
Malam ini sepertunya akan menjadi malam yang panjang untuk Abi dan kawan-kawan.
Dewi Teratai terbang menyusuri hutan larangan mencari keberadaan roh tanpa raga Yusuf dan ustadz Akbar. Bukan tanpa alasan ia memilih untan tersebut Dewi dapat merasakan aura berbeda di hutan tersebut.
Di sisi lain dua roh yang di cari Dewi di lempar oleh wanita berjubah merah ke dalam hutan larangan begitu jauh dari markas milik Abi.
Dua roh tersebut terbang menyusuri hutan gelap di temani oleh suara binatang malam yang membuat hutan tersebut tarasa angker, di tambah lagi angin dingin dan sesekali suara tawa mengikik kadang juga mereka melihat mahluk-mahluk mengerikan penghuni hutan itu.
Kedua terus terbang untuk mencari jalan keluar, energi mereka terus terserap oleh tongkat yang di bawa Ustadz Akabar bahkan ada arwah penasaran yang ingin menganggu mereka energinya ikut terserap wanita berwajah mengerikan itu memekik meminta tolong sayang sekali tidak ada satupun yang mau menolongnya mereka semua takut bernasib sama.
Wanita ahirnya lenyap terhisap habis kini tongkat itu semakin terasa beras dan ingin berontak Ustadz Akbar segera melilitkan tasbih di kepala tongkat di bantu oleh Yusuf keduanya melanjutkan perjalan.
"Ustadz syukurlah aku menenukan kalian......!!" seru Rubah putih.
Dua roh tersebut menoleh secara bersamaan
"Rubah, kau dikirim Abi?" tanya Yusuf
"Bener Abi dan kyai mengirim aku untuk membantu kalian menuntun jalan pulang sahut Rubah, Mari ikutu aku." jawab Rubah segera bejalan.
Baru beberapa menit mereka mengikuti rubah Sebuah suara kembali menghentikan langkah ketiganya.
"Ayah, Ustadz jangan mengikuti rubah itu...!! seru Ratu teratai.
Yusuf dan Ustadz Akbar saling pandang lalu mengangkat bahu tanda mereka tidak mengerti.
"Aku di utus Abi dan Kyai menuntun mereka untuk kembali." ujar sang rubah.
"Mengikutimu terlalu lama kau bisa membahayakan nyawa mereka, cobalah kamu perhatiakan tongkat yang di bawa Ustadz tongkat itu terus menyerap energi mereka bila sudah habis energi keduanya bisa jadi roh mereka akan ikut terserap masuk." jelas ratu teratai.
"APA...? Sepatal itukah resiko yang harus mereka terima? Tapi kenapa aku terpengaruh sama sekali. Rubah bertanya dengan wajah bingung.
"Itulah yang juga menjadi pertanyaan di benakku..." jawab ratu teratai kemudian membuka portal gaib lantas mempersilakan ustazd Akbar dan Yusuf masuk lebih dahulu.
Yusuf dan Ustadz Akbar tidak ingin berdebat merasa energi mereka semakin terkuras keduanya masuk tanpa sepatah kata pun terucap. rubah juga tidak mau ketinggalan ikut serta memanfaatkan fortal gaib tersebut.
"Semoga kalian semua pada ahirnya selamat." batin Ratu teratai.
" Sungguh mengerikan sekali kesaktian yang terdapat dalam tongkat milik eyang mu itu Abi, dalam sekejap ia bisa menyerap semua energi yang berdekatan dengannya bahkan aku pernah mendengar saat sang pemilik tongkat marah istana yang mengah beserta semua benda hidup dan mati di tempat tersebut leyap tanpa bekas." apa ada kehidupan di dalam tongkat tersebut? atau Justru monster? Sampai detik ini tiada yang tau.....!!" Monalog Ratu teratai sembari terbang masuk kedalam fortal gaib dalam detik berikut fortal itu menghilang.
Istriku Akbar dan Yusuf lebih dulu sampai melihat sekeliling mereka terbang menuju raga masing-masing.
"Masukalah Ayah, Ustadz lebih cepat lebih baik...!!" ujar Dewi teratai kecil berseru.
Tanpa mau membauang waktu kedua roh tersebut masuk kedalam raga masing-masing.
Merasakan adanya sebuah kekuatan besar Kyai Ahmad dan kyai Hasan wapada sambil menatap satu sama lain.
Yusuf pelahan membuka matanya wajah pertama yang ia lihat adalah wajah sang putra yang berada didekatnya. Abi memberikan senyuman untuk sang Ayah.
