MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Bab 28 Masih Teman Curhat


Arjuna berusaha bersikap biasa saja dan tidak membahas soal perlakuan Cilla tadi dalam ajang perdebatan. Ia sendiri masih belum bisa lupa apa yang dilihatnya dari tatapan Cilla terakhir tadi.


“Bapak mau kemana lagi ?” Cilla menghampiri Arjuna yang sudah menunggunya di luar tenda.


“Apa ada tempat ngopi selain di mal, Cil ? Yang bisa santai.”


Cilla berpikir sejenak dan senyum mengembang di wajahnya.


“Ada tempat nongkrong enak di balik jalan ini. Bapak kuat jalan kaki, kan ? Nggak jauh kok, nggak sampai 1 kilometer.”


“Ya udah, sekalian saya ingin tahu ada apa saja di Simpang Lima ini.”


Cilla mengangguk dan mendahului Arjuna berjalan melewati keramaian Simpang Lima di malam hari.


“Bapak nggak mau curhat soal Tante Luna ?”


Keduanya sudah jalan beriringan di area yang lebih sepi dari sebelumnya.


“Memang kamu ngerti soal pacaran ? Bukannya kamu pernah bilang belum pernah pacaran ? Lagipula darimana kamu tahu kalau yang nelpon saya tadi itu Luna ?”


Cilla tertawa. “Habis ekspresi Bapak sama seperti waktu terima telepon di halaman belakang sekolah.”


“Kamu nguping ?” Arjuna mendahului Cilla dan berjalan mundur sambil melotot menatap gadis itu.


“Nggak niat nguping, Pak. Saya lagi mau semedi di tempat favorit saya, tahu-tahu Bapak sudah ada di situ sedang terima telepon,” sahut Cilla sambil tertawa.


Arjuna kembali ke posisi semula berjalan di sebelah Cilla.


“Jadi suara yang saya dengar waktu itu asalnya dari kamu ?” Arjuna melengos kesal. Cilla malah tergelak.


“Saya nggak sengaja injak ranting. Memangnya Bapak kira ada mahluk tidak terlihat di halaman itu ?”


Cilla makin terbahak membayangkan wajah Arjuna yang sempat ketakutan.


“Kalau saya tahu itu kamu, pasti sudah habis saya jewer sampai ke ruang guru,” omel Arjuna dengan wajah cemberut.


Cilla masih tertawa melihat wajah Arjuna yang menekuk kesal. Kakinya berbelok memasuki satu bangunan cafe yang artistik dan menarik mata.


Seorang pelayan yang menyambut mereka mengantarkan ke meja yang terletak di sudut ruangan, sesuai permintaan Cilla.


Setelah melihat-lihat menu, keduanya hanya memesan minuman. Ice coffee latte untuk Arjuna dan strawberry smoothies untuk Cilla.


“Tadi kamu juga nguping ya ?” Arjuna langsung menginterogasi saat pelayan meninggalkan mereka.


“Mulai deh Bapak nethink lagi,” Cilla mencibir. “Kan saya bilang kalau habis dari minimarket.”


“Kenapa harus lewat tangga situ ? Bukannya lewat jalan di sisi kanan hotel lebih pendek.”


“Memangnya ada aturan arah keluar masuk di hotel, Pak ? Kaki saya lagi inginnya ke arah kiri, jadi saya bawa badan saya juga ke kiri.” Cilla terkekeh.


Arjuna menggerutu. Ingin mendebat lagi, tapi berhadapan dengan gadis satu ini, akan jadi panjang ceritanya.


“Jadi Bapak sebetulnya masih jalan atau sudah putus sama Tante Luna ?” Cilla mencondongkan tubuhnya dengan tangan meipat di atas meja.


“Kepo !” Arjuna mencebik, sedangkan Cilla malah tergelak.


“Jiwa pertemanan saya memang suka kepo mendadak. Apalagi kalau lihat teman seperjalanannya tiba-tiba melow kayak Bapak.”


Tidak lama pesanan minuman mereka sudah diantar oleh pelayan yang sama.


“Saya memang kepo, Pak, tapi berani sumpah kalau mulut saya nggak bocor. Rahasia aman di saya, asal…” Cilla menggantung kalimatnya, menyeruput strawberry smoothiesnya.


