MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Perjuangan Arjuna (Flashback)


“Tumben jam segini kamu ke kantor,” sapa papa Arman begitu melihat Arjuna masuk ke dalam ruangannya.


“Ada perlu sama Papa.”


Hari ini Arjuna sengaja mampir ke kantor papa Arman karena hatinya semakin tidak karuan saat melihat Cilla sedang menikmati kebahagiaannya mendapatkan kejutan dari Dono dan teman-teman sekelasnya.


Hari ini anak bebek kesayangannya itu akhirnya memasuki usia tujuhbelas tahun. Kalau semuanya berjalan sesuai rencana awal, tidak lama lagi gadis itu akan resmi menyandang status istri Arjuna.


“Kalau tidak ada perlu mana kamu akan khusus datang menemui Papa,” sindir papa Arman sambil beranjak dari kursi kerjanya menuju sofa.


Arjuna pun ikut duduk di sofa.


“Ada masalah apa lagi ? Urusan kamu mundur sebagai guru apa sudah beres semua ?”


Arjuna menyematkan kedua jemarinya dan sedikit gelisah sebelum mengungkapkan isi hatinya.


“Soal itu sudah beres sejak bulan lalu, Pa. Pertengahan bulan depan, Juna sudah tidak mengajar lagi, semua tugas sudah rampung,” ujar Arjuna menjawab pertanyaan papa Arman yang hanya diam mendengarkan sambil menatap Arjuna.


“Arjuna mau minta restu sama Papa untuk menjalin kembali hubungan sama Cilla,” lanjut pria itu.


Papa Arman mengernyit. Sebetulnya ia sudah bisa menebak maksud kedatangan Arjuna, cukup hanya dengan melihat wajah anaknya.


“Memangnya kamu sudah yakin siap menerima segala konsekuensinya ?”


“Juna siap, Pa. Juna sudah memikirkannya masak-masak dan kehilangan Cilla jauh lebih berat daripada urusan bisnis yang harus Juna jalankan.”


Papa Arman tetawa kecil mendengar ucapan anaknya.


“Kamu tuh memang aneh, Jun. Saat Papa mau menjodohkanmu dengan Cilla, kamu menolak dengan alasan sudah punya calon istri. Kamu siap menikahi wanita yang kerjanya hanya morotin uangmu. Wanita yang menikmati hasil kerja kerasmu untuk foya-foya dan mempercantik dirinya untuk orang lain. Tapi saat dihadapkan pada kenyataan kalau calon istri kamu gadis muda yang siap mendukungmu, kamu malah balik ketakutan sendiri. Seolah-olah Papa dan om Rudi akan membiarkan kamu menajalankan semuanya sendirian, langsung melepaskan semuanya untuk menjadi bebanmu.”


“Maaf Juna sudah membuat Papa kecewa karena menjadi laki-laki pengecut. Takut menghadapi sesuatu yang belum tentu terjadi. Takut gagal sebelum mencoba,” Arjuna menjeda sejenak sambil menarik nafas untuk menenangkan dirinya.


“Hari ini Juna berharap mendapat kepercayaan lagi untuk bersama dengan Cilla. Tolong beri Juna kesempatan sekali lagi, Pa. Juna akan menjalankan semuanya dengan sepenuh hati tanpa rasa terpaksa. Semuanya juga sudah pernah Juna bicarakan sama Cilla. Tolong restui kami, Pa.”


“Yakin kalian berdua akan saling menerima dan mendukung satu sama lain ?” mata papa Arman memicing, memastikan kalau putra tunggalnya ini yakin dengan permintaannya.


“Yakin, Pa. Cilla juga sudah yakin untuk melanjutkan hubungan kami dan siap kalau diminta menikah dalam waktu dekat,” sahut Arjuna penuh keyakinan.


Papa Arman terdiam, mempertimbangkan permintaan Arjuna. Sesungguhnya, papa Arman dan mama Diva tidak sepenuhnya marah pada Arjuna dan Cilla, malah mereka berharap keduanya bisa sadar dan kembali bersatu.


“Jangan bikin Papa dan Mama malu lagi ! Masalah om Rudi, Papa nggak yakin akan mudah meluluhkan hatinya.”


Wajah Arjuna mulai berbinar. Jawaban papa Arman menyiratkan kalau beliau sudah memberikan restu untuk Arjuna dan Cilla.


“Apa Juna bisa minta tolong Papa untuk menemani Juna menemui om Rudi ? Bukannya tidak mau sendirian, tapi dengan adanya papa mendampingi Juna, om Rudi akan lebih yakin lagi dengan permohonan Juna.”


“Awas kalau kamu berubah pikiran lagi, ya ! Punya calon istri masih muda bukannya membimbingnya malah ikut-ikutan labil,” gerutu papa Arman sambil meraih handphonenya.


Arjuna mengangguk sambil tersenyum.


“Jam 6 nanti om Rudi bisa menemui kita sekalian makan malam.”


“Terima kasih. Pa. Juna nggak akan buat Papa dan Mama Kecewa lagi.”


**


Jam 6.15 ketiganya sudah duduk bersama di satu meja di restoran yang sudah dijanjikan.


Arjuna lebih banyak diam dan hanya menjadi pendengar karena sejak awal bertemu tatapan papi Rudi terlihat acuh dan dingin padanya.


Meskipun kedua ayah itu berbincang seperti biasa dan membahas tentang banyak hal, tapi yang Arjuna rasakan justru ketegangan dan debar jantungnya yang semakin bergermuruh.


