Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
waspada


Setelah mengambil air mineral Abi kembali lagi duduk disamping Gio.


Gio melirik abi sekilas lalu bertanya. "Abi kamu bilang roko yang direnovasi itu untuk bundamu, memangnya apa yang akan kak Risa jual?" tanya Gio sambil memainkan ponselnya.


"menjual kue brownes kukus dan keripik kentang, serta ubi." sahut Abi sambil melihat Gio yang bermain Geme di ponselnya.


"kak Risa bisa membut kue, sejak kapan?" tanya Gio melirik sekilas Abi.


"sejak Abi belum lahir, ketika Abi masih bayi ibu sudah berjualan kue keliling." sahut Abi matanya masih saja takberalih dari ponsel ponsel Gio.


"om bisakah kita meminta pulang lebih cepat satu hari Abi harus mempersiapkan semuanya untuk Bunda?" tanya Abi meninta.


"hemmmm, nanti akan Om tanya dengan Bundamu." sahut Gio sambil menyerahkan poselnya pada Abi.


Abi menatap Gio binggung.


"pakailah Abi, lanjutkan permainan Gemenya, om tinggal mandi dulu." Ucap Gio sambil beranjak dari duduknya.


Abi melanjutkan permainan game onlane diponsel omnya.


beberapa saat kemudian Abi beranjak dari tampatnya duduk, lalu meletakan ponsel melik Gio keatas nakas disamping kasur.


"Om Abi mau kekamar Oma dulu." teriak Abi dibalik pintu kamar mandi.


"tunggu om Gio sebentar lagi selesai." sahut Gio. ia takut jika terjadi sesuatu pada Abi, meski jarak kamar tempat Umi dan Ratih hanya terpisah dua kamar dari kamar yang mereka tepati.


"Baiklah." ucap Abi lalu pergi kekasur untuk memainkan game di ponsel Gio, sambil menunggu Omnya selesai mandi.


lima menit berlalu Gio sudah keluar dari kamar mandi ia melirik sekilas Abi yang sedang bermain gatget miliknya.


"Abi apa kamu tidak ingin mendi dulu sebelum menemui grandma."


tanya Gio sambari duduk disamping Abi.


"Ya tunggulah Abi mandi dulu, dalam waktu sepuluh menit Abi akan siap." ucapnya berjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi.


Gio melihat Abi yang sangat bersemangat membuatnya menarik sudut bibirnya membentuk bulan sabit.


"Om ini ponselnya Abi kelupaan." ucapnya hehehhehe tertawa kecil, sambil meletakan ponsel ketangan omnya.


"Anak itu." gumam Gio sambil menggelengkan kepalanya.


semantara dirumah Rajenra Arkam. obrolan serius antara Yana dan ayahnya terjadi disebuah sofa yang berada diruang kerja sang Ayah.


"Yana bagaimana bisa Defvan mencurigai Amira bukanlah anak kandungnya." tanya Sang Ayah sambil menatap Yana


"anak dari Hermawan itu ternyata cukup pintar menyadari jika kita menipu Defvan Ayah" sahut Yana dengan wajah datar.


"seperti yang telah kuceritakan ditelpon kemaren." ucap Yana melihat wajah sang ayah menatapnya penuh tanya


"Yana ingatlah tujuan kita jagan kau gagalkan rencana kita." ucap Rajenra dengan wajah serius.


Yana hanya mencibir menanggapi ucapan sang Ayah sambil memainkan ponselnya.


"Yana apa kau tak mendengarkan ucapan Ayah" ucap Rajenra menatap Yana yang sibuk dengan ponselnya.


"aku mendengarnya Ayah." sahut Yana malas.


"Yana aku serius." ucap Ranjenra mulai jengkel melihat Yana yang selalu mengangap segalanya mudah.


"Yana kau itu sudah punya anak tak bisakah kau berpikir sebelum bertindak." ucap Rajenra sambil menatap sang putri.


"Apa maksud Ayah?"tanya Yana.


"kau membukar aib seseorang didepan umum, demi mempermalukannya kenapa?" tanya Rejendra.


"karna aku tak menyukainya, dia tak pantas untuk dokter Yusuf." sahut Yana.


"lalu siapa yang pantas menurtmu? apa itu kau?" tanya Rajendra.