“Asal apa ?” Arjuna mengangkat kedua alisnya.


“Asal Bapak sering-sering traktir saya makan. Boleh sate, martabak, sekoteng, atau apapun yang ada di pujasera taman.”


“Pujasera ?” Arjuna mengernyit


“Tempat mangkal kita, Pak. Kan yang jualan udah kayak pujasera di mal,” sahut Cilla tertawa.


Arjuna jadi tersenyum mendengar istilah yang suka aneh keluar dari mulut Cilla.


Mendadak Cilla diam dan pandangannya fokus menatap Arjuna. Bahkan mulutnya sedikit terbuka, menganga. Pria yang baru saja tersenyum itu kembali mengernyit saat melihat tingkah aneh Cilla.


“Kamu keselek strawberry ?” Arjuna mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Cilla.


Cilla menyenderkan tubuhnya ke kursi dan kedua tangannya memegang gelas smoothies.


“Kamu kesambet ?” Ledek Arjuna.


“Bapak jangan sering-sering senyum kayak tadi di depan saya,” Cilla kembali menyeruput smoothiesnya, demi menenangkan jantungnya yang kembali berdetak tidak karuan.


“Kenapa ? Ada aturan tertulis kalau guru cowok nggak boleh tersenyum di depan anak pemilik sekolah ?” Arjuna kembali meledek Cilla.


Ternyata bawaan mendebat dan meledek perkataan Cilla susah dihapus jejaknya dari mulut Arjuna. Entah kenapa ada rasa puas kalau bisa membuat calon muridnya ini berasa kalah kayak di lomba debat, bukan cerdas cermat.


“Khusus untuk Bapak aja.” Arjuna mengernyit tidak mengerti.


“Kalau Bapak sering-sering senyum kayak tadi, bisa-bisa saya pingsan kena serangan jantung. Syukur-syukur kalau Bapak mau kasih saya CPR, dengan senang hati saya akan sering pingsan.” Kali ini Cilla berucap sambil memegang dadanya. Detak jantungnya belum normal.


Bukannya mendebat, Arjuna malah tergelak. Baru kali ini dia bertemu dengan cewek yang sedikit agresif dan terang-terangan menyatakan perasaannya, tapi cara penyampaiannya justru seperti orang bercanda. Belum lagi ekspresinya yang polos apa adanya, bukan wajah penuh drama.


Cilla kembali menyeruput minumannya sampai tandas. Sesudahnya ia memanggil pelayan dan kembali memesan satu ice lychee tea.


“Baru lihat senyuman cowok keren aja udah kayak habis lari marathon, apalagi kamu pacaran.”


“Haaiisss beda lah Pak rasanya kalau lagi usaha sama yang sudah jadi pacar. Udah deh, nggak usah diperpanjang. Lebih baik fokus sama curhatan Bapak soal Tante Luna.”


“Memangnya saya bilang mau cerita sama kamu soal Luna ?” Arjuna mencebik.


“Saya maksa. Kan saya kepo, tapi nggak ember bocor. Kalau Bapak nggak mau, biaya makan hari ini harus diganti sepuluh kali lipat.”


Arjuna mencebik. “Perampokan namanya.”


“Bapak sudah lama pacaran sama Tanre Luna ?”


“Kok Tante, sih ? Umurnya saja belum duakali lipat dari umur kamu,” protes Arjuna.


“Bapak protes melulu deh, mengalihkan topik pembicaraan,” Cilla mengerucutkan bibirnya. “Teman-teman Bapak yang cowok aja, semua saya panggil Om, jadi kalau yang perempuan saya panggil Tante.”


“Tapi Mimi…”


“Kebanyakan protes. Nanti saya minta Pak Slamet keluarin SP7 nih… bukan peringatan lagi, tapi surat pemindahan ke negeri antah berantah.”


Cilla hanya nyengir kuda, badannya kembali condong ke meja, dan tangannya memainkan sedotan minuman yang baru sjaa diantar pelayan. Pandangannya fokus pada Arjuna yang meminum ice coffee latte-nya sebelum berbicara.


