
Di rumah keluarga Cilla, Arjuna terlihat senyum-senyum sendiri saat mengikuti Bik Mina menuju ruang makan. Pembicaraannya dengan Cilla sudah terputus, tapi hatinya justru berdebar bahagia.
Ternyata Cilla bisa juga tersipu malu sampai tidak mampu bicara apa-apa saat Arjuna mengucapkan kata cinta. Untung saja teman-temannya seperti suporter bola yang suka teriak-teriak memberi semangat, Arjuna jadi tahu bagaimana ekspresi Cilla meski jauh darinya.
“Ini titipan dari Tuan, Den Juna,” suara Bik Mina membuyarkan lamunan Arjuna tentang Cilla yang sedang tersipu malu di depan para sahabatnya.
Juna mengernyit tapi menerima juga pemberian Bik Mina dan mengucapkan terima kasih. Saat ia melongok isi dalamnya , matanya kembali mengernyit. Isinya pakaian untuk bermain golf lengkap dengan sarung tangan dan topi.
Dalam hati Arjuna bertanya-tanya, darimana Pak Darmawan tahu kalau ia bisa bermain golf ? Bukankah Pak Darmawan mengenalnya sebagai Arjuna yang bekerja sebagai guru dan tinggal di tempat kost sederhana ?
Daripada pusing menebak-nebak, akhirnya Arjuna pun berganti baju di kamar tamu yang ditunjukkan oleh Bik Mina. Saat ia selesai dan keluar dari kamar, terlihat Pak Darmawan keluar juga dari salah satu kamar yang ada di lantai satu.
“Apa kita akan bermain golf pagi ini, Om ?” tanya Arjuna sambil berjalan beriringan menuju ruang makan.
“Iya. Om dengar kamu cukup mahir dalam permainan ini,” sahut Pak Darmawan tertawa pelan.
Keduanya sampai di ruang makan dan Pak Darmawan langsung mempersilakan Arjuna untuk duduk bersamanya menikmati sarapan pagi.
“Sepertinya perbincangan kita akan panjang siang ini, karena saya butuh penjelasan kenapa anak Arman Hartono sampai meninggalkan tanggungjawabnya sebagai penerus Indopangan Makmur,” ujar Pak Darmawan santai.
“Jadi Om sudah tahu kalau saya ini bukan sekedar karyawan di Indopangan Makmur ?”
“Tentu saja, saya tahu sejak pertama kali kita bertemu,” sahut Pak Darmawan sambil tersenyum. “Sudah menjadi kebiasaan Pak Slamet untuk mencari tahu latar belakang para guru sebelum mempekerjakan mereka di SMA Guna Bangsa. Sangat penting, karena pekerjaan kalian berhubungan langsung dengan anak-anak yang sangat kritis dan dalam usia yang rawan. Dan tidak terlalu sulit untuk mengaitkan nama keluargamu dengan Indopangan Makmur.”
“Maaf saya tidak bermaksud berbohong pada Om ataupun sekolah,” ujar Arjuna dengan canggung. “Saya punya alasan kuat kenapa memutuskan untuk keluar dari perusahaan papa dan bekerja sebagai guru.”
“Asal jangan alasanmu demi mengejar anak saya,” ujar Pak Darmawan sambil tertawa.
“Ngg… eehh…” Arjuna mengusap tengkuknya sambil tersenyum kikuk. “Saya baru kenal dengan Cilla saat pertama kali datang ke SMA Guna Bangsa untuk wawancara, Om. Sebelumnya kami tidak pernah bertemu.”
Pak Darmawan hanya tertawa dan mengangguk. Tidak lama keduanya langsung berangkat ke lapangan golf diantar oleh Pak Muchlis, sopir khusus untuk Pak Darmawan.
Pertama kalinya Arjuna bermain di lapangan golf yang dipilih oleh Pak Darmawan. Semula gerakannya terlihat kaku karena sudah hampir sembilan bulan tidak pernah lagi memegang tongkat golf. Tapi hanya sebentar, Arjuna sudah bisa menyesuaikan diri kembali.
Permainan hanya berlangsung selama 2 jam karena Pak Darmawan terlihat cukup letih. Sesudahnya, Pak Darmawan mengajak Arjuna untuk menikmati makan siang di café yang berada di area lapangan.
“Jadi kamu sudah siap untuk menceritakan alasanmu keluar dari perusahaan dan memilih jadi guru ?” tanya Pak Darmawan saat keduanya sudah selesai memesan makanan.
Wajah Arjuna terlihat ragu. Ia agak sungkan untuk bicara banyak dengan Pak Darmawan sebagai pemilik sekolah tempatnya bekerja, bukan dalam posisinya sebagai papinya Cilla. Apalagi ini baru kedua kalinya, Arjuna terlibat dalam pembicaraan formal dengan Pak Darmawan.
