Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Umi sakit


Willem menatap intent istri muda mencari kebohongan dimatanya namun ia harus menelan kekecewaan mana kala semua yang di katakan oleh Maercella adalah keyataan pahiy yang harus ia terima.


"bodoh kenapa dulu aku tak berpikir panjang menjadikannya istri." umpet Willem tentu saja itu hanya berani ia ucapkan dalam hati.


"kenapa kau menyesali perbuatanmu tuan Willem yang bodoh." celetok Marcella.


"jaga ucapanmu aku ini suamimu." sahut Willem ketus


"suami macam apa! yang menutup mata saat istrinya sedang sekarat di mana kau saat itu? kau tau istrimu di ambang kematian tapi kau dengan liarnya menyalurkan nafsumu padaku. kau bahkan berkali-kali menyangkal saat Defvan mengatakan istrimu itu di bunuh." hahahaaaaa tawa Marcella kembali pecah.


Willem mendelik mendengar ucapan sang istri. mencoba mencerna kembali setiap kata yang di lunturkan mulut manis Marcella hingga sebuah kesimpulan ia dapatkan


"Di bunuh! apa kau yang melakukannya." tanya Willem sambil menatap tajam.


"Aku, bagaimana mongkin aku mekukannya sedang saat itu aku melayanimu yang sangat buas." elak Marcella.


"Kau yang mengodaku kala itu kau segaja masuk mengantarkan bubur dengan pakaian kurang bahan membuatku tak bisa menahan diri, apalagi istriku sedang sakit mana tega aku memintanya, lagi pula aku leleki normal." sangkal Willem


"tapi saat kau melakukannya kala itu istrimu mengintip lewat celah pintu yang tak terkunci. membuatnya sesak dan berjalan lemah kekasurnya, setelahnya ia berteriak frustasi seperti marah, benci dan kecewa bercampur menjadi satu. Entah apa yang di lihatnya setelah itu ia mengeram sambil menyakiti dirinya sendiri hingga leleh dan nafasnya semakin memburu membuatnya ambruk dan menghembuskan nafas terahirnya cerita Marcella.


"kau bagaimana kau tau sedetail itu?" tanya Willem curiga.


"Willem-willem kau itu terlalu tergesa-gesa setiap menagmbil keputusan tanpa berpikir akibatnya. tentu saja aku tau itu karna aku mendengernya saat itu, aku mencari iformasi dari cctv tersembunyi dikamar istrimu itu." ungkap Marcella.


"Cctv di kamar Reyana bagaimana aku lupa akan hal itu." gumamWillem.


hahahahahahaha......


"tentu saja kau lupa. saat itu kau sibuk menanagkan Defvan. Dan aku yang juga mengacamu akan melaporkan perbuatanmu padaku pada pihak berwajib. otakmu saat itu menerima dengan lapang dada apa yang di katakan dokter." cerita Marcella.


"ayo kita pulang aku harus melihat rekaman Cctv itu." Ajak Willem seraya bengkit dari tempat duduknya berjalan menuju pintu keluar di ikuti oleh Marcella.


"mana ada rekaman itu sekarang kejadian sudah puluhan tahun" sahut Marsella menyerigai licik, sambil berjalan mengikuti Willem.


Bodoh kenapa aku bagitu bodoh batin Willem merontoki diri sendiri.


************************


Di toko milik Risa.


Abi yang sudah selesai membuat kue pesanan pelangan menemui sang Bunda ia ingin meminta ijin untuk pergi ke padepokan.


"Bunda boleh Abi ngobrol sama bunda?" tanya Abi sopan.


"Tentu saja nak, ayo kita ke atas saja biar kamu bisa istrihat sekalian." ucap Risa.


"Laura kamu gantikan saya sebentar di kasir, saya dan Abi mau istirahat sebentar" perintah Risa.


"siap bu." sahut Laura ramah.


"ya sudah saya tinggal dulu ya, nanti kalo yang pesan kue datang kamu kasih saja nota pembayaran yang sudah saya siapkan." tukas Risa.


"iya bu saya paham." sahut Laura.


