Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
gegabah


Willem dibawa Andra ikut masuk mobilnya, sedangkan Mars mengikuti dari belakang bersama Devan yang masih tertidur pulas.


"Andra kemana kamu akan membawa Willem?" tanya Mars melalui sambungan ponsel miliknya


"aku akan membawanya ke kantor polisi. ia harus menjelaskan serta mempertanggung jawabkan semua perbuatannya." jawab Andra santai.


"kita harus memiliki bukti yang kuat Andra jangan terburu-buru." saran Mars.


"Kamu tenang saja, dia pasti akan mengakui kesalahan setelah di interogasi oleh temanku nanti." jawab Andra penuh percaya diri.


William yang mendengar percakapan Andra tersenyum miring bola matanya berubah


mejadi warna merah, pertanda sang empunya sedang tidak baik-baik saja.


Dari arah Belakang Willem mencekik leher Andra. Andra yang sedang menyetir kehilangan kendali mobil oleng menabrak pembatas jalan.


Mars menghentikan mobilnya di pinggir jalan, ia turun mendekati mobil milik Andra yang sudah berhenti karena menabrak pembatas jalan.


Didalam mobilnya Andra semakin tercekat, napasnya sudah melemah tangannya berusaha membuka pintu mobil.


Mars dan beberapa pengandara lain mengetok pintu mobil ada pula yang mengintip dari kaca mobil.


Tangan Andra masih berusaha membuka pintu mobil. tiba-tiba suara kaca pecah terdengar, Mars memecahkan kaca mobil Andra karena tau ada yang tidak beres dengan Andra.


William masih tidak melepaskan cekikikan di leher Andra ia semakin kuat mencekik. Mars yang melihat itu segera menolong tak lupa ia meminta seorang pengandara yang ikut membantu merekam kejadian yang berlangsung.


Mars melepas cekikikan Willem dengan kedua tangannya. William terkejut mendapati Mars begitu mudahnya melepas cengkraman tangannya yang dialiri oleh tenga dalam.


"Ayo, bawa orang itu kekantor polisi ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya." kata seorang yang membatu Mars menyelamatkan Andra.


"Andra, Ayo turun naiklah mobilku." ujar Mars sambil membatu Andra turun dari mobil.


Andra turun dibantu Mars meski masih merasa lemas dan napas yang belum normal ia tetap berusaha untuk bisa berjalan menuju mobil Mars.


Tak berselang lama beberapa petugas kepolisian datang menghampiri, Willem segera diamankan beberapa saksi mata di minta ikut kekantor polisi begitu pula degan Mars.


"Sial, kenapa aku bisa tidak terkendali begini." ucap Willem dalam hati.


"Aku harus meminta bantuan putri Arum dan Marcella untuk bebas dari segala tuntutan." Batin Willem.


"Bodoh sekali kamu Willem!! bertidak gegabah tanpa perhitungan, di mana otak pintar kamu yang dulu." batin Willem meruntoki kecerobohannya.


Willem digiring masuk ke mobil petugas dibawa kantor kepolisian.


Begitu sampai di kantor polisi. Menurut keterangan saksi dan adanya Vidio sebagai barang bukti Willem ditahan sesuai dengan Pasal yang berlaku.


William sempat menelpon Marcella memintanya datang untuk membebaskannya.


Marcella yang mendengar sang suami ditetapkan sebagai tahanan segera menuju kantor polisi untuk menemuinya.


Willem kau merepotkan aku saja, jika bukan karena putri Arum melarang aku sudah ku buat kamu lumpuh tak berguna. batin Marcella.


sementara Devan terkejut mendengar penjelasan Mars tetang sang Ayah yang ternyata ditahan polisi atas tuduhan percobaan pembunuhan.


"Kenapa Daddy melakukannya pasti ada alasannya?" ujar Devan.


"Apapun alasannya, tidak dibenarkan kita menghakimi kesalahan seseorang. negara kita negara hukum biarkan pihak yang berwenang menjalankan tugasnya, kamu cukup melaporkannya." Tandas Mars.


"kamu yang melaporkan Daddy?" tanya Devan melirik sekilas Mars.


"Bukan, salah seorang yang ikut membantuku menolong korban." sahut Mars sambil menatap jalan.


