
Dua hari terakhir ini aktivitas Cilla kembali di rumah sakit. Seharusnya hari ini Cilla datang ke sekolah untuk tandatangan dan cap tiga jari ijazah, tapi semalam kondisi papi Rudi sempat drop lagi. Untung saja dokter Handoyo yang baru saja selesai praktek belum pulang.
“Mau Mas Juna antar ke sekolah sebentar terus balik lagi ke rumah sakit ?”
“Nggak usah. Cilla udah wa Pak Slamet tadi pagi soal kondisi papi yang nggak bisa ditinggal. Kemungkinan Pak Slamet mau datang kemari ajak Bu Tuti yang ngurus ijazah, sekalian pada mau besuk papi.”
“Ya udah kalau begitu, Cilla juga bisa tenang,” ujar Arjuna sambil mengusap wajah Cilla yang berbicara sambil memakaikan dasi Arjuna.
Keduanya memang sudah selesai mandi dan Arjuna sudah siap dengan pakaian kerjanya.
“Mas Juna,” Cilla mendongak dan menatap Arjuna setelah selesai memasangkan dasi Arjuna. “Rencana ke Batang bisa ditunda dulu sampai minggu depan ?”
“Bisa,” sahut Arjuna sambil mengangguk.
“Perasaan Cilla benar-benar lagi nggak enak banget. Kepinginnya Mas Juna kerja di Jakarta dulu aja, biar nggak jauh dari Cilla.”
Arjuna tersenyum sambil membawa Cilla ke dalam dekapannya lalu mengusap-usap punggung istrinya.
“Mas Juna akan kurangi pekerjaan dulu sampai akhir minggu ini biar bisa temani Cilla lebih lama di rumah sakit. Maaf ya kalau Mas Juna pulang malam terus beberapa hari ini.”
Cilla melerai pelukannya dan mendongak. Satu tangannya memegang pipi Arjuna.
“Cilla yang harusnya minta maaf karena udah buat Mas Juna harus terjebak dalam kondisi seperti sekarang ini. Maaf karena udah bikin Mas Juna capek banget.”
“Udah tugas suami,” sahut Arjuna sambil terkekeh. “Kan selalu ada cara untuk menghilangkan capeknya.” Arjuna langsung menyentuh bibir Cilla dengan telunjuknya membuat Cila tersipu.
Cilla menangkup wajah Arjuna sementara tangan pria itu masih memeluk pinggangnya. Cilla berjinjit sambil mendekatkan wajah Arjuna ke arahnya.
Bukan hanya kecupan selamat pagi tapi Cilla memberikan ciuman yang begitu dalam di bibir Arjuna membuat pria itu tercengang di awal tapi langsung membalas ciuman panas Cilla sambil memegang tengkuk Cilla dengan satu tangannya.
“Cilla.”
Suara lirih papi membuat Cilla melepaskan ciumannya. Arjuna sempat mengerutkan dahi karena tidak mendengar panggilan papi.
“Papi bangun dan panggil Cilla barusan,” ujar Cilla menjawab wajah bingung Arjuna.
Arjuna terdiam dan menajamkan telinganya, menunggu panggilan papi berikutnya. Cilla melepaskan pelukan Arjuna dan berjalan melewati suaminya itu mendekati ranjang papi yang akhirnya diikuti oleh Arjuna.
Terlihat papi masih berusaha membuka matanya dengan mengerjap-ngerjap.
“Cilla di sini sama Mas Juna, Pi,” ujar Cilla sambil menyentuh tangan papi.
Hati Cilla sedikit teriris saat memegang tangan papi yang terlihat sedikit lebih kurus setelah 6 hari berada di rumah sakit. Tidak lama Arjuna ikut berdiri di samping ranjang papi di sisi yang lain.
“Haus,” lirih papi.
Arjuna langsung menekan tombol pengatur ranjang elektrik yang digunakan papi hingga posisi papi setengah berbaring supaya lebih mudah untuk minum.
Cilla mendekatkan sedotan ke mulut papi dan memganginya supaya papi lebih mudah minum.
“Papi mau jalan-jalan ke taman,” ujar papi dengan suara pelan.