"jagan lupa senyum yang manis tante Laura biar Abang yang ambil kuenya kepincut." goda Abi sambil berlalu mengikuti Bundanya yang lebih dulu naik ke lantai atas.


sesampainya di sebuah ruang khusus untuk istrahat Abi duduk di sofa panjang di samping sang Bunda.


"mau bicara Apa nak?" tanya Risa sambil mengusap rambut hitam Abi.


"MasyaAllah niatmu sungguh mulia nak, tapi saat ini kamu masih sekolah disini, bagaimana nanti jika kamu menetap di sana?" tanya Risa.


"memang harus tinggal di sana ya bu?" tanya Abi balik.


"tentu saja nak, belajar di pondok pesanteren itu harus menetap agar ilmu Agama dan hapalan Al-Qur'an dimalam hari tidak ketinggalan." jelas Risa sambil tersenyum.


Abi mengangguk mengerti.


"begini saja nanti setelah Abi lulus SMP Abi boleh mondok di padepokan Al-Azam." ucap Risa sambil melirik sang putra.


"Baiklah Bunda." sahut Abi dengan wajah cemberut.


"sekarang kamu istirahat dulu nak di kasur biar Bunda temani." tukas Risa.


Abi yang leleh cepat sekali tertidur setelah bertemu bantal.


Risa tersenyum melihat wajah menawan Abi.


"cepat sekali kamu besar nak, semoga semua keinginanmu terkabul suatu hari nanti." Do'a Risa mengecup sekilas kening Abi.


drat....dratt....drattt.


merasa ponsel miliknya berbunyi di saku baju Risa segera mengambil dan mengangkatnya.


"Assalamulaikum Bu." sapa Risa melalui sambungan ponsel miliknya.


"Walaikum salam Risa, bisa tidak kamu telpon Yusuf, Umi pingsan ibu sudah bagunkan tapi tidak bagun juga." ucap Ratih dengan nada cemas.


"pingsan bu kenapa bisa?" tanya Risa.


"Tadi Umi sempat mengeluh sakit perut seperti kram katanya ,terus ibu suruh istrahat katanya gak papa nanti juga sembuh sendiri, tak lama Umi pergi ke kamar kecil, ibu tunggu sampai 15 menit lebih gak keluar-keluar lantas ibu menyusul dan mengedor pintu tapi tak ada jawaban, ibu minta tolong aja kang dadang buat dobrak pintunya ternyata umi pingsan di dalam." cerita Ratih


"Ya udah ibu terus usaha bagunin Umi nanti Risa pulang dan juga telpon mas Yusuf buat periksa ibu." sahut Risa.


"iya nak cepat ya ibu takut terjadi apa-apa muka Umi pucat sekali." minta Ratih cemas.


ya sudah Risa tutup dulu telponnya biar Risa telpon mas yusuf ucap Risa.


"iya nak, semoga di angkat sama Yusuf tadi ibu sudah minta bibi nelpon gak di anggakat." jelas Ratih.


"mongkin mas Yusuf lagi memeriksa pasiennya bu." sahut Risa.


"Risa matikan ya bu, Assalamualaikum."


"Waalaikum salam" sahut Ratih sambil meletekan kembali ponselnyasl di atas nakas.


tak membuang waktu lama Risa segera menelpon Yusuf dua kali panggilan tak di angkat Risa menghembuskan napas perlahan sambil berucap dalam hati" mas angkat dong ibu sakit." gumamnya


"sakali lagi jika kamu tidak mengangkatnya aku pulang dan membawa Umi kerumah sakit." monalog Risa.


di panggilan ke lima telpon tersambung Risa menjelaskan pada Yusuf apa yang di ceritakan ibunya padanya. Yusuf yang mendengar itu dengan cepat meminta tolong mang dadang membawa Umi kerumah sakit tempatnya bekerja.


setelah memberikan kabar buruk pada suaminya Risa segera membagunkan Abi.


"Abi....abi... nak." ayo bangun ibu mau pulang ucap Risa sambil memencet hidung mancung Abi.


oma....oma... teriak Abi di sela tidurnya sambil duduk dengan Ekpresi wajah cemas.