Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Tes DNA


pesta resepsi Yusuf dan Risa sudah selasai, kini hanya tinggal beberapa orang yang membersihkan dan merapikan halaman belakang rumah Umi salamah.


Risa, Abi, dan Yusuf sedang membuka kado penikahan dikamar tamu, kado sengaja diletakan dikamar tamu karna Abi, umi, dan Gio sudah sudah menghias kamar pengantin untuk Risa dan Yusuf.


"Abi." panggil Gio.


"hai om Abi disini ! ada apa?" sambil menegok Gio didepan pintu.


"hemmmmm om Gio mau ajak kamu kemini market sebentar." ajak Gio


"sebentar ya Om Abi ijin sama bunda dan Ayah dulu" sahut Abi.


"oke." jawab Gio sambil tersenyum.


"Bunda Ayah boleh tidak Abi nemenin Om Gio kemini market" minta Abi.


"boleh, tapi jangan sampai malam ya Abi sama om Gio harus istirahat." sahut Risa yang di angguki oleh Yusuf.


"siap bunda." ucap Abi sambil mendekat mencium pipi bundanya dan dan mencium punggung tangan Yusuf.


"daahhhh Abi pergi dulu." sambil berlalu melangkah keluar kamar.


"Abi, Gio tunggu !!" panggil Yusuf.


Abi dan Gio menghentikan langkah mereka lalu berbalik dengan wajah penuh tanya.


"Ini Gio pakailah jika ada yang ingin kamu beli." ucap Yusuf menyerahkan kartu keredit miliknya.


"tidak usah mas." tolak Gio.


"Gio, kamu itu adik dari istri saya jadi artinya kamu juga adik saya, tak ada salahnya saya memberikan kamu sedikit uang saya ambilah tak perlu sungkan." sahut Yusuf sedikit memaksa Gio untuk menerima pemberiannya.


"Ambillah om Gio lagipula Ayah yang membirikannya bukan om yang meminta, siapa tau Abi belanja banyak dimini market nanti." Abi mencoba membantu sang Ayah.


Gio menarik napasnya lalu menghembuskannya perlahan "baiklah om akan menerimanya." ucap Gio.


"horeeeee kita bisa membeli seisi toko dengan kartu milik Ayah." ucap Abi senang.


"oh ya ini kunci mobilnya paiklah mobil mas." ucap Yusuf menyerahkan kunci ketangan Gio lalu pergi.


"oh astaga Abi kita hanya kemini merket terdekat tak perlu pakai mobil." Gio berbicara sambil berjalan.


"Bawa aja om mobil Ayah, lagi pula Abi mau minta temeni kesuatu tempat." Abi berbicara dengan wajah serius.


"kemana?" tanya Gio penasaran.


"nanti Abi ceritakan dimobil." ucpanya sembil berlari menuju halaman depan.


"Kita kemini market dulu atau mau nemenin Abi?" tanya Abi.


"Om nemenin Abi dulu aja kemana tujuannya?" tanya Gio sembil menyetir mobil.


"oke jalan kearah taman kota setelah itu belok kanan ya om." minta Abi


"hmmmm." ucap Gio mengangguk.


"Abi apa om bisa minta bantuan Abi?" tanya Gio hati-hati.


"tentu saja." sahut Abi


"om mau kasih kado berupa makan malam romantis untuk ayah dan bundamu, tapi om tidak tau tempat yang bunda dan Ayahmu sukai?" tanya Gio.


"Abi terdiam sesaat kemudian menjawab Abi punya tempat yang bagus jika dijadiakan untuk piknik atau makan malam romantis." ucap Abi.


"dimana?" tanya Gio antusias.


"dikebun setroberry dan anggur rumah Ayah disana ada gazibo tempat bersantai, kita bisa menghiasannya nanti."


Abi kembali melanjutkan ucapannya setelah menarik napas


"ohnya kita juga letekan beberapa lampu di kebun anggur ,buah delima, dan setroberry yang akan menjadi pemandangan yang indah dimalam hari" jelas Abi.


"astaga Abi kamu sangat pintar, baiklah kita akan membeli bahan yang harus kita siapkan." sahut Gio.


