MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Para Calon Mahasiswa


Tiga minggu berlalu sudab sejak kepulangan Arjuna dan Cilla dari bulan madu.


Arjuna kembali disibukkan dengan pekerjaan dan Cilla sendiri mulai mempersiapkan diri untuk masuk kuliah yang diawali dengan kegiatan ospek.


Bersama dengan Febi dan Lili, ketiga sahabat itu mulai membuat pernak-pernik yang diperlukan untuk acara ospek. Sayangnya di hari ini juga. Arjuna harus berangkat ke Jepang selama 4 hari menggantikan papa Arman yang sedang kurang sehat.


“Cilla mau ikut Mas Juna aja,” rengek Cilla sambil mengancingkan kemeja Arjuna.


“Jadwal Mas Juna padat banget, nggak bakalan sempat juga ajak Cilla jalan-jalan. Kalau sudah beres Mas Juna pasti langsung balik, udah minta Tino supaya pesan open tiket untuk pulangnya.”


“Terus 4 hari Cilla bobo sendirian lagi ?” wajah cemberut istri kecilnya membuat Arjuna gemas dan langsung mencium bibir Cilla yang mengerucut.


“Mau nginap di rumah mama ? Siapa tahu Amanda bisa bantuin juga.”


“Nggak mau, nggak ada bau Mas Juna di kamar, apalagi di kamar Amanda.”


“Ya udah jangan ngambek begini, dong. Mas Juna kerja buat Cilla juga. Lagipula kalau Cilla ikut selain di sana sendirian, nggak akan keburu juga buat bahan ospek.”


“Ya udah, tapi nggak boleh larak lirik cewek di sana, nggak boleh minum sake kebanyakan nanti mabuk malah kenapa-napa.”


“Iya sayang, iya,” Arjuna tertawa sambil mencubit kedua pipi anak bebek kesayangannya. “Ada Tino juga yang bakal menjaga Mas Juna.”


“Udah kayak anak kecil aja perlu dijagain segala,” cebik Cilla yang hanya ditanggapi dengan tawa oleh Arjuna.


Keduanya turun ke bawah dimana Tino sudah menunggu. Bang Dirman membantu membawa koper Arjuna ke mobil.


“Stand up komedi apa lagi pagi ini ?” sindir Tino sambil menikmati sarapan yang disiapkan Bik Mina.


“Eh tamu nggak dipersilakan main comot sarapan aja,” omel Cilla sambil melotot.


“DP bu boss, DE-PE. Uang muka upah jadi satpam sekaligus babysitternya Bapak Arjuna.”


“Jomblo matere,” cebik Cilla yang dibalas Tino dengan menjulurlkan lidahnya.


“Ya ampun Om Tino, kenapa roti buatan Cilla dimakan ? Itu kan buat Mas Juna !” pekik Cilla sambil bertolak pinggang dan melotot.


“Sayang, udah biarin aja, udah diperut Tino nggak bisa dikeluarin juga, dan itu udah digigit sama Tino. Masih ada waktu kok, buatin yang baru lagi ya,” Arjuna langsung memeluk Cilla dan mengusap-usap punggung Cilla, kebiasaannya saat menenangkan Cilla.


Terdengar suara tangisan Cilla yang ditahan membuat Arjuna menatap Tino sambil melotot.


“Sorry Cil, aku nggak tahu,” akhirnya dengan berat hati Tino meminta maaf pada Cilla.


“Udah jangan nangis, sayang. Buatin yang baru buat Mas Juna, ya. Kalau bisa lebihan, buat bekal Mas Juna di pesawat nanti.”


Arjuna mengambil tisu dan menghapus air mata Cilla, Dengan wajah cemberut, Cilla mulai membuatkan lagi roti untuk Arjuna dengan telur yang dicetak berbentuk hati.


Selesai sarapan, Cilla mengantar Arjuna ke mobil dengan wajah sendu. Saat Arjuna memeluknya, Cilla kembali meneteskan air matanya.


Tino yang merasa bersalah tetap pamit pada Cilla sekalipun tidak dijawab.


“Cilla lagi kenapa Jun ? Tumben banget cengeng begitu” tanya Tino saat mobil yang disopiri Dirman mulai meninggalkan rumah.


“Mungkin karena sempat lama bareng gue tiap hari dan selama liburan kan dia suka datang ke kantor. Jadi sekalinya harus berjauhan, berasa kesepian lagi.”


“Udah nempel kayak perangko, ya,” ledek Tino sambil tertawa.


“Maaf kalau saya ikut ngomong,” ujar Dirman dari kursi pengemudi. “Sepertinya Non Cilla sudah nyaman dengan Den Juna soalnya nggak biasanya Non manja-manja sama orang kecuali sama Bik Mina. Terus terang kita semua pada senang melihat perubahan Non Cilla karena tidak lagi menahan diri saat emosi.”


