Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
pertengkaran.


"Apa yang akan kamu lakukan Putri?" tanya Marcella.


"Diamlah terima saja hasil saja!!" seru Mawar tanpa melihat Marcella.


Mawar menatap semua makanan yang tersaji di meja makan ia memejamkan matanya sebentar kemudian membuka kembali sambari melangkah pasti ke arah salah satu kursi di meja makan. dengan percaya diri ia membaca mantra dalam hati kemudian duduk sebentar di kursi yang berada di depannya sambil menatap piring dan gelas berisikan air putih.


Mawar Maengusir Marcella dengan isyarat tangannya.


Marcella yang masih penasaran mau tidak mau pergi walau dalam hatinya mengeruntu kesal.


Yakin Marcella manjauh Mawar meniup Air putih dan piring yang berada di depannya detik berikutnya ia meninggalkan dapur menyusul Marcella.


"Marcella Cepat ajak keluargamu makan." perintah Mawar.


Marcella mengangguk. lantas melangkahkan kakinya menuju kolam renang.


"Mas makanan sudah siap." ujar Marcella sesanpainya di tempat suami serta anak cucunya berada.


"Baiklah kali ini kita makan didapur karna cuaca diluar panas nanti sore kau ingat Marcella kita makan di alam terbuka sambil menikmati angin di sore hari." kata Willem sambil menatap sekilas sang istri dengan ekor matanya.


"Kakek serta yang lain makanlah terlebih dahulu Abi akan sholat zuhur terlebih dahulu." Tukas Abi.


"Kakek kemana arah kiblat di sini?" tanya Abi.


Marcella yang mendengar Abi akan sholat mendegus tak suka.


"Mas Aku dan Mawar menunggu di meja makan, makanlah selagi hangat." ujar Marcella sambil berjalan meninggalkan Abi dan Willem.


"Kekak lupa nak, kamu tanya sama mang Atok didepan ia sedang Kekek suruh mengganti lampu diteras yang sudah redup." Ujar Willem.


"Baik Kek." sahut Abi sambil beranjak meninggalkan Willem dan Devan yang masih saja berenang.


"Dev naiklah, kita makan bersama." ajak Willem.


Devan bergagas naik dari kolam renang membilas badannya kekamar mandi.


Berapa saat kemudian Devan sampai didapur tak melihat keberadaan sang putra lantas bertanya.


"Dad, dimana Abi?".


"Abi meminta ijin Sholat zuhur?" sahut Willem.


"Kenapa Daddy tidak mengatakannya dari tadi, Di mana ia sholat?" tanya Devan dengan raut Wajah terlihat Khwatir.


"Aku tidak bertanya dia Sholat dimana, tadi ia bertanya Kiblat arahnya kemana, aku menyuruhnya bertanya pada Mang Atok karena aku lupa." Ungkap Willem.


Devan memunum Air putih dihatapan yang saat ia melihat minuman itu tengorokannya terasa kering matanya tak berhenti menatap air putih itu hingga ia meminumnya tanpa Sisa.


"Hebat bagaimana putri Arum tau Devan akan duduk di kursi itu." batin Marcella.


Abi berjalan menuju dapur begitu ia selesai sholat di rumah pak Atok bukan tanpa alasan Abi memilih ikut saholat di rumah pak Atok karena disana auranya positif selain itu tempatnya juga bersih.


"Abi kamu sholat dimana Nak?" tanya Willem.


"Di Rumah mang Atok sholat berjama'ah bersama kekuarga mang Atok." Sahut Abi.


"Kata mang Atok Villa ini ada moshola tapi lama tidak digunakan?" kata Abi sambil mendaratkan pantatnya di samping Devan.


"Iya memang Ada jika kamu berniat mengunakannya nanti , Kakek akan meminta Mang Atok memberishkannya sekali lagi serta menganti alas lantainya." jelas Willem sambil tersenyum.


"Terimakasih Kek, nanti Abi akan bantu Mang Atok membersihkannya." sahut Abi.


"Makan yang banyak Nak." ujar Marcella sambil menatap Devan dan Abi.


Devan tanpa menjawab melahap makanan dengan cepat.


"Dev baru kali ini Aku melihatmu makan seperti orang kelaparan kau begitu lahap." tegur Willem.


