MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Tetap Sayang


Jumat siang, Cilla bolos saat pelajaran Arjuna. Lili dan Febi sudah mencarinya di UKS, perpustakaan, kantin bahkan halaman belakang. Semua itu atas perintah dari Arjuna. Meski wajahnya jutek dan mulutnya berkata pedas, tapi hatinya penuh rasa rindu dan khawatir pada anak bebeknya.


Jovan yang melihat kedua sahabat Cilla di luar kelas saat pelajaran kembali tergerak untuk mencari tahu. Ia yakin kalau keberadaan Febi dan Lili pasti ada hubungannya dengan Cilla.


Kali ini Jovan minta ijin saat pelajaran Pak Firman, guru biologi.


“Feb,” panggil Jovan menghampiri Febi dan Lili yang baru saja hendsk turun ke lantai 2. “Ada masalah apa lagi sama Cilla ?”


“Tuh anak menghilang, Van,” Lili yang menyahut. “Nggak ada jejaknya dimana-mana.”


“Memangnya lagi jam pelajaran siapa ?” Jovan menautkan kedua alisnya.


“Pak Arjuna,” kali ini Febi yang menyahut.


“Pantes,” gerutu Jovan sambil mengusap tengkuknya.


“Memangnya mereka berdua lagi ada masalah apa sih, Van ?” tanya Lili dengan alis menaut.


“Nggak tahu gue,” Jovan mengangkat kedua bahunya. “Cilla nggak cerita apapun sama gue.”


Saat ketiganya masih berbincang, terlihat Dono sedang naik meniku ke arah mereka.


“Kalian ngapain di luar lagi jam pelajaran ?” Dono memandang ketiganya bergantian.


“Diminta Pak Arjuna cari Cilla, Pak,” sahut Febi.


Dono mengangguk sambil tersenyum.


“Udah kalian masuk kelas sekarang. Cilla ijin pulang barusan,” sahut Dono sambil memberi isyarat pada ketiganya untuk kembali ke kelas.


“Ya ampun tuh anak, nggak bilang apa-apa pula. Tapi kok tasnya ditinggal, Pak ?” Lili yang berjalan di depan Dono bersama Febi , menghentikan langkahnya dan menatap Dono.


“Jangan kambuh deh keponya kalian,” ujar Dono sambil mengangkat kedua alisnya. “Cilla ada urusan keluarga mendadak.”


Jovan mengangguk memberi hormat pada Dono sebelum kembali ke kelasnya. Dono sendiri ternyata mengikuti keduanya sampai ke kelas XII IPS-1. Sampai di situ ia memanggil Arjuna yang sedang membantu menjelaskan soal latihan yang ditanyakan oleh beberapa murid.


“Maaf mengganggu Pak Ajuna,” ujar Dono di depan pintu kelas. “Apa bisa saya minta waktunya sebentar ?”


Arjuna mengangguk dan meminta murid-murid kelas XII IPS-1 melanjutkan latihan soal yang dibagikan oleh Arjuna.


“Elo masih belum baikan sama Cilla ?” tanya Dono saat keduanya berdiri di pembatas lantai 3 yang menghadap ke arah lapangan.


“Kenapa ? Dia curhat apa sama elo ?” tanya Arjuna sambil tersenyum sinis.


“Nggak sama sekali. Tapi siapa yang nggak bisa melihat kalau terjadi sesuatu di antara kalian. Bahkan Febi, Lili dan Jovan juga bisa melihatnya,” sahut Dono sambil tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.


“Ceritanya panjang,” sahut Arjuna malas.


Matanya menyipit mencoba mengenali dua sosok yang berjalan menuju gerbang sekolah. Terlihat kalau Cilla sedang dirangkul seorang pria, dan dari belakang pun Arjuna sudah bisa mengenali sosok itu.


“Theo tadi datang dan minta ijin langsung pada Pak Slamet untuk menjemput Cilla. Gue sempat diminta ketemu sebagai walikelas. Theo bilang ada keperluan keluarga yang mendesak.”


“Paling-paling dia ngadu masalahnya sama Theo,” ujar Arjuna sambil tersenyum sinis.


Arjuna sempat bertatapan dengan Theo, saat sahabatnya itu membalikkan badan, melepaskan kacamata hitamnya dan melambaikan tangan ke arah Arjuna dan Dono.


“Dasar pamer,” dengus Arjuna dengan wajah kesal.


Dono tertawa dan menepuk-nepuk bahu sahabatnya.


“Gue nggak tahu persis tentang masalah yang sedang kalian hadapi. Sebagai pria yang lebih dewasa seharusnya elo bisa bersikap lebih sabar dan membimbing Cilla, jangan hanya maunya dimengerti. Saat Luna membodohi elo berkali-kali, elo bisa begitu sabar menghadapinya dan berusaha memahami Luna. Apa karena Cilla masih anak SMA makanya elo cenderung berpikir kalau bicara sama dia akan jadi sia-sia ?”


