
Cilla menyenderkan kepalanya di punggung Jovan saat cowok itu sedang melajukan motornya. Kalau sudah begini keadaannya, akan sia-sia menanyakan banyak hal pada Cilla.
Akhirnya Jovan membawa Cilla ke taman yang sering didatangi Cilla dan Arjuna saat pertama kali mereka bertemu. Pujasera istilah Cilla.
“Kita duduk santai di sini dulu, ya ?” Jovan menoleh ke belakang dengan posisi motor sudah berhenti.
Cilla mengangguk dan perlahan turun dari motor. Cilla memberikan helmnya untuk dititipkan di tempat penitipan dekat parkiran motor.
“Sorry bukan maksud gue mengingatkan elo sama Pak Juna dengan mengajak ke tempat ini. Gue tahu elo lebih suka tempat terbuka daripada diajak ke resto, dan cuma tempat ini yang terpikir sama gue.”
“Elo sendiri sering kemari ?”
“Beberapa kali sama anak-anak , olahraga bareng sekalian cuci mata,” sahut Jovan sambil terkekeh.
“Dih dasar ! Katanya menunggu gue dengan setia,” Cilla mencebik.
“Namanya juga usaha, harus ada rencana cadangan,” Jovan tergelak.
Cilla hanya tersenyum tipis. Kedua tangannya memegang pinggir bangku semen yang mereka duduki sambil menggoyang-goyangkan kedua kakinya.
“Kalau mau nangis, nangis aja. Jangan suka ditahan-tahan. Nggak bakal gue ketawain. Lagian elo tadi diapain sama Pak Juna ?”
Cilla menghela nafas panjang. Rasanya memang ada yang ingin meledak dari dalamhatinya.
“Tadi gue lihat Pak Juna ciuman sama cewek, di sini,” Cilla menunjuk ke bibirnya. “Gue belum tahu persis siapa, tapi sepertinya sekretarisnya Mas Juna. Rasanya gue nyesek banget. Sengaja datang nemuin Mas Juna mau tanya kenapa nomor gue diblokir sekalian mau kasih kejutan, eh malah gue yang dikejutkan. Dengkul langsung berasa lemas loh, Jo. Kayak nggak punya tulang gitu.”
“Tapi untungnya tulang lo masih aman nggak ada yang copot. Kalau nggak mana bisa lari terus boncengan motor sama gue,” sahut Jovan sambil terkekeh.
“Rasanya kok kayak begini kalau lihat pacar berkhianat ya, Jo ?” Cilla memegang dadanya yang terasa sesak.
”Pertama : gue nggak tahu persis rasanya karena gue belum pernah pacaran. Pas lagi ngejar kata maaf lo, terus terang gue berasa sedih karena elo cuekin dan malah dekat dengan cowok lain, tapi nggak sakit hati. Kedua : elo itu cewek yang punya ilmu bela diri. Kenapa nggak elo deketin mereka berdua dan langsung elo tendang satu persatu. Masalah penjelasan Pak Juna, itu urusan belakangan.”
“Terus kalau gue sampai kalap dan mereka kenapa-kenapa, gimana ?”
“Tinggal bawa ke rumah sakit. Kalau sampai patah tinggal ganti aja sama tulang gajah. Kalau nggak mau ya bawa ke tukang urut. Gitu aja kok rumit,”
Cilla malah tertawa mendengar ocehan Jovan.
Itulah bedanya cewek sama cowok, saat dihadapkan pada situasi genting, kalau cowok logikanya yang jalan dulu, sementara cewek hatinya yang langsung kerja.
“Pak Juna itu pria dewasa yang MATENG - mapan dan ganteng. Wajar kalau banyak dikejar-kejar cewek, kayak gue dan gambaran gue di masa depan,” Jovan tergelak.
“Jovan iihh,” Cilla memukul bahu sahabatnya. “Gue udah pasang tampang serius malah denger elo ngelawak.”
“Ngelawak tapi serius, Cil. Elo harus nyadar, belum sampai tigapuluh tahun, posisi Pak Juna itu udah CEO, anak pemilik perusahaan yang cukup ternama. Udah pasti banyak cewek yang targetin dia jadi inceran. Nah di sini elo harus berpikir sedikit dewasa, jangan baperan. Soal tuh cewek yang ciuman sama Pak Juna, memangnya udah pasti kalau itu selingkuhannya Pak Juna ? Cewek-cewek begitu kalau diibaratkan kayak lintah, kalau udah nempel, isap darah dan susah lepas, perlu garam buat bikin mereka copot. Ya garamnya Pak Juna itu elo, calon istrinya. Kecuali buat pengobatan, mana ada manusia yang sengaja menyodorkan dirinya buat dihisap sama lintah.”