Devan tak menjawab terus makan dan makan sesekali melirik Mawar.


"Ayah makanlah selagi lapar berhentilah sebelum kenyang." ujar Abi sambil memengang tangan tengan Devan.


Aaaaauuuuuuu teriak Devan.


"Ada apa nak?" tanya Willem menghentikan kegiatan makannya.


"Heyyyy kamu menjauh dariku." bentak Devan pada Abi.


"Maaf, Abi hanya mengingatkan Ayah." sahut Abi.


"Tak perlu menyentuh tangamu itu seperti bara Abi." jelas Devan sambil menatap tajam Abi.


"Tangan Abi panas benarkah tapi Abi tidak merasakan itu." sahut Abi.


Abi menatap sekilas Mawar yang menunduk sibuk mengaduk makanannya dipiring.


"Wanita ini harus diberi sedikit pelajaran. tak cukupkah satu pengikutnya lenyap dintanganku." batin Abi.


"Kakek apa benar yang dikatakan Ayah apa tanganku ini panas seperti Api." tutur Abis ambil mendekati Willem dan memperlihatkan kedua tangannya.


Willem menyentuh dengan ragu detik berikutnya ia mengelingkan kepala.


Willem mengerutkan kening menatap sang putra yang kembali melahap makanan di meja makan.


"Dev makan pelan-pelan jika kamu suka ibumu bisa memasaknya lagi nanti sore." ujar Willem.


Devan menatap sekilas Willem kemudian melirik Abi dengan raut wajah tak suka.


"Ayah Maaf jika Abi salah." cicit Abi.


"Aku ingatkan padamu jangan mengangguku terutama saat aku sedang menikmati makanan kau mengerti." tukas Devan dengan nada mementak.


"Dev jangan terlalu keras pada putramu bagaimana ia mau tinggal denganmu jika kamu tidak memperlakukannya dengan penuh kasih." tegur Willem


"Jangan mengajariku Willem.kau tau apa tetang kasih sayang heh. dengan ibuku saja kau tega membiarkannya sekarat seorang diri. sedangkan kau bermesraan dengannya tujuk Devan ke arah Marcella." sambil menatap penuh kebencian.


"jaga biacaramu Devan aku ini orang tua mu." sahut Willem dengan suara keras sambari berdiri dari tempatnya duduk


Mawar yang melihat perdebatan antara Ayah dan Anak itu tersenyum tipis hal itu disadari oleh Abi yang sejak tadi memperhatikannya.


Dalam hati Abi berdoa untuk Ayah kandungnya tak lupa ia membaca ayat kursi menempelkan tangan kebadan Devan membuat Devan beriak dengan mata merah ia membentak Abi untuk segera melepas tangannya.


"Apa yang kamu lakukan Abi?" tanya Willem tak suka.


"Abi membantu Ayah terlepas dari mahluk bermata merah yang mengandalikan tubuhnya." sahut Abi santai.


"Jangan mengada-ngada kamu lepaskan tangan anakku kau tidak tengar dia kesakitan." bentak Willem.


"Baiklah Abi akan melepasnya, jika terjadi sesuatu pada Ayah jangan menyalah Abi karena Abi sudah berusaha membatu namun dihalanggi oleh Kakek." tutur Abi sambil melepas perlahan tangan Devan.


Devan merangkak seperti hewan menjauhi Abi ia berdiri disamping Mawar.


Abi menghela napasnya kasar melihat Kakeknya kemudian Marcella yang terlihat menahan tawanya.


Dua iblis ini benar-benar ingin mengacaukan hubunganku dengan Ayah serta Kakek hal ini disengaja untuk membuat Ayah memihak pada mereka dan menjauhi Aku. Tidak masalah Aku tetap akan berdiri tengak meski kau menarik orang-orang yang aku sayanggi berada dibawah kendali Mu. monalog Abi.


"Devan biar aku obati tanganmu." kata Mawar lembut.


"Dasar Iblis." gumam Abi.


"Apa yang katakan tadi Abi?" tanya Marcella yang mendengar Abi mengatai Mawar.


"IBLIS." ujar Abi tanpa Ragu.


"Mas lihat Cucu lelakimu ini kasar sekali cara bicaranya, apa orang tuanya tidak mengajari cara bicara sopan terhadap orang yang lebih tua." Adu Marcella.