MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2


Sean sudah tidak sabar ingin turun saat mobil Arjuna berhenti di parkiran rumah keluarganya. Papa Arman sudah menunggu di teras.


Setelah mendapat kabar dari Arjuna soal kehamilan Cilla, Mama Diva mengundang mereka makan malam di rumah keluarga Arjuna.


“Sore, Pa,” sapa Arjuna dan Cilla bergantian sambil mencium pipi Papa Arman.


Sean sudah lebih dulu nemplok di gendongan opanya, merengek minta diajak ke kolam ikan.


“Sean, nggak boleh nyebur ke kolam ikan, sudah sore dan Sean kan udah mandi,” tegas Cilla dengan tatapan yang tidak bisa dibantah.


Wajah Sean langsung ditekuk dan bibirnya manyun, menatap opanya minta perlindungan dan bantuan tapi Papa Arman hanya tertawa.


“Sean harus nurut sama Mami. Kalau datang kemari lagi, Opa ajak beli ikan dan berenang tapi bukan di kolam ikan.”


Sean sempat menjulurkan lidah pada Cilla yang membalas dengan hal yang sama. Sejak di rumah, bocah berumur 2 tahun itu uring-uringan karena Arjuna melarangnya nemplok di gendongan Cilla seperti anak koala.


“Ada dedek bayi di perut mami. Sebentar lagi Sean akan dipanggil kakak. Sean senang nggak ?”


“Nggak mau kalau Sean ndak boleh gendong mami.”


Dengan sedikit kesabaran ekstra, Cilla menerangkan pada bocah itu sambil mengajaknya mandi.


“Sore, Ma. Hai Manda,” sapa Cilla saat masuk ke dapur menemui mertua dan adik iparnya.


“Halo sayang ? Gimana kehamilanmu yang sekarang ?”


“Sementara belum berasa yang aneh-aneh sih, Ma. Semoga aman-aman aja sampai lahiran.”


“Yang nggak aman tuh Kak Juna, anak masih kecil, istri juga masih kuliah udah dibuat melendung lagi aja,” ledek Amanda sambil tertawa.


”Kamu iri ?” sahut Arjuna yang baru saja menyusul ke dapur.


“Sore, Ma.”


“Sore juga Jun.”


“Siapa yang iri ?” cebik Amanda dengan tampang sewot.


“Siap-siap aja baru nikahnya 8 tahun lagi kalau mau tetap sama calon dokter,” ledek Arjuna sambil mencomot sepotong bakwan jagung di meja.”


“Biarin ! Masih belum kepala 3 juga kan ?”


“8 tahun lagi Cilla sudah jadi ibu 4 atau 5 anak,” ujar Arjuna sambil menaik turunkan alisnya menatap Cilla yang langsung melotot.


“Memanngnya Mas Juna mau punya anak berapa ? Mau bikin tim basket ?”


“Tim sepakbola, Sayang,” sahut Arjuna sambil mencuri ciuman di pipi Cilla.


“Mas Juna aja yang hamil dan melahirkan kalau mau bikin tim sepakbola !” omel Cilla dengan bibir mengerucut.


“Paling tinggal cari istri muda lagi,” ledek Amanda sambil tertaw.


“Sembarangan kamu ngomong !” Arjuna langsung menjitak kepala adiknya.


“Kak Juna ih !”


“Lagian kalau ngomong suka asal. Awas senjata makan tuan !” cibir Arjuna.


Amanda mengepalkan sebelah tangannya ke arah Arjuna bertepatan dengan masuknya Papa sambil mnuntun Sean.


Begitu melihat Amanda, bocah itu langsung berlari mendekati Cilla dan menyembunyikan wajahnya di paha Cilla yang sedang duduk di kursi makan.


“Halo bocah ganteng !”


“Onti nakal !”


“Lagi rewel gara-gara nggak boleh jadi anak koala sama maminya,” ujar Arjuna dengan suara aerenhah berbisik.


“Dasar baby koala !” ledek Amanda sambil menjukurkan lidahnya pada Sean.


”Bialin… Kan kayak mami jadi baby koalanya papi,” sahut Sean balas menjulurkan lidahnya pada Amanda.


“Pantes aja tuh perut gampang melendung, rupanya papi mami kamu senang main jadi daddy dan baby koala, Sean.”


“Sotoy ! Kamu udah pengalaman sama Jovan ?” tanya Arjuna sambil menoyor pelipis adiknya.


“Jangan menyebarkan hoax deh !” cebik Amanda.


“Manda takut Jovan berubah pikiran jadi diikat dulu supaya nggak kabur,” timpal Cilla sambil tertawa.


