MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kenyataan yang Meresahkan


Terlihat dokter Handoyo keluar dari pintu UGD. Arjuna memberi isyarat pada Cilla dan keduanya bergegas bangun menghampiri dokter.


“Sementara ini Pak Rudi harus dirawat di rumah sakit. Kondisinya sedikit mengkhawatirkan dan perlu dipantau terus. Saya sudah minta dipindahkan ke kamar biasa,” ujar dokter Handoyo menjelaskan pada Cilla dan Arjuna.


“Apa tidak ada lagi pengobatan yang bisa dilakukan, Dok ?” lirih Cilla dengan wajah sendu.


“Besok saya akan diskusikan kembali dengan dokter lain yang ikut menangani termasuk dokter Raymond. Untuk sementara ini biar Pak Rudi beristirahat dulu.”


“Terima kasih, Dok,” ujar Arjuna.


Tidak lama seorang perawat keluar dari dalam ruang UGD mengabarkan kalau papi Rudi siap dibawa ke kamar biasa.


Arjuna, Cilla, Pak Trimo dan Bang Dirman yang sudah menyusul mengikuti brankar papi yang dibawa menuju lantai 5.


Cilla bergidik ngeri saat melihat berbagai alat mulai dipasang pada tubuh papi, tapi niatnya untuk menemani dan dekat dengan papi membuat Cilla mengusir jauh-jauh rasa traumanya.


“Pak Trimo dan Bang Dirman pulang dulu aja, saya dan Cilla akan menunggu papi di sini.”


“Tidak masalah kami menunggu di luar Mas Juna,” ujar Pak Trimo.


“Bapak istirahat dulu di rumah, apalagi baru sampai dari kampung. Berikutnya bisa gantian dengan saya dan Cilla, jangan sampai terlalu capek semuanya.”


Pak Trimo pun menurut karena apa yang dikatakan Arjuna memang benar. Melihat kondisi papi Rudi sepertinya tidak akan sehari dua hari dirawat di rumah sakit.


Pak Trimo menyusuri lorong rumah sakit bersama Bang Dirman menuju ke parkiran. Kedatangannya ke Jakarta semula atas permintaan om Budi dengan maksud menemani papi tidur saat malam. Perkembangan kesehatan papi yang semakin menurun membuat om Budi khawatir membiarkan papi tidur sendirian.


Ternyata belum sampai duapuluh empat jam Pak Trimo ada di Jakarta, kondisi papi Rudi sudah drop.


“Cilla bobo dulu malam ini,” Arjuna menyentuh bahu Cilla yang masih duduk di kursi yang ada di samping ranjang papi.


“Dokter Handoyo sudah memberikan obat supaya papi bisa beristirahat malam ini,” lanjut Arjuna.


Cilla menurut dan membiarkan Arjuna menuntunnya menuju sofa bed yang sudah disiapkan oleh Arjuna, bahkan seorang petugas rumah sakit sempat mengantarkan 2 buah selimut untuk mereka.


Cilla melepas jaketnya dan berbaring yang disusul oleh Arjuna.


“Cilla harus ikut istirahat saat papi sedang tidur, kalau nggak kondisi Cilla malah gampang drop,” nasehat Arjuna sambil menyuruh Cilla tidur di atas lengannya. Satu tangan Arjuna yang lain langsung memeluk Cilla.


“Mas Juna nggak larang Cilla di rumah sakit, tapi nggak boleh telat makan apalagi sampai nggak makan, nggak boleh kurang tidur juga. Mas Juna sendiri mungkin akan sedikit sibuk karena udah sebulan terakhir ini papi benar-benar meminta Mas Juna untuk terjun langsung di perusahaan papi.”


“Bukannya semua sudah dijual dan dilebur dalam perusahaan papa ?”


“Iya, masih ada beberapa usaha kecil yang belum ditutup karena papi masih memikirkan masalah karyawannya. Nanti Mas Juna ceritakan detilnya. Sekarang Cilla bobo dulu.”


Arjuna tersenyum dan mencium kening Cilla, lalu mengusap-usap punggung istrinya itu supaya cepat tertidur.


