Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Penawaran


Maski masih siang hari keadaan hutan begitu sepi binatang hutan pun seakan enggan melakukan aktivitas entah karena apa.


Melihat tempat yang luasdan masih asri dengan rumput hijau yang mereka pijak seakan ada yang merawatnya begitu pula dengan pohon yang tubuh seakan tersusun rapi ada pula bunga-bunga kecil yang menambah cantik hutan tersebut udara yang terasa alami tanpa polusi.


Putri Lasmi dan pengikutnya terkesima melihat pemandangan yang ada di depan mereka.


"Bagaimana apa kalian takjub dengan hutan ini berada dibawah kendaliku dan juga Ka Abi." tutur Dewi membuat Lasmi terkejut.


"Apa maksudmu bagaimana bisa hutan larangan ini berada dibawa kendali kalian." pekik Lasmi tidak percaya.


Risa dan Yusuf juga menanti jawaban sang putri ia juga terkejut mendengar ucapan putri kecilnya itu.


"Jika hutan tidak berada dibawa kendali Dewi dan Abi bagaimana bisa kita masuk kemari dengan mudah sedangkan untuk mememsauki daerah ini harus menembus arai kono berlapis maka tidak heran jika mereka akan tiada sebelum masuk kedalam hutan ini." jelas Wijaya.


" Omong kosong ngaku bahkan tidak kesulitan masuk kemari. "Sahut Lasmi di angguki William.


" Itu karena kami yang memimpin jalan jika kalian tidak percaya cobalah keluar dari tempat ini tanpa kami bila kalian bisa maka aku akan mencium kakimu." kata putri Larasati menantang.


" Aku akan keluar Nona bila aku berhasil keluar dengan selamat maka kau harus menjadi istriku." seringai William yang tertarik akan kecantikan Larasati.


Mendengar ucapan William membuat Mars ingin sekali memukul mulutnya, entah kerena apa ia begitu tidak suka William yang menatap penuh makna dengan Larasati sejak tadi.


Abi menyikut sedikit lengan Mars yang mengepal Menahan amarah.


William berjalan dengan percaya diri berniat keluar deri hutan sedang Abi tersenyum tipis nyaris tidak terlihat.


"Putri Lasmi apa dengan jumlah ini kau mau melawan kami semua termasuk pasukan tersembunyi dihutan ini?" Tanya Dewi.


"Jangan besar kepala Dewi kau itu tidak lagi memiliki kekuatan apapun hanya ilmu bela diri yang tidak jelas asal usulnya mana mungkin mampu melawan kami." ejak Lasmi.


"Benarkah begitu apa kau yakin tanpa mengunakan tanganku pun kau bisa terluka dan bahkan binasa." balas Dewi tersenyum penuh kaku.


Risa Yusuf dan Sinta berdiri dibelakang Dewi mereka siap maju bila sang Dewi di serang secara mendadak tanpa aba-aba.


"coba kau kabari ibumu dan ajak dia kemari, ayo Lakukan aku ingin Ibumu juga ada disini menyaksikan pertarungan kita." tutur Dewi sambil berjalan mendekati Lasmi.


Abi masih saja diam, membuat William bingung biasanya anak itu banyak bicara.


"Abimanyu apa sekarang kau bisu!" seru William.


"YA, Kaka ku tidak bisa bicara dengan orang sepertimu Tuan William dia bahkan tuli bila kau berteriak sampai pita suaramu rusak percuma Kaka ku tidak akan menjawabnya." terang Dewi membuat Risa dan Yusuf sang pandang kerena keduanya tau bila Abi mogok bicara itu artinya dia sangat marah.


Di tempat berbeda Devan bersama orang kepercayaannya keluar dari tempat mereka bersembunyi.


Aku kita susul mereka aku takut sesuatu yang buruk terjadi ajak Mars.


