
“Ternyata ini aslinya kamu, ya !” Riana, wanita yang berdiri di samping Arjuna berkata dengan nada ketus.
“Saya bukan barang branded yang ada aspalnya,” sanggah Cilla. “Dan satu lagi, kalau Tante kemari ingin membujuk suami saya untuk melakukan kerjasama dengan Hotel Prisma maka saya pastikan kalau Tante salah orang.”
“Dasar sombong !” ketus Riana. “Nggak ingat kalau orangtua kamu sendiri yang memberikan kuasa pada Arjuna sebagai penanggungjawab usaha mereka ? Atau sebagai istri kamu hanya tahunya memanfaatkan suami yang lebih dewasa ?” sindir Riana sambil tersenyum sinis.
“Nggak usah terlalu kepo dengan urusan rumahtangga saya dan Mas Juna. Saya memang masih abege dan kuliah aja belum pernah, tapi saya yakin otak saya nggak kalah pintarnya dengan Tante. Bedanya Tante memakai kepintaran untuk niat buruk hingga tahunya hanya asli dan palsu.”
“Ternyata kamu pintar bersilat lidah. Jangan-jangan Arjuna terjebak dengan mulut manismu aja.”
“Riana !” bentak Arjuna dengan wajah emosi. “Jangan bicara kasar tentang istriku.”
Riana tercengang mendengar bentakan Arjuna yang menatapnya dengan wajah marah. Jarang-jarang Arjuna bersikap kasar pada wanita.
“Om Tino bisa tolong anter Tante Riana dulu, habis itu balik kemari,” pinta Cilla.
“Arjuna, urusan kita belum tuntas,” protes Riana.
“Ibu Riana yang terhormat, sudah saya katakan kalau masalah Hotel Prisma bukan lagi urusan Mas Arjuna. Anda datang kemari sebagai wakil grup Eka Rama bukan sebagai Riana pribadi, kan ? Silakan cari tahu dulu siapa yang bertanggungjawab soal Hotel Prisma dan yang pasti pemilik utamanya masih atas nama saya, belum ada niat dipindahtangankan.”
Arjuna menautkan kedua alisnya saat mendengar ucapan Cilla.
“Oh iya,” ujar Cilla sebelum Riana keluar dari pintu ruangan. “Tolong berhenti jadi pelakor. Lebih baik fokus mencari pria yang benar-benar jodoh Tante Riana daripada sibuk memutar otak mencari celah dan cara-cara baru untuk merebut suami orang.”
Riana hanya mendengus kesal dan berjalan melewati Tino yang masih memegangi daun pintu.
“Udah Cilla siapkan makan siang,” ujar Cilla sambil memperlihatkan tas kainnya pada Tino.
“Thankyou,” sahut Tino sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Arjuna langsung melotot.
Cilla hanya terkikik dan berjalan ke sofa setelah pintu ruangan Arjuna tertutup. Membuka bekal yang dibawanya dan menata di meja untuk disantap bersama dengan Arjuna. Sementara untuk Tino sudah Cilla pisahkan dalam wadah yang berbeda.
“Kok mendadak datang ke kantor ?” tanya Arjuna yang langsung duduk di samping Cilla.
“Kenapa ? Nggak suka ? Jadi batal ya makan siang sama ulat bulu itu ?” Cilla bertanya balik dengan nada ketus.
“Cie cie yang masih mode cemburu,” Arjuna menoel-noel pipi Cilla.
“Bukan cemburu, tapi mode siaga. Repot punya suami yang suka tepe-tepe. Nggak ingat pengalaman sama Kak Yola ? Gara-gara suka lengah akhirnya tuh bibir kecolongan disosor cewek lain.”
“Bahagianya punya istri yang cemburuan,” Arjuna langsung memeluk Cilla dan menciumi pipi anak bebek kesayangannya itu.
“Mas Juna apaan sih ! Bau ! Bau parfum pelakor ! Pasti tadi dia nempel-nempel dan Mas Juna dengan senang hati pura-pura nggak sadar !”
“Darimana bau parfum Riana ? Mas Juna duduk di situ, Riana duduk di situ,” Arjuna menunjuk dua bangku yang berbeda letaknya.
