MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Para Pengawas dari Batang


“Ada masalah apa lagi dengan Cilla, Jun ?”


Arjuna terkejut saat papi Rudi sudah berdiri di dekatnya. Sejak tadi fokus Arjuna ke layar handphone, mengikuti drama di aula sekolah.


“Ada yang sengaja mempermalukan Cilla masalah pernikahannya dengan Juna, Pi,” sahut Arjuna sambil menggeser handphonenya supaya papi bisa melihatnya.


“Gimana ceritanya bisa ada Diva di sana ?” Papi Rudi mengerutkan dahi saat melihat mama Diva sudah berdiri di samping Cilla.


“Juna juga bingung sih, Pi, gimana mama bisa ada di sekolah,” sahut Arjuna dengan wajah bingungnya.


Papa Arman yang baru mendekat sempat mendengar perbincangan papi Rudi dengan Arjuna tertawa pelan.


”Yola yang menghubungi mama,” ujar papa Arman. “Yola itu masih sepupuan dengan teman Cilla yang kepo itu.”


“Yola ?” Arjuna menautkan kedua alisnya. “Sepupuan sama Sherly ? Terus gimana ceritanya dia bisa sampai tahu rencana Sherly hari ini ?”


“Siapa lagi Yola ?” Papi Rudi menatap Arjuna dan papa Arman bergantian.


“Mantan sekretaris Arjuna yang pernah bikin heboh,” sahut papa Arman sambil tertawa.


“Sekretaris pilihan Papa bukan maunya Juna,” sahut Arjuna sambil cemberut.


“Yola itu anak sahabatnya Diva. Masuk ke perusahaanku karena referensi dari Diva juga, dan karena pernah satu sekolah dengan Juna, kupikir akan lebih baik kalau ditempatkan sebagai sekretarisnya Juna.”


“Dasar pengusaha kurang teliti,” gerutu papi Rudi “Mentang-mentang sudah dapat referensi dari istri sampai lupa cek detil latar belakangnya. Terus sekarang ada niat apa mau bantu kasih bocoran soal sepupunya segala ?”


“Maksud Papi, Yola bakal minta imbalan ?”


“Bukan tidak mungkin, kan ?”


“Kali ini aku yakin kalau Yola tidak akan berniat jahat pada Arjuna dan Cilla. Apalagi dia sudah tahu kalau Juna sudah menikahi Cilla.”


“Terus gimana lanjutan cerita di sekolahnya Cilla, Jun ?” tanya papi Rudi.


“Baterai handphone Dono habis, Pi. Ini aja Dono pinjam handphone Amanda. Infonya semua kejadian di aula sekolah sudah direkam atas permintaan Cilla.”


“Tapi Cilla-nya nggak kenapa-napa, kan ?” tanya papi Rudi dengan wajah khawatir.


“Rud, sudah ada Diva di sana. Kamu nggak percaya sama istriku ? Diva ke sana bukan sekedar sebagai mamanya Arjuna tapi juga mertuanya Cilla. Kamu belum tahu aja gimana Diva kalau sudah marah. Kata Umar lebih menyeramkan dariapada aku marah,” ujar papa Arman terkekeh sambil melirik ke arah asistennya.


“Dono bilang Cilla aman banget, Pi, malah teman-teman sekelasnya menjadi pendukung Cilla dan menolak keras usaha Sherly dan mamanya.”


“Dinda ?” Papi Rudi mengerutkan dahinya.


“Kurang tahu nama mamanya Sherly, Pi. Sudah pernah kenalan tapi Juna lupa siapa namanya.”


“Baru juga menjabat sebagai ketua komite sekolah,” gerutu papi Rudi dengan wajah kesal.


“Dia istrinya Ramon Budiman, Rud.”


“Ramon pengacara ? Bukannya dia salah satu anggota tim pengacara perusahaanmu ?”


“Benar dan aku sudah memastikan sebelum Diva datang ke sekolah hari ini. Dan satu lagi, kalian harus lihat ini.”


“Selama ini aku nggak mau pusing masalah operasional sekolah. Semuanya kupercayakan pada Slamet. Aku hanya tahu Dinda sebagai ketua komite sekolah tanpa mau tahu siapa suaminya.”


“Nggak penting juga,” sahut papa Arman sambi menekan tombol handphone, mengirimkan gambar untuk Arjuna dan papi Rudi.


“Papa dapat darimana foto ini ?” Arjuna mengerutkan dahi mencoba mengingat-ingat momen pertemuannya dengan Cilla seperti yang terlihat di layar handphonenya.


”Koleksi mama kamu,” sahut papa Arman sambil terkekeh. “Kebiasaannya membawa kamera poket kemana-mana ternyata ada gunanya juga.”


“Kenapa aku nggak punya foto-foto ini, Man ?”