“Awas kalau berani !” ancam Mama sambil melotot.


Sean tertawa sambil menutup mulutnya, ia memang paling bahagia kalau Amanda dibuat merenggut karena tantenya yang satu itu paling suka menjahili Sean.


“Apa kamu ketawa, bocah nakal !” omel Amanda sambil melotot menatap Sean. Bukannya takut, bocah yang masih bergelayut pada Cilla kembali menjulurkan lidahnya, meledek Amanda yang berwajah cemberut.


“Heran sih Manda, hobi banget berantem sama Sean,” Cilla tertawa sambil memberi isyarat pada Arjuna supaya mendududkan putra mereka di kursi makan khusus anak-anak.


“Habisnya Sean nyebelin, kayak bapaknya,” gerutu Amanda.


“Namanya juga anak Kak Juna, masa maunya kamu kayak Jovan yang selalu ngalah sama kamu.”


“Kamu tuh udah gede, Manda. Jangan suka ngambek, lama-lama Jovan bisa kehabisan cadangan sabarnya,” nasehat Papa.


Amanda menghela nafas, membenarkan ucapan papa kalau Jovan sering kehilangan kesabaran saat Amanda merajuk.


Suasana makan malam itu terasa hangat dan menyenangkan seperti biasanya membuat Cilla selalu bahagia karena sejak awal Papa Arman dan Mama Diva selalu memperlakukannya seperti anak kandung mereka.


*****


“Tidak ada pilihan lain, ibu anda harus segera dioperasi untuk mencegah penyebaran sel kanker yang semakin meluas.”


Luna terdiam, berdiri di depan ruang ICU. Wajahnya terlihat kuyu, hidupnya semakin berantakan saat mengetahui dirinya tengah berbadan dua sementara mama harus menjalani pengobatan kanker rahimnya.


“Berapa lama mama saya bisa menunggu, Dok ?”


“Paling lama 2 minggu tapi saya tidak bisa menjamin bisa menghentikan penyebarannya hanya dengan obat-obatan. Operasi pun tidak akan membersihkan semua sel kanker, tapi meminimalkan penyebarannya.”


“Saya akan segera mencari biayanya, Dok.”


Dokter mengangguk dan pamit meninggalkan Luna yang langsung duduk lemas di kursi yang ada di depan ruang ICU.


Air matanya tidak lagi bisa ditahan, hidupnya terasa berat akhir-akhir ini. Begitu banyak penyesalan yang memenuhi pikirannya termasuk keputusannya untuk menerima lamaran seorang duda yang dikiranya orang kaya.


Usia mereka terpaut hampir 20 tahun dan pria itu mengaku sebagai duda cerai mati dengan istrinya hampir 7 tahun. Luna yang tergiur dengan kemewahan yang sempat diberikan pria itu akhirnya bersedia menjadi istrinya. Mereka sempat menikah siri selama 6 bulan dan Luna pun dinyatakan hamil.


Kebahagiaan selama 6 bulan itu mulai bermasalah 2 bulan lalu saat mama Sofia dinyatakan menderita kanker rahim stadium 4.


Raja, suami siri Luna menolak untuk membantu biaya pengobatan dan mulai mencari-cari alasan hingga akhirnya jarang pulang.


Tepat 1 bulan lalu, istri sah Raja datang menemui Luna di rumah yang ditempatinya sejak menikah dengan Raja. Ternyata rumah itu hanya kontrak dan kekayaan yang dihumbar Raja adalah milik istri sahnya.


Seperti cerita-cerita sinetron, Luna dan mama diusir tanpa belas kasihan. Semua perhiasan yang pernah diberikan Raja diambil oleh istrinya termasuk sisa uang yang diberikan oleh Raja.


Sebelum masuk rumah sakit, mama pernah menyarankan untuk menggugurkan kandungan Luna karena khawatir Raja tidak nau mengakui dan membiayainya anaknya. Hati kecil Luna menolak dan ia memutuskan untuk membiarkan anak itu tetap hidup sekalipun Raja tidak mau mengakuinya.


Luna menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia pun menyesal masih mempertahankan gengsi dan sudah mencari ribut dengan Cilla padahal saat ini hanya mantan adik tirinya itulah yang paling mungkin membantunya. Menyesal karena mendatangi Arjuna bukan Cilla langsung.


Luna menghapus air matanya dan beranjak bangun. Tidak ada pilihan lain kecuali mendatangi Cilla kembali dan kali ini Luna bertekad untuk memohon padanya demi kesembuhan mama.