“Udah aaahh..” Cilla melepaskan pelukan Arjuna dan menyodorkan sepiring fettucinni yang dibawanya dari rumah.
”Suapin,” Arjuna menolak piring yang disodorkan oleh Cilla.
“Manja !”cebik Cilla sambil menyendok fettucini.
“Enak, buatan Cilla ya ?”
“Bukan, buatan chef Juna,” sahut Cilla asal. Wajahnya masih agak kesal karena mengingat pertemuan dengan Riana.
“Udah dong marah dan cemburunya,” Arjuna kembali menoel pipi Cilla.
“Mas Juna kayak nggak ada kapoknya ! Masih aja mau terima Riana kemari.”
“Dia kan anaknya om Eka, teman papi. Apalagi om Eka itu mau kerjasama masalah hotel jadi agak susah nolaknya. Biar Riana nggak macam-macam, Mas Juna selalu ajak Tino.”
“Mas Juna nggak percaya kalau dia tuh niat banget buat merebut Mas Juna ? Di otaknya penuh cara bagaimana mengacaukan rumah tangga kita ?”
“Cie cie… takut Mas Juna direbut nih, ya. Jadi melehoy deh melihat istri khawatir begini.”
“Mas Juna iihh,” Cilla mencoba menepis tangan Arjuna yang menoel dan mencubit pipinya. “Cilla beneran kesal tingkat dewa nih !”
“Ya udah sekarang Mas Juna musti gimana ?”
“Urusan Hotel Prisma udah bukan tanggungjawab Mas Juna lagi,” ujar Cilla sambil memasukan satu sendok fettucini lagi.
“Maksudnya ?” Arjuna bertanya sambil mengunyah makanannya.
“Papi sudah mengalihkan surat kuasa khusus masalah Hotel Prisma menjadi tanggungjawab Kak Theo.”
Arjuna terkejut sampai terbatuk karena tersedak makanan yang masih tersisa di mulutnya. Cilla pun langsung menyodorkan gelas air putih milik Arjuna yang tadi diambil dari meja kerja Arjuna.
”Mas Juna kok nggak dikasih tahu ?” dahi Arjuna berkerut.
“Cilla juga belum lama tahu dan nggak ingat untuk membicarakannya sama Mas Juna karena fokus pada urusan papi.”
“Papi atau om Budi nggak pernah menyinggung masalah itu sama Mas Juna,” nada ketus terdengar dari suara Arjuna.
“Mungkin karena kita masih suasana duka, Mas Juna. Cilla yakin setelah om Budi tahu kalau Mas Juna sudah balik ngurus perusahaan, pasti om Budi akan bicara sama Mas Juna.”
Arjuna beranjak bangun dengan wajah kesal.
“Mas Juna jangan marah gitu, dong !” Cilla ikut bangun dan membuntuti Arjuna.
“Papi nggak percaya kalau Mas Juna bisa ngurus juga soal hotel ? Mas Juna sampai belajar lagi ilmu perhotelan,” ujar Arjuna sambil menghempaskan bokongnya di kursi kerja.
“Cilla beneran nggak tahu kapan pengalihan surat kuasa itu dibuat,” ujar Cilla berdiri di samping Arjuna.
“Memangnya Cilla ngomong apa soal Riana sama papi ? Hanya karena masalah Riana, papi sampai harus mengalihkannya ke Theo ? Karena nggak percaya sama Mas Juna ?”
“Cilla nggak pernah ikut campur masalah bisnis papi sampai saat ini. Tidak lama setelah kita menggelar pesta pernikahan, papi memang sempat nanya sama Cilla soal siapa Riana itu. Cilla hanya kasih tahu kalau Riana itu sahabatnya Mia dan teman satu sekolah Mas Juna, hanya itu aja. Papi juga nggak tanya apa-apa lagi.”
“Yakin ?” Arjuna mengernyit. “Nggak cerita soal kejadian di cafe pas ketemu Riana dan Yola ?”
“Beneran nggak !” Cilla mengangkat jarinya membentuk huruf V. “Cilla bahkan nggak bilang kalau Riana pernah suka sama Mas Juna dan berniat mengejar Mas Juna lagi.”