“Diva itu punya kebiasaan bawa kamera kemana-mana saat anak-anak kecil karena belum ada handphone yang canggih seperti sekarang ini. Diva suka mengabadikan momen anak-anak yang lucu, koleksinya banyak banget. Pas Yola menyampaikan kabar soal rencana anak dan istrinya Ramon, Diva mencoba memikirkan cara melawan mereka. Diva bilang ia tiba-tiba teringat kalau sepertinya pernah mengabadikan momen Juna dan Cilla. Ternyata dia berhasil menemukannya dan menjadikan foto itu untuk menghadapi istrinya Ramon.”


“Ternyata dari kecil kamu udah ganjen sama Cilla ya, Jun,” papi Rudi melirik menantunya. “Kenapa papi sampai nggak sadar kalau dari kecil dengan gampangnya Cilla nemplok sama kamu.”


“Sepertinya anak kita yang menjodohkan diri mereka sejak kecil, Rud,” papa Arman terkekeh.


“Juna aja lupa dengan kejadian itu, Pa. Saking lupanya, Juna nggak ngenalin Cilla saat bertemu lagi di depan rumah Papi saat kejadian kecelakaan Luna.”


“Memangnya kamu ada di sana juga ?” Papi Rudi menyipitkan matanya.


”Lagi nguber Luna waktu itu, Pi,” Arjuna nyengir kuda. “Pas kejadian Luna jatuh dan Cilla didorong mamanya Luna, Juna udah mau bantuin, tapi batal. Waktu itu Cilla kelihatan kurus dan agak dekil makanya Juna nggak ngenalin. Beda banget sama yang di foto ini.”


“Kalau ingat masa-masa itu, Papi merasa jadi pria bodoh yang membiarkan anaknya disakiti diam-diam,” ujar papi Rudi dengan wajah penuh penyesalan.


“Jangan terjebak kenangan masa lalu, Rud,” papa Arman menepuk bahu besannya. “Yang penting sekarang dan masa depan. Toh Cilla juga sudah jadi istrinya Juna, suami bucin dan posesif,” ledek papa Arman sambil melirik putranya.


“Posesif karena cinta banget sama Cilla dan nggak mau kehilangan, Pa,” sahut Arjuna dengan wajah cemberut.


“Bucin akut kamu, Jun,” papi Rudi ikut meledek menantunya. Papa Arman tertawa melihat wajah putranya makin cemberut.


“Kompak banget kalau urusan membully anak dan menantu,” gerutu Arjuna. Kedua ayah itu hanya tertawa.


“Eh Man, tadi seperti Juna tanyakan, gimana ceritanya sampai mantan sekretaris Juna tahu soal rencana Dinda ?”


“Persisnya kurang tahu, kalau nggak salah pas mereka lagi kumpul keluarga di rumahnya Dinda. Bahkan Yola juga baru tahu kalau anaknya Dinda punya foto Arjuna dan Cilla waktu di Semarang. Memangnya foto apa, Jun ?”


Papi Rudi ikut menoleh menatap Arjuna yang sedang mengernyit, memikirkan ucapan papa Arman.


Arjuna menatap papi Rudi dan papa Arman bergantian sambil menghela nafas.


“Nethink apaan Jun ?” papi Rudi mengernyit.


”Negatif thinking, Papi.”


“Terus foto apaan yang Yola maksud, Jun ?” tanya papa Arman penasaran.


”Kerjaan Theo yang iseng, ngambil foto Juna berdua sama Cilla, termasuk pas Juna nggak sengaja meluk. Cilla gara-gara mau jatuh.”


“Peluk Cilla ?” mata papi Rudi menyipit membuat papa Arman tertawa. “Belum lama kenal udah berani peluk-peluk anak papi ? Lagipula bukannya status kamu waktu itu masih pacarnya Luna ?”


“Nggak sengaja, Pi. Beneran nggak sengaja. Kita berdua lagi duduk di halaman Lawang Sewu. Posisi nggak pas, Juna mau jatuh dan akhirnya malah peluk Cilla.”


“Dasar guru mesum, ya !” papi Rudi melotot. “Berani-beraninya duduk berduaan sama muridnya.”


“Kan di publik area, Pi. Ramai juga,” Arjuna cengengesan. “Lagian Cilla kayaknya senang juga dipeluk sama Juna.”


“Kalau belum jadi menantu, Papi bakal pikir ulang sebelum terima kamu balik,” omel papi Rudi dengan wajah kesal. “Belum jadi pacar udah peluk-peluk dan main langsung cium-cium Cilla lagi !”


Arjuna hanya tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuknya sementara papa Arman masih menertawakan interaksi besan dan putranya.


“Udah terlanjur, Pi,” sahut Arjuna masih dengan senyuman canggungnya. “Jangan dipisahin lagi, kasihan anak bebek Juna kalau jauh-jauh dari kolam pribadinya.”


“Jadi kamu ngatain Papi bapak bebek ?” Papi Rudi mendelik.


“Eh nggak gitu, Pi.” Papi Rudi mendengus kesal.


“Ternyata yang bisa buat aku garuk-garuk kepala bukan cuma anakmu doang, Rud. Anakku bisa bikin kamu sebal dan kehabisan kata-kata juga. Pantas aja mereka sama-sama jodoh,” ujar papa Arman sambil tergelak.


