
Sudah sebulan ini hubungan Cilla dan Arjuna benar-benar hanya sebatas guru dan murid. Masalah Bu Retno pun sudah diselesaikan dan Arjuna yakin kalau papi Rudi turun tangan langsung untuk mengatasinya. Hanya saja Arjuna tidak bisa menebak apa yang dilakukan pemilik sekolah itu untuk meredam guru kepo yang dipenuhi rasa cemburu karena Arjuna, idolanya, lebih memilih anak abege daripada dirinya yang sudah matang.
Tidak ada komunikasi di luar sekolah, bahkan Arjuna dan Cilla tidak berani saling mengirimkan pesan apalagi menelpon. Sadar kalau semua tindakan mereka berada dalam pengawasan kedua ayah yang koneksinya bukan abal-abal.
“Selamat pagi !” suara Cilla menggelegar tidak seperti biasanya membuat penghuni kelas XII IPS-1 yang sudah datang menoleh ke arah pintu.
Baru dua hari lalu gadis itu diberikan kejutan oleh teman-teman sekelasnya plus Dono sebagai wali kelas. Anak pemilik sekolah itu akhirnya berusia 17 tahun juga dan akan menjadi lulusan termuda di seluruh angkatan tahun ini.
“Masih nggak cukup adonan telor sama terigu kemarin ?” ledek Aron saat melihat Cilla dengan wajah sumringah berdiri di pintu masuk kelas.
“Biang tega banget kalau sampai gue dilumurin telor sama terigu lagi,” Cilla cemberut teringat kejadian dua hari lalu.
Kejutan terencana itu adalah usul dua bestiesnya dan disetujui oleh Dono bahkan Pak Slamet, karena belum pernah terjadi kejutan ulangtahun dilakukan sebelum pelajaran dimulai, biasanya selalu saat pulang sekolah.
Namun karena yang mendapat kejutan adalah cewek spesial, Pak Slamet pun menyetujuinya, apalagi di hari itu anak kelas 12 masuk untuk persiapan ujian praktek dan pemantapan latihan soal ujian.
Mendapat lampu hijau dari sekolah, diam-diam Febi dan Lili minta Bik Mina menyiapkan peralatan mandi dan baju seragam ganti untuk Cilla.
Meskipun sempat kesal karena ujung rambut sampai kaos kakinya bau amis karena telor mentah dan lengket tercampur terigu, tapi Cilla sangat bahagia, apalagi Dono sebagai walikelasnya sekaligus sahabat baik Arjuna, ikut menyemarakkan acara kejutan hari ulangtahunnya.
Sayangnya Arjuna hanya bisa melihat dari kejauhan sambil senyum-senyum. Anak bebek kesayangan akhirnya tujuhbelas tahun juga.
“Terus ngapain elo pagi –pagi udah teriak-teriak ? Ketularan Lili apa gara-gara kebanyakan nelen putih telor mentah,” ledek Nico yang langsung disambut tawa beberapa teman cowok yang duduk bersamanya.
“Eh cowok setengah ganteng, hati-hati ngeledekin Lili. Gue doain elo dapat pacar yang dua kalinya lebih heboh dari Lili.”
“Duh amit-amit,” Nico langsung mengetuk-ngetuk meja dengan kepalan jarinya. “Doain yang bagusan napa ? Lagian elo pagi-pagi tumben banget suara kayak toa.”
Cilla mengeluarkan selembar kartu dari saku kemejanya.
“Tarraaa…Sekarang gue juga punya KTP kayak elo-elo pada. Awas ngatain gue anak bau kencur lagi. Biar badan gue belum tambah tinggi, paling nggak gue bisa membuktikan diri kalau bukan anak SMP lagi. Udah gede.” Cilla menaikturunkan alisnya sambil tersenyum bangga.
Teman-teman cowok Cilla yang duduk di situ saling memandang dan tergelak.