Tapi sepertinya tidak ada pilihan lain bagi Arjuna untuk menghindar. Arjuna sudah memutuskan ingin menjalin hubungan serius dengan Cilla, karena itu ia pun harus berterus terang tentang situasi yang dihadapinya pada Pak Darmawan sebagai orangtua Cilla.
Arjuna pun menceritakan secara garis besar perihal rencana papanya yang ingin menjodohkan dirinya dengan putri sahabatnya, rencananya yang gagal menikahi Luna dan keputusan papanya kalau sampai Arjuna menolak permintaan perjodohan itu. Arjuna juga sempat menceritakan bagaimana ia bisa sampai melamar sebagai guru di SMA Guna Bangsa.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan kalau papamu tidak memberikan pilihan lain selain menerima perjodohan itu ?’ tanya Pak Darmawan sambil menikmati pesanan makanan mereka yang sudah diantar.
Arjuna terdiam sejenak untuk berpikir. Keputusan yang akan diambil oleh Arjuna tak ubahnya seperti buah simalakama, mau dimakan atau tidak sama-sama punya resiko.
“Saya sudah punya rencana untuk mencoba bicara baik-baik sama papa tentang hubungan saya dengan Cilla. Semoga papa menerima keputusan saya untuk memilih Cilla dan bukan putri temannya.”
“Cilla sudah cerita kalau mantan pacar kamu adalah Mia, anak mantan istri kedua saya.”
“Nggg… iya, Om. Saya juga baru tahu saat mereka tidak sengaja bertemu di café dan kebetulan juga saya dan adik saya sedang ke sana.”
“Apa kamu sudah yakin kalau perasaanmu pada Mia sudah tidak bersisa ? Om dengar kalau kamu menyukai Mia sudah dari SMA.”
“Kalau masalah itu saya yakin betul, Om. Saya memang pernah menyukai Luna sejak masih sekolah, tapi buat saya yang namanya pengkhiatan adalah akhir dari segalanya.”
“Lalu kalau setelah berbicara dengan papamu soal Cilla dan beliau tetap bersikukuh pada keputusannya, langkah apa yang akan kamu ambil selanjutnya ?”
Arjuna kembali terdiam. Setelah menghabiskan makanan di mulutnya, Arjuna mengambil gelas air dan meminumnya sedikit.
“Saya tetap akan menjalankan profesi sebagai guru dan tetap memilih Cilla, Om,” sahut Arjuna dengan tegas dan senyuman.
“Om tidak ingin mempunyai calon menantu yang membangkang pada orangtua,” ujar Pak Darmawan santai namun membuat jantung Arjuna seperti dihantam godam.
“Apalagi kamu adalah satu-satunya anak lelaki yang pasti diharapkan oleh Arman untuk menjadi penerusnya. Kalau kamu tetap bertahan memilih Cilla, berarti kamu adalah laki-laki egois yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Bagaimana Om bisa melepas putri satu-satunya pada pria semacam itu. Bahkan orangtua yang sudah membesarkanmu ditinggalkan hanya demi mendapatkan keinginan dirimu sendiri. Lalu bagaimana kalau sampai kalian berumahtangga ? Bukan tidak mungkin kamu anak meninggalkan anak Om jika suatu saat nanti kamu akan dihadapkan pada pilihan yang sama, antara istri atau ambisimu,” ujar Pak Darmawan panjang lebar.
Arjuna terdiam dan tersenyum getir mendengar ucapan Pak Darmawan sebagai papinya Cilla, kekasih hati Arjuna.
“Sampai urusan dengan papamu sudah jelas dan keputusan sudah didapat, tolong jangan terlalu dekat dengan Cilla melebihi batas guru dan murid.”
Arjuna terperangah, menatap Pak Darmawan dengan tatapan tidak percaya. Itu artinya Arjuna tidak boleh menjadi pacar Cilla saat ini.
“Om akan menerimamu dengan tangan terbuka saat papamu mengijinkan melepas perjodohanmu dengan putri temannya. Di saat itulah silakan kamu datang ke rumah dan buktikan kalau kamu serius dengan putri om.”
“Jadi itu artinya kami harus putus, Om ?” tanya Arjuna dengan wajah sedih.
“Terserah dengan istilah yang kalian pakai, tapi Om tidak mengijinkan kamu dekat dengan Cilla. Saat ini kamu hanyalah seorang guru di sekolah Cilla. “ ujar Pak Darmawan dengan tegas membuat Arjuna langsung tertunduk lesu.