Arjuna terdiam dan meraih pena serta dokumen yang ada di mejanya.
“Cilla mau langsung balik atau di sini ? Mas Juna masih banyak kerjaan dan ada meeting lagi jam 5 sore nanti.”
“Kalau Cilla mau di sini temani Mas Juna boleh ? Sekalian kalau boleh Cilla mau tahu kerjaan kantor itu gimana,” Cilla mulai merayu Arjuna dan merangkul bahu Arjuna dengan sebelah tangannya.
“Boleh tapi jangan di sini, Mas Juna perlu fokus memeriksa dokumen ini. Dan sore nanti meetingnya di luar kantor, sebaiknya Cilla nggak ikut.”
“Kenapa ? Mau meetingnya sama cewek, ya ?” tanya Cilla dengan nada pura-pura merajuk.
“Mas Juna lagi nggak mood bercanda,” sahut Arjuna datar dan terdengar dingin. Cilla tahu kalau suaminya ini masih kesal masalah pengalihan wewenang Hotel Prisma.
“Mas Juna kenapa jadi marahnya sama Cilla, sih ?” Cilla mengerutkan dahi dan menghentakkan satu kakinya ke lantai.
Arjuna menghentikan aktivitasnya dan meletakkan penanya di atas meja.
“Papi pasti berpikir kalau Riana akan mengganggu Cilla karena ada kaitannya dengan Luna,” ujar Arjuna dengan wajah kesalnya.
“Kenyataannya memang begitu !” sahut Cilla dengan nada yang mulai emosi. “Mas Juna nggak bisa lihat atau pura-pura b**go ? Tadi aja terang-terangan dia bilang kalau Cilla ini cuma istri yang bisanya memanfaatkan suami. Kalau begitu maksudnya dia bisa lebih baik jadi istrinya Mas Juna, gitu ?”
“Dia itu hanya memancing emosi Cilla. Sama kayak kelakuan Yola yang lalu.”
“Beda sama Kak Yola !” protes Cilla. “Mas Juna kok jadi belain Riana dan kayaknya kesal karena kemungkinan kerjasama dengan perusahaan Eka Rama bakal batal.”
“Bukan masalah Riana yang bikin Mas Juna kesal ! Tapi kenapa karena Riana, papi sampai harus mencabut masalah tanggungjawab hotel tanpa membicarakannya dulu dengan Mas Juna. Selama ini Mas Juna berusaha untuk memahami banyak hal yang baru dalam urusan bisnis termasuk soal hotel,” suara Arjuna kembali meninggi.
“Semuanya udah terjadi, Mas Juna mau protes sama papi ? Mau marah sama papi yang sekarang..”
“Cukup !” bentak Arjuna sambil bangkit dari kursinya.
Cilla nampak tercengang diperlakukan begitu oleh Arjuna. Cilla sampai mundur beberapa langkah dan matanya mulai berkaca-kaca.
”Lebih baik Cilla pulang sekarang,” Arjuna mulai menurunkan suaranya kembali. “Mas Juna butuh waktu untuk menjernihkan pikiran.”
“Ternyata Riana sudah berhasil merasuki pikiran Mas Juna hingga membuat kita ribut seperti ini. Tidak perlu dia merebut fisik Mas Juna, Riana sudah berhasil membuat hubungan kita mulai renggang seperti ini.”
Tanpa menunggu jawaban Arjuna, Cilla bergegas kembali ke sofa dan mengambil tasnya. Sampai di pintu, Tino baru membukanya dan terkejut saat melihat wajah Cilla basah dengan air mata.
“Om Tino, Cilla udah buatin makan siang di kantong putih. Cobain dan semoga suka,” ujar Cilla masih berusaha tersenyum sambil membersihkan wajahnya yang basah.
“Eh iya…” Tino masih dalam mode kagetnya sedikit bingung menjawab ucapan Cilla. “Terima kasih.”
“Cilla pulang dulu,” Cilla kembali tersenyum sambil menganggukan kepalanya sedikit.
“Kenapa lagi ?” tanya Tino saat sudah berdiri di depan meja Arjuna.
“Masalah pengolahan Hotel Prisma dialihkan ke Theo. Papi sudah merubah surat kuasanya khusus masalah Hotel Prisma.”
