
Sampai di dalam mobil, Arjuna tidak langsung melajukan mobilnya, ia mengambil tisu dan langsung mengelap bibir Cilla.
Tanpa bicara, Arjuna memperlihatkan noda lipstik yang menempel pada tisu.
”Kita sudah hampir 2 tahun menikah dan sejak dulu masalahnya selalu karena orang ketiga yang berusaha merusak hubungan kita. Mas Juna lebih percaya dengan pertunjukkan Glen daripada ucapan Cilla ?”
“Lalu kenapa kemarin Cilla berbohong kalau bertemu dengan Glen dan bukan ke toilet ?” tanya Arjuna dengan nada dingin.
Posisi duduknya sudah tegak di belakang setir dengan tatapan lurus ke depan. Mobil sudah dinyalakan namun masih diam di parkiran.
“Cilla beneran ke toilet di lantai 2 karena yang di lantai 1 sedang diperbaki. Selesai dari toilet, Glen menarik Cilla ke dalam kelas yang sudah kosong.”
Arjuna terdiam dan tidak membalas tatapan Cilla yang duduk miring menghadap ke suaminya.
“Sebetulnya ada masalah apa Mas Juna sama Glen ?”
“Kenapa malah nanya sama Mas Juna ?” Arjuna tersenyum sinis dan hanya melirik Cilla sekilas.
“Karena Glen bilang kalau dia tahu perbuatan buruk Mas Juna di masa lalu.”
“Dan Cilla lebih percaya dengan ucapannya, kan ? Barusan Cilla nanya kenapa Mas Juna lebih percaya pada apa yang Mas Juna lihat sementara Cilla lebih percaya dengan ucapan orang,” ujar Arjuna dengan wajah kesal.
Merasa sudah lama di parkiran dengan kondisi mobil menyala akhirnya Arjuna melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kampus.
Glen yang berdiri di beranda lantai dua gedung utama sempat tersenyum smirk saat melihat mobil Arjuna baru meninggalkan kampus. Dia malah bersyukur Arjuna datang dan masuk ke ruangannya tiba-tiba karena tanpa perlu bertindak lebih jauh, pasangan suami istri itu pasti bertengkar karena salah paham.
“Kita mau kemana ?”
“Mas Juna harus balik kantor dulu. Tadi Mas Juna langsung ke kampus waktu Lili memberi kabar Glen bertemu kalian dan mengajakmu bicara berdua,”
suara Arjuna sudah tidak sedatar tadi.
“Cilla nggak bermaksud bohong soal kemarin,” lirih Cilla menatap Arjuna dari samping.
“Pikiran Cilla langsung kemana-mana begitu Glen bilang kalau dia punya cerita soal perbuatan buruk Mas Juna di masa lalu. Bukan masalah Cilla lebih percaya dengan ucapan Glen, Cilla hanya berpikir kalau ada sesuatu yang membuat Glen dendam sama Mas Juna. Glen hanya memanfaatkan posisi Cilla untuk membalas dendam itu.”
“Mas Juna memang bukan anak baik-baik waktu sekolah, tapi nakalnya nggak sampai mengganggu apalagi merusak hidup orang lain.
Mas Juna sempat dekat banget sama Glen bahkan sama keluarganya meski dia bukan sahabat baik seperti Theo, Luki dan Boni. Kayaknya Mas Juna udah pernah cerita sama Cilla.
Glen sempat menarik diri dari pergaulan bahkan keluar dari tim inti basket sekolah padahal tinggal 1 pertandingan lagi sebelum anak kelas 12 menggantungkan baju tim.”
“Mas Juna coba ingat-ingat apa pernah menyakiti Glen yang mungkin membuat dia nggak bisa ikut pertandingan lagi atau semacam itu.”
“Tadi kan Mas Juna udah bilang, nakalnya Mas Juna nggak sampai adu jotos di sekolah apalagi bikin teman sendiri sampai babak belur.”
Tidak terasa mobil sudah sampai di parkiran gedung Indopangan.
“Beneran kan Glen nggak menyentuh apalagi mencium Cilla ?”
Arjuna yang sudah melepaskan sabuk pengamannya tahu-tahu mendekati Cilla membuat mata wanita itu membola.
Saking terkejutnya Cilla hanya bisa mengangguk-angguk dan jantungnya berdegup saat posisi Arjuna makin mendekat, lalu tanpa sadar Cilla memejamkan matanya.
Tangan Arjuna terulur dan membukakan sabuk pengaman Cilla.
“Udah ngarep Mas Juna cium ?” ejek Arjuna yang ternyata malah menjauh dari Cilla.
“Iiihhh siapa yang ngarep ?” Cilla melotot melihat Arjuna yang malah tertawa mengejek sambil turun dari mobilnya.
Wajah Cilla langsung ditekuk dan dengan bibir mengerucut sambil mengikuti Arjuna yang senyum-senyum sendiri.
“Boss nggak makan siang ? Mau dibeliin ?” sapa Tino yang baru saja keluar dari dalam lift.
“Nggak usah, udah bawa bekal,” sahut Arjuna santai.
Tino mengerutkan dahi tapi begitu melihat Cilla di belakang Arjuna, asisten itu langsung tersenyum.
“Kayaknya menu makan siang spesial.”
