MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Bab 22 Pria Nethink


Saat Arjuna kembali ke dalam ruangan, ternyata Cilla sudah bergabung dengan para sahabatnya namun tanpa Dono.


Baru saja Arjuna berjalan ke arah mereka, semua yang duduk di situ sudah beranjak bangun. Rupanya mereka akan pamit kembali ke hotel.


“Don, kita pulang dulu,” Luki menepuk bahu sahabatnya yang sedang berbincang dengan beberapa tamu.


“Nggak tunggu sampai makan malam atau diusir dari sini ?” Ledek Dono sambil tertawa.


Dono pamit pada teman bicaranya dan berjalan menjauh bersama para sahabatnya.


“Pengennya sih ngintip elo bertanding malam ini. Bisa gol atau kena penalti,” ledek Erwin.


“Eh tuh mulut,” omel Dono sambil mendelik. “itu ada murid gue yang masih di bawah umur.” Dono menunjuk Cilla yang berdiri di antara Erwin dan Boni.


“Yaelah.. murid elo ini mah udah matang diperem,” sahut Luki.


Cila terkikik sementara yang lainnya tertawa.


“Ini bocah belum tujubelas tahun,” omel Dono lagi.


“Udah tahu jatuh cinta berarti udah gede,” celetuk Arjuna dengan nada menyindir.


Dono, Bono dan Luki melirik ke Arjuna dan Cilla bergantian, menanti reaksi Cilla yang mereka tahu sedang bad mood.


“Jangan dengar pendapat guru matematika, Om, kurang akurat. Beda kalau pendapat guru BK,” sahut Cilla dengan santai tanpa emosi sedikitpun.


“Eh memangnya cuma guru BK doang yang boleh kasih penilaian sama muridnya ? Memang raport kamu bisa dianggap sah kalau nilai matematikanya kosong ?” Arjuna malah terpancing emosi, matanya pakai melotot juga.


Teman-temannya ingin tertawa ngakak tapi takut Arjuna malah tambah emosi, sementara tamu-tamu Dono masih ada meski kebanyakan keluarga. Akhirnya mereka cuma berani tertawa cekikikan .


“Pak Dono, lebih baik Bapak istirahat buat mempertahankan stamina,” Cilla mengabaikan ucapan Arjuna yang berapi-api dan penuh emosi, membuat pria itu mengepalkan kedua tangannya yang gatal ingin menjewer telinga calon muridnya, bukan calon istri.


“Kalau soal itu, sudah dari seminggu lalu, Cil. Bisa-bisa langsung tepar saya kalau nggak minum suplemen,” jawab Dono santai dan membuat Erwin menepuk jidatnya sendiri.


“Yaelah ini Pak Guru, nasehtin orang supaya jangan ngomong sembarangan sama murid bocilnya, eh malah dia yang buka-bukaan soal stamina,” ujar Erwin sambil geleng-geleng kepala.


Dono mengernyit sementara Cilla tertawa.


“Ya ampun Om Erwin, dasar omes ya… Susah kalau ngomong sama om-om jones. Memangnya stamina cuma soal kamar doang ? Pak Dono kan musti mempersiapkan semuanya dan butuh kekuatan stamina. Kemarin saja sudah seharian ikut prosesi adat.”


Boni menoyor jidat Erwin. “Tuh denger kata bocil, Om Erwin kelamaan jadi jones jadinya perlu di restart otaknya.”


“Beuh, mentang-mentang situ udah punya gandengan,” Erwin mencebik dan yang lainnya tidak mampu lagi menahan tawa. Hanya Arjuna yang wajahnya masih cemberut karena omongannya diabaikan oleh Cilla.


Mereka pun berpamitan dengan Wiwik serta kedua orangtua pengantin baru itu. Dono mengantarkan keenam tamunya keluar.


“Kamu nggak panggil mereka Bapak juga, Cil ?” Tanya Dono sambil berjalan keluar. Keduanya berjalan di tengah-tengah, dan di belakangnya ada Arjuna dan Theo sementara di depan ada Luki, Erwin dan Boni.


“Mereka kan bukan guru saya, Pak.”