"kemana kamu membawa aku? lagi-lagi." Devan bertanya.


Mars tidak menjawab ia terus melajukan mobilnya hingga sampai di tempat tujuan mobil berhenti.


"turunlah." ajak Mars.


Mars membawa Devan kesebuah pondok bambu di area persawahan.


"Assalamualaikum." sapa Mars sesampainya didepan gubuk bambu tersebut.


"Waalaikum salam, Masuklah." sahut Kyai Hasan


Mars memasuki gubuk diikuti Devan.


"selamat datang Nak Devan, senang bisa bertemu denganmu." sapa Kyai Hasan.


Devan hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.


"Sayang sekali nak Mars sepertinya sang pemilik tubuh tak menginginkan belenggu itu terlepas." kata Kyai Hasan sambil melihat Devan yang duduk lesehan di dekat Mars.


"Devan, apa benar kamu tidak mau melepaskan belenggu iblis di lehermu?" Mars bertanya untuk memastikan.


"Aku manusia yang memiliki hati, bagaimana mungkin aku membiarkan keluargaku tersiksa karena aku." sahut Devan


"bodoh, aku sudah katakan akan mencari cara untuk menolong Ayahmu." tukas Mars.


"mana tau kamu mengingkari ucapanmu." celetuk Devan.


"Mars sudahlah jangan memaksa biarkan saja." kata Kyai Hasan melihat gelagat Mars yang kesal dan ingin menjawab ucapan Devan.


"Maaf Nak Devan, tujuan Mars hanya ingin membantu kamu, jika kamu tidak berkenan saya juga tidak akan memaksa, hanya satu pesan saya segera kembali kejalan yang benar, bersembah sujud padanya, meminta pertolongan darinya yang maha kuasa." ujar Kyai Hasan.


"Antar nak Devan pulang Mars." perintah kyai Hasan.


"Bodoh sekali kamu menyia-nyiakan kesempatan." celetuk Mars sambil berdiri rupanya ia begitu kecewa dengan Devan.


"Mars ingat Allah maha membolak balik hati manusia berdoalah." nasehat Kyai Hasan.


"Iya Kyai terimakasih selalu mengingat, saya permisi. Assalamualaikum." pamit Mars.


"sama-sama nak, itu sudah jadi tugas saya, berhati-hatilah. Waalaikum salam." ujar kyai Hasan sambil berdiri mengantar tamunya ke depan gubuk.


sepeninggalan Mars kyai Hasan duduk bersila memuji kebesaran yang maha kuasa.


sementara Putri Arum ingin menemui putrinya di kerajaan milik raja Jin tak mengijinkannya, membuat putri Arum kembali dengan tangan kosong.


Sesampainya di rumah ia menerima penggilan dari Marcella yang mengatakan Willem berada di kantor penjara.


Putri Arum memanggil Jin yang berada didalam tubuh Willem untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


mendengar penjelasan Jin tersebut Putri Arum memarahinya.


"Sekarang lebih baik kamu kembali ingat jangan membuat olah lagi tanpa perintah dariku." ujar Putri Arum jin tersebut segera menghilang kembali kedalam tubuh Willem.


Di kantor polisi Marcella meminta ijin berbicara dengan Willem.


"Kami hanya memberikan waktu sebentar silahkan ikuti anak buah saya." kata komandan polisi.


"terimakasih pak." sahut Marcella segera berdiri mengikuti salah seorang petugas menemui Willem.


setelah melakukan pemeriksaan Marcella diizinkan masuk kesebuah ruangan kecil di kantor tersebut.


"Marcella tolong jelaskan di pada mereka aku tidak sengaja melakukan itu." kata Willem memeriksa.


Kau harusnya lebih berhati-hati saat bertidak tempat ini bukan mainan bagimu. sulit bagiku membebaskan kerena ada bukti yang kuat. aku hanya bisa meringankan sedikit hukuman yang akan kamu terima.


"kau harusnya mencari pengacara yang terkenal untukku, berapapun aku akan membayar asal ia bisa membuat aku terbebas dari sini." minta Willem.


"itu pasti akan aku lakukan, untuk membebaskan kamu pengacara perlu pula bukti." ujar Marcella.


Willem mengangguk mengerti. detik berikutnya ia tersenyum seakan mendapat ide cemerlang.