Di sisi lain Ustadz Akbar juga membuka matanya namun sebulum matanya terbuka Zahra melihat pergerakan ditangan sang Ayah yang seperti mengemgam sesuatu begutu erat.
Zahra ingin memegang tangan sang Ayah namun ia justru merasakan sebuah tarikan yang begitu kuat, melihat kejadian itu Kyai Hasan dan Kyai Ahmad segera menghampiri memengang pundak Zahra mereka juga ikut merakan tarikan yang begitu kuat.
Kini Ustadz Akbar sudah membuka matanya sebuah tungkat kayu muncul di tangannya.
Raden Mas muncul di saat yang tepat, ia segera mengunakan kesaktian miliknya energi tiga orang yang sedang di serap tidak habis.
Abi terkejut begitu ia mentap bingung dan tau tau apa yang harus ia lakukan mengingat kesaktian miliknya bulum juga kembali.
Ratu teratai yang kini sudah berada dindalam tubuh Dewi teratai kecil segera membatu Raden Mas hingga Ahirnya Kyai Hasan, Kyai Ahmad, dan Zahra terlental dan memuntahkan darah segar.
"Duduklah aku akan mengobati kalian dan untuk Ustadz Akbar nanti Dewi akan mengambil obat di ruang Demensi kaka." ujarnya memerintah.
Kekuatan di tongkat semakin tidak bisa di kendalikan Yusuf berteriak meminta Ustadz Akbar untuk segera menyerahkan ke kyai Ahmad.
"Lepeskan saja nak, aku akan menahannya agar tetap berada di rumah ini...!!" seru Raden Mas melihat wajah Utadz Akbar begitu pucat terlihat sekali ia berusaha sekuat tenaga akar tongkat itu tidak berontak.
"Dewi buat Arai pelindung." perintah Raden Mas. Ratu teratai yang sedang menyalurkan tenaga dalam tersentak ia segera menghentikan aktivitasnya untuk membuat sebuah dinding pelindung.
"Sudah Dewi tidak perlu di teruskan kami jauh lebih baik sekarang, terimakasih biar kami membatu Mengendalikan tongkat berbahaya itu....!! Tukas Kyai Ahamd di angguki oleh Kyai Hasan dan Zahra.
Yusuf medakati sahabat ayahnya yang masih belum melepaskan tongkat yang di amanahkan padanya di ikuti oleh Abi di belakangnya.
"Aku tidak akan melepaskannya keculi ditangan Kyai Ahmad sesuai amanah dari wanita itu." lirih Ustadz Akbar terdegar lemah.
Mendengar itu Kyai Ahmad mendekat ia mengulurkan tangan kanannya untuk mengapai tongkat yang beruha keras berontak ingin melepaskan diri seakan tongkat itu kemiliki roh didalamnya.
Saat tangan itu sudah dapat menggenggam tongkat tersebut Ustadz Akbar melepaskannya perlahan-lahan tiba saja tongkat itu bergarak cepat dan menumbuk tepat di ulu hati Ustadz Akbar membuat sang pemilik tubuh menjerit kemudian tidak sadarkan diri.
Kyai Ahmad yang berusaha menarik tongkat bersama kyai Hasan terkejut tidak menyangka hal seperti itu akan terjadi.
"Gunakan ilmu kalian...!!" seru Raden mas sembari melangkah mendekati keduanya lalu membuat sebuah arai kono yang tidak mudah untuk dintembus.
"Keluarlah biarkan Semantara tongkat ini berada didalam terlalu berbahaya untuk kalian." jelasnya.
"Tongkat apa ini kenapa kekuatan menghisapnya sangat besar? Tanya Kyai hasan yang sejak tadi mulutnya gatal ingin bertanya.
"Tongkat ini milik Ratu Kayangan ratu para bidadari. Entah apa yang di janjikan oleh Dewi Lasmini hingga sang Ratu mau meminjamkan tongkat saktinya untuk menarik kekuatan milik Putri Arum. Sayangnya gadis yang terpilih hanya mampu mengunakannya sekali yaitu menghisap kesaktian milik arum, kekuatan gadis itu tidak sanggup menutup kembali daya hisap dari tongkat tersebut ia menghembuskan napas terahirnya sesaat setalah melempar Akbar dan Yusuf keluar." cerita Raden Mas yang mengetahui semua itu lewat sebuah cermin di dalam ruang Demensi miliknya.