“Tetap aja kalau bawa motor disangka anak kecil, soalnya kaki elo aja nggak injak tanah. Kalau pakai baju putih, bawa motor malam-malam bisa pak pol sangka elo cucunya mak kunti,” ledek Aron lagi.
“Dih elo sentimen banget sih sama gue !” Cilla hendak memukul lengan Aron namun dengan sigap cowok itu menghindar hingga akhirnya Cilla tersandung dan hampir saja nemplok memeluk Aron.
“Cilla !”
Panggilan itu membuat sekujur tubuh Cilla langsung kaku hingga dia diam memegang kedua lengan Aron yang hampir terjungkal ke lantai.
“Mau berapa lama kamu begitu ?”
Suara itu sudah terdengar begitu dekat dengannya. Cilla buru-buru bangun dan lengan kokoh itu membantunya berdiri supaya tidak sampai terjungkal ke belakang.
Cilla merapikan roknya dan mencari-cari KTP-nya yang sempat diperlihatkan pada gerombolan cowok-cowok sekelasnya.
“Kamu cari apa ?” tanya Arjuna yang masih berdiri di belakangnya.
“KTP saya,” jawab Cilla tanpa menoleh.
Matanya berbinar saat melihat kartu yang dicarinya ada di kolong meja dekat Nino duduk. Reflek Cilla berjongkok hendak masuk ke kolong meja, tapi lagi-lagi Arjuna menahannya kerah seragamnya.
“Mau ngapain ?” tanya Arjuna dengan tatapan galak saat gadis itu menoleh menatapnya.
“KTP saya jatuh di sana, Pak,” Cilla menunjuk ke arah KTP nya di kolong meja.
“Nino, ambilin KTP-nya Cilla,” perintah Arjuna.
Nino melongok ke kolong meja dan melihat KTP Cilla ads di dekat kakinya. Ia langsung mengambil dsn memberikan pada si pemilik.
“Bapak ngapain ada di sini ?” dengan santainya Cilla malah bertanya pada guru matematika yang sempat dijauhinya sebulan ini.
“Saya tahu sekolah ini punya papi kamu, tapi status saya masih guru pembimbing kelas 12 di sini, jadi saya masih punya hak mau masuk kelas manapun.”
Febi dan Lili yang baru saja datang dan masih berada di pintu masuk kelas tercengang melihat Arjuna dan Cilla sedang berbincang di tengah-tengah siswa kelas XII IPS-1
“Maksud saya, hari ini kan Bapak nggak ada jadwal mengajar di kelas ini. Terus ngapain pagi-pagi ada di sini ?”
“Minta diundang ke pesta ulang tahun elo,” celetuk Aron sambil cekikikan.
Cilla langsung menoleh sambil melotot dan memberikan kepalan tangannya ke arah Aron yang mengabaikannya dan tetap tertawa.
“Memangnya kalian sekelas diundang sama Cilla ?” tanya Arjuna pura-pura tidak tahu. “Pakai acara badut segala ?” tatapan Arjuna yang mengejeknya membuat Cilla langsung melotot menatap guru kesayangannya.
“Kalau Bapak sama Aron mau jadi badutnya, dengan senang hati saya siapkan panggungnya,” sahut Cilla sambil mengangkat kedua alisnya.
“Selama bayarannya oke, gue nggak keberatan. Gimana Pak Juna ?” tantang Aron.
“Gaji saya sebagai guru masih cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup,” sahut Arjuna santai dan berbalik arah menuju meja guru di depan kelas karena bel tanda masuk sudah berbunyi.
“Sombong !” Cilla mencebik.
Dengan wajah sebal, Cilla langsung menuju bangku singgasananya dan menghempaskan tasnya lalu bokongnya.
“Gue memang nggak pernah berantem sama dia,” Cilla menunjuk Arjuna yang duduk di depan dengan dagunya.