“Saya juga senang kok, Dirman,” Arjuna tersenyum. “Manjanya itu malah bikin gemas dan suka ngangenin,” Arjuna terkekeh.


”Yah ini mah namanya suami bucin juga,” cebik Tino.


“Makanya cepat-cepat nikah,” ledek Arjuna sambil tertawa. “Biar tahu rasanya ada yang kangen dan menunggu di rumah.”


“Ganti topik,” gerutu Tino membuat Arjuna dan Dirman rertawa.


Arjuna tidak lupa menghubungi Cilla sebelum masuk ke dalam pesawat, apalagi anak bebeknya itu sedang dalam mode bad mood dan sensi.


“Lili ngajak ke mal siang ini sekalian cari bahan yang kurang,” ujar Cilla dalam sambungan telepon dengan Arjuna.


“Iya boleh, asal hati-hati aja. Nanti begitu sampai di Jepang, Mas Juna kabarin. Jangan lupa makan karena terlalu kangen sama Mas Juna,” ujar Arjuna sambil tertawa.


“Mas Juna juga awas kalau macam-macam di sana, ya !” ketus Cilla.


Setelah berpamitan Arjuna pun masuk ke dalam pesawat menyusul Tino yang sudah masuk terlebih dahulu.


Sekitar jam 10.15 Lili datang bersama dengan Febi membawa mobil sendiri.


“Melow banget sih ?” ledek Lili sambil meirik lewat spion tengah.


“Mas Juna pergi ke Jepang 4 hari dan gue nggak boleh ikut karena ada tugas buat bikin barang-barang ospek,” gerutu Cilla.


“Ya bener juga sih,” ujar Febi menanggapi. “Kita tuh baru selesai bikin papan nama, belum tas dan topi.”


“Kan bisa minta tolong kalian untuk buatin,” sahut Cilla dengan ketus.


“Dih memangnya kita berdua pengrajin keperluan ospek ?” protes Lili dengan nada sewot. “Memang nggak cukup bulan madu 10 hari terus lanjut tiap hari ngintilin suami ?”


“Kenapa ? Iri ?” Cilla menjulurkan lidahnya. “Makanya jangan jual mahal sama Dimas ?”


“Udah gue bilang, Li, Dimas itu pasti minder dan takut kalau punya pacar kayak elo, lebih kaya dari dia. Elo kasih dia kode dong Li, kalau elo itu nggak masalah punya pacar kayak Dimas.”


“Kalau perlu elo undang Dimas makan malam sama bo-nyok elo, Li,” timpal Febi sambil terkekeh.


Lili terdiam dan tidak protes dengan ledekan Cilla dan Febi yang ada benarnya juga. Lili sempat merasa ditarik ulur dengan sikap Dimas yang sepertinya perhatian tapi tidak mau diketahui oleh Lili.


“Yang elo perlu kasih pengertian dulu itu ortu elo, Li,” ujar Cilla. “Kalau mereka nggak masalah elo punya pacar dengan tingkat ekonomi kayak Dimas, baru deh elo berjuang meyakinkan hati Dimas.”


“Kayaknya ortu gue nggak masalah asal bukan lazy boy, pecandu atau pria-pria kasar pada wanita. Tapi gue belum pernah ngomong serius soal kriteria calon suami.”


“Yah coba aja sih diomongin dulu, daripada nanti elo usaha sama Dimas terus dia oke tapi ortu elo nolak mentah-mentah terus Dimas sakit hati, bakalan pupus lagi deh cinta elo,” ledek Febi sambil tertawa.


“Kalau masalah tanggungjawab, gue berani jamin, Li,” ujar Cilla. “Dimas itu cowok yang mandiri dan penuh tanggungjawab. Dia tuh sayang banget dan selalu mikirin Tami, adiknya itu. Dimas juga tidak pernah memanfaatkan situasi hidupnya untuk mendapat perhatian dari orang lain. Sekalipun dia anak angkat bokap, tapi sikapnya ke bokap lebih mirip karyawan sama boss-nya. Dulu papi udah sering tegur tapi Dimas berpegang teguh pada prinsipnya.”


“Kira-kira menurut elo berdua Dimas beneran suka sama gue apa nggak ?”


“Kalau omongan di mulutnya sih nggak ya,” sahut Febi. “Tapi kan ada pepatah lain di mulut lain pula di hati.”


Lili melirik Cilla dari spion tengah. Posisi duduk Cilla memang di kursi penumpang belakang.


“Gue setuju sama Febi, masalah itu gue nggak bisa jawab, lebih baik elo cari tahu sendiri, ya,” sahut Cilla sambil terkekeh.


Tidak terasa mobil Lili sudah terparkir di gedung parkir mal. Ketiganya turun dan langsung menuju ke toko buku untuk membeli bahan yang kurang untuk membuat bawaan mereka saat ospek nanti.


“Nggak berasa tahu-tahu kita udah kuliah aja, ya,” ujar Lili sambil merangkul kedua bahu sahabatnya.


