Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Niat Jahat.


Dalam sebuah rumah kontrakan. sepasang suami istri tampak sedang berbicara dikamar pribadi milik mereka.


"Pa, gimana nih? Lala minta uang lagi?" ujar sang istri.


"baru minggu lalu dikirim masa sudah habis." ketus sang suami.


"Aduh pa, biasalah anak perempuan dia banyak kebutuhan." tandas sang istri tak mau disalahkan.


"Bu, kamu taukan aku ini hanya satpam, gajihku tidak banyak. bagaimana kita mau hidup enak. ibu dan anak-anak tidak bisa menghemat uang." sahut sang Suami.


"Pa, hidup itu perlu uang, semua serba pakai uang, bahkan buat dapat satu ikat rambut saja pakai uang, tidak ada yang memberi cama-cuma." keluh sang istri.


"Makanya bapak itu kerja yang benar, biar cepat naik jabatan, dari dulu sampai sekarang masih saja jadi satpam. betah amat. kamu itu harus rajin Pa, masa kamu kalah sama Hermawan. jagan buat usaha kita sia-sia. " omel sang istri.


"aku tidak mau dengar alasan, satpam baru itu yang nanti diangkat jadi karyawan bukan kamu. jika sampai itu terjadi aku akan cari suami baru lagi." ancam Sang istri.


"eh Siti, kamu itu jangan hanya bisa menyalahkan aku. mau hidup enak, mau banyak uang, harusnya kamu ikut membantu mencari uang, jangan hanya bisa minta dan menghabiskannya saja." bentak Tono mendelik tak suka.


"tugas istri itu menjadi ibu rumah tangga bukan mencari nafkah, bila perempuan tetap bertugas mencari nafkah,untuk apa memiliki suami." ucap Siti sambil melirik sang suami.


"Suami istri itu saling membantu Bu, kita ini sudah menjadi keluarga. jangan menumpuk semua beban di pundakku, aku ini cuma manusia biasa." tandas Tono.


"kamu membacakan surat nikah kita di sana jelas tertulis kamu berkewajiban memberi nafkah lahir batin pada padaku selaku istri aku berhak menuntutmu bila kau tak memberikannya padaku." kata Bu Siti.


"Aku memberikanmu nafkah, bahkan setiap bulan aku hanya mengambil sedikit dari gajihku untuk membeli rokok. kau masih saja mengeluh kurang dan kurang belum lagi Lala yang taunya hanya minta saja." keluh Tono.


"gajihmu terlalu sedikit. untuk hidup berdua saja kurang, ditambah lagi keperluan anak kamu harus mencari pekerjaan yang gajihnya besar." ujar Bu siti memerintah.


"Aku sudah berusaha sampai-sampai harus melenyapkan sainganku berharap peluang besar perpihak padaku untuk menjadi karyawan tetap di perusahan. tapi nyatanya sampai saat ini aku belum diberikan kepercayaan." ucap Tono tertunduk sedih mengingat dosa besar yang sudah ia lakukan bersama sang istri.


"jagan menyesali semua yang terjadi kau harus bisa menarik simpati bos besar di perusahanmu. ingat aku sudah membantumu. jangan sampai usaha kita sia-sia." degus Siti.


"Baiklah akan aku usahakan semampuku besok kau buatkan kue yang enak aku akan mengantarnya untuk Bos besar jangan lupa beri sedikit air yang sudah diberi mantra oleh Ki Wongso." ujar Tono.


mendengar ucapan sang Suami mata Siti berbinar pasalnya selama ini apa yang ia minta pada Ki Wongso selalu membuahkan hasil.


"kau benar pak kita punya air itu sebagai rencana cadangan jika tidak bisa menarik simpati dengan cara baik-baik." sahut Siti.


"Ya sebaiknya jagan mengajakku berdebat lagi besok jagan lupa siapkan kuenya." ujar Tono.


Siti tak menjawab iya berlalu meninggalkan sang suami ke dapur.


"Bu buatkan kopi untukku." teriak tono memerintah.


