Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
tak terduga


Dokter Nicolas melakukan pemeriksan kembali pada Umi untuk memastikan seberapa jauh Virus menyerang ibu dari sahabatnya.


"Bagaimana Nic,?" tanya Yusuf.


"Virus berhasil ditahan oleh ramuan herbal yang di berikan oleh putramu. tapi aku tidak tau sampai kapan ramuan Harbal seperti itu bisa menahannya." jelas Nicolas.


"jika demikian aku akan meminta Abi membuat kembali obat herbal itu setidaknya untuk semantara waktu selagi aku membuat Vasin untuk Virus tersebut." ujar Yusuf.


Nicolas mengangguk menyetujuai ucapan sahabatnya.


"jika kamu ingin ber istirahat aku bisa membawakan kasur untukmu kekamar ini." tukas Yusuf sambari tersenyum.


"Tidak perlu kasur Yasuf cukup sofa empuk saja." sahut Nicolas sambil nyengir.


"baiklah akan segera kusediakan untukmu sob." ucap Yusuf berlalu meningalkan Nicolas bersama Umi dikamar Rahasia milik Marcello.


Saat ini Umi salamah sudah berada dirumahnya, miski pihak rumah sakit sempat tak mengijinkan pasien dibawa palang, akan tetepi dengan kecerdasan otaknya Yusuf berhasil membawa Umi salamah pulang dengan syarat jika tarjadi hal yang tak dinginkan pihak rumah sakit tidak mau bertanggung jawab.


padepokan Al Azam.


Mars terlihat sedang sedang duduk di kursi yang berada teras rumah Kyai Hasan.


"Nak Mars, apa betah tinggal disini?" tanya Kyai Hasan sambil meletakan dua gelas kopi diatas meja kemudian ia ikut duduk dikursi.


"tentu saja Kyai tempatnya sangat nyaman dan asri masih banyak popohonan disini." jawab Mars terlihat antusias.


"Syukurlah jika Nak Mars menyukainya sering-seringlah berkunjung kemari." ujar Kyai Hasan.


"IsyaAllah pa Kyai, Anak-anak yang mondok disini juga sangat ramah dan sopan." ungkap Mars sambil melihat berapa murid Kyai Hasan terseyum Ramah padanya.


"memang sudah semastinya kita sebagai manusia itu bersikap ramah saling menghormati sopan dan tidak membeda-bedakan status sosial." sahut Kyai Hasan ikut menatap bebrapa santri


Mers terseyum mendengar jawaban Kyai Hasan dalam hati ia membenarkan ucapan beliau.


"Oh iya Kyai bagaimana orang tua santri yang meminta tanggung jawab pada padepokan ini?" tanya Mars penasaran.


" Kami memberi pengertian dan lemah lembut menjelaskan awal mula musibah itu terjadi hingga berahir tak tertolong, sabagai manusia kami mengatakan pada keluarga korban tak dapat melawan kehendaknya. Dengan berat hati Ahirnya keluarga korban bisa mengerti dan menerima." cerita Kyai Hasan.


"skyurlah jika masalahnya bisa diselasaikan dengan cara kekeluargaan." ucap Mars sambil melihat rintintik hujan yang membasahi dedauanan serta tanah.


"Nak Mars jika saya minta bantuanmu apa kamu bersedia?" tanya Kyai Hasan sambil menatap kedalam manik mata Mars.


"IsyaAllah Kyai jika saya bisa membatu akan saya usahakan." Sahut Mars tanpa ragu.


"Bagini Nak, saya tau kamu bukanlah pemuda biasa, didalam darahmu mengalir darah seorang pejuang yang berjaya pada massanya." ucap Kyai Hasan.


Mars tersebtak kanget apa yang dimaksud Kyai darah kakek bunyut yang berjaya pada massanya. batin Mars.


"Kamu benar nak Mars darah pangren diponogoro yang mengalir dalam nadimu." ucap Kyai Hasan sambil menyesap kopi hitam digelasnya.


Lagi-lagi Mars terkejut mendapati Kyai Hasan mengatahui ucapannya yang hanya ia ucapkan dalam dalam batinnya.


"Assalamulaikum." sapa Kyai Ahmad dan Ustazd Akbar.


"Walaikumsalam." sahut kedua laki-laki berbeda usia itu serempak.


"Ini Mars Khalin diponogoro laki-laki yang sudah saya ceritakan sama kakak." ucap Ustadz Akbar.


"Nak Mars kenalkan saya kyai Ahmad." kata Kyai Ahmad ramah.


"Auramu begitu kuat nak sepertinya kekekmu segeja mnyengel kekuatanmu entah apa tujuannya." tukas Kyai Ahmad.


"jujur saja aku tidak mengerti maksud kyai." ungkap Mars sambil mengaruk kepala yang tidak gatal.


"sertinya Aku harus menawamu ke-masa lalu." gumam Kyai Ahmad.


"Apa kakak berniat membuat mesin Waktu?" tanya Ustazd Akbar dengan mentap Kyai Ahmad.


"Apa kamu ingat masin waktu yang di buat oleh Marcello?" tanya balik Kyai Hasan.


"Bukankah Mesin itu belum selesai secara sempurana bahkan belum pernah di oprasikan meski sudah 90 persen." timpal Kyai Hasan.


"otak pintar Abi Yusuf dan Mars akan mampu membuat mesin waktu itu bisa digunakan." tukas Kyai Ahmad tegas.


"Aku tidak mengerti." ucap Mars binggung. "untuk apa pergi kemassa lalu?" lanjutnya bertanya.


"untuk membuka segel yang tertanam dalam dirimu." tukas Kyai Hasan.


"Nak apa kamu sudah pernah bertemu dengan penjagamu yang turun menurun." ujar Kyai Hasan.


"penjagaku Siapa? aku semakin bingung mendengar penjelasan kalian." ucap Mars sambil berfikir.


ketiga tokoh agama itu saling pandang kemudian salah satunya berucap.


"Nak apa kamu pernah mengalami masalah dan kemudian di tolong oleh hal yang tak masuk di akal seperti binatang buas tiba-tiba menolong?" tanya Ustazd Akbar sambil menatap Mars.


Mars terlihat berkir mengingat sesuatu di Massa lalu.


"Aku pernah terjatuh kedalam sumur tua yang dalam saat belajar bersepeda. entah dari mana seekor binatang buas menolongku etah dari mana datangnya." ungkap Masr sambil menggingat massa lalu.


"binatang apa tanya?" kyai Hasan sambil menatap langit sore.


"Naga putih bernama bayura." sahut Mars etah mengapa otaknya memerintah untuk mengucapkan nama Bayura.


"hari sudah mulai senja sabaikya kita lanjutkan nanti obrolam kita. ayo nak Mars ikutlah sholat di mesjid." ajak Kyai Hasan.


"iya saya pasti akan ikut." sahut Mars antusias.


Di rumah Milik Willeam.


"Marcella sudah ku jelaskan jagan melibatkan putraku." ucap Willem.


"Defvan itu bagai nyawa bagimu dan Aku tak menyukai itu."batin Marcella.


"akan aku buat kau dan putramu bertekuk lutut dihadapan kakek tua." ucap Marcella menyerigai licik.


"baiklah aku tidak akan melibatkannya." sahut Marcella meyakinkan.


"untukmu Yusuf aku tunggu saja kejutanku." batin Marcella.


"apa yang otakmu pikirkan Marcella tidak cukupkah aku mengikuti ide gilamu menjadi agen pejualan organ tubuh." celetuk Willem kesal.


"hhahahahhahah, kau juga menikmati hasilnya tuan Willem jangan sok suci." sahut marcella tertawa sumbang.


"kau ingin mengeser posisi tuan Adam bukan lakukan lah sekarang jadilah ketua Asusiasi seni dunia." tukas Marcella sambil menatap bola mata milik Willem.


"Dari mana kamu tau?" tanya Willem terkejut seingatnya ia tak pernah bercerita dengan Marcella.


"hahhahahahahhaha, massa kecilmu saja aku bisa tau, apa lagi hanya itu hal yang sangat mudah bagiku." sombong Marcella.


"oh iya Mas aku ingin berlibur ke korea selama satu bulan, kau harus mengijinkanku." minta Marcella memaksa.


"untuk apa kesana?" tanya willem.


"aku ingin membuka salon kecantikanku disana!" ucap Marcella.


"terserah kau saja." sahut Willem janggah.


"Akan ku gunakan waktu itu untuk bertapa." batin Marcella.


Marcella bangkit dari sofa lantas berjalan menju kamar pribadinya.


Dirumah Umi salamah.


Abi dab Yusuf sedang membuat obat hebal serta sebuah vaksin tampak sangat serius tak ada yang bebicara hanya tangan yang terus bergerak mencapur berbagai bahan.