“Tunggu dokter sebentar ya, Pi. Kalau memang memungkinkan, Cilla akan ajak papi jalan-jalan di halaman rumah sakit.”
Arjuna terenyuh menatap Cilla yang terlihat memendam kesedihannya, berusaha tetap tenang dan biasa saja di depan papi.
“Mas Juna bukannya harus berangkat ke kantor ? Jangan sampai boss telat datang apalagi mau rapat,” Cilla tersenyum menatap Arjuna yang juga masih menatap Cilla.
“Mas Juna akan…”
“Udah sana jalan sekarang. Jangan lupa bawa baju kotor juga biar Bang Dirman bisa bawa pulang. Semangat kerjanya, ya.”
Cilla mendekati Arjuna dan menarik lengan suaminya yang masih bengong.
“Eh iya… Juna pergi dulu, Pi,” pamit Arjuna yang hanya diangguki oleh papi.
Arjuna mengambil tas laptopnya dan berjalan ke pintu. Seperti biasa Cilla mengantarnya sampai ke depan pintu kamar.
“Kok ikut keluar ?” Arjuna mengernyit saat melihat Cilla sudah berdiri di belakangnya dengan posisi pintu tertutup.
“Cilla mau minta peluk lagi,” lirihnya.
Arjuna tersenyum dan langsung merengkuh Cilla ke dalam pelukannya. Dikecupnya pucuk kepala Cilla beberapa kali.
“Mas Juna akan mengusahakan pulang lebih awal hari ini atau Mas Juna minta Tino membatalkan semua jadwal hari ini aja ?”
Arjuna yang merasa berat juga meninggalkan Cilla jadi ragu untuk berangkat ke kantor.
“Nggak usah,” Cilla melerai pelukannya dan menggeleng. “Cilla udah semangat lagi habis dipeluk sama Mas Juna.”
Gadis berusia 17 tahun itu langsung melebarkan senyumannya dan berusaha ceria kembali.
“Semangat kerjanya, Suami,” Cilla kembali berjinjit dan mencium pipi Arjuna.
Arjuna terkekeh dan balas mencium kening Cilla.
“Terima kasih buat vitamin paginya tadi, Istri,” ledek Arjuna masih dalam tawanya.
“Makanya suami harus semangat, nanti malam dikasih lagi supaya tidur nyenyak,” sahut Cilla ikut tertawa.
Arjuna menguatkan hatinya untuk meninggalkan Cilla dan melambaikan tangannya lalu berjalan menyusuri lorong menuju lift.
Cilla sendiri menghela nafas sebelum membuka pintu kamar papi. Hatinya benar-benar resah dan gelisah, berharap semuanya baik-baik saja.
Jam 9 kurang dokter Handoyo bersama timnya datang memeriksa papi. Lebih pagi dari biasanya. Seperti biasa dokter Handoyo selalu memberikan semangat dan berbicara hal-hal yang baik pada papi bahkan mengijinkan permintaan papi yang ingin berjalan-jalan dengan kursi roda di taman rumah sakit.
Dan sekarang, Cilla duduk di bangku taman sementara papi masih duduk di kursi roda.
“Cilla kenapa batal ambil jurusan psikologi atau jurnalis ?” tanya papi membuka percakapan.
“Udah nggak pengen lagi, Pi. Itu cita-cita sebelum punya KTP, masih menclak menclok,” Cilla tertawa.
“Tapi jauh banget pilihannya beralih ke manajemen, pekerjaan yang bakal sepenuhnya di balik meja. Papi tahu kalau pekerjaan itu bukan Cilla banget.”
“Kamu bisa aja ngelesnya,” ledek papi sambil tertawa.
“Bukan ngeles Pi, tapi belajar berdiplomasi supaya bisa jadi pengusaha keren kayak Papi dan mulai nyicil supaya bisa jadi partner yang klop buat suami,” sahut Cilla sambil tertawa pelan.
Handphone Cilla berbunyi notifikasi pesan. Dilihatnya pesan masuk di grupnya dengan Lili, Febi dan Jovan. Ketiganya janji akan datang ke rumah sakit setelah urusan sekolah beres.