“Maksud elo ?” Arjuna balik bertanya sambil mengerutkan alisnya.


“Kalau memang elo menganggap pikiran anak SMA hanya mengutamakan emosi dan terlalu idealis, berhentilah menyukai anak SMA. Cari pacar yang usianya sepadan sama elo. Jangan biarkan Cilla semakin menambah rasa cintanya sama elo, sementara pada akhirnya elo hanya memberikan dia harapan palsu.”


“Gue nggak pernah main-main soal perasaan, dan kalian semua pasti tahu soal itu. Tapi yang elo bilang itu betul, gue melihat pikiran Cilla terlalu idealis cenderung naif.”


“Kalau begitu lebih baik elo putusin dia sekarang, mumpung hatinya belum terlalu mencintai elo lebih dalam lagi,” Dono tertawa pelan sambil menepuk-nepuk bahu Arjuna.


“Ide gila !” omel Arjuna. “Nggak segampang itu membuang perasaan suka sama seseorang. Gue yakin elo yang paling mengerti karena sudah punya istri.”


“Kalau elo yakin dengan perasaan elo, buang jauh-jauh pikiran lo kalau Cilla itu sekedar anak SMA yang manja, kekanak-kanakan, cenderung emosional dan susah dimengerti. Sekalipun semua itu ada di dalam diri Cilla, elo harus terima apa adanya. Itu baru namanya cinta, Bro,” ujar Dono sambil tertawa pelan.


“Itu juga yang gue dan Wiwik lakukan sampai kami bisa masuk ke jenjang pernikahan. Kalau memang benar-benar cinta, terimalah apapun yang ada di dalam diri pasangan kita. Lengkapi kekurangannya dan hargai kelebihannya. Dengan begitu elo baru bisa bertahan, Jun. Jangan bisanya lari terus.”


Arjuna menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Matanya menangkap mobil Theo perlahan menjauh dari sekolah sampai hilang dari pandangannya.


“Jangan sampai elo menyesal karena Cilla memilih melepaskan elo dan menerima tawaran cinta yang lain,” ujar Dono sambil tersenyum tipis sebelum meninggalkan Arjuna.


Posisi Arjuna masih berdiri menatap ke arah gerbang sekolah. Kalimat terakhir yang diucapkan Dono mirip dengan maksud ucapan Jovan dua hari yang lalu.


Arjuna menghela nafas. Ia mengakui kalau Cilla istimewa bukan karena fisiknya, tapi karena inner beauty-nya. Dan biasanya pria-pria yang jatuh cinta pada perempuan karena kepribadiannya, cenderung akan bertahan lama.


“Memangnya jam terakhir pelajaran siapa ? Kok kayaknya nggak terima banget harus ninggalin kelas ?” goda Theo sambil tersenyum.


“Bukan masalah jam pelajaran siapa, tapi kenapa mendadak bahkan Cilla nggak sempat ambil tas juga,” gerutu Cilla sambil cemberut.


“Tas kamu akan dibawa sama Arjuna. Tadi kakak sudah kirim pesan sama dia,” sahut Theo sambil dengan wajah menggoda Cilla.


“Eh kenapa harus Pak Arjuna ? Nggak usah,” sahut Cilla cepat-cepat dengan wajah panik. Ia segera mengambil handphone yang sempat dibawanya dari saku roknya.


“Memangnya kenapa ?” tanya Theo dengan mata mengernyit. “Kan kalian pacaran.”


“Bukan lagi,” sahut Cilla cepat. Matanya fokus ke handphone mengirimkan pesan pada Febi dan Lili untuk membawakan tasnya ke rumah mereka. Cilla akan mengambilnya malam ini atau besok.


“Kok bisa ?” Theo pura-pura tidak mengerti.


Theo sudah tahu persoalan yang menimpa Cilla dan Arjuna, makanya ia sengaja menjemput Cilla di saat Arjuna mengajar di kelasnya.


Soal Pak Slamet yang langsung mengijinkan, itu karena Pak Darmawan sudah menghubungi sang kepala sekolah dan meminta bantuannya untuk memberi ijin Cilla dijemput oleh Theo.


Tentu saja Pak Slamet yang sudah tahu permasalahan Cilla dan Arjuna sejak awal langsung mengiyakan.


Theo melirik Cilla yang terdiam dan menoleh ke arah jendela samping. Setelah beberapa saat, terlihat gadis itu menghela nafas dan akhirnya mulai bercerita semuanya. Dimulai dari kaburnya Arjuna sampai rencana papi Rudi yang melarang Arjuna memacari Cilla selama urusan perjodohannya belum selesai.


“Jadi kamu anak SMA yang mau dijodohkan sama Arjuna ?” Mata Theo membelalak seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan Cilla.