“Kita berdua lagi menunggu restu dari kedua orangtua. Sekarang bukan cuma papi yang nggak setuju, tapi Om Arman juga sebelas duabelas,” gerutu Cilla dengan wajah cemberut.
“Terus waktu itu kenapa elo diam-diaman sama Pak Juna ? Kita bertiga sama Pak Dono udah susah payah ngatur supaya elo bisa berduaan sama Pak Juna, eh malah dua-duanya malu-malu meong, nggak ngomong apa-apa,” omel Febi dengan wajah kesal. Ia pun ikut berbalik ke bangku Cilla.
“Kalian lagi ngebahas apa ?”
Saking serunya, ketiga cewek itu tidak sadar kalau Arjuna sudah mendekat dan berdiri di dekat meja mereka.
“Pak Arjuna sama Cilla yang nyebelin !” suara Lili yang cukup keras dan diucapkan tanpa melihat siapa yang bertanya membuat suasana kelas benar-benar hening.
Lili berbalik badan dan melotot saat melihat banyak mata memandang ke arah mereka. Saat melirik dilihatnya sosok Arjuna sedang berdiri sedang menatapnya dengan wajah galak.
“Kisah kasih guru sama murid, Li ?” celetuk Aron, cowok paling jahil di kelas XII IPS-1.
“Wah dobel traktir dong, PJ sama ulangtahun Cilla,” timpal Nico yang langsung bertos ria dengan Aron.
Seisi kelas langsung riuh dengan suitan dan ledekan teman-teman Cilla. Gadis itu sendiri hanya bisa menunduk malu dan wajahnya mulai merona. Febi langsung menyikut bahu Lili sambil melotot.
Sahabat Cilla yang satu ini memang suka lepas kontrol kalau sedang emosi, belum lagi ucapannya suka asal dan sedikit absurd.
“Memangnya elo semua merestui kalau Pak Juna jadi pacarnya Cilla ?” ujar Febi dengan suara yang bisa didengar oleh seisi kelas.
“Febi ih !” Cilla memukul bahu sahabatnya dari belakang.
“Yakin mau sama anak bau kencur, Pak ?” ledek Nino, sang ketua kelas yang langsung disambut tawa yang lainnya.
“Ehhh nano-nano !” Cilla beranjak bangun dan mendekati Nino yang duduk tiga baris di depannya di bagian tengah.
“Udah gue kasih lihat kan kalau sekarang gue udah punya KTP, bukan anak bau kencur lagi !” Cilla bertolak pinggang di samping Nino sambil melotot.
“Bukan bau kencur, tapi bau jahe,” ledek Nico.
“Masih untung bau jahe, masih wangi, daripada bau pete,” timpal Aron lagi.
Ketiga cowok itu memang duduk berdekatan. Ketua kelas dan dua biang jahil. Bukan hanya mereka yang tertawa tapi anak-anak lain ikutan juga.
“Minta ditampol nih elo pada,” Cilla sudah menarik lengan kemejanya dan bersiap-siap hendak memukul bahu ketiga cowok usil tadi, namun Arjuna sudah kembali menarik kerah kemejanya.
“Di sini bukan ring tinju dan sekarang masih jam pelajaran sekolah, bukan sekedar arisan di kelas,” tegur Arjuna dengan suara tegas dan muka datarnya.
Cilla yang masih sewot menatap Arjuna dengan mata melotot namun guru matematika itu dengan santai menarik Cilla untuk kembali ke bangkunya.
Cilla yang tidak terima sekaligus kesal berusaha melepaskan diri dari tangan Arjuna yang masih menarik kerah kemejanya, tapi sayangnya pergerakannya malah membuatnya hampir jatuh dan reflek tangan Arjuna menahannya hingga posisi mereka akhirnya berpelukan.
Jangan ditanya bagaimana riuhnya kelas XII IPS-1 yang melihat kejadian itu sementara wajah Cilla dan Arjuna langsung memerah menahan malu tapi keduanya sama-sama tidak ada yang berusaha melepaskan diri.