“Kamu adalah lelaki pertama yang menyandang status pacar Cilla. Bukan Om tidak tahu kalau selama bertahun-tahun Jovan juga mendekati Cilla, namun selalu ditolaknya. Di usianya yang masih sangat muda, ia justru memliih kamu untuk menjadi tambatan hatinya. Kamu tahu kenapa ? Selain karena kamu tampan, dalam hati kecilnya Cilla mengharapkan ada perhatian dan kasih sayang yang berbeda dari laki-laki seusianya. Semua itu karena selama ini Om sangat tidak memperhatikannya sebagai seorang ayah. Cilla tumbuh dan dewasa dengan hati yang penuh kerinduan akan perhatian dan cinta orangtua. Hanya Bik Mina dan Pak Trimo yang selama ini selalu menjadi orangtua pendampingnya. Om yakin kalau kamu sudah bertemu dengan mereka saat liburan ke Semarang waktu itu.”
Arjuna mengangguk pelan dan kembali menunduk. Perasaannya langsung campur aduk karena ia cukup mengerti dengan pikiran Pak Darmawan, tetapi hatinya tidak bisa diajak kompromi, rasanya sulit membuang rasa cintanya pada Cilla.
Selama ini dia sudah menghindari hatinya dan berpura-pura tidak memiliki rasa pada Cilla, namun semakin menghindari semakin hatinya meronta ingin bicara apa adanya. Dan sekarang saat Arjuna sudah jujur pada dirinya sendiri bahkan sampai rela menjilat ludahnya sendiri, keadaan justru membuatnya harus menghadapi situasi yang menyakitkan hatinya.
“Saya akan segera menemui papa dan membicarakan masalah ini pada beliau, Om,” dengan mengumpulkan kekuatan untuk berusaha tegar Arjuna mendongak dan menatap wajah Pak Darmawan.
“Dan saya akan memastikan akan kembali pada Cilla dengan restu dari papa tanpa menyakiti putri teman papa dan keluarganya.”
Pak Darmawan tesenyum sambil mengangguk-angguk.
“Saya hanya bisa memberimu waktu 3 bulan, Arjuna. Kalau sampai waktunya kamu belum berhasil mendapatkan restu dari papamu untuk melepaskan perjodohan itu dan memilih Cilla, maka Om akan menerima lamaran teman Om.”
Arjuna langsung membelalak. Ia sudah menangkap maksud kalimat Pak Darmawan.
“Jadi Om sudah punya pilihan untuk Cilla ?” tanya Arjuna dengan sedikit bergetar.
“Sebetulnya sudah ada dua sahabat yang ingin menjadikan Cilla menantu mereka. Satu sahabat om dari waktu sekolah dan satu lagi adalah orangtua Jovan.”
“Jovan ? “ ulang Arjuna menegaskan pendengarannya.
“iya, murid kamu juga. Sebetulnya sudah lama orangtua Jovan ingin menjodohkan anaknya pada Cilla, tapi Om tahu kalau Cilla belum bisa memaafkan Jovan karena kejadian Mia. Dan Jovan adalah sahabat baik Cilla yang menurut om sendiri adalah calon menantu idaman. Tapi semuanya kembali pada Cilla. Setidaknya om akan memberikannya pilihan, karena yang satunya lagi adalah anak sahabat om, lelaki dewasa yang usianya terpaut cukup jauh dengan Cilla.”
Arjuna menghela nafas dan menoleh ke arah lain. Ternyata anak bebek kesayangannya sudah punya penggemar para orangtua yang ingin menjadikannya menantu mereka.
Arjuna kembali menghela nafas. Ia akan membuang segala rasa gengsi dan egonya demi cintanya pada Cilla. Arjuna akan segera menemui papa Arman untuk menyelesaikan permasalahannya. Tinggal soal perjodohan yang belum tuntas. Untuk masalah Luna , Arjuna sudah mengikuti permintaan papanya untuk putus denga wanita itu.
Dari seberangnya, Pak Darmawan tersenyum tipis melihat kegundahan hati Arjuna. Tatapan Arjuna menyiratkan otaknya sedang berpikir keras.
Langkah yang sulit ini harus dijalankan oleh Pak Darmawan demi putrinya. Pak Darmawan setuju dengan permitaan Arman untuk menguji kesungguhan Arjuna mencintai Cilla. Dan masalah yang disampiakan pada Arjuna sekarang, sudah dibicarakan juga dengan Pak Arman sebagai orangtua guru matematika ini.
Selamat berjuang, Arjuna ! Tidak semudah itu mendapatkan sesuatu yang berharga, sudah pasti akan ada Syarat dan Ketentuan yang berlaku supaya kamu belajar menghargainya, batin Pak Darmawan sambil tertawa.