“Gue kekanak-kanakan dong, Jo ?” Cilla mengerjapkan matanya menatap Jovan dari samping.
“Nggak !” Sahut Jovan tegas. “Wajar kalau elo cemburu atau salah paham, apalagi sebelumnya Pak Juna memang kelewatan juga. Masa bisa nggak sadar kalau nomor calon istrinya keblokir. Memangnya dia nggak mikir pas nggak ada satu pesan pun dari elo ? Udah pasti dia tahu kebiasaan elo yang suka bawelin dia. Nah di sini, gue dukung tindakan elo untuk langsung datang dan tanya alasannya sama Pak Juna.”
Cilla menghela nafas dan menundukan kepalanya sambil kembali menggoyangkan kakinya.
“Cil, elo itu ibarat buah yang diperam, dipaksa matang sebelum waktunya. Akhirnya dari luar kulitnya kelihatan ranum dan matang, tapi pas dikupas ternyata rasa daging buahnya masih asam dan tidak enak. Jadi jangan maksain diri untuk menjadi dewasa jauh di atas usia elo. Pak Juna kenal elo sebagai muridnya di SMA, bukan Cilla karyawannya di kantor. Elo nggak perlu memaksa diri untuk setua Pak Arjuna. Belajar dewasa itu bertahap Cil, sesuai umur. Apa elo nggak sadar kalau calon suami elo biar lebih tua 9 tahun tapi kelakuannya aja masih sering kayak anak-anak. Kalau udah cemburu, ngambeknya lebih dari anak tetangga gue yang umurnya baru 5 tahun, kudu dibujuk sama dikasih permen.”
“Terus sekarang gue harus gimana, Jo ?”
“Jangan menyesali apa yang udah elo lakuin sekarang, karena seperti gue udah bilang tadi, aneh banget kalau sampai dua hari Pak Juna nggak sadar nomor elo terblokir. Elo itu calon istri yang bakal dinikahinnya sebulan lagi, bukan sekedar muridnya yang sebentar lagi bakal dilepas karena sudah tamat sekolahnya. Lagian ini bukan pertama kalinya, kan Pak Juna kelakuannya minus begini ? Gue nggak lupa curhatan elo yang kesel pas lagi di Singapura. Gue nggak berhak untuk menentukan keputusan yang akan elo ambil, Cil. Pertimbangkan baik-baik kalau elo masih mau lanjut sama Pak Juna. Tegaskan kembali kalau kebiasaannya ini nggak bisa elo terima karena memang normalnya, pasangan itu saling memberikan kabar kalau sedang jauh. Pak Juna kok bisa masa bodoh nggak kasih kabar atau tahu keadaan elo gimana. Mungkin Pak Juna akan butuh waktu, dan elo sendiri, apakah siap menerima kondisi calon suami elo ini ?”
“Gue yakin kalau Pak Juna pasti bakalan maksa ketemuin gue buat kasih penjelasan,” ujar Cilla sambil menoleh ke arah Jovan.
“Semua penjahat berhak untuk mengungkapkan alasan dsn melakukan pembelaan diri, tapi masalah keputusan akhirnya bersalah apa nggak kan tergantung hakim berdasarkan fakta-fakta yang ada. Jadi elo kasih kesempatan dulu sama Pak Juna dan dengar pembelaan diri dari dia. Masalah akhirnya gimana, itu terserah elo. Tapi ingat !” Jovan mengangkat telunjuknya di depan wajah Cilla.
“Jangan gampang memutuskan karena rasa kasihan atau takut kehilangan. Kata orang bijak, jodoh itu nggak lari kemana, kayak gunung nggak bakal lari sekalipun dikejar.”
Tiba-tiba Cilla tertawa pelan membuat Jovan menautkan kedua alisnya. Tangannya langsung memegang kening Cilla.
“Elo belum konslet kan, Cil ?”
“Asem lo !” Cilla mendelik. “Elo itu cocoknya masuk IPS bukan IPA. Dari tadi omongan elo selalu pakai istilah-istilah, mulai dari buah, pengadilan sampai ujung-ujungnya gunung.”
“Eh Bocil !” Jovan melotot dan merubah posisinya menyamping ke arah Cilla. “Otak elo lagi sedikit terganggu gara-gara cinta guru somplak, jadi kalau nggak pakai perumpamaan, gue yakin pikiran waras elo nggak nyampe. Apalagi gue nyadar kalau elo itu kelihatan di luar doang kayak udh dewasa, aslinya mah anak kecil banget,” Jovan mencebik dan Cilla tergelak.
“Eh elo kok tahu gue main petak umpet sama Pak Juna ?” mata Cilla menyipit memperhatikan wajah Jovan.