“Hangatnya dipeluk sama guru ganteng sampai nemplok nggak mau lepas,” ledek Aron sambil tergelak.
Arjuna yang duluan sadar langsung melepaskan Cilla dan bergegas balik ke mejanya di depan. Wajahnya jangan ditanya sudah merah seperti kepiting rebus menahan malu.
Cilla juga bergegas kembali ke bangkunya dengan wajah yang sama meronanya. Hatinya antara bahagia dan merutuki kebodohannya sendiri. Bisa-bisanya ia jatuh ke dalam pelukan Arjuna, tapi senang juga karena sudah sebulan lebih menahan rindu untuk dekat-dekat dengan bapaknya anak bebek.
“Sudah selesai bahas PJ PJ-nya,” suara Arjuna menggelegar membuat para murid berhenti dengan keriuhan mereka. “Masih ada latihan soal yang harus kalian selesaikan.”
Arjuna menyerahkan setumpuk kertas untuk dibagikan kepada seisi kelas. Pagi ini memang bukan jadwalnya mengajar di kelas XII IPS-1. Kehadirannya saat ini untuk menggantikan Ibu Laksmi, guru Bahasa Indonesia yang ijin sakit. Tidak ada tugas yang ditinggalkan guru mapel itu, akhirnya Arjuna memutuskan untuk memberikan latihan soal ujian matematika.
“Jadi kapan traktir PJ-nya, Pak ?” Celetuk Aron saat kertas latihan dibagikan.
“Hari biasa kita nggak keberatan, Pak,” timpal Nico yang terkekeh.
“Kalian berdua mau saya suruh keluar dan lari di lapangan ? Masalah PJ PJ sudah ditutup kasusnya. Lagipula siapa yang pacaran ? Saya sudah punya calon istri jadi nggak perlu pacar,”
Ucapan tegas Arjuna malah kembali memancing suara riuh para murid. Masalahnya isu kedekatan Cilla dan Arjuna sempat merebak. Semuanya diawali saat Arjuna menggandeng Cilla dan memaksa gadis itu masuk ke mobilnya lalu membawanya pergi.
“Tuh Cilla, Pak Juna nggak mau pacar-pacaran lagi,” ledek Mira. “Berhubung elo udah punya KTP, langsung diajak nikah.”
“Hhhuuuu..” langsung murid-murid yang lain menyambut ucapan Mira dengan riuh.
Kali ini Cilla hanya diam dan wajahnya makin merona membuat Febi dan Lili mengerutkan dahinya melihat reaksi sahabat mereka yang tidak biasanya.
”Jangan sebar gosip,” ujar Arjuna dengan tegas.
“Bukan sebar gosip Pak, tapi meluruskan. Banyak yang jadi saksi kalau Bapak pernah gandeng Cilla terus pergi naik mobil Bapak,” ujar Nino sambil senyum-senyum.
“Tenang Pak,” Aron pun bangun dari kursinya. “Kita semua merestui kalau Bapak jadian sama Cilla selama bayaran pajaknya lancar sampai kita lulus.”
“Kalau pacaran jangan kebanyakan kasih soal matematika, Pak, soalnya Cilla udah gape banget di pelajaran matematika,” timpal Nico ikut meledek.
“Jangan bingung juga pas bikin anak, mau pakai rumus phytagoras atau malah rumus Helmholtz, Pak,” sahut Nino.
Satu kelas kembali riuh, Arjuna hanya tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala, apalagi melihat anak bebeknya di paling belakang hanya menopang wajahnya yang menunduk dengan kedua tangannya.
Cilla memang memilih diam. Ucapan papa Arman masih menempel di dalam otaknya. Perasaan malu masih menguasai hatinya hingga ia tidak berani berdebat seperti biasanya.
Benar-benar menyebalkan, gara-gara ingin pamer punya KTP, malah merembet sampai ke rumor hubungannya dengan Arjuna.