
sebuah pohon apel dengan buah yang sangat lebat dan terlihat seger untuk segara dimakan membuat Abi menelan kasar silvanya.
Abi ingin mengambil Buah apel dipohon tersebut Rubah segera menegurnya.
"Tuan lihatlah dengan seksama pohon ini bukan pohon Apel, bagaimana mongkin berbuah Apel?" tandas Rubah sambil mengamati pohon didepannya.
"Huuh ampir saja aku tertipu." degus Abi sambil bergumam.
"Disini anda harus mepertajam indra penglihatan dan pendengaran Tuan, mereka mengunakan ilusi untuk menarik perhatian manusia sepeti Anda." tukas Rubah sarkas.
"kamu benar ayo kita bergegas." ajak Abi sambil melangkah menyusuri jalan setapak di samping pohon.
mata Abi memindai sekitar dan mengakap banyak tulang berserakan di sisi jalan bulu kuduk Abi tiba-tiba meremeng.
"percepat langkahmu Tuan di ujung sana pestanya sudah dimulai." tutur Rubah berjalan medahuli Abi.
Abi berjalan setengah berlari ia tidak memperdulikan kiri kanan dan belakang langkahnya hanya tertuju pada rumah tua yang terlihat kokoh dipenuhi banyak sekali mahluk bebagai bentuk mengerikan sedang mengadakan sebuah pesta.
"Saat kita melewati mereka cobalah menahan napas dan jangan berbicara Tuan agar mereka tak menyadari keberadaan kita." terang Rubah sambit terus bergerak maju.
beberapa langkah pali kaki Abi sampai ditengah kerumunan orang-orang yang mengadakan pesta. Wajah cantik dan baju indah melekat pada tubuh mereka. Ada pula yang laki-laki menggunakan baju adat sunda serta jawa.
"Mengapa wajah mereka berubah layaknya manusia pada umumnya?." batin Abi bertanya.
Rubah segera menarik tangan Abi mengunakan ekornya.
Abi sadar. ia bergagas mengikuti Rubah menuju sebuah rumah panggung. Abi dan Rubah mengendap-endap mencari jendela kamar tempat Rara dembunyikan.
"Apa kau bisa mencium Aruma manusia disini?" tanya Abi.
"Iya kaka pembina Tuan Ada didalam salah satu kamar disini aku yakin." sahut Rubah dambil mengedus bau mengunakan indara penciumannya.
"Disini !!" tukas Rubah Yakin sambil berdiri tegak di samping Rumah panggung yang didalamnya memang ada Rara baru saja salesai di rias oleh seorang wanita setengah tua.
"ka Rara." panggil Abi sambil mengetok jendela.
Rara sayup-sayup mendengar ada yang memanggilnya "siapa itu?" gumamnya sambil melamgkah mendekati jendela.
"Kaka Rara, buka jendelanya ini Abi?" panggil Abi kembali.
"Abi, bukankah ia salah salah satu nama anak pramuka yang ikut berkemah aku harus menemuinya untuk mengirim pesan pada Stive." batin Rara sambil membuka kunci jendela.
"Ka Rara, ayo ikut pulang!" Ajak Abi setelah melihat Rara menampakan dirinya dijendela yang terbuka sempurna.
"Tidak !! aku akan tetap disini sebentar lagi Aku akan menikah dengan pemuda yang bagitu tampan dan kaya" Tolak Rara sambil tersenyum.
"kau katakan saja pada Stive maaf aku tidak bisa lagi bersamanya." Tandasnya sambil menatap keluar jendela.
"Sadarlah Kaka Rara, samua yang Kaka lihat tidak nyata." tegas Abi memperingatkan.
"Kau pulanglah sampaikan pesanku segera, Aku tidak ingin menyesal karna menyia-nyiakan kesempatan." Tukas Rara mengusir Abi.
jawaban Rara membaut Abi nekat melompat kejedala dan menarik Rara turun dari jendela meski sepat meronta Abi berhasil membawa Rara kuluar dari Rumah panggung yang ditepatinya.
"Lepaskan Aku, Tolong !!!." teriak Rara
Abi menotok bagian tertentu di badan Rara hingga membuat gadis itu tak sadarkan diri.
"Cepat bawa pergi Tuan biar Saya mengahalaggi mereka." ucap Rubah melihat beberapa mahluk aneh mendekat.
ditengah perjalanan Abi medengar suara permpuan meminta tolong.