“Luna itu gadis yang saya taksir sejak SMA. Dulu pas pertama kali saya tembak, dia nolak. Sekitar 2.5 tahun yang lalu, saya bertemu kembali di pesta ulangtahun Mimi. Lama tidak bertemu, awalnya saya ragu dengan perasaan saya masih sama atau tidak. Sampai akhirnya Boni dan Mimi sengaja mempertemukan kami kembali di beberepa kesempatan. Berbeda dengan waktu di SMA, kali ini Luna terlihat lebih baik dan terbuka dengan saya. Akhirnya atas usul Boni dan rekomendasi Mimi, saya meminta Luna jadi pacar saya dan ternyata dia langsung menerimanya.”


Cilla mengangguk-anggukkan kepalanya. Hatinya sedikit tercubit. Tapi ini lebih baik daripada mendengarnya dari orang lain atau malah hanya bisa menduga-duga soal hubungan Arjuna dengan Luna.


“Mau nembak cewek kok pakai disuruh orang, nggak punya prinsip deh,” Cilla mencibir. “Terus pakai acara rekomendasi, kayak mau melamar pekerjaan aja,” Cilla cekikikan.


“Itu istilah doang Cilla. ISTILAH !” Arjuna menegaskan kata terakhirnya. Ia memajukan badannya menempel meja dengan mata melotot dengan wajah kesal menatap Cilla.


“Terus sekarang Bapak sedang ada masalah apa ?”


Arjuna menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia sendiri bingung kenapa Luna menjauhinya. Arjuna menggeleng.


“Kok Pak Arjuna malah menggeleng ?” Cilla menautkan kedua alisnya.


“Saya aja nggak tahu Cil, sebelum saya melamar jadi guru, Luna sudah 2 mingguan tidak pernah menghubungi saya, bahkan pesan saya terkadang hanya dibaca doang tanpa dibalas. Itu pun setelah beberapa hari.”


“Tapi saya dengar Bapak sedang membujuknya waktu di sekolah.”


“Dia mencari saya di kantor tapi tidak ketemu. Luna menanyakan kenapa saya nggak ada di kantor. Ternyata dia sempat ke sana dan mencari saya.”


Cilla menyipit sambil memiringkan wajahnya ke kiri dan ke kanan. Arjuna yang tadi menunduk sambil memainkan gelasnya jadi mendongak karena tidak ada tanggapan dari Cilla.


“Jangan jadi mahluk aneh lagi, deh !” Protes Arjuna yang masih dipandangi Cilla dengan mata menyipit.


“Sebelum jadi guru, memangnya Bapak kerja dimana ?”


“Di bagian marketing Indopangan Makmur.”


“Loh itu kan perusahaan besar dan bonafit. Kenapa Bapak malah keluar dan memilih jadi guru.”


“Biar ketemu kamu,” sahut Arjuna terkekeh sambil menghabiskan ice coffe lattenya.


“Mulai kan paling senang bikin saya baper,” Cilla mengerucutkan bibirnya. “Ditanya serius malah bikin hati cewek melehoy. Jangan sampai saya memutuskan nguber Bapak sampai dapat, loh !”


“Memangnya saya maling jemuran yang mau kamu uber sampai dapat,” Arjuna tergelak.


“Maling hati saya lah !” Cilla melotot melihat Arjuna yang tertawa.


“Jadi nggak enak dikejar-kejar sama penggemar, kayak Song Joong Ki aja.” Arjuna mengerjapkan matanya menggoda Cilla sambil tertawa.


“Cakepan Song Joong Ki kemana-mana, Pak Arjuna !” Protes Cilla dengan nada penuh penekanan.


“Dilihat pake sedotan juga masih cakepan dia dibandingkan Bapak,” Cilla mencebik.


“Cakepan dia sedikit, banyakan saya,” Arjuna memajukan badannya kembali , menempel meja. Dan yang membuat Cilla membeku, pria itu mencondongkan wajahnya mendekati Cilla yang posisinya juga menempel di meja.


“Lagipula kalau Song Joong Ki cuma bisa kamu dapetin dalam mimpi, kalau saya dalam hati,” Arjuna makin tergelak dan memundurkan kembali wajahnya.