“Siapa ? Teman-teman kamu ? Bukannya hari ini harusnya kamu ke sekolah ?”
“Udah lapor sama Pak Slamet, Pi. Dapat perlakuan khusus sebagai anak pemilik sekolah soalnya nanti cap tiga jarinya di sini. Pak Slamet dan beberapa guru sekalian mau besuk Papi.”
“Bilang ke Pak Slamet nggak usah repot bawa macam-macam kayak yang lalu,” pesan papi.
“Udah nggak apa-apa, Pi. Itu urunan dari para guru juga. Pak Dono sama Mas Juna yang kasih tahu Cilla. Mereka malah sedih kalau Papi menolak.”
“Ya udah diatur aja, asal jangan membebani para guru.”
“Tenang aja, Pi. Pak Slamet selalu tahu cara yang terbaik,” ujar Cilla sambil tertawa. Papi hanya tersenyum.
“Kamu tahu kenapa Papi nggak suka lama-lama di rumah sakit ?”
“Karena pengalaman buruk mami ?”
”Anak pintar,” ujar papi tertawa.
“Anak siapa dulu, dong,” sahut Cilla dengan bangga.
“Masa muda Papi banyak dihabiskan juga di rumah sakit saat dokter mendiagnosa kalau ginjal papi tidak berfungsi dengan baik. Keluar masuk rumah sakit untuk berbagai pemeriksaan sampai cuci darah. Lalu keadaan berubah sejak mami mendonorkan ginjalnya. Masalah keturunan yang tidak kunjung kami dapatkan membuat mami jadi stres dan sempat depresi, apalagi oma sempat menyuruh papi menikah lagi demi mendapatkan keturunan,” papi menghela nafas panjang, berusaha mengatur degup jantungnya yang berdetak lebih cepat.
“Papi ingin berbagi cerita dengan Cilla. Papi yakin Cilla akan mengerti karena sudah semakin dewasa apalagi sudah berstatus istri Arjuna.”
“Bagi cerita apapun dengan Cilla, Pi. Dengan senang hati Cilla mendengarnya, apalagi selama ini Cilla nggak punya banyak cerita tentang papi dan mami.”
“Maafkan papi,” lirih papi sambil meraih tangan Cilla dan menggenggamnya. “Maaf karena Papi sibuk dengan rasa penyesalan yang mendalam hingga mengabaikan Cilla.”
“Papi, semuanya udah lewat. Yang penting sekarang papi ada di sisi Cilla. Papi sehat terus, Cilla janji setelah kondisi memungkinkankan, Cilla nggak akan menunda memberikan cucu buat Papi, Papa dan Mama.”
Papi tertawa mendengar ucapan Cilla dan menepuk-nepuk jemari putri tunggalnya.
“Penyesalan yang tidak pernah bisa papi bayar dalam pernikahan papi dan mami adalah saat mami kamu mendapati papi di hotel dengan wanita lain. Wanita yang dikirim oma saat papi dibuat tidak sadarkan diri. Untung saja om Budi mengetahui semua rencana oma dan membawa mami ke hotel yang sudah disiapkan oleh oma. Meski mami mendapati papi dalam keadaan yang menyakitkan hatinya, namun dengan berbesar hati mami tetap menolong papi dan mengusir wanita jahat itu keluar dari kamar hotel. Oma yang tahu rencananya gagal malah mencaci maki mami. Namun akhirnya tenang kembali karena saat itu mami membawa kabar baik kalau dirinya sedang hamil.”
“Apa papi sempat meniduri wanita itu. Eh maksud Cilla…” wajah Cilla malu-malu bertanya pada papi.
Papi tersenyum melihat ekspresi Cilla dan langsung menggeleng.
“Cinta Papi dan Mami masih dilindungi dan dijauhi dari niat orang ketiga,” sahut papi yang kembali tersenyum saat melihat Cilla menarik nafas lega.
“Mami bisa tetap tegar karena cintanya yang luar biasa sama Papi,” ujar Cilla.