“Terus kenapa Om ? Umur mereka belum juga kepala 3,” Dono terkekeh.


“Mau dipanggil kakak muka om-om itu ketuaan, dipanggil mas juga nggak cocok. Mulut Cilla paling enak panggil om. Lagipula kan keren, panggilan om itu bisa membuat cowok terlihat dewasa dan berwibawa,” Cilla tekekeh yang diikuti oleh Dono.


“Kebiasaan sama om-om, Don,” sindir Arjuna dengan nada sinis.


Cilla menghentikan langkahnya mendadak, membuat Arjuna hampir saja menabraknya. Dono terkejut mendengar ucapan Arjuna yang terasa sedikit kererlaluan. Dono langsung melirik Cilla, begitu juga dengan Theo yang ada di samping Arjuna.


Cilla menarik nafas panjang dan sempat memejamkan matanya sesaat. Dono merutuki mulut Arjuna yang sembarangan mengeluarkan kata-kata. Theo juga terlihat tegang. Arjuna malah menggerutu karena Cilla berhenti mendadak.


Boni, Luki dan Erwin yang baru menyadari kalau orang-orang yang di belakang mereka tidak mengikuti, ikut berhenti dan berbalik badan.


Cilla membalik badannya dan menatap Arjuna dengan wajah datar meski pria itu menatapnya dengan senyuman sinis.


“Untung saja Bapak guru matematika dan bukan guru BK. Kasihan murid SMA Guna Bangsa kalau punya guru BK modelan Pak Arjuna. Punya otak pintar dipakai buat nethink sampai mulut Bapak nggak bisa nahan untuk menggibah orang tanpa tahu kondisi yang sebenarnya.”


Cilla menganggukan kepala pada Dono dan meneruskan langkahnya melewati Erwin, Luki dan Boni yang menautkan alis mereka karena tidak mengerti kejadian sebenarnya.


“Jun,” Dono menarik rekan gurunya itu ke sudut ruangan.


Keempat cowok lainnya memilih menunggu di mobil dan membiarkan dua guru itu berdiskusi.


Dono menggeleng. “Bukan itu yang mau gue bilang ke elo.”


Arjuna menautkan kedua alisnya menatap Dono. Wajah sahabatnya terlihat serius meski Arjuna sebetulnya malas membahas soal Cilla.


“Sejak dia jadi murid gue di kelas 10, belum pernah ada guru yang mengeluh kalau Cilla minta diperlakukan istimewa karena dia anak pemilik sekolah.”


“Buktinya Pak Slamet dan Pak Wahyu…” wajah Arjuna menekuk dan suaranya masih emosi.


“Bisa nggak jangan potong ucapan gue !” Dono melotot. “Gue baru sadar kalau omongan Cilla memang benar, elo tuh menggunakan kepintaran otak elo buat nethink sama orang.”


Arjuna berdecih dan tersenyum sinis.


“Elo nggak pernah ketemu tuh anak pulang malam, nongkrong dekat tempat gue kost, kan ? Malah bajunya bau rokok,” hidung Arjuna mengerut membayangkan bau rokok yang sering tercium dari badan Cilla saat mereka duduk makan bersama di taman biasa.


“Biarpun dia naik motor, bajunya nggak akan bau rokok, tapi asap knalpot,” lanjut Arjuna dengan raut wajah sinis.


“Apa elo pernah tanya kenapa bajunya bisa bau rokok ?” Dono menatap sahabatnya.


“Bukan urusan gue !” Sahut Arjuna ketus. “Cuma kemana lagi kalau bukan habis dugem ke tempat-tempat yang memang biasa penuh dengan asap rokok. Udah gitu ketemu guenya di atas jam 9 malam.”


Dono menarik nafas panjang. Dia sendiri tidak satu pemikiran dengan Arjuna karena biar bagaimana juga, Dono sudah menjadi guru Cilla selama 2 tahun.


“Bersikaplah netral saat elo menjadi guru nanti, Jun. Kalau memang bukan urusan elo, nggak usah kesal dengan tingkah laku anak didik elo. Mereka punya kehidupan sendiri, dan tanggungjawab elo sebatas guru yang mengajar di sekolah. Di luar, urusan mereka bukan lagi tanggungajwab elo.”


