Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
masalalu rubah


Hari demi hari berlalu bulan dan tahunpun berganti tak terasa kini umur Abi sudah 11 tahun. Anak laki-laki Risa itu semakin tampan dan dan pintar sudah banyak obat-obatan herbal yang berhasil ia buat bersama dengan Ayahnya yaitu Yusuf.


Yusuf dan Abi masih membaut obat-obatan secara sembunyi-sembunyi mengingat bahaya yang bisa saja merenggut nyawa mereka setiap saat.


sampai saat ini Yusuf maupaun Abi masih terus belajar mengembangkan diri. Keduanya hanya membarikan obat yang mereka buat pada pasien Yusuf di rumah sakit. mereka tak ingin menjual obat-obatan yang mereka buat.


saat ini Abi sedang duduk di tengah-tengah tanaman obat milik Kakeknya. Abi selalu saja merasa nyaman saat berada di sana ia membawa buku milik kakeknya sambil bersenandung Abi membuka lembaran buku di tangannya lembar demi lembar sambil membaca ulang apa yang di tulis oleh Marsello di sana.


"kenapa setiap aku berada di sini aku selalu merasa ada yang mengawasiku." batin Abi.


"siapapun itu kekuarlah jangan jadi pengecut." ucap Abi matanya mengawasi ke kiri dan kekanan mencari sesuatu.


"Aku di sini." ucap seekor Rubah putih yang tiba-tiba berada di belakang Abi.


Abi membalikan badannya dan melihat Rubah beekor sembilan dengan warna putih tatapan mata yang tajam berwana merah kecoklatan.


"kamu." ucap Abi sambil membekap mulutnya dengan tangan kanannya, Abi seakan tak percaya dengan penglihatannya saat ini hewan yang kadang Hadir di mimmpinya kini berada di hadapannya.


"Apa aku sedang bermimpi, atau halusinasi?" tanya Abi.


Rubah itu tersenyum memperlihatka gigi-giginya yang tajam. "Anda tidak sedang bermimpi tuan karcil." sahut Rubah itu dengan mata menatap Abi.


"tapi bagaimana mongkin kau itu hewan bagaimana bisa berbicara layaknya manusia, apa kamu siluman?" tanya Abi dengan hati-hati.


"hehehee, ceritanya panjang pada intinya sekarang kamu adalah tuanku aku akan selalu membatu jika tuan mengalami kesuliatan." ucap Rubah putih.


ceritakan saja Aku akan mendengarkannya sahut Abi.


Baiklah, dulu aku hidup sebagai manusia sama pepertimu, namun orang tuaku tidak menerimaku terlahir sebagai laki-laki. di usia lima bales tahun wajahku mirip sekali dengan wanita membuat orang tuaku membawaku untuk melakukan oprasi kelamin untuk mengubahku menjadi wanita seutuhya seperti keinginannya.


Saat aku sudah menjadi wanita ibuku kerap kali memintaku menggantikannya bekerja di sebauh klub merayu para laki-laki kesepian dan memdapatkan bayaran.


aku pernah bertanya kemana ibu pergi jika ibu tidak bekerja disna, ia bilang itu bukan urusanku, aku juga pernah bertanya kenapa wajah ibu tidak pernah berubah menua sedang usia ibu sudah 90 tahun, ia menjawab karna ia terus melakukan perawan di klinik kecantikan.


kamu bekerja saja di sana selamanya aku akan pergi ke kota untuk mencari pekerjaan baru uang kita sudah menipis karna biaya oprasimu begitu mahal kau harus mengantinya untukku. kata ibu saat itu.


hari demi hari aku lewati bekerja di club meski kadang rasa bosan melanda akan tetapi demi mendapatkan uang aku terus melakukannya sampai suatu kejagalan terjadi aku menemukan sebuah kotak kayu berisi batu berwana hitam dan sum-sum tulang di bawah kasurku hawa panas sangat terasa saat aku membuka kotak itu.


aku berlari kesugai dan membuang benda yang membuat bulu kedokku merinding.


tiba-tiba saja seorang wanita tua mencekek leherku dengan kuku-kuku panjangnya yang tajam.


"ibu apa itu kamu? apa ibu bersekutu dengan iblis? untuk membuat dirimu awet muda?" tanyaku dengan lutut yang bergetar.


