
pertemuan Devan dan Mars di restoran tersebut dilihat oleh anak buah Willem.
Willem sangat marah mengetahui sang putra bertemu dengan Mars. ia segera beranjak meninggalkan pekerjaan walau pekerjaan itu belum selesai.
Willem segera pergi ke restoran yang di katakan oleh anak buahnya, wajahnya terlihat marah.
Sesampainya di sana, Willem mencari keberadaan sang putra ia melihat semua pengunjung restoran, hingga sampai ke satu meja terlihat dua orang laki-laki duduk saling mengobrol.
Baju, sepatu, model rambut, bahkan jam tangan yang dipakai salah satu peria yang duduk jelas milik Devan. "Tidak salah lagi itu Devan." ujar Willem melangkah maju mendekati meja tersebut.
Mars mengedipkan sebelah matanya pada peria yang berada dihadapannya membuat peria tersebut mengerti ia segera mengubah posisi duduknya.
tak....tak...tak...!!
suara langkah kaki Willem semakin dekat hanya tinggal tinggal tiga langkah lagi Willem berucap.
"Devan." tegur Willem dengan suara lantang.
Laki-laki yang tegur Willem tadak bergeming,hal itu membuat Willem Kesal, hingga ia menyentuh bahu laki-laki yang duduk menghadap Mars.
"Ada apa, siapa Anda?" tanya peria tersebut bertanya.
Willem terkejut tak kala wajah Laki-laki tersebut bukanlah Wajah Devan, Laki-laki itu menatapnya dengan tatapan bingung.
"Namaku Andra, bukan Devan." ujarnya tegas.
"singkirkan tangan Anda dari kemeja saja." kata laki-laki berwajah arab di depan Mars.
"Maaf saya pikir putra saya, semua pakaian yang Anda pakai sama dengan milik putra saya." jawab Willem.
"Anda pikir putra Anda satu-satunya orang yang mempu membeli pakaian mahal? Anda salah Tuan, bahkan yang saya pakai ini jauh lebih mahal dari milik putra Anda." tandas Andra tersenyum manis.
"Apa maksudmu pakaian ini jelas sama dengan milik putraku mungkin kau membelinya mahal karena tidak bisa menawar." kata Willem sambil tersenyum meremehkan.
laki-laki itu tertawa mendengar ucapan Willem.
"Untuk apa menawar jika aku punya banyak uang, aku akan membeli pakaian berapapun harganya, jika sang penjual ternyata menaikkan harga dua kali lipat sekalipun tetap aku bayar tanpa protes. anggap saja aku sedang bersedekah. dengan itu Rezki aku akan bertambah." tukas Andra.
"pak Willem temanku ini memang mirip dengan putramu Devan yang membedakan adalah Andra brewokan sedangkan putra Anda tidak." jelas Mars.
"oh, inikah orang yang bernama William Alexander?" tanya Andra menatap Mars.
"Ia benar ini Pak Willem Alexander." jawab Mars.
"Sungguh nasibku sedang baik, baru pertama datang ke Indonesia aku sudah bertemu dengan pengusaha sukses di kota ini, namun sayangnya sebentar lagi usaha Anda akan hancur." ucap Andra.
"apa maksudmu?" bentak Willem dengan nada tak suka.
"Aku menantu Keluarga Husain Alexander, tentu kau tau bukan?" tanya Andra sambil melihat wajah Willem.
Wajah Willem berubah pucat seketika mendengar ucapan Andra ia ingin melangkah untuk melarikan diri, niatnya di ketahui Mars yang berdiri menghalangi langkahnya.
"jagan buru-kabur kabur Tuan Willem duduklah." ucap Andra ramah sambil tersenyum.
tanpa ada yang tau Andra sengaja datang untuk menjebak Willem atas permintaan Yusuf. Diam-diam ayah tiri Abi itu melakukan penyelidikan tetang asal usul Willem Alexander ia juga bekerja sama dengan Mars.
jika kebenaran itu terungkap Yusuf berharap khusus kematian nenek, kakek, Ayahnya Marcello, serta Reyana keylen juga bisa terungkap. meski sulit Yusuf tak ingin menyerah ia harus mencari bukti yang bisa menarik Willem kedalam jaruji besi.
"Ayo duduklah, apa Anda ingin memesan sesuatu?" tanya Andra.
Willem tak bergeming ia mencari cara untuk kabur secepatnya.