"Tapi kita tidak tau kemana mereka semua"


Aku tau kamu pasti sangat terkejut dengan apa yang kamu lihat semua memang terlihat mustahil tapi itulah kenyataannya jujur aku juga sama. Ayo kita cari mereka semua lagi-lagi Devan mengajak pergi menyusul Abi dan yang lainnya.


"Jadi bapak melihat apa yang saya lihat Naga dan gagak raksasa itu bukan hayalan saya saja itu memang ada?" tanya Fahri orang kepercayaan Devan menggantikan Mars.


Devan menyalakan Gps di Henpon canggih miliknya mencari tau keberadaan Yusuf.


" Depat." cicit Devan ia segera menarik Fahri agar ikut dengannya.


Dalam perjalanan mereka tidak saling bicara seakan asyik dangan fikirannya masing-masing.


Kembali kehutan Larangan.


"Dewi jangan banyak bacot cepat hadapi aku." tantang Lasmi.


"Dengan senang hati nona Lasmi." jawab Dewi.


Lasmi mengubah bentuknya menjadi setengah iblis dan badan yang besar layaknya orang Dewasa.


"Dewi tersenyum mengejek melihat rupa dari putri Lasmi. Kau jelek sekali Lasmi tandukmu itu bahkan sangat tidak pantas berada dikepalamu." ejek Dewi sambil tertawa.


"Diam kau jaga mulutmu kalau tidak ingin aku merobeknya." acam Lasmi.


"Hahahaha aku tidak asal bicara nona Lasmi coba kau bercermin lihatlah Wajahmu itu sangat Jelek." Sahut Lasmi kembali mengejek.


Sinta dan Mars sudah bertarung melawan dukun-dukun sakti begitu pula Risa dan Yusuf.


Jumlah dukun itu kita bertambah lagi belum lagi ada dua dukun yang mempu mengandalkan dirinya membuat mereka kerepotan. Sedang Abi berasrama William yang masih saja memancing Abi agar mau membuka suara.


Dewi melihat ada rubah putih milik kakanya, dengan bahasa isyarat ia meminta rubah itu memanggil bala bantuan lagi yaitu Zahra Kyai Hasan dan Juga Ustadz Yusuf, malam hampir tiba lawan mereka pasti akan semakin bertambah sudah pasti putri Arum membawa pasukan tak kasat mata untuk itulah mereka membutuhkan bantuan Kyai.


Bagaimana ini Mars kesaktian para dukun ini bukan main-main ujar Risa tersentak mundur bersama Yusuf saling menempelkan punggung.


"Jagan menyerah bunda, lihat anak-anak kita mereka sama seperti kita tidak ada kekuatan apapun percayalah bantauan pasti datang kita pasti menang." jawab Yusuf menenangkan Sang istri.


Kedua kembali mengikis setiap serangan yang tertuju padanya.


Sedang Abi memberikan isyarat kepada sang Adik yang di angguki oleh Dewi.


Abi meminta Dewi untuk mengunakan otaknya. Jika dalam segi kekuatan mereka kalah maka bukan berarti mereka kalah dalam hal kecerdasan otak.


Berhenti teriak Dewi sambil melompat ke salah satu dahan pohon.


William dan Lasmi memberikan isyarat untuk berhenti sesaat.


Sebaiknya kita obati luka-luka kita terlebih dahulu sambil menunggu putri Arum datang. Aku ingin semua berakhir tidak ada lagi pertarungan di kemudian hari untuk itulah aku ingin semuanya hadir disini. Dan bila bisa kita selesaikan malam ini juga bila bukan kelompok kami binasa maka kelompok kalian lah yang akan binasa jelas Dewi panjang lebar.


"Aku setuju, aku juga tidak ingin terus mengulur waktu toh pada ahirnya tetap saja saling berlawanan." Sahut William.


"Aku dan ibu sebenarnya ingin mengajukan jalan damai untuk kalian tidak perlu saling bermusuhan seperti saat ini." ungkap Lasmi.


Abi menatap sang Adik begitu pula Risa Dan Yusuf saling tatap seolah bertanya satu sama lain.