“Iya, Om. Saya yang minta tolong sama Papa untuk menemani saya bertemu dengan Om,” Arjuna langsung menjawab sebeum papa Arman membuka suara.


Papi Rudi hanya diam dan mengambil minumnya tanpa menoleh ke arah Arjuna.


“Saya ingin minta maaf atas masalah pembatalan pernikahan saya dan Cilla. Saya sudah membicarakan kembali semuanya dengan Cilla dan kami sangat mengharapkan Papa dan Om memberikan kami restu untuk bersama lagi.”


Papi Rudi masih dalam mode diam dan tidak ada reaksi apapun menanggapi ungkapan hati Arjuna.


“Saya benar-benar mencintai Cilla, Om. Saya siap menjalankan tugas dan tanggungjawab saya sebagai suami Cilla, menjaga Cilla sebagai istri saya dan mengurus usaha yang akan menjadi milik Cilla sampai usianya cukup. Mohon restui kami kembali, Om,” pinta Arjuna dengan wajah memohon.


“Kenapa mendadak berubah pikiran ?” tanya papi Rudi dengan suara datar.


”Maaf karena saya sempat menjadi pengecut, Om, tapi hati saya tidak pernah berpaling dari Cilla. Saya selalu menyayangi dan mencintai Cilla, hanya saja saya sempat takut membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Saya merasa belum cukup pengalaman untuk memegang tanggungjawab yang begitu besar, saya takut gagal sebelum mencobanya. Maafkan saya, Om. Tolong beri saya kesempatan lagi untuk berada di sisi Cilla.”


Arjuna menunggu reaksi dari papi Rudi yang masih dalam mode diam.


“Saya yang minta Papa menemani bertemu dengan Om saat ini. Bukan karena saya ingin berlindung di balik hubungan baik Om dan Papa, tapi supaya Om lebih yakin bahwa sebelum bertemu Om Rudi, semuanya sudah saya bicarakan dengan Papa yang sama seperti Om merasa kecewa dengan saya dan Cilla. Kehadiran Papa adalah bukti restu Papa yang sudah memaafkan saya dan Cilla. Kami berdua sadar kalau kejadian ini membuat kedua belah pihak merasa kecewa. Saya dan Cilla sangat mengharapkan restu dari orangtua untuk bisa bersama lagi.”


“Lalu kenapa hanya kamu datang sendiri ?”


“Saya yang membuat Cilla mengambil keputusan membatalkan pernikahan kami, Om, karena itu sudah menjadi tanggungjawab saya untuk memperbIkinya.”


Papa Arman sengaja memilih diam dan membiarkan Arjuna berbicara langsung dengan papi Rudi. Sesuai keinginan anaknya, kehadiran papa Arman di antara mereka hanya untuk meyakinkan kalau dari sisi Arjuna, papa Armna sudah menerima penyesalan Arjuna dan Cilla dan memberikan restu kalau mereka ingin bersama lagi.


”Bagaimana kalau Om tetap tidak memberikan restu untuk kalian bersama lagi ?”


“Saya dan Cilla akan menunggu sampai kami mendapatkan restu dari kedua orangtua dan membuktikan kalau kami sama-sama saling mencintai.”


Terlihat papi Rudi menghela nafas panjang namun tidak memberikan jawaban apapun.


Arjuna sudah tidak lagi setegang tadi meskipun papi Rudi belum menunjukan kalau hatinya melunak mendengar permohonan Arjuna.


Setidaknya, saat ini Arjuna sudah mengungkapkan perasaannya di depan papi Rudi.


“Sudah malam, aku harus balik dulu, Man. Hari ini ulangtahun Cilla. Aku sudah janji padanya untuk tidak pulang malam.”


Papi Rudi beranjak bangun dari kursinya dan menggantung permohonan Arjuna membuat pria itu sedikit gelisah.


“Jadi hari ini ulangtahunnya Cilla ?” Papa Arman malah balik bertanya tanpa menyinggung masalah permintaan anaknya.


“Ya, dan semoga aku belum terlambat untuk merayakannya setelah sembilan tahun mengabaikan setiap ulangtahun Cilla. Aku balik dulu, Man,” sahut papi Rudi sambil tersenyum tipiis.


Tanpa berpamitan pada Arjuna, papi Rudi meninggalkan restoran.


Arjuna menghela nafas dan papa Arman hanya bisa tersenyum tipis sambil menepuk-nepuk bahu anaknya.


Rasanya Arjuna juga ingin berlari menemui Cilla, mengucapkan selamat ulangtahun sambil memeluk anak bebek kesayangannya.


“Sesuatu yang sulit didapat biasanya akan indah hasilnya.”


“Juna akan sabar menunggu, Pa,” sahut Arjuna berusaha tersenyum dengan eskspresi biasa-biasa saja.


Sementara di rumah, Cilla menatap handphonenya dengan wajah sedih. Tidak ada pesan apalagi telepon dari Arjuna.


Tidak mungkin pria itu lupa karena mama Diva dan Amanda sudah mengucapkannya lewat video call, bahkan ada kiriman puding buah kesukaan Cilla.


Cilla menghela nafas panjang. Ucapan selamat dari orang yang sangat dinantikannya tidak kunjung datang, padahal satu kalimat dari Arjuna akan menjadi oase penawar dahaganya.


Cilla tidak tahu kalau pencuri hatinya itu sedang berjuang mendapatkan restu dari sang papi agar bisa bersama dengan anak bebek kesayangannya.