“Gue juga nggak pernah mau campur tangan soal Cilla. Tapi elo lihat sendiri kan, gimana tuh anak bersikap sama gue ?” Tanpa sadar suara Arjuna meninggi.


“Kalau elo nggak pancing omongan dia, Cilla nggak akan menjawab elo. Dan lagi gue yang tanya panggilan om, kenapa malah elo yang musti menanggapi dengan sinis kayak tadi ?”


Dono menarik nafas panjang karena merasa sulit bicara baik-baik dengan Arjuna.


“Gue nggak mau para sahabat gue terjebak sama umur Cilla dan sikapnya yang pura-pura polos. Kalian nggak tahu aja, dia…”


“Cukup Jun !” Dono mengangkat telapak tangannya di depan wajah Arjuna. “Elo baru mengenalnya tiga bulan lebih, jadi jangan menghakimi orang apalagi murid elo sendiri dengan cara seperti itu !”


Arjuna kembali memutar bola matanya. Raut wajahnya seakan menganggap omongan Dono hanya angin lalu.


“Lebih baik elo balik ke hotel. Tapi gue minta tolong, jangan bicara yang menyakitkan hati Cilla lagi. Gue sendiri tidak tahu persoalan yang sebenarnya, tapi gue pastikan kalau dia itu gadis baik-baik dan murid yang sangat menghormati para gurunya. Bahkan Bu Retno terkadang merasa sedih harus meghukum Cilla yang tidak pernah protes.”


“Tentu saja kalian semua akan membela dia karena takut dipecat dan di black list jadi guru,” Arjuna masih dengan mode sinisnya menjawab Dono.


“Suka-suka elo deh, Jun. Jangan sampai suatu saat nanti kata penyesalan yang keluar dari mulut elo karena salah kaprah soal Cilla.”


Dono tersenyum tipis. Jiwa keangkuhan seorang Arjuna yang pernah berada dalam posisi mudah mendapatkan segalanya, susah dihilangkan begitu saja. Pengalamannya sebagai seorang mantan CEO justru membuatnya mudah curiga dan berpikiran negatif pada orang lain karena sering dikelilingi oleh orang-orang yang berpura-pura baik dengan niat menjatuhkannya.


Dono berlalu ke arah halaman rumah, menghampiri para sahabat lainnya yang sudah menunggu di mobil.


Di balik tembok, Cilla yang tadi mendadak ingin ke toilet, sempat mendengar pembicaraan kedua gurunya. Tangannya terkepal menahan emosi mendengar ucapan Arjuna. Hatinya terasa sakit dan bertambah sakit karena merasa debaran aneh pada orang yang justru menghinanya.


“Cilla mana ?” Dono melongok ke dalam mobil.


“Tadi bilang ke toilet,” sahut Luki.


“Shit !” Umpat Dono dengan wajah kesal dan menarik nafas panjang.


“Kenapa Don ?” Theo bertanya dengan mengangkat sebelah alisnya. Kecuali Arjuna, yang lainnya ikut menatap Dono dengan tatapan penuh tanda tanya.


Dono menoleh ke arah pintu masuk rumah. Dilihatnya Cilla sedang berjalan mendekati mobil. Senyum lebar menghiasi wajahnya.


“Saya pamit, Pak,” Cilla kembali membungkukan badan dan membuka pintu depan sebelah sopir.


Dono hanya bisa mengangguk sambil tersenyum tipis. Masih bisa dilihat olehnya kalau mata muridnya agak basah seperti orang habis menangis.


Sementara di bangku belakang, Arjuna mendecih dan menatap Cilla dengan sinis.


“Dasar bocah bermuka dua ! Barusan pura-pura marah, sekarang bisa tersenyum lebar tanpa merasa bersalah,” gerutu Arjuna dalam hati.


Perlahan mobil meninggalkan pekarangan rumah keluarga Wiwik diriingi tatapan Dono yang berharap kalau Cilla akan baik-baik saja.