“Sudah beberapa hari ini perasaan Cilla nggak enak banget. Bahkan Cilla sempat bermimpi mami datang mau jemput papi. Dan dari raut wajah Om Handoyo, sepertinya penyakit papi susah disembuhkan.”


“Bibit kanker sudah menyebar ke beberapa organ vital dan obat-obatan yang dimasukan ke tubuh papi sepertinya agak sulit karena menyembuhkan yang satu, memicu kerusakan yang lainnya. Mas Juna bukan nakut-nakutin Cilla, tapi akan lebih baik kalau Cilla tahu kondisi sebenarnya.”


“Terus Cilla musti gimana, Mas Juna ?”


“Sampai detik ini dokter mengusahakan yang terbaik untuk papi, tapi semuanya hanya bisa kita pasrahkan pada kehendak Yang Di Atas. Cilla harus siap menerima resiko yang terburuk sekalipun.”


“Cilla masih berharap diberi lebih banyak waktu untuk bisa sama papi.”


“Mas Juna tahu dan Mas Juna juga punya keinginan yang sama. Sepertinya saat ini dokter Handoyo dan dokter Raymond sedang memikirkan pengobatan yang terbaik untuk papi supaya jangan sampai obat-obatan yang diberikan malah membuat papi merasa lebih sakit.”


Cilla terdiam, tangannya memeluk Arjuna sambil menyusupkan wajahnya di dada suaminya itu.


“Jangan pernah takut menghadapi semua yang terjadi dalam hidup karena Cilla udah nggak sendirian lagi. Bahkan selalin Mas Juna dan keluarga, banyak orang yang menyayangi papi dan Cilla, yang siap menemani Cilla kapan pun dibutuhkan seperti Bik Mina, Pak Trimo, Bang Dirman dan Bang Toga.”


Cilla merenggangkan pelukannya dan mendongak menatap Arjuna.


“Mas Juna tolong Cilla, ya ? Bantuin buat Cilla kuat kalau sampai dokter harus menyerah dengan pengobatan papi.”


“Nggak usah Cilla minta Mas Juna pasti akan selalu ada di samping Cilla. Mas Juna kan sekarang udah jadi suami Cilla. Separuh hidup Mas Juna adalah milik Cilla seorang, begitu juga sebaliknya.”


“Dan separuhnya lagi bukan milik cewek lain, kan ?” tanya Cilla dengan bibir mengerucut.


Arjuna tergelak dan sengaja menciumi pipi Cilla dengan perasaan gemas.


“Ya nggak dong ! Separuh lagi dibagi-bagi, buat keluarga, buat pekerjaan dan nanti buat anak kita juga.”


Cilla tersipu saat Arjuna menyebutkan kata anak.


“Maaf masalah malam pertama gagal lagi,” ujar Cilla dengan wajah malu-malu.


“Nggak apa-apa. Pemanasan tadi cukup membuat Mas Juna bahagia karena Cilla udah nggak takut lagi soal hubungan suami istri,” sahut Arjuna sambil terkekeh. “Malah tadi Cilla keren, hot banget. Mas Juna suka karena Cilla nggak pasif.”


“Malu-maluin, ya,” ujar Cilla tersipu.


“Nggak apa-apa. Beneran Mas Juna suka banget. Ternyata anak bebek kesayangan Mas Juna bisa juga jadi singa betina kalau urusan ehem ehem,” goda Arjuna sambil tertawa pelan.


Cilla makin tersipu dan menyembunyikan wajahnya di dada Arjuna membuat pria itu tertawa pelan dan mendusel-dusel wajah Cilla membuat istrinya itu kegelian.


🍀🍀🍀


Arjuna mengerjapkan matanya dan menghirup wangi sabun yang biasa dikenakan Cilla. Matanya menyipit melihat jam tangan yang masih melekat sejak semalam.


“Mas Juna udah bangun ?” Cilla mendekat ke sisi Arjuna dan memberikan ciuman di bibir Arjuna sekilas.


“Selamat pagi,” sapa Cilla sambil tersenyum.


“Cilla udah mandi ? Baju darimana ?”


“Jam 7 tadi Bang Dirman sudah datang membawakan sarapan dari Bik Mina. Cilla nitip juga minta dibawain satu stel baju ganti sama peralatan mandi. Mas Juna punya juga udah dibawain.”