“Bisa kamu bayangkan gimana mereka berdebat dulu pas mau bikin cucu untuk kita.”


“Awas aja kalau anakmu itu berani mengintimidasi anakku yang masih polos itu,” gerutu papi Rudi.


“Ya ampun Papi, masa iya Arjuna mengintimidasi Cilla soal bikin cucu buat papi sama papa,” sahut Arjuna sambil senyum-senyum. “Kalau soal itu kayaknya Cilla nggak polos-polos amat.”


“Pacaran aja belum pernah, kamu yang pertama langsung jadi suami. Kalau kamu kan udah pengalaman.”


“Kan dari segi umur juga lumayan beda jauh, Pi. Kalau sampai Juna belum pernah pacaran sama sekali, papa sama mama pasti udah ketar ketir.”


“Alllaaahh punya pacar tapi bisanya dibodohin terus,” cibir papa Arman. “Diporotin mau aja sampai habis-habisan. Pakai maksa mau dinikahin juga. Bisa-bisa setelah menikah, kamu jadi suami yang ditindas istri, diusir dari rumah cuma bawa baju nempel di badan.”


“Udah lewat, Pa. Udah berlalu. Juna kan juga udah sadar dan bertobat.”


Papa Arman tertawa dan papi Rudi senyum-senyum melihat kelakuan menantunya.


“Memangnya kamu sudah proses buat cucu untuk papi sama papa kamu ?” tanya papi Rudi.


“Duh Papi, malu atuh membahas masalah begini biarpun sama mertua dan papa sendiri,” sahut Arjuna sambil senyum-senyum.


”Jangan ge-er,” papi Rudi melotot. “Papi lagi mempertimbangkan apa Cilla masih cocok sama kamu atau nggak. Mumpung anak papi masih utuh, jadi masih bisa dipertimbangkan kemungkinan ke sana.”


“Duh Papi tega amat sih, Juna udah jadi suami idaman begini.”


“Idaman menurut siapa ? Yola ? Luna ?” tantang papi Rudi.


“Idaman buat anak papi, dong,” Arjuna senyum-senyum.


“Sepertinya Cilla setengah terpaksa soalnya udah terlanjur kamu peluk-peluk dan ambil paksa ciuman pertamanya,” cibir papi Rudi.


”Cilla nggak terpaksa, Pi. Percaya deh sama Juna kalau Cilla itu sama bucinnya kayak Juna. Dan soal peluk sama cium, kan Juna sekarang udah tanggungjawab menikahi anak Papi.”


“Ooo jadi terpaksa karena sekedar tanggungjawab ?” Papi Rudi makin membesarkan matanya melotot pada Arjuna.


“Eh nggak gitu maksudnya, Pi,” sahut Arjuna sambil tersenyum kikuk, apalagi melihat papi Rudi langsung bertolak pinggang.


”Besok sore kita balik ke Jakarta,” tegas papi Rudi. “Papi mau ngomong sama Cilla supaya pikir ulang soal kamu, mumpung Cilla belum diapa-apain.”


“Duh masa Papi tega sih pisahin Juna sama Cilla lagi,” wajah Arjuna langsung memelas.


Papi Rudi hanya berdecak dan meninggalkan Arjuna dan papa Arman.


“Pi, jangan tegaan gitu, dong. Kalau begitu sanpai di Jakarta, Juna langsung eksekusi Cilla biar nggak bisa dipisahin lagi,” ujar Arjuna setengah berteriak.


“Hussst Jun,” papa Arman memukul bahu putranya. “Jangan teriak-teriak, apalagi membahas masalah rsnjang.”


Arjun hanya cengengesan dan Papi Rudi hanya mengangkat tangan dan melambai tanpa berbalik badan membuat Arjuna cemberut karena merasa diabaikan.


Papa Arman tertawa melihat eskpresi wajah anaknya.


“Papa nggak ada niatan sama sekali membela anaknya gitu ?”


“Belain apa ? Kamu kan sekarang sudah jadi suami yang harus bertanggungjawab sama istri, masa masih minta perlindungan sama papa,” ledek papa Arman,


Arjuna berdecak dan menggerutu dengan wajah kesal membuat papa Arman susah menahan tawanya.


Sementara papi Rudi yang berjalan menjauh terlihat senyum-senyum. Hatinya bertambah lega melihat bagaimana Arjuna memang benar-benar mencintai Cilla meskipun sikapnya sedikit kekanak-kanakan kalau sedang berada di tengah keluarga.


Papi Rudi lega karena Arjuna bukan saja menantu dan suami yang baik, tapi juga seorang calon pemimpin yang patut diacungi jempol.


Saat peninjauan lokasi bersama perusahaan MegaCyber, terlihat totalitas Arjuna sebagai seorang CEO yang handal dan memikirkan banyak hal bukan hanya dari segi materi saja.


Papi Rudi semakin melebarkan senyumannya. Doa yang terbaik selalu papi ucapkan untuk kebahagiaan Cilla yang kini sudah memiliki pendamping hidup sebaik Arjuna.