"tidak juga, tapi dia itu bisa mendapatkan gadis kaya yang terpandang dan cantik bukan janda seprti upik abu itu." sahut Yana kecut.


"Yana sudah berapa kali Ayah mengatakan padamu, berhenti mencapuri urusan orang lain." ucap Rejenra sambil menatap tajam sang putri.


"kau ingat tujuanmu menikahi Defvan?" tanya Rajenra.


"tentu saja aku mengingatnya Ayah." sahut Yana sambil melirik sekilas sang Ayah.


"bagus Yana, jagan sampai Defvan menceraikanmu sebelum rencana kita berhasil." ucap Rajenra dengan wajah serius.


"tentu ayah aku akan melakukannya untuk mencapai tujuan kita." sahut Yana dengan angkuh.


"jika itu yang terjadi maka kau harus membuat rencana baru agar Defvan tetap berada disisimu." sahut Rajenra.


"baiklah, aku rasa cukup untuk saat ini Ayah aku harus memastikan jika Defvan tak melakukan tes DNA itu pada Amira." ucap Yana.


"baiklah jika terjadi masalah kau cepat hubungi Aku." ucap Rajenra.


"oh ya hampir saja aku lupa." ucap Yana sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"ini Ayah." ucap Yana sambil tersenyum


"apa ini." tanya Rajendra dengan wajah penasaran.


"Bukalah maka Ayah akan mengetahuinya." sahut Yana.


Rajenra membuka map yang diberikan oleh Yana.


Rajenra tersenyum lebar setelah mengetahui isi dari map itu.


"bukan ini surat kepemilikan sebuah pulau milik Willem." tanya Rajenra.


"ya Ayah benar, itu surat kepemilikan sebuah pulau yang diberikan Willem pada Defvan, sebagai kado pernikahannya denganku, aku sudah berhasil memindahkan surat kemelikannya atas nama Amira." jelas Yana


"bagus Yana, lanjutkanlah sampai Defvan dan tuan willem jatuh miskin." seru Rajenra sambil tertawa.


"kau tenanglah Ayah, akan kubuat ia mengemis pada keluarga kita." sahut Yana dengan bibir tersenyum.


"Yana." panggil Rika (ibu Yana).


"kau disini rupanya," ucap Rika setelah masuk dan melihat Yana ada ruang kerja sang suami.


"Ada apa ibu ?"


"Yana mana tas yang ibu mau kau sudah membelikannya?" tanya Rika serius.


"belum bu, sebaiknya kita keluar dan membelinya bersama" ucap Yana sambil menarik sang ibu keluar.


"Yana kita mau kemana?" tanya Rika setelah masuk kedalam mobil.


"kita akan membeli tas yang ibu inginkan." sahut Yana.


"benarkan, terimakasih Yana kau memang anak yang pengertiaan" ucap Rika tulus.


"sama sama bu". sahut Yana singkat.


kembali ke Paris.


Abi yang sudah selesai mandi kini sudah berada di kamar Umi,Ratih oma bisakah


kita pulang lebih awal dari Bunda dan Ayah tanya Abi dengan hati-hati.


"kenapa? tanya Umi bingung.


"kita harus mempersiapkan toko untuk Bunda." jawab Abi dengan wajah serius.


"hmm baiklah, nanti Umi akan bicara pada Ayah dan Bundamu." ucap Umi tersenyum ramah.


"terimakasih Oma." sahut Abi tulus sambil berjalan mendekati Umi salamah


"sama-sama sayang." sahut Umi sambil mengelus rambut Abi pelan.


"ohya Oma, grendma Abi mau mengajak kalian jalan-jalan apa kalian mau?" tanya mulut kecil Abi penuh semangat.


"kemana?" tanya umi dan Ratih hampir bersamaan.


"berburu kuliner pada malam hari sambil menikmati pemandangan kota." sahut Abi antusias.


Ritih dan umi saling lirik beberapa detik herikutnya merika menganggukan kepala.


tok....tok...tok..


Gio berjalan kearah pintu dan membuknya


"masuklah ka?"ucap Gio sambil tersenyum.


"Abi, Gio, kalian terlihat rapi apa kalian akan keluar?" tanya Risa.


"tentu saja kami akan berburu kuliner dikota ini apa Bunda dan Ayah mau ikut?" tanya Abi.