“Gue ini sahabat elo dari masih unyu-unyu, masih hafal kebiasaan elo. Nggak ingat elo pernah kabur dari Bik Mina pas disuruh makan sayur bayam ? Pura-pura sakit perut terus kabur ke rumah gue?”
Cilla tergelak dan mengangguk-angguk teringat dengan kejadian yang baru saja diucapkan oleh Jovan.
Suasana hati Cilla sudah sedikit membaik. Keduanya mulai berbincang tentang kenangan masa kecil mereka.
“Kita kok dekat dari kecil tapi nggak pernah punya perasaan cinta cowok cewek ya, Jo ?”
“Itu namanya bukan jodoh, Oon,” Jovan menoyor kening Cilla membuat gadis itu cemberut.
“Terus kalau gue berjodoh sama Pak Juna dan elo sama Amanda, kesannya kita nggak bisa jauh-jauh banget.”
“Mungkin di kehidupan sebelumnya kita berdua itu saudara dekat atau malah kembaran,” ledek Jovan.
“Diihh ogah banget punya kembaran kayak elo,” Cilla mencebik. “Cowok ganteng yang otaknya setengah.”
“Mana otak gue setengah ?” Cebik Jovan. “Gue ini terlalu pintar makanya otak elo yang kecilnya sesuai badan lo nggak bakal bisa nyamain punya gue.”
“Eh mulai main fisik nih !” Cilla mendelik dan memutar posisiya menyamping berhadapan dengan Jovan.
“Udah sana beliin gue minum. Disuruh jadi teman curhat tapi dibeliin minum aja nggak. Haus banget nih, kebanyakan ngomong sama elo.”
Cilla megeluarkan dompet dan selembar uang limapuluh ribuan lalu menyodorkan pada Jovan. cowok itu menautkan alisnya dan menatap Cilla dengan wajah penuh tanya.
“Elo yang beli, gue yang bayar. Sebagai cowok sejati…”
“Udah jangan dilanjutin, bisa mendadak mules gue. Bilang aja malas jalan, masih mau ber-melow-melow sendirian.”
Jovan bangun dan mengambil uang yang disodorkan Cilla. Gadis itu hanya tertawa dan membiarkan Jovan meninggalkannya sejenak.
Cilla memutar kembali posisi duduknya dengan kedua tangan kembali berpegangan di pinggir bangku. Terlihat beberapa kali ia menarik nafas panjang.
Tidak lama Jovan membawa dua botol air mineral dan dua es krim cone keluaran merk terkenal.
“Nih es krim strawberry. Gue yakin elo masih suka makan es krim kalau hati elo sedang galau.”
Cilla tersenyum dan mengambil pemberian Jovan. Suasana sempat hening karena keduanya menikmati minuman dingin dan membuka bungkus es krim.
“Rasanya masih enak,” celetuk Cilla sambil terkikik.
“Ya ampun Cilla, yang bikin es krim ini perusahaan gede, bukan es mambo buatan Mbak Suti di kantin. Udah pasti rasanya bakal stabil dan nggak berubah, kan bikinnya pakai mesin, bukan manual kayak Mbak Suti.”
Cilla tergelak karena ucapannya bisa memancing kekesalan Jovan.
“Jo,” ucap Cilla pelan setelah selesai tawanya. “Gue boleh pinjam bahu elo sebentar. Kepala gue rasanya berat banget.”
“Bayarannya apa ?” Ledek Jovan sambil menggeser posisi duduknya.
“Amanda,” sahut Cilla cepat. “Biarpun gue putusin Pak Juna, tapi gue tetap akan membantu usaha elo mendekati Amanda.”
“Tawaran yang menggoda,” Jovan menaik turunkan alisnya sambil tersenyum smirk.
“Udah cepetan, mau nggak ?”
“Come to papa,” Jovan menepuk-nepuk bahunya.
Cilla tertawa dan menyenderkan kepalanya di bahu Jovan sambil menikmati sisa es krimnya.
“Thanks Jo,” ucap Cilla dengan suara pelan. Jovan hanya mengangguk.
Dari kejauhan, Amanda yang kebetulan lewat dalam perjalanan pulang sekolah sengaja mampir saat melihat motor Jovan di parkiran.
Rencananya ingin pura-pura tidak sengaja bertemu Jovan di sana, tapi langkahnya terhenti saat melihat hanya ada Cilla dan Jovan berdua di sana.
Matanya mulai berembun saat melihat keduanya begtu akrab berbincang bahkan sekarang Cilla merebahkan kepalanya di pundak Jovan.
Kedua tangan Amanda mengepal dan ia memilih kembali ke mobil yang masih menunggunya. Mulutnya masih berkata tidak saat Jovan mendekatinya, tapi hatinya sakit saat melihat cowok itu kembali dekat dengan Cilla.