Perlahan Arjuna bangun dan duduk di atas sofa bed.


“Wangi banget, sih,” Arjuna menciumi leher Cilla membuat gadis itu terkekeh kegelian.


“Mas Juna, geli,” rengek Cilla.


“Mas Juna suka banget,” ujar Arjuna balas menicum bibir Cilla lebih lama. “Selamat pagi juga istriku sayang.”


“Sana sikat gigi dulu ! Udah Cilla siapin di kamar mandi.”


“Masih wangi,” ujar Arjuna sambil menghembuskan nafas dari mulut ke telapak tangannya.


“Siapa juga yang bilang bau,” cebik Cilla sambil terbahak. “Nggak pede banget sih.”


Hati Arjuna sedikit tenang melihat Cilla pagi ini lebih tenang.


“Mau mandi dulu apa sarapan ?” tanya Cilla dengan suara lucu karena pipinya masih dicubit Arjuna.


“Kalau mau makan kamu dulu boleh ?”


“Memangnya Cilla daging steak ?” mulut Cilla langsung mengerucut membuat Arjuna mengecup bibir istrinya dengan gemas.


“Jangan begitu, nanti Mas Juna lanjutin yang semalam sampai tuntas,” ledek Arjuna.


“Nggak di rumah sakit juga kali,” gerutu Cilla sambil beranjak bangun, diam-diam tersenyum dengan posisi membelakangi Arjuna yang terbahak melihat tingkah malu-malu istrinya.


Cilla urung ke meja makan kecil yang ada di ruangan kamar saat mendengar lenguhan suara papi.


Bergegas Cilla mendekati ranjang papi, terlihat papi mengernyit dengan mata yang masih terpejam.


“Pi,” panggil Cilla dengan suara pelan di dekat wajah papi.


Perlahan papi membuka mata dan tersenyum tipis saat melihat Cilla ada di dekatnya.


“Pagi Papi,” sapa Cilla sambil tersenyum.


Papi hanya balas tersenyum karena masker okisgen masih terpasang menutupi hidung dan mulut papi.


Arjuna yang sudah selesai melipat selimut dan merapikan sofa bed ikut mendekati ranjang papi.


“Pagi Papi,” sapa Arjuna sambil merangkul bahu Cilla dan tersenyum. “Juna panggilin dokter, ya.”


“Coba Cilla hubungi dokter Handoyo,” ujar Arjuna sedikit berbisik pada Cilla.


Cilla mengangguk dan kembali ke meja dekat sofa bed mengambil handphone lalu menekan nomor panggilan ke dokter Handoyo.


“Saya lagi ke ruangan papi kamu,” sahut dokter Handoyo saat mengangkat telepon Cilla.


Belum sempat Cilla menjawab, pintu kamar sudah terbuka dan terlihat dokter Handoyo bersama dua dokter lainnya dan dua orang perawat.


“Pagi Om Handoyo,” sapa Cilla dengan senyuman. “Papi sudah sadar, Om.”


Dokter Handoyo tersenyum mengangguk dan mendekati ranjang papi.


“Sepertinya sudah lebih baik Pak Rudi,” ujar dokter Handoyo sambil memeriksa papi dengan stetoskopnya. “Saya lepas alat bantu oksigennya ya.”


Dokter Handoyo memberi isyarat pada salah seorang perawat untuk melepasnya.


“Untuk sementara saya akan menunggu rekomendasi dari dokter Lee.”


“Apa Om sudah menghubungi dokter Lee ?” tanya Cilla dengan dahi berkerut.


“Bukan saya,” sahut dokter Handoyo tertawa pelan. “Dokter Raymond yang mengaturnya langsung. Siang ini beliau akan datang kemari, jadi nanti kita bisa diskusi sama-sama.”


Tidak lama dokter Handoyo meninggalkan kamar papi dan memberikan beberapa instruksi pada para perawat.


Tidak lama setelah kamar diketuk ternyata tante Siska dan om Rio juga Theo datang berkunjung.


“Ternyata suami Cilla gercep banget ya ?” sindir Cilla sambil melirik Arjuna yang berjalan menuju sofa.


