Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Khawatir


Kehadiran Raden Mas membuat Putri Arum bingngung sekaligus takjub akan kesaktian lelaki tua berjubah putih itu.


"Arum sudah waktunya kamu pergi." ujar Dewi teratai sambari menggerakkan teratai yang menjadi pijakannya mendekati putri Arum.


"Berani sekali kamu mendekati aku...!! apa kau tidak takut aku membakarmu dengan api neraka." kata Putri Arum sambil tersenyum sinis.


"Kaulah yang akan di bakar oleh Api neraka Arum." ujar Raden Mas menyela.


"Kakek tua, kau masih saja seperti dulu banyak omong Nyatanya kau kalah menghadapi Aku, belajarlah dari pengalaman." Cicit Putri Arum mencibir.


"Aku memanglah kalah dan sempat tidak bernapas namun rupanya sang pencipta sengaja melakukan itu sementara waktu untuk membuatmu berbangga diri, beberapa menit setelah kamu pergi Aku kambali bisa bernapas dan seseorang dikirim untuk menyembuhkan segala luka yang kau berikan." cerita Raden Mas sembil menerawang masa lalu.


" Mungkin karena kutukanku." lanjut Raden Mas sambil memegang pundak Abi asap tipis keluar dari budak kiri Abi yang terluka disertai dengan teriakan Abi yang memekik merasa begitu sangat sakit.


" Sebelum dia membunuhku aku maka aku lebih dahulu menghabisi nyawanya." teriak putri Arum marah melihat Raden Mas menyembuhkan luka Abi.


"Cobalah, bila kamu bisa! namun sebelum tanganmu sampai padanya maka langkahi dulu aku." kata Dewi teratai.


"Kau sudah pernah mati sangat mudah bagiku melenyapkan arwah penasan seperti kamu." cibir putri Arum.


"Manusia boleh berkata bisa, namun bila yang maha pencipta tidak menghendaki maka tidak akan pernah terjadi...!!" seru Gio ia sejak tadi diam akhirnya buka suara.


"Kau ingin meremehkan aku anak muda. Coba kau lihat siapa yang akan muncul. dari dalam Lembah Api ini." kata Lutri Arum sembari mengibas ngibaskan kedua tangannya dan mulut kumat kamit di yakini Gio adalah sebuah Mantra.


Tidak butuh waktu lama tiba-tiba saja dua buah kepala keluar dari dalam lembah dan semakin terlihat naik keatas hingga akhirnya Abi dan yang lain bisa mengenali dua orang kaki tangan Putri Arum yaitu marcellla dan Willim berada disana.


Abi mengelingkan kepalanya berkali-kali ada rasa tidak percaya diri sorot matanya.


"Jagan tertipu Abi mereka hanya jin." Kata Dewi teratai.


Raden Mas membuka matanya setelah menyalurkan tenaga dalam untuk mengobati luka di tangan Abi ajib luka itu hilang tanpa bekas, Abi memastikan dan meraba-raba bahu kirinya.


"Terimakasih Kek." Cicit Abi orang tua disampingnya hanya mengangguk sambil menatap Putri Arum dan Dewi teratai Adu mulut sekali meluncurkan serengan.


"Raden Mas bawa anak itu kembali sebelum terlambat biar aku menahan wanita ini Semantara disini." teriak Dewi teratai yang usianya lebih tua dari Raden Mas namun wajahnya tetap Cantik bagai bunga teratai yang sedang mekar mampu memikat sebagian orang yang melihatnya lebih lama dan bahkan ingin memilikinya.


Abi kini melihat kehadiran Marcella dan juga Willim keduanya menatap Abi tidak suka.


"Mereka bukan lagi orang yang sama iblis sudah mendarah daging di badannya itulah bumi dan langit tidak menerima mereka." suara itu berasal dari mulut Ratih yang terikat rantai Api dan duduk saling membelanggi dengan Gio.


Willam dan Marcello yang mendengar itu menoleh detik berikutnya meluncurkan serangan namun sayang Dewi teratai sudah terlebih dahulu melindungi keduanya, Dewi teratai mengunakan bunga teratai putih untuk membungkus Keduanya lalu menutupnya menjadi kuncup bunga menariknya dengan kekuatannya kesisinya.


"Arum lepaskan rantai itu dari tubuh mereka." perintah Dewi teratai.


"Aku bukan budakmu." Sahut Arum ketus.


"Oh benarkah? lihatlah dirimu yang terlilit oleh akar terataiku masih saja kamu melawan." ucap Dewi teratai.


"Abi, kita kembali roh Adikmu sedang membutuhkan bantuanmu membawa kembali Ustadz Akbar." bisik Raden Mas segera membawa Abi menghilang.