Mars berdiri. "aku akan memesan minuman Pavoret di restoran ini." kata Mars berdiri melewati Willem sambil mentok bagian belakang Willem secepat Kilat membuat Wellem tak lagi mampu untuk melarikan diri.
"Mars berani sekali kau menotokku, akan aku balas kamu." umpet Willem dalam hati.
"Aku memanglah Willem Alexander tapi aku bukan orang yang kamu cari." ungkap Willem.
"Apa maksudmu Willem? jangan mengelak terus menerus Willem. Tuan Husain Alexander mungkin akan meringankan hukumannya, jika kamu mau mengakui kesalahanmu dan meminta maaf pada keluarga besarnya." tandas Andra sembari melirik sekilas Willem.
"Aku tidak kenal dengan Husain Alexander, aku tidak tau bagaimana wajahnya, Anda salah orang." sahut Willem terus mengelak.
"benarkah? mengapa wajah anda terlihat pucat saat aku menyebut jika aku adalah menantu Husain Alexander." Andra bertanya sambil tersenyum.
Andra membuka notebook miliknya, membuka biodata hasil pencariannya tetang Willem Alexander.
"ini jelas Biodata milikmu, wajahmu terpampang jelas di gambar tersebut." kata Andra sambil memperlihatkan Biodata Willem di notebook miliknya.
"Kau percaya dengan itu, aku ini pengusaha kaya di kota ini, wajar jika banyak yang memalsukan biodata milikku." jawab Willem.
Mars kembali duduk sambil membawa mineral dingin.
"Apa itu minuman Pavoret disini, atau kau tidak memiliki uang untuk membeli minum di sini." ucap Willem sambil tertawa mengejek.
"bukan ini hanya air putih, tidak ada yang istimewa, minuman Pavoret yang aku pesan akan datang beberapa menit lagi, sabarlah Tuan Willem yang terhormat kau pasti akan menikmatinya" ungkap Mars.
"Mars aku perlu waktu berbicara dengannya bisakah kamu meninggalkan kami." ujar Andra mengusir.
"tentu saja Andara kau bicaralah baik-baik dengannya, ingat pesanku." kata Mars kemudian berlalu meninggalkan Andra.
Mars berjalan ke parkiran mobil ia masuk mobil mendapati Devan sedang bersandar pada kursi depan dengan mata tertutup.
Selagi Devan tertidur Mars memanggil penjaganya yaitu Naga putih untuk membatunya melepaskan belenggu iblis di leher Devan.
"Maaf Tuan aku tidak bisa melakukannya, lebih baik bawa ke pesantren, semoga dengan bantuan beberapa kyai Belenggu itu terlepas." Ucap Bayura sang Naga putih.
"Aku bukan tak mau membawanya pergi, jika ia dibawa maka putri Arum Akan mengetahui posisi nya berada, itu bisa membuat kekacauan di sana." jawab Mars.
"benar putri Arum pasti akan mengetahuinya, jika begitu lebih baik Kyai yang datang kemari." sahut si Naga putih.
"terimakasih atas saran yang kamu berikan aku akan menghubungi Kyai Hasan " jawab Mars.
begitu mendapat telpon Kyai Hasan menyanggupi dan akan bertemu di tempat yang sudah mereka sepakati.
Di rumah Devan putri Arum berhasil membuat sang putri membuka matanya.
begitu matanya terbuka Putri Lasmi menatap sang ibu yang berada di sampingnya.
Putri Arum segera membuka Selendang yang melilit tubuh Putri Lasmi.
"Nak ibu akan membuka segal kekuatanmu bersiaplah." kata Putri Arum.
"Minum." ucap Putri Lasmi meminta.
Putri Arum segera mengambilkan air untuk putrinya.
begitu selesai putri Lasmi minum, putri Arum meminta sang putri duduk karena ia akan membuka segel yang tertanam ditubuh sang putri.
selesai membaca mantra Putri Arum mengarahkan tangannya ke belakang tubuh putrinya. Raja Jin datang mengangkat tubuh putri Lasmi .
"Apa yang kau lakukan? kau bisa membunuhnya jika memaksakan keinginanmu." bentak Raja Jin marah.
"Jangan halangi aku dia putriku!! Lasmi pasti kuat menahan sedikit rasa sakit." jawab Putri Arum.
Raja jin segera membawa putri Lasmi menghilang tanpa mendengarkan teriak putri Arum yang marah karena tindakannya.