“Dih jutek,” cibir Theo. “Bahagia dong suami perhatian, langsung ingat kasih kabar sama keluarga di saat istrinya lagi galau.”


“Iya… terima kasih suami,” Cilla membungkukan badannya di depan Arjuna yang terlihat santai. “Terima kasih atas perhatiannya.”


“Udah pecah telor nih,” ledek Theo sedikit berbisik di dekat Cilla. “Kebiasaan pamer,” cebik sepupu Cilla itu.


“Ngomong apaan sih ?” ujar Cilla dengan wajah cemberut.


“Tuh leher habis digigit tawon apa diserang vampir,” ledek Theo sambil tergelak. Cilla langsung melotot menatap Theo.


Bukan tidak tahu kalau ada tanda cinta di lehernya akibat perbuatan Arjuna semalam. Tidak ada foundation di peralatan mandi Cilla, dan tidak mungkin menutupinya dengan plester karena selain bekasnya cukup lebar, ada empat titik yang malah akan menarik perhatian kalau ditutup plester.


“Nggak usah pusing omongan Theo, sayang. Dia tuh iri karena jangankan punya istri, dapat pacar aja nggak tahu kapan,” ujar Arjuna santai.


“Dih siapa yang iri ?” sahut Theo dengan nada sebal. “Lagian cari pacar ya musti milih-milih dan seleksi, biar nggak dikit-dikit berantem,” sindir Theo sambil melirik Cilla dan Arjuna.


“Dih biarin aja, berantem itu tandanya saling peduli dan bisa bikin tambah cinta,” sahut Cilla sambil mencebik dan tanpa diduga duduk di pangkuan Arjuna sambil merangkul leher Arjuna dengan sebelah tangannya.


“Dih sok mesra,” cebik Theo. “Mentang-mentang udah jebol gawang.”


“Iri bilang boss,” cibir Cilla. Theo tambah cemberut melihat tangan Arjuna malah memeluk pinggang Cilla dan memberikan ciuman mesra di pipi istrinya.


“Duh pengantin baru. Mesranya bikin Tante jadi iri juga,” ledek tante Siska yang berdiri di samping ranjang papi.


“Cariin pacar buat Theo tuh, Tan,” ledek Cilla. “Kalau perlu langsung kawin paksa aja Tan.”


“Memangnya kamu, kecil-kecil udah minta dikawinin. Mau jadi mama muda,” sindir Theo.


“Nggak apa-apa. Mas Juna aja nggak keberatan.”


“Malah Mas Juna bangga di umur segini bisa punya istri yang masih abege kayak Cilla,” sahut Arjuna sambil mengedipkan sebelah matanya lalu kembali mengecup pipi Cilla.


“Aduh melehoy deh hati Cilla,” ujar Cilla sambil mengerjap dengan tatapan puppy eyes-nya.


“Asli geli !” gerutu Theo yang sengaja menghempaskan bokongnya di samping Arjuna dengan sedikit hentakan hingga Cilla yang duduk di pangkuan Arjuna ikut bergoyang.


“Dih bete,” cebik Cilla sambil tergelak.


“Ya ampun Juna !” Theo yang duduk di sebelah Arjuna langsung menepuk jidatnya.


“Elo berdua habis adu gigit apa mesra-mesraan sih ? Tuh di leher elo sama aja kayak nih bocil. Nggak sangka ternyata sepupu gue gahar juga,” sindir Theo sambil geleng-geleng. “Elo yakin masih mau anggap dia nih anak bebek ? Cocoknya cewek vampir.”


Tante Siska, om Rio dan papi Rudi yang sudah duduk bersandar di ranjang tertawa mendengar komentar Theo.


“Memangnya anak bebek nggak boleh sekali-kali gahar juga ? Gue nggak keberatan kok,”’sahut Arjuna masih dengan wajah santai.


“Makanya cepetan cari pacar dong, Kak Theo. Daripada muka cemberut begitu bikin cewek males ngeliatnya, lebih baik cari pacar yang siap dikawinin.”


“Tuh dengerin nasehat anak bebek kesayangan gue,” timpal Arjuna sambil tergelak.


Theo hanya mendengus kesal dan menggerutu tidak jelas membuat Cilla akhirnya tertawa melihat wajah sepupunya itu.