Melihat Abi sudah kembali Dewi teratai menyerigai menatap putri Arum yang kini sudah berhasil terlepas dari akar teratai.


" Akar milikmu tidak mampu melukai sedikitpun kulitku." sentak putri Arum sambil mencibir.


"Aku memang tidak berniat melukaimu aku ingin bermain-main denganmu !!!" cicit Dewi dengan ekspresi wajah datar.


Putri Arum segera melancarkan serangan Api ke Arah Dewi teratai yang terlihat santai meski jarak dari serangan itu sudah sangat dekat dengannya.


Willam dan Marcella tersenyum keduanya tentu tau sebesar apa dampak yang akan di terima oleh musuh.


Di detik berikutnya Api yang seharusnya melukai Dewi justru tehenti di udara lalu jatuh kedalam lembah Api menyisakan senyum manis Dewi yang terlihat mengejek putri Arum.


Willam dan Marcella saling padang keduanya kemudian menyerang bersamaan ke arah Dewi yang hanya menggerakkan satu tangannya saja membuat serangan itu berbalik Arah.


"Aku harus menahan Putri Arum sampai ustadz Akbar berhasil menusuk dua paku kedalam kakinya." batin Dewi sambil meledeni anak buah putri Arum sesekali Dewi menyerang putri Arum untuk membuatnya kesal.


Di Markas Abi sudah kembali masuk kedalam tubuhnya ia melihat sang Adik masih menutup kedua matanya di sampingnya.


" Abi syukurlah kamu baik-baik saja." ujar Kyai Hasan yang sudah berada disamping Abi membantu Abi duduk bersandar pada kepala Ranjang.


"Iya Kyai, tapi Bagaimana Dewi? ia menghadapi wanita itu sendiri saja aku takut ia tidak mampu mengimbangi lawannya" tutur Abi.


Kyai Ahmad menghampiri Abi sembari menyerahka segelas Air putih yang sudah ia beri Doa sebelumnya.


"Jangan khawatir Dewi teratai yang ada disana bukanlah Anak kecil ia tau apa yang harus dilakukan untuk menghadapi orang seperti Arum." sahut Kyai Hasan.


"Ayah dimana?" tanya Abi sambil melihat sekeliling.


"Biar aku panggilkan." kata Wijaya kemudian beranjak pergi.


Devan yang awalnya duduk di kamar tempat Abi terbaring merasa mengantuk ia beranjak pergi keruang tamu untuk memejamkan mata sebentar tanpa membaca doa terlebih dahulu.


Ia tiba-tiba terseret kedalam mimpi buruk, disanalah ia melihat Amira seorang putri dari Yana yang dulu sewaktu kecil sering sekali diasuh olehnya tersesat di alam gaib. Anak itu di sukai oleh salah satu makhluk yang tinggal disana dan ingin dijadikan sebagai seorang istri.


Amaira yang melihat lelaki yang ingin menjadi suaminya gagah tentu saja senang apalagi emas permata serta istana megah akan menjadi miliknya ia bersuka cita. Sedang Devan yang melihat sosok asli dari makhluk itu bergidik ngeri.


"Ayo orang tuanya sudah ada disini kita mulai acaranya." ucap seorang diantara makhluk-makhluk itu.


"Ayo cepat bawa orang tuanya kemari." perintah seseorang yang terlihat berkuasa mungkin itu adalah raja.


Devan diseret ikut duduk di samping Amaira.


Saat ini Wajah-wajah mengerikan itu berubah menjadi orang yang terlihat sama seperti manusia pada umumnya di mata Devan entah mantara apa yang diucapkan oleh seseorang saat menepuk pundaknya tadi.


"Amaira aku ingin bicara sebentar dengan kamu boleh." minta Devan.


"Ah tentu saja Ayah kamu ingin minta sedikit permata untukmu akan kuberikan nanti tolong resmikan dulu pernikahan ini." sahutnya sedang lelaki yang berada tak jauh dari Amira tersenyum..


"Ayah dimanapun kamu kembalilah sekarang." ujar sebuah suara yang dikenal Devan lalu kepala Devan pusing sempat pula ia mendengar orang membaca Al-qur'an.


Dengan bantuan kyai Ahmad dan kyai Hasan Abi berhasil menarik kembali sukma sang Ayah.


"Abi Ayahmu Yusuf pingsan di kamar mandi aku terpaksa mendobrak kamar mandi kerena terkunci dari dalam." lapor Wijaya.


"Sepertinya putri Arum segeja membuat kita semua sibuk." lanjutnya.


Laras mendekat sedikit, dengan ilmu yang ia miliki Larasati mengetahui kemana sukma Yusuf.


"Sukmanya berada di tempat putri Arum bersama Ustadz akbar." jelas Laras.