Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Larangan juru Kunci


Anak-anak sekolah menengah pertama yang berada di dalam Bus terdiam mendengar suara kakak pembina pramuka.


Adek-adik sebentar lagi kita sampai ketujuan. setelah keluar dari Bus jangan ada yang memisahkan diri. ingat kelompok masing-masing nanti akan ada dua orang kaka pembina di setiap kelompok.


Bus yang mereka tumpanggi berheti mendakan mereka sudah sampai tujuan. Anak tak sabar ingin sengera keluar namum suara Ka Jenny kenghentikan mereka.


kelompok satu terlebih dahulu keluar bersama kaka pembinanya yaitu ka Rara dan dan ka Stave ucap Ka jenny.


Tanpa menunggu perimtah dua kali lompok satu segera keluar bersama kakak pembina peramukanya.


setelah semua keluar dari Bus jenny bergambung dengan kelompok Abi yang bernaung dibawah sebuah pohon.


"Adik-adik apa ada yang belum sarapan?" tanya Ka Jenny pada murid peserta kemah.


tetlihat bebera peserta mengacungkan tangannya tinggi.


"saya belum makan nasi ka karna pagi saya biasa sarapan roti saja." ucap Caca.


"Ya sudah nanti kita makan bersama-sama sebelum mendaki gunung sebulumnya kita harus berjalan dulu keruamah juru kunci untuk mendengarkan nasehat larangan yang harus kita patuhi." ungkap Jenny menjelaskan.


"Baik ka." ucap semua peserta serampak.


sambil berjalan mereka menikmati sekali nuasa alam disekitar udara begitu segar di hirup oleh indara penciuman mereka. popohan serta rumput liar timbuh di pinggir jalan terlihat subur sekali peserta peramuka itu memetik rumput liar ada pula yang membentangkan satu tangannya sambil berjalan dan tangan itu dibiarkan menyentuh rumput dipinggir jalan.


Ke Jenny serta guru-guru yang ikut dalam kegiatan kemah tersebut ikut senang melihat kegembiraan para peserta.


"semoga tak tarjadi apapun samapai acara kemah selasai." batin Jenny.


semapainya di depan rumah juru kunci mereka begitu takjup, rumah minimalis yang benyak ditumbuhi aneka bunga dan sayur disisi kiri kanannya.


"Tunggu disini nanti kaka panggil Mbah kasiman." ucap Stave.


"Asslamuaikum Mbah." ujar Stive sambil mengatuk pintu Rumah guru Kunci gunung.


"Walaikumsalam." jawab Mbah kasiman sambil membuka pintu.


"sudah datang rupanya nak Stive apa bersama paserta kemah?" tanya Mbah kasiman sambil melihat kehalaman rumahnya yang terlihat ramai oleh peserta kemah.


"iya Mbah sama adik-adik peserta kemah ada juga beberapa guru serta teman-teman saya." jelas Stive.


"ayo nak Stive bantu Mbak ambil alas duduk buat adik-adik kelasmu dibelakang." ajak Mbak kasiman.


"Baik Mbah." Sahut stive sambil mengikuti langkah kaki lelaki tua tua itu kedalam rumahnya


selesai mengambil alas duduk Stave dibantu jenny mengelarnya diatas rumput hijau depan ruamah Mbah kasiman yang dinaunggi banyak popohon.


"Silahkan Mbah kasiman." ucap Stive sambil menyerahkan alat pengaras suara.


Mbah Kasiman mengambil segera pengeras suara dengan bibir tersenyum ramah.


"selamat siang semuanya!! seperti yang Nak Stive perkenalkan nama saya Mbah Kasiman juru kunci di gunung ijo ini. sebelumnya saya mengucapkan banyak terimasih pada Nak stive perserta tarmasuk guru-guru yang mau menjadikan gunung yang saya jaga ini sebegai salah satu jegiatan sekolah. digunung ini ada beberapa larangan yang harus kalian patuhi dan taati, kita hidup berdampingan dengan mahluk tak kasat mata baik itu dari golongan jin seten dan lain-lain untuk itulah saya selaku juru kunci mengingatkan pada kalian semua untuk berhati-hati saat berada diatas gunung nanti terlebih jika sudah malam jangan pergi seornag diri sedangkan untuk jerit malam nanti saya harap bisa di adakan dari jam 8 sampai jam 10 saja tidak boleh lewat." Tutur Mbah Kasiman sambil menarik napasnya sejenak.