Arjuna menepi sambil menggandeng lengan Cilla saat beberapa orang keluar dari lift. Semuanya menganggukan kepala pada pasangan pemilik Perusahaan tempat mereka bekerja.
“Apa kabar Nyonya ? Kok malah cemberut begitu ?” ledek Tino sambil senyum-senyum.
“Tanya tuh sama Boss kamu yang nyebelin !” ketus Cilla. Tino langsung tertawa.
“Jangan kepo !” tegur Arjuna sebelum Tino membuka mulutnya lagi.
Tino hanya tertawa melihat Arjuna dan Cilla sudah berada di dalam lift. Tidak ada yang berani ikut masuk apalagi melihat wajah nyonya boss ditekuk dan cemberut.
Arjuna bergegas keluar dari dalam lift dan membawa Cilla ke ruangannya yang langsung dikunci.
“Jangan cemberut,” Arjuna langsung menggendong Cilla dan membawa ke dalam kamar yang ada di ruang kerjanya.
“Habis ngeselin. Lagian sekarang mau ngapain ? Kan Mas Juna masih kesal dan nggak percaya sama Cilla kalau Cilla nggak ngapa-ngapain sama Glen. Terus tadi di mobil tumben banget mau bukain sabuk pengaman.”
”Mas Juna nggak ngambek cuma kesal habis Cilla nggak langsung ngomong kalau kemarin ditarik sama Glen. Mas Juna nungguin sampai malam, Cilla nggak ngomong juga.”
“Cilla pikir Mas Juna kesel gara-gara panggilan telepon nggak diangkat sampai 10 kali missed call. Cilla nggak tahu kalau Mas Juna ketemu sama Glen.”
Arjuna mulai menciumi leher Cilla yang yang duduk di atas pangkuannya.
“Tunggu, Mas Juna yakin kalau nggak pernah bikin masalah sama Glen sampai dia…”
“Nanti aja Mas Juna ingat-ingat lagi, udah kelamaan. Yang nempel sekarang ingatan penampilan istri yang menggoda suami tapi nggak dituntasin. Bikin Mas Juna nggak bisa konsen kerja dari pagi dan langsung emosi begitu dengar kabar dari Lili.”
“Dasar om-om suka nethink,” cebik Cilla.
“Dan om-om ini bisa bikin kamu menjerit dan mendesah sampai capek.”
“Siapa yang sampai menjerit, lebay,” Cilla masih protes dengan tubuh meliuk-liuk karena ciuman Arjuna mulai kemana-mana.
“Mau bukti ? Mas Juna nggak keberatan bikin Cilla menjerit siang ini.”
“Kita belum gencatan senjata. Cilla masih kesal nih sama Mas Juna.”
“Nanti aja keselnya lanjut babak kedua.”
Arjuna langsung membungkam bibir Cilla yang akhirnya dibalas dengan ciuman penuh kerindua bahkan Cilla langsung mengalungkan tangannya di leher Arjuna dan menjadi lawan tanding yang seimbang acara olahraga siang ini.
****
Sementara Itu di kampus, Glen mendadak memberikan kuis di kelas Cilla dan tidak bisa dibantah meski banyak mahasiswa yang protes dan menggerutu.
Sambil mengawasi mahasiswanya, Glen melihat galeri foto di handphone dan memandangi gambar Cilla yang sempat diambilnya diam-diam saat pertama mereka bertemu di Semarang lebih dari setahun yang lalu.
Waktu pertama matanya menangkap sosok Cilla sedang duduk sendiri di meja dekat jendela, Glen langsung jatuh cinta.
Wajah gadis itu berbinar dan senyuman manis tersungging di bibirnya saat mata beningnya menyaksikan aneka kegiatan yang ada di taman depan kafe.
Tidak terlihat perut Cilla sudah membuncit karena tertutup meja dan setelah tahu wanita di depannya sedang hamil pun, Glen masih belum bisa membuat pandangannya beralih dari gadis manis itu.
Dalam benak Glen, Cilla adalah anak sekolah yang hamil karena tidak sengaja. Siapa yang sangka kalau gadis muda yang memikat hatinya itu adalah istri dari pria yang sangat dibencinya saat lulus SMA.
Arjuna, pria satu sekolah sudah merenggut setengah hidupnya saat mereka baru saja belajar di kelas 12. Selama menjadi tim inti basket, Glen kagum pada sosok Arjuna.
Anak orang kaya yang penampilannya sederhana, tidak sombong dan mau berteman dengan siapa saja. Sayangnya kesempurnaan yang membuat Glen sangat respek pada Arjuna berganti menjadi kekecewaan dan berujung dengan kebencian.
Saat tahu kalau Cilla adalah wanita yang sangat dicintai oleh Arjuna, hati Glen kembali patah dan memancing keluar rasa benci yang sudah lama dipendamnya.
Cilla adalah orang yang tepat untuk membalaskan kebencian yang Glen tanam bertahun-tahun namun setiap kali bertatapan langsung dengan Cilla, hati Glen tidak pernah tega melampiaskan emosinya.
Sikap Cilla yang polos dan binar mata gadis itu membuat Glen selalu rindu dengan sosok yang membawa pergi sebagian nafas kehidupannya.
Glen mengedit dua foto perempuan yang membuat hatinya bahagia. Sayang keduanya tidak bisa ada di sampingnya setiap waktu.