Tidak aku tidak bersekutu pada siapapun batu itu aku dapat dari tanah tempat rumah kita di bangun. aku menyimpannya karna seorang terus datang di mimpiku mengatakan padaku akan diberikan umur panajang asal aku bisa menjaga batu itu dengan baik dan memberiakn sum-sum tulang hewan sebagai pendapingnya.


selama dua hari aku terus mencari menyusuri sungai bahkan menyelam ke dasar sungai tapi aku tak juga menemukannya. orang-orang di kampung yang melihatku sebagian ada yang merasa iba, tetapi tak sedikit yang menganggapku tak waras.


Ahirnya aku memutuskan untuk pulang kerumah setidaknya aku harus mengisi tenaga untuk meneruskan pencarian, sampai di rumah aku melihat rumah sudah  berantakan semua barang berhamburan seperti kepal pecah, aku mencari keberadaan ibu satu-satunya keluarga yang aku miliki. saat aku melihatnya aku pun memanggilnya.


Dan betapa terkejutnya aku melihat mata Ibu berubah menjadi merah wajahnya yang penuh dengan keriput, rambutnya berwarna putih ia menyerigai menatapku dan menagadahkan tangan meminta sesuatu.


Aku yang mengerti lalu menggeleng lemah, dan meminta maaf padanya karena belum menemukan butu dan sum-sum tulang hewan yang kubuang.


"Anak tidak berguna, kau harus mengantikannya sekarang juga." teriaknya dengan suara melengking.


"di tengah ketakutanku aku memberinakan diri bertanya. bagaimana caranya agar aku bisa menggaatikan barang milik ibu yang hilang?"


kemarilah medakatlah denganku aku akan mengambil sum-sum tulangmu sebagai gantinya ucapnya terkikik.


bukankah ibu bilang itu sum-sum tulang hewan lalu kenapa ibu meminta sum-sum tulangku.


karna batu itu hilang jadi untuk memanggilnya aku perlu sum-sum tulang manusia, aku rasa kau orang tepat kau tidak berguna, bekerjapun percuma bayaranmu hanya sedikit, kau tidak bisa melayani kebutuhan mereka dengan baik aku menyesal melahirkanmu.kata ibu


"aku mohon jagan ambil sum-sum tulangku bu, aku akan mencarikan uang untuk membeli hewan yang bisa ibu ambil sum-sum tulangnya." ucapku.


"sudah ku katakan padamu percuma batu itu hanya akan kembali jika aku memberikan sum-sum tulang manusia." ucap Ibu


"itu artinya batu itu batu syetan bu" ucapku dengan suara mengelegar.


seketika Amarahnya membucah ia menyeretku dan mengikat tubuhku diatas kasur dengan posisi tengkurap. Tanpa perasaan ia merobek bajuku dan melakuakan pembedahan di belakangku untuk mengambil sum-sum tulang belakangku tanpa


aku berteriak tapi tak ada yang mendengarku hingga ahirnya aku pasrah jika ini sudah takdirku aku menutup mataku untuk selamanya.


sebelum rohku dibawa pergi aku sempat melihat ibu berkidung sambil menari dengan selendang merah. setelah itu sebuah keajaiban terjadi badanku yang bersimbah darah kembali utuh seperti sedia kala hanya sum-sum tulangku yang tidak kembali ketempatnya. batu yang hilang itu tiba-tiba muncul kembali tepat di belangku tubuhku. sebelum aku melihat apa yang selanjutnya terjadi rohku di tarik dan di bawa pergi. aku memohon padanya untuk membiarkanku kembali masuk ketubuhnya tapi orang yang membawaku tak menghiraukannya.


aku terus miminta agar bisa hidup kembali dan meluruskan jalan ibu yang salah. hingga sebuah suara mengabulkan keinginanku. aku di berikan satu kali hidup lagi tapi di tubuh seekor rubah berekor sembilan. syaratnya aku harus membatu menyelesaikan masalah pelek yang akan di hadapi oleh seseorang di massa depan. cerita rubah sambil menatap daun-daun tanaman obat di depannya.


"aku rasa cukup sampai di sini dulu ceritanya." ucap Rubah putih di dapan Abi.