“Ralat, Kak. Papi nggak pernah ada niat menjodohkan Cilla dengan Pak Arjuna, tapi Om Arman memaksa untuk berbesanan dengan papi. Bahkan saat makan malam, papi hanya ingin mempererat hubungan dengan sahabat lamanya, nggak tahunya Om Arman langsung bilang kalau beliau akan menjodohkan Cilla dengan anaknya.”


“Jadi sejak awal kamu sudah tahu kalau calon guru baru itu adalah cowok yang kabur saat acara makan malam kalian ?”


Cilla menggeleng dan kembali menceritakan bagaimana ia sampai tahu siapa Arjuna sebenarnya. Bagaimana ia juga menjalin hubungan dengan Amanda sampai akhirnya bertemu dengan Luna yang adalah mantan kakak tirinya.


“Ngomong-ngomong, sebetulnya kakak mau ajak aku kemana ?”


“Ketemu mami Siska,” sahut Theo santai.


Cilla hanya menggangguk sambil tersenyum senang. Sesudah itu, ia hanya duduk diam sambil menatap ke samping.


Theo tersenyum tipis dan membiarkan adik sepupunya itu larut dalam pikirannya. Terlihat dari mata gadis belia ini, betapa Cilla begitu mencintai Arjuna. Dari setiap cerita yang keluar dari mulutnya, Theo bisa menangkap kalau adik sepupunya ini sudah terperangkap dengan pesona Arjuna.


Sebagai sahabat sejak SMP, Theo cukup mengenal kepribadian Arjuna. Pria itu baik, supel dan setia namun emosinya cenderung gampang meledak. Kalau sudah emosi, Arjuna cenderung bersikap ceroboh dan berbicara tanpa dipikir.


Tadi sebelum meninggalkan sekolah, ia sengaja melambaikan tangan pada Arjuna yang sudah pasti melihatnya. Semua rencana itu hasil kerjasama Theo dan Dono.


Bahkan sebelum melajukan mobilnya, Theo sempat mengirimkan pesan pada Arjuna.


Gue tahu elo lagi ada masalah sama anak bebek.


Sebaiknya diselesaikan, bukan dibawa dalam hati akhirnya terbawa mimpi, bahkan menjadi mimpi buruk.


Sebagai sepupu Cilla dan sahabat elo, gue mendukung kalian berdua. Kalau elo memang serius sama adik sepupu gue, manfaatkan kesempatan ini, jangan buat gue berubah pikiran.


Bawain tas anak bebek ke rumahnya dan temui Cilla sebagai laki-laki dewasa yang berani menghadapi apapun demi mendapatkan cintanya.


“Kak,” panggil Cilla sambil menoleh menatap Theo yang masih fokus menyetir.


”Kakak sudah ketemu sama papi ? Papi sudah tahu kalau Kak Theo itu anaknya tante Siska ? Kok Pak Slamet bilang papi udah hubungi beliau dan langsung kasih ijin Kak Theo ajak aku pulang ?”


Theo hanya tertawa sambil mengacak-acak rambut Cilla dengan sebelah tangannya.


“Pantas saja Arjuna kasih kamu gelar anak bebek. Mulutnya memang bawel kayak anak bebek tapi bikin gemas.”


Sekarang tangan Theo mencubit pipi Cilla dengan gemas, membuat gadis itu langsung cemberut dengan bibir mengerucut. Theo hanya tertawa melihatnya.


Kembali ke SMA Guna Bangsa pada Arjuna yang baru saja kembali ke kelas dan mengambil handphone yang ditinggalnya di atas meja.


Dahinya berkerut membaca pesan dari Theo. Ia menghela nafas panjang. Malam ini prioritasnya adalah bertemu papa Arman. Bagaimana hasilnya, Arjuna masih belum berani berandai-andai.


Saat bel sekolah berakhir, Arjuna sengaja masih diam di kelas sementara murid-muridnya sudah berhamburan keluar kelas.


“Mau dibawa kemana tas Cilla ?” tanya Arjuna pada Febi yang sedang menjinjing tas Cilla.


“Rencana mau saya antar ke rumahnya, Pak. Tapi tadi Cilla sudah kirim pesan kalau besok Cilla yang akan ambil ke rumah saya,” sahut Febi.


“Biar saya yang antar,” Arjuna mengulurkan tangan meminta tas milik Cilla. “Hari ini dia tidak ada di rumah sampai malam.”


Febi dan Lili saling menatap karena dalam pesan Cilla sudah diwanti-wanti untuk tidak menitipkan pada Arjuna.


“Tapi Pak…” ujar Lili dengan wajah ragu.


“Apa perlu saya panggilkan Pak Dono untuk memastikan kalau saya yang diminta untuk membawakan tas Cilla ke rumahnya ?” Tanya Arjuna dengan wajah galak.


Febi dan Lili kembali saling menatap dan akhirnya Lili yang mengangguk. Febi pun menyerahkan tas Cilla pada Arjuna.