“Iya, kayaknya belum lama kita suka duduk sambil baca buku cerita gratis di toko buku ini,” sahut Febi. “Rasanya baru kemarin kita kedatangan Pak Arjuna sebagai guru idaman para cewek-cewek, nggak guru, nggak murid.”


“Iya dan sekarang cuma milik gue seorang,” sahut Cilla cepat dengan mata melotot.


“Dasar bucin Pak Juna,” cebik Febi sambil geleng-geleng kepala sementara Lili hanya cekikikan.


Selesai mendapatkan barang yang mereka cari, ketiganya malah asyik di tempat buku cerita anak-anak, bernostalgia pada kenangan mereka saat dipulangkan cepat dari sekolah. Bukannya pulang ke rumah, malah kabur ke toko buku dan mencari buku bacaan yang baru terbit.


“Gue lapar nih,” Cilla memegang perutnya yang mulai keroncongan. “Makan yuk, nanti kalau mau balik lagi ke sini nggak apa-apa.”


Febi dan Lili mengiyakan karena juga merasakan hal yang sama dengan Cilla.


Ketiganya memilih food court untuk tempat makan siang. Mungkin karena hari biasa dan sudah sedikit melewati jam makan siang, situasi di food court tidak terlalu ramai.


“Priscilla !” panggilan seorang pria yang tidak asing membuat Cilla menoleh ke arah suara.


“Kak Hans ?” Cilla menautkan alisnya.


“Apa kabarnya ? Sebentar lagi kita bakalan sering ketemu, ya,” ujar Hans terkekeh.


“Baik, Kak,” jawab Cilla sambil tersenyum tipis.


“Habis belanja ?” Hans melirik pada kantong-kantong yang ada di kursi sebelah Cilla.


”Demi memenuhi persyaratan para kakak yang aneh-aneh,” sahut Lili dengan ketus.


“Namanya juga ospek, nggak seru kalau yang gampang-gampang,” ujar Hans menanggapi ucapan Lili sambil tertawa.


“Kalian bertiga aja ? Bodyguard kamu nggak ikut, Cilla ?”


Cilla mengerutkan dahi mencerna maksud ucapan dan akhirnya menggeleng.


“Suami lagi kerja buat istri sama anak-anaknya,” sahut Cilla. Lagi-lagi Hans hanya menanggapinya dengan tawa manisnya.


“Kakak sendirian kemari ? Gabut banget, ya ?” Lili yang jiwa keponya meronta sudah menahan diri untuk tidak bertanya pada Hans.


“Nggak sendiri, sama wanita istimewa,” sahut Hans sambil tertawa. “Dapat pahalanya ketemu gadis-gadis cantik calon mahasiswa nih.”


Hans sempat melirik ke arah Cilla yang masih asyik menikmati makan siangnya.


“Kalian beneran bertiga doang ?” Hans sempat mengedarkan pandangan, mencari sosok lain yang mungkin datang bersama ketiga sahabat ini.


“Kan tadi udah dijawab sama Cilla,” Febi yang menyahut. “Kalau cari suaminya Cilla udah pasti nggak ada. Ini kan hari kerja, jadi sebagai suami yang bertanggungjawab udah pasti kerja dan bukan nempelin istri.”


Lagi-lagi Hans tertawa membuat wajah tampannya makin mempesona. Tapi kali ini Lili tidak mudah jatuh hati pada lesung pipit Hans. Entah kenapa di dalam pikirannya justru menari-nari bayangan Dimas.


“Perlu dibantu cari keperluan ospeknya lagi, nggak ? Kebetulan tugas gue mengawal nyokap udah selesai. Nyokap lagi ketemu sama teman-temannya.”


“Udah lengkap sih, Kak,” Cilla yang sedari tadi akhirnya ikut menjawab. “Habis ini rencananya kita mau hang out dulu. Jadi nggak usah repot.”


Tidak lama ketiganya meninggalkan food court dan Hans masih membuntuti. Febi dan Lili yang paham dengan rasa canggung Cilla bergantian jalan di samping Cilla, mencegah Hans mendekatinya.


Hingga sore datang, Cilla mulai gelisah karena masih belum mendapat kabar dari Arjuna. Seharusnya Arjuna sudah tiba di Tokyo tapi handphonenya masih belum aktif karena semua pesan Cilla hanya centang 1.


Terlalu fokus dengan handphonenya, Cilla tidak sadar dengan kondisi jalan di depannya hingga bertabrakan dengan orang yang baru saja keluar dari lorong menuju toilet.


Benturannya tidak keras namun karena Cilla yang kaget berusaha menyelamatkan handphonenya yang hampir jatuh dan tidak sadar kalau tali sepatunya lepas, Cilla terjembab ke lantai dan kepalanya membentur tembok cukup keras.


Febi dan Lili memekik karena kaget dan bergegas mendekati Cilla yang sempat memegang kepalanya yang terbentur lalu terpejam tidak sadarkan diri.