"Ada beberapa larangan yang harus kalian patuhi. yang pertama jagan masuk kearea yang bertanda bahaya (palang kayu dicat dengan warna Merah). Kedua jangan membuang samapah teruta pembalut bekas terpakai semaberangan. keriga jangan membakar terasi ayam danging serta ikan terutama malam hari dan jam 12 siang. ke Empat jangan pula megumpat kata-kata kasar saat kalian berada di Area pengunungan." lanjut Mbah Kasiman.


"saya hanya bisa menjaga kalian dari sini jika kelian tidak mau mentati peraturan atau merasa keberan silahkan kalian pulang saja saya tidak ingin hal buruk terjadi." tegas Mbah Kasiman sambil menatap beberapa peserta kemah.


"terimakasih Mbah Saya selaku guru yang bertanggung jawab menjaga anak-anak didik saya akan selalu mengingatkan larangan yang wajib mereka taati." ucap Bu Gita.


"jika begitu kalian istrahatlah dulu nanti setelah Sholat dzuhur kalian boleh melanjutkan perjalan kalian mendaki." sahut Mbah Kasiman menyerahkan alat pengeras suara yang sebelumnya ia pakai.


Jenny segera mengambil Alih perngeras suara dan mempersilahkan peserta untuk istirahat dan memakan bekal mereka masing-masing tak lupa ia mengingatkan pada peserta kemah untuk tidak membuang samapah sembarangan.


Abi membuka bekal miliknya kemudian memakan dengan lahap begitu pula dengan teman-temannya sekali mereka saling mencicipi bekal yang mereka bawa.


Mbah kasiman tak segeja meliahat pungung Abi dan terkejut. cahaya kemesan yang muncul di punggung belakang Abi membuat Mbah Kasiman membatin.


"Kau anak yang kuat, takdirmu menyalamatkan dunia, jalanmu sangat panjang nak, entah bahaya apa yang akan kamu hadapi nanti saya yakin kamu mampu melewatinya. jika kamu adalah ornag yang di ijinkan untuk masuk kedalam hutan larangan di gunung maka tugas saya adalah memastikan keselamtaanmu mencapai tunjuanmu nak semoga kamu berhasil." monalognya menatap Abi dari kejauhan.


Tak lama suara azan bekumandang merdu dari surau terdekat.


"Ada yang ingin melaksanakan sholat wajib mari ikut saya kesurau." ucap Mbah kasiman.


meski tak banyak beberapa peserta berdiri dan menghampiri Mbah Kasiman termasuk Abi.


"tunggu sebentar sama Abil peci di dalam." ujar Mbah kasiman berlalu masuk kedalam rumah kecilnya.


"Aku harus membakali anak itu sesuatu mongkin ini kesempatan yang tepat agar aku bisa berbicara dengannya." gumam Mbah kasiman sambil membuka lemari kayu jati.


Mbah kasiman mengambil pengikat kepala berwana kuning dan juga sebuah keris kecil bertuliskan Asmaul Husna ia sengara menyimpannya didalam saku baju koko yang ia gunakan beruntung kris itu masuk dengan sempurna di dalam sakunya mungkin karena ukurannya mini.


tak lupa ia memakai peci serta menyamatkan cincin di jari manisnya peninggalan mediang sang juru kunci sebelumnya yaitu kakeknya.


Mbah kasiman keluar Rumah mengajak sekitar sepuluh orang anak laki-laki kesurau terdekat.


Dalam perjalan menuju surau Mbah Kasiman mendekati Abi yang sedang berjalan di belakangnya.


.