Di sisi lain, Abi sedang berada didalam kamar, ia mendengarkan percakapan Tono dan juga Siti melalui alat kecil yang di pasang oleh mang Antok dan seorang petugas yang menyamar menjadi anak Mang Antok di rumah tersebut.


"Tidak sia-sia memasang penyadap di rumah satpam itu memang dia pelakunya." batin Abi.


"sebaiknya ikuti dulu permainannya. aku harus meminta bantuan Om Gio, untuk menelpon kepala perusahan agar tidak memakan kue pemberian Tono besok." gumam Abi.


Tak menunggu waktu lama Abi menelpon Gio memberitahukan niat jahat tono dan Siti. Gio mengerti segera menelpon pemilik perusahan. awalnya ucapan Gio tidak dipercayai tetapi Gio terus menjelaskan dan meminta untuk jangan memakan apapun yang diberikan Tono dengan alasan apapun.


setelah mengakhiri panggilan via telpon pada pemilik perusahaan Gio melanjutkan pekerjaannya di ruang kerja rumahnya.


Di kota yang sama. Willem sedang duduk menunggu kedatangan sang putra.


"Daddy kenapa memintaku datang kemari?" sapa Devan sambil berjalan menghampiri Willem.


"Aku hanya merindukanmu nak, tak bisakah kau sedikit meluangkan waktu untuk bersama Ayah. kau bahkan tidak pernah lagi menginap di sini." keluh Willem.


"Rindu! baru dua hari yang lalu bertemu denganku seperti anak muda kasmaran saja." goda Devan.


"Aku tidak bercanda Devan, wajar seorang Ayah merindukan anaknya. Dulu kau selalu bermain setiap hari di rumah ini bersamaku. tak terasa kau sudah tumbuh menjadi pria dewasa kini memiliki seorag putra." tukas Willem sembari mengenang massa lalu.


Devan mencibir sambil memainkan ponsel pintar ditangannya.


"Kau merindukanku aku akan datang menemuimu. tapi saat aku menginginkan putraku datang, kau tak mengijinkannya betapa kecewanya aku memiliki dirimu Dad." ucap Devan Datar.


"Dia hanya membawa malapetaka Dev. jangan membicarakannya lagi." tegas Willem dengan nada tak suka


"kau seperti orang lain bagiku Dad. Aku tidak mengenal dirimu yang seperti ini." ujar Devan


"Aku begini semua untuk kebaikanmu aku menyayangimu Devan mengertilah." sahut Willem sambil menatap sang putra.


"Oh, ya. sebaiknya tarik semua orang suruhanmu itu. Aku tidak suka gerak gerikku diawasi olehmu." kata Devan dengan nada memerintah.


"Aku mengawasimu untuk menjagamu, lagi pula mereka tidak merepotkanmu, mereka justru akan berguna saat kau dalam bahaya." jawab Willem santai.


"cukup Dad, aku sudah Dewasa aku bisa menjaga diriku sendiri." ujar Devan beranjak ingin pergi meninggalkan Wilem.


"Devan, malam ini aku ingin kau tidur disini dikamar milik ibumu." perintah Willem tak ingin di bantah.


"tidak bisa aku memiliki pekerjaan yang harus ku selesaikan." tolak Devan.


"Aku tidak menerima penolakan." tegas Willem menatap sang putra.


mulutnya kumat kamit membaca mantra lalu meniupkan ke wajah Sang Putra tak menunggu lama Devan terjatuh.


bruk.......


Willem tersenyum miring ia lantas mengangkat Devan membawanya ke kamar almarhum Istrinya.


"Bersihkan ia dengan kembang tujuh rupa, kau harus pastikan semua anggota tubuhnya bersih." perintah Putri Arum sesampainya dikamar ia mendapat perintah dari Putri Arum.


"Baiklah aku harus membeli bunga untuk itu." Sahut Willem.


"Aku lihat di rumah Devan banyak bunga kau ambil saja tujuh macam bunga di sana." tutur Putri Arum.


"Willem kau harus ingat aku memerlukan raga carilah wanita cantik dan body yang bagus." cicit putri Arum lagi-lagi Ia memerintah Willem.


"Baik akan saya cari." jawab Willem.