"Tolong Aku tolong!!" pintanya mengiba diatas sebuah dahan pohon dengan beberapa kera derada didekatnya.
"Amira!" batin Abi setelah mengenali wanita yang meminta tolong tak lain Adalah anak dari Yana mantan istri Ayah kandungnya.
Abi berlari meninggalkan tempat itu segera menuju pintu gerbang beberapa mahluk menyermakan menghadangnya tepat di dekat pintu keluar.
Abi memjamkan matanya didetik berikutnya Auranya menguar kenekan semua mahluk yang penghuni tempat tersebut.
dengan gerakan gesit Angin berhembus menerbangkan dedaunan nenyerang semua mahluk yang mencegatnya.
Abi menggunakan kesempatan itu untuk keluar dari tempat tersebut dengan cepat ia meletakan Rara yang masih tak sadarkan diri di sebuah batu basar yang berada di tepi air terjun.
Mbah kasiman dan Stive segera mendekati Rara dan Abi.
"Mbah didalam ada satu orang lagi yang terjebak mongkin dari sekolah lain." cerita Abi.
"Biar aku yang menolongnya. "Kamu bantulah stive dan juga Jane wanita itu menyukai jane." tukas Mbah Kasiman menatap Abi dengan tatapan sulit diartikan.
"Barhati-hatilah Nak kembalikan semua yang sudah dipinjamkan juru kunci itu padamu." Suara Raden Mas terdengar jelas meski hanya melalui telepati.
"Baik kek." batin Abi menyahut.
Abi melihat jane tak sadarkan diri setelah dirasuki oleh seorang nenek buruk rupa.
beberapa peserta, guru serta pembina peramuka datang menolong Menganggat Jane dan juga Rara dengan tandu.
"kita hatus segara turun gunung pak." ucap Abi pada pak Wanto sambil melihat sekeliling.
sebentar lagi waktu 12 siang apa tidak sebaiknya selesaikam orang Sholat zuhur sebagaimana kita naik kemaren sahut Pak Wanto melirik Abi sekilas.
"tidak masalah Pa, Mbah Kasiman hanya melarang mendaki saat tepat jam 12 bukan turun." sergah Abi.
"Kaka setuju Abi sebaiknya kita turun secepatnya semakin lama aku merasa semakin tak tanyaman seakan ada yang terus mengawasi gerak gerik kita." Ucap Stive menimpali.
"Abi cepatlah tirun sebelum orang tua itu kembali dan memperlambat waktumu, Umi salamah sedang kritis kau cepat kembali, Defvan sudah sebentar lagi akan sempai menjeputmu." telepati Raden Mas.
Abi yang peke dapat merasakan aura berbeda pada tubuh Juru kunci gunung saat pertama ia bertemu segera mendesak agar semua mau ikut turun gunung.
Baiklah saya juga merasa demikian Stive ayo kita bergagas Ajak Pak Wanto sambil melangkah di ikuti Abi, Stive serta peserta pramuka yang lain.
"Bisa kah saya meminta pada semua yang hadir disini dalam perjalan turun jagan ada yang meneleh kebelakang, apapaun yang kalian degar abaikan saja, jika mencium bau yang menyengat jangan ada yang menegurnya diamkan saja apa semua mengerti." pesan Abi dengan sengaja membuka Aura kepemimpinannya membuat semua orang disna hanya bisa mengangguk patuh.
"Rubah kau berjaga dibelakang saya didepan." perintah Abi melalui telepatinya.
"Akan saya laksanakan Tuan."
"setah aku masuk mobil Ayah kau kembalikan barang milik guru kunci yang dipinjamkannya padaku." ucap Abi masih melalui telepatinya.
"Baik tuan sesuai perintahmu." Sahut Rubah.
Usai memberikan penguman semua perserta pramuka segera turun gunung dipimpin oleh Abi sebagai pemandu jalan.
berlum terlalu jauh mereka diperdengatkan suara gemelan beraahut-sahutan. Abi memberikan tanda dan isyarat untuk diam jagan ada yang bersuara, kaki mereka tarus melangakah hingga ditengah perjalan meraka mencium bau busuk yang menyangat. kembali Abi memerintah diam dan menutup indara penciuman.