“Terus kenapa elo sampai harus membuat Cilla menangis ?”
“Hanya gara-gara Riana semuanya jadi begini. Susah banget meyakinkan Cilla kalau gue tuh nggak ada perasaan apa-apa sama Riana dan nggak bakal nanggepin tuh cewek. Kalaupun gue masih mau diajak ketemu membahas soal kerjasama, itu karena om Eka berteman baik dengan papi. Heran gue sama Cilla, gampang banget kemakan omongan Yola.”
“Elo yakin keputusan yang diambil sama mertua elo itu gara-gara Cilla laporan soal Riana ?”
“Darimana elo tahu kalau Cilla laporan sama papi soal Riana ? Cilla pernah cerita sama elo atau Theo ?”
“Ya ampun Juna, nggak perlu orang jenius buat memahami masalah ini. Elo kan tadi bilang kalau gara-gara Cilla nethink soal Riana makanya semua kondisi ini jadi begini, itu artinya elo berpikir kalau Cilla itu ngadu sama papinya soal Riana dan membujuk papinya untuk mengalihkan wewenang hotel ke Theo.”
“Kalau bukan alasan itu, mana mungkin papi merubah keputusan tanpa memberitahu gue atau minimal bicara dulu sama gue.”
“Sekarang gue tanya dan jawab jujur, Bro,” Tino memasang wajah serius dan duduk berhadapan di meja kerja Arjuna. “Elo kesal karena pencabutan kuasa wewenang pengurusan hotel atau karena dengan pencabutan itu elo nggak punya alasan lagi untuk ketemu Riana ?”
“Ya kesal karena pencabutan kuasa, lah. Elo tahu sendiri kan gimana usaha gue untuk belajar lagi soal perhotelan supaya bisa mempertahankan bisnis itu ?”
“Dan usaha elo untuk belajar lagi sudah membuahkan hasil saat ini ?”
“Ya belum lah.. Semuanya kan baru dimulai.”
“Kalau begitu pelajaran elo juga belum begitu dalam. Seharusnya elo bersyukur karena beban tanggungjawab elo berkurang satu. Lagian setahu gue, usaha Hotel Prisma itu adalah usaha turun temurun keluarganya Pak Rudi bukan murni perusahaan rintisan Pak Rudi pribadi, jadi wajar aja kalau dialihkan pada Theo yang masih sepupu Cilla meski tidak satu garis dengan Pak Rudi.”
“Udah gue nggak mau milkir kemana-mana dulu. Rasanya masih kecewa banget gue. Om Budi udah ngomong dulu sama Cilla dan nggak omong apa-apa sama gue padahal gue ini yang berkaitan langsung dengan keputusan awal papi.”
“Jun..”
“Tolong tinggalin gue dulu, No. Makan siang dulu aja, nggak enak kalau nanti makanan elo dingin. Kasihan istri gue udah capek-capek masak dan nganter kemari.”
“Dih masih bisa kasihan istri capek masak,” cibir Tino. “Istri pergi dari sini sambil nangis nggak elo uber dan kasihanin.”
Arjuna hanya diam dan menghempaskan diri pada sandaran kursi. Tino menghela nafas dan geleng-geleng kepala.
Tino mengambil kantong kertas putih yang tadi diberitahu Cilla. Harum fettucini menyeruak keluar membuat Tino menelan salivanya dan perutnya bergejolak minta segera diisi.
“Oh ya Jun, gue cuma mau mengingatkan aja. Jangan menganggap kecurigaan Cilla sebagai sikap kekanak-kanakan. Wajar banget kalau dia waspada karena sikap elo sama cewek udah sempat membuat elo kecolongan pas kasus Yola. Lagian coba elo berkaca sama diri sendiri, sikap posesif elo lebih tinggi levelnya daripada cemburunya Cilla.”
Tino tersenyum melihat wajah Arjuna yang tercengang. Bagaimana Tino bisa mengucapkan kalimat yang sama dengan yang diucapkan oleh Cilla tadi.
Arjuna menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menarik nafas panjang beberapa kali, berusaha menenangkan hatinya yang merasa kecewa.