“Papi juga cinta banget sama mami,” sahut papi cepat dengan senyuman dan mata berkaca-kaca. “Sekalipun mami tidak bisa memberikan anak dalam pernikahan kami, Papi tetap mencintai mami dan tidak akan pernah berkhianat apalagi meninggalkan mami.”
“Semoga Cilla dan Mas Juna bisa seperti papi mami dan papa mama,” ujar Cilla tersenyum.
“Cilla dan Juna itu sama-sama saling cinta dan akhirnya jadi posesif makanya gampang saling cemburu,” ledek papi sambil tertawa.
”Soalnya banyak banget ulat bulu yang nempel sama Mas Juna. Mereka nggak keberatan jadi selir-selirnya Mas Juna,” sahut Cilla dengan wajah cemberut. “Yang namanya kucing biar sudah kenyang kalau disodori ikan asih ya nggak bakalan nolak juga.”
“Sepertinya Arjuna bukan tipe cowok kayak kucing garong,” ledek papi lagi.
“Nggak kayak kucing garong, tapi hati hello kitty, gampang luluh dan kasihan apalagi sama cewek-cewek yang lemah dan memelas.”
“Makanya suami dijaga, dilayani dan diperhatikan dengan baik,” ujar papi Rudi sambil tertawa. “Nggak boleh sering-sering nolak suami.”
“Iihhh Papi kok tahu ? Mas Juna laporan, ya ?”
“Nggak, Juna nggak pernah mengeluh apapun sama Papi apalagi soal Cilla. Nggak mau pengalaman yang lalu terulang,” sahut papi sambil terkekeh.
“Kelihatan banget Mas Juna cinta sama Cilla ya, Pi ? Cuma Cilla kadang kurang pe-de.”
“Di pe-de in aja dengan membalas cinta Arjuna. Nggak usah terlalu banyak memikirkan pandangan dan cibiran orang. Itu kunci dalam suatu rumah tangga. Tutup mata dan telinga tapi buka hati dari godaan dan cobaan yang pasti akan datang silih berganti. Belajar terbuka, percaya dan saling memaafkan atas kekurangan pasangan. Itu yang papi dan mami jalani selama membina rumah tangga.”
“Sepertinya Cilla harus banyak berguru sama Papi, nih,” ujar Cilla sambil menaik turunkan alisnya.
“Kan suami kamu udah pernah jadi guru, nggak perlu lagi cari guru lain di luar,” ujar papi sambil tergelak.
“Kalau itu gurunya beda banget, Pi. Kebanyakan rumus dan hitungan.”
“Tapi berhasil menjerat abege untuk jadi istrinya,” ledek papi.
“Kalau yang itu sepertinya campur pelet.”
Papi tertawa dan bahagia bisa ngobrol santai dengan Cilla sebagai ayah dan anak.
“Papi kangen banget sama mami,” ujar papi tiba-tina dengan nada sendu dan wajah sedih.
“Cilla juga masih suka kangen kok sama mami, Pi,” ujar Cilla tersenyum dan merangkul lengan papi lalu menyenderkan kepalanya di bahu papi.
“Bukan sekedar kangen begitu,” lirih papi. “Papi mau kembali bersama mami Cilla kan udah ada Arjuna juga, jadi papi lebih tenang kalau harus meninggalkan Cilla demi bertemu mami.”
Deg.
Nafas Cilla seolah ingin berhenti mendengar ucapan papi dan debaran di jantungnya semakin tidak karuan. Cilla menelan salivanya, menetralkan perasaannya yang tidak menentu.
Pasrah ! Pasrah ! Pasrah ! Cilla membatin dalam hatinya sambil berusaha menahan air mata.
“Sekalipun ada Mas Juna, Cilla akan lebih bahagia kalau Papi juga ada di sisi Cilla,” ujar Cilla menatap papi sambil tersenyum.
“Mami juga akan lebih bahagia kalau Papi bisa kembali padanya,” ujar papi dengan senyuman yang begitu bahagia di mata Cilla.
Cilla tidak mampu menjawab apa-apa, masih terdiam dalam posisinya dengan bibir yang masih menyunggingkan senyum untuk menutupi kegundahan hatinya.