit sampai hari pernikahan !” Tegas mama Diva berdiri di antara kedua anak dan calon memantunya dan jeweran di telinga Arjuna sudah terlepas.


Arjuna dan Cilla tidak berani membantah malah menganggukan kepala. Daripada dipisahkan ke negeri antah berantah, lebih baik manut saja pada perintah orang tua.