Hatinya puas karena bisa membuat Cilla jadi diam dengan wajah memerah. Setidaknya sekali-sekali kalimatnya tidak perlu mendapat debatan dari Cilla.


Cilla menyeruput minumannya setelah kembali sadar dari pesona Arjuna.


“Jadi kesimpulannya, Bapak masih lanjut atau putus sama Tante Luna ?” Cilla mengerjap-ngerjapkan matanya menanti jawaban Arjuna.


“Ya elah Cil, penting banget apa pertanyaan seperti itu ?” Arjuna tertawa mengejek.


“Kalau Bapak masih jalan, saya mundur. Kalau Bapak sudah putus, saya akan buat Bapak jatuh cinta sama saya.”


“What ?” Arjuna melotot sambil memajukan kembali wajahnya. “Kalau begitu jawabannya belum !” Tegasnya.


Arjuna mundur kembali dan tertawa pelan saat melihat Cilla kembali fokus dengan minumannya. Ia yakin kalau gadis di seberangnya sedang berusaha menata hatinya.


Arjuna berpikir lebih baik bicara apa adanya di awal meski menyakitkan daripada memberi jawaban tidak jelas pada abebil (abege labil) yang mulai merasakan jatuh cinta ini.


Lagipula saat ini hubungannya dengan Luna memang belum ada kata putus meski lama tidak berkomunikasi.


Tidak ada percakapan, keduanya mengalihkan diri pada minuman sampai akhirnya handphone Cilla berbunyi.


“Ya ampun !” Cilla menepuk jidatnya sendiri.


“Kenapa ?“ Arjuna mengernyit.


“Lupa kasih kabar om-om di hotel kalau Cilla sudah pesan lumpia dan ditiitp di front office.”


“Terus ?”


Cilla mengangkat handphonenya dan memperlihatkan ada nama Theo yang sedang menghubunginya.


“Buaya-buaya baru berasa kelaparan,” Cilla cekikikan sambil menutup mulutnya.


Arjuna menggeleng dan membiarkan Cilla menerima panggilan telepon dari Theo.


“Halo Om, ganggu aja deh ! Cilla kan lagi pacaran sama Pak Arjuna,” Cilla sengaja berbicara dengan nada manja.


“Eh mana ada ya !” Protes Arjuna dengan suara keras. Ia berusaha meraih handphone Cilla dari tangan pemiliknya, namun gadis itu memegangnya kuat dan menggeleng. Secepat kilat tanpa Arjuna sadar, Cilla memencet tombol speaker, saat keduanya masih saling tarik menarik.


“Mana ada pergi ngopi berdua doang dibilang pacaran,” suara protes Arjuna sambil berusaha merebut handphone Cilla.


“Pak Arjuna jangan main kasar gitu dong, minta baik-baik juga saya kasih,” sahut Cilla sengaja dengan suara manja.


“Yakin saya minta baik-baik bakalan kamu kasih ?” Tarikan Arjuna mulai melunak.


Keempat sahabatnya yang ternyata sengaja diajak Theo supaya ikut mendengarkan percakapan Cilla dan Arjuna dibuat melongo mendengarnya.


“Arjunnaaa !” Teriak keempatnya bersamaan di depan speaker handphone.


Arjuna terlonjak kaget saat mendengar suara teriakan keempat sahabatnya dari handpone Cilla. Tangannya terlepas dan ia langsung mundur bersandar di kursi. Ditatapnya Cilla dengan dahi berkerut.


Cilla tergelak dan memperlihatkan layar handphonenya. Ternyata gambar microphone di layar itu terlihat menyala.


“Cilla… Kamu !” Arjuna menatap geram sambil mengepalkan kedua tangannya.


Cilla tergelak. Pembalasan lebih kejam Song Ju Na… Siapa suruh tadi sudah buat hati Cilla baper sampai melehoy ? Pakai bilang lebih cakep dari Song Jong Ki segala.


Wajah Arjuna memerah karena kesal atas pembalasan Cilla, dan gadis itu malah semakin terbahak.


Keempat Pandawa lainnya, ikutan tertawa setelah menutup panggilan telepon dengan Cilla. Mereka membayangkan kekesalan wajah Arjuna yang habis dikerjai oleh calon muridnya.