Disebuah rumah sakit Defvan sedang berbicara pada seorang dokter untuk melakuakan tas DNA pada Amira.


"Amira ikutlah dengan saya." ucap seorang dokter ramah.


"Ya aku tau dan sudah mengatakan pada dokter." jawab Defvan datar.


Yana menerobos masuk menemui Amira yang sedang di ajak bermain oleh seorang suster untuk mengalabuinya agar dokter bisa mengambil sedikit darahnya.


"dokter anak saya takut dengan jaruk suntik." Yana berbicara sambil berjalan mendekati Amira.


"Amira apa dokter mengatakan akan menyuntikmu?" tanya dokter perempuan muda itu pada Amira.


Amira mengeling sebagai jawaban.


"biarkan suster menangkannya disini bu Yana Amira saat ini sedang mengalami ketakutan" dokter wanita itu menjelaskan pada Yana.


"Ayo Amira kita pulang bermain bersama ibu dirumah." ajak Yana.


Defvan masuk bersama dua orang suster dibelangkangnya.


Yana, ayo keluar biarkan Amira ditenangkan oleh dokter disini Defvan berbicara sambil menarik tangan Yana menjauh dari Amira.


"aku tidak akan pulang tanpa Amira." sahut Yana.


Defvan memberi kode pada suster yang mengikutinya, suster yang mengerti segera menyuntikan jarum keda lengan Yana.


"Apa yang kalian lakukan padaku?" tanya Yana.


"hanya membuatmu beristirahat Yana." ucap Defvan aku terpaksa melakukannya karna kau menghalangiku.


setelah Amira tenang dokter muda itu mendekati Amira dengan ramah ia berkata.


"apa dokter boleh ikut main bersama tanyanya pada Amira."


"boleh," sahut Amira


Amira liatlah ini ucap dokter itu memperlihatkan jarum suntik.


"enggak amira gak mau bermain dengan itu" ucap Amira takut.


"tidak usah takut Amira rasanya seperti digigit serangga" jelas dokter.


Amira coba Amira banyangkan saat ini kita sedang bermain ditaman bunga mawar berwarna warni sayangnya tankai mawar itu banyak duri


Amira memejamkan matanya membayangkan ia dan dokter wanita disampingnya sedang bermain ditaman bunga.


Amira berlari ditaman bunga itu untuk mengambil setangkai mawar kuning yang berada ditengah mawar merah, karna Amira sangat bersamangat hingga tak menyadari satu duri masuk kelengan Amira


auwwww pekik Amira merasakan lengannya ditusuk duri, biar dokter bantu cabut durinya jagan bergerak ya ucap Dokter itu telelah dirasa cukup dokter itu menarik jarum suntiknya secara perlahan dari lengan Amira.


ia segera membersikan dengan kapas lau menempelkan hansapas dilengan Amira.


"bukalah matamu Amira durinya sudah dokter cabut apa masih sakit?" tanyanya.


"sedikit." sahut Amira


"nanti akan sembuh Amira, ohnya ini untukmu ucap dokter itu memberi coklat berbentuk bunga mawar.


"apa ini mawar yang Amira petik?" tanya Amira polos.


"bukan sayang itu adalah coklat mawar" sahut dokter cantik itu.


bagimana apa sudah selesai dok tanya Defvan.


"sudah pak, silahkan jika anda ingin mengantar Amira pulang terlebih dahulu dalam 24 jam hasilnya akan keluar." ucap Dokter itu.


"terimakasih dokter telponlah saya jika nanti hasilnya keluar" Defvan berbicara sambil menggendong Amira lalu pergi menuju tempat parkir mobil.


Defvan memasukan Amira disamping Yana yang sudah tertidur pulas.


"dalam perjalanan Defvan berbicra dalam hatinya, kau lihatlah Yana hasil DNA nanti jika terbukti Amira bukan anakku maka brlersiaplah , merima surat pengadilan monalog Defvan.


sementara ditempat lain Gio dan Abi sudah samapai disebuah roko yang masih dalam tahap renovasi.


"kanapa kita kesini?" Abi tanya Gio


"karana toko ini akan Abi berikan buat